Bab 2 – Rahasia Masa Lalu Sang Raja
SEORANG laki-laki masuk, tingginya enggak kurang dari 195-an senti, dengan dada lebar dan keseluruhan anggota badan mirip Hercules. Pasti dia rajin nge-gym.
Pakaian orang ini mewah banget, tapi bakal dianggap norak sama orang Inggris. Ada garis-garis astrakhan di bagian lengan sama depan jasnya, sementara jubah biru tua yang dia pake dilapisi sutra warna api, dan diikat di leher pake bros beryl yang bersinar. Sepatu bot sampe pertengahan betis, yang di atasnya dihiasi bulu cokelat tebal, nambah kesan kemewahan barbar yang ditunjukin sama penampilan tamu kami.
Si tamu bawa topi lebar. Sementara di bagian atas mukanya, sampe bawah tulang pipi, ada topeng hitam yang kayaknya baru aja dia pasang, soalnya tangannya masih terangkat pas dia masuk. Dari bagian bawah wajahnya, keliatan kalo dia orang yang berkarakter kuat, dengan bibir tebal dan dagu lurus yang nunjukin tekad baja, kalo enggak malah keras kepala.
“Kamu sudah terima suratku?” tanyanya, dengan suara berat dan aksen Jerman yang kentel banget. “Aku bilang di surat itu kalau aku akan datang sekarang.” Dia liat kami berdua gonta-ganti, kayaknya bingung mau ngomong ke siapa.
“Silakan duduk,” kata Holmes. “Ini teman sekaligus kolega saya, Dr. Watson, yang kadang-kadang sangat baik dengan membantu saya di banyak kasus. Oya, maaf, ini saya sedang berhadapan sama siapa, ya?”
“Kamu bisa panggil aku Count von Kramm, aku bangsawan Bohemia. Aku harap orang ini, temenmu ini, benar-benar orang yang terhormat dan bijaksana, yang bisa aku percaya untuk ikut tahu satu hal yang sangat penting. Kalau tidak, aku lebih suka bicara berdua saja denganmu.”
Titel count termasuk golongan bangsawan tinggi. Setingkat bupati atau malah gubernur kalo pake perbandingan struktur pemerintahan jaman sekarang. Kalau wilayahnya berdiri sendiri alias merdeka, count seperti ini bisa dianggap selevel raja.
Aku langsung tegak dan siap pergi, tapi Holmes pegang pergelangan tanganku dan dorong badanku balik duduk ke kursi. “Yang Mulia bisa bicara dengan kami berdua, atau malah tidak sama sekali,” katanya, tegas. “Yang Mulia bisa bicara apa saja di depan teman saya ini, sama seperti bicara berdua saja dengan saya.”
Count von Kramm angkat bahu. “Kalau begitu, sebaiknya kita mulai saja,” katanya, “tapi aku minta kalian berdua berjanji untuk merahasiakan semua yang aku ceritakan selama setidaknya dua tahun. Setelah dua tahun, terserah, soalnya habis itu perkara ini bakal jadi sesuatu yang tidak penting lagi. Cuma sekarang, ini bisa dibilang maha penting, sampai-sampai berpotensi mempengaruhi sejarah Eropa.”
“Saya janji,” kata Holmes.
“Saya juga,” tambahku.
“Oya, harap maafkan topeng ini,” lanjut tamu aneh kami. “Dan aku harus jujur kalau gelar yang tadi aku sebutkan bukanlah gelar asliku.”
“Saya sudah tahu,” kata Holmes datar.
“Situasinya sedang sangat sensitif, dan setiap tindakan pencegahan harus diambil demi menghindari skandal besar yang bisa merusak reputasi salah satu keluarga kerajaan Eropa. Jujur saja, perkara ini melibatkan keluarga besar Ormstein, penguasa turun-temurun Bohemia.”
“Saya juga sudah tahu itu,” gumam Holmes, sambil duduk di kursi dan nutup mata.
Tamu kami ngeliatin Holmes yang santai dan lesu dengan heran, padahal mungkin yang dia denger detektif kesohor satu ini seorang pemikir paling tajam dan agen paling enerjik di Eropa.
Seakan tau lagi diamatin, Holmes pelan-pelan buka matanya, terus balik liat ke klien raksasanya dengan enggak sabar.
“Kalau Yang Mulia mau langsung menjelaskan kasusnya,” katanya, “saya mungkin bisa kasih solusi.”
Bangsawan itu langsung bangun dari kursi dan mondar-mandir di ruangan dengan gelisah. Terus, dengan gerakan putus asa, dia copot topengnya dan dilempar gitu aja ke lantai.
“Kamu benar,” teriaknya, “Aku ini raja. Kenapa aku harus menyembunyikan diri?”
“Bener, kan?” gumam Holmes. “Yang Mulia belum mengaku saja saya sudah tahu kalau saya sedang berhadapan dengan Wilhelm Gottsreich Sigismond von Ormstein, Grand Duke of Cassel-Falstein, dan penguasa turun-temurun Bohemia.”
Well, tamunya lebih dari bupati ataupun gubernur ternyata. Ini malah Grand Duke, bangsawan tinggi nomer dua dibawah raja atau sultan! Selevel Adipati Mangkunegaran di Solo atau Adipati Pakualaman di Jogja.
“Berarti kamu bisa paham,” kata tamu aneh kami, duduk lagi dan usap dahinya yang tinggi dan putih, “kamu bisa mengerti kalau aku tidak biasa mengurus hal seperti ini secara langsung seperti sekarang aku lakukan. Tapi hal ini sangat sensitif sekali, sampai-sampai aku tidak bisa percaya ke siapapun tanpa merasa aku berada di bawah kendali orang lain. Karena itulah aku datang ke sini secara rahasia dari Praha untuk berkonsultasi langsung denganmu.”
“Kalau begitu, silakan mulai,” kata Holmes, nutup matanya lagi.
“Faktanya singkat saja: Sekitar lima tahun yang lalu, sewaktu aku masih di Warsawa, aku mengenal Irene Adler, seorang petualang terkenal. Namanya pasti familiar buatmu.”
“Tolong cari dia di buku indeksku, Dokter,” gumam Holmes, tanpa buka mata.
Selama bertahun-tahun, Holmes udah bikin sistem buat nyatet semua hal tentang orang dan hal-hal penting di dunia. Jadi, susah buat nyebut satu topik atau seseorang tanpa dia enggak bisa kasih informasi tentang hal itu. Di kasus ini, aku nemuin nama yang disebut tadi masih ada kaitan sama seorang rabi Yahudi dan komandan staf yang nulis monograf tentang ikan laut dalam.
“Coba liat,” kata Holmes. “Hmm! Lahir di New Jersey tahun 1858. Penyanyi contralto—hmm! La Scala, hmm! Primadonna di Opera Kekaisaran Warsawa—Iya! Udah pensiun dari panggung opera—ha! Tinggal di London—bener banget!” “
“Kalau saya tidak salah,” kata Holmes pada tamunya, “Yang Mulia sempat ada hubungan dengan perempuan muda ini, menulis beberapa surat romantis, dan sekarang ingin mendapetkan surat-surat itu biar tidak menjadi skandal.”
“Benar sekali. Tapi bagaimana—”
“Apakah ada pernikahan rahasia?”
“Tidak.”
“Ada dokumen atau sertifikat legal?”
“Tidak juga.”
“Hmm, saya jadi tidak mengerti, Yang Mulia. Kalau perempuan muda ini menunjukkan surat-surat itu dengan maksud memeras atau tujuan lain, bagaimana dia bisa membuktikan keasliannya?”
“Ada tulisanku.”
“Itu bisa dipalsukan,” sanggah Holmes.
“Ada kertas catatan pribadiku.”
“Bisa dicuri.”
“Ada segelku.”
“Bisa ditiru.”
“Ada fotoku.”
“Bisa dibeli.”
“Kami berdua foto bersama di dalamnya.”
“Ya ampun! Itu baru parah banget! Yang Mulia memang sudah bertindak ceroboh.”
“Aku memang sedang gila-gilanya waktu itu—sedang tidak waras.”
“Yang Mulia sudah merusak reputasi diri sendiri.”
“Aku baru saja menjadi putra mahkota waktu itu. Aku masih muda. Sekarang usiaku 30-an tahun.”
“Kalau begitu, fotonya harus kita ambil.”
“Itu sudah pernah dicoba dan gagal.”
“Yang Mulia harus keluar uang. Foto itu harus dibeli.”
“Dia tidak mau menjualnya.”
“Kalau begitu, dicuri saja.”
“Sudah lima kali dicoba. Dua kali pencuri yang aku bayar mengobrak-abrik rumahnya. Pernah juga kami alihkan barang-barang bawaannya sewaktu dia sedang jalan-jalan. Dua kali dia diserang. Semuanya tidak membuahkan hasil.”
“Tidak bisa diketahui di mana dia menyimpan foto itu?”
“Sama sekali tidak.”
Holmes ketawa. “Ini masalah kecil yang lucu,” katanya.
“Tapi ini masalah sangat serius buatku,” jawab Sang Raja, dengan nada menyesal.
“Ya, amat sangat serius. Dan foto itu rencananya mau dibuat apa sama dia?”
“Buat merusak aku.”
“Tapi, bagaimana caranya?”
“Aku segera menikah.”
“Saya sudah dengar kabar soal itu.”
“Calon istriku Clotilde Lothman von Saxe-Meningen, putri kedua Raja Skandinavia. Kamu pasti sudah paham benar prinsip keluarganya yang ketat. Dia sendiri punya perasaan yang sangat halus. Sedikit saja timbul keraguan tentang tingkah lakuku di masa lalu, semuanya bakal berakhir.”
“Lantas, Irene Adler?”
“Dia mengancam akan mengirim foto itu ke keluarga calon istriku. Dan dia bakal melakukan itu. Aku tahu dia bakal melakukan itu. Kamu mungkin tidak kenal dia, tapi dia punya tekad sekeras baja. Dia memang seorang perempuan dengan wajah sangat cantik, tapi punya pikiran setegas laki-laki. Daripada melihat aku menikah dengan perempuan lain, dia mau melakukan apa saja untuk menggagalkannya—tidak terbayang apa saja yang bisa dia lakukan.”
“Yang Mulia yakin dia belum mengirim foto itu ke keluarga calon istri?”
“Aku yakin.”
“Kenapa?”
“Soalnya dia bilang baru akan mengirimkannya saat pertunangan kami diumumkan secara publik. Itu berarti hari Senin depan.”
“Oh, kalau begitu kita masih punya waktu tiga hari,” kata Holmes, sambil angop. “Kita masih beruntung, soalnya saya ada beberapa hal penting lain yang harus dikerjakan sekarang. Yang Mulia tinggal di London buat sementara waktu, kan?”
“Tentu. Kamu bisa menemuiku di Langham, dengan nama Count von Kramm.”
“Kalau begitu, saya bakal kasih kabar jika sudah ada perkembangan.”
“Tolong bantu aku membereskan ini. Aku akan terus-terusan cemas kalau urusan ini belum beres.”
“Lalu, soal kompensasi bagaimana? Mana tahu dia minta?”
“Kamu boleh sebutkan angka berapa saja.”
“Serius?”
“Aku bahkan rela memberikan salah satu provinsi di kerajaanku untuk mendapetkan foto itu.”
“Dan untuk meng-cover biaya operasional sekarang?”
Sang Raja ngambil kantong kulit chamois tebel dari bawah jubahnya, terus ditaruh di meja.
“Di dalamnya ada 300 pound dalam bentuk emas, dan 700 pound dalam bentuk uang kertas,” katanya.
Itu duit yang banyak. Banyak banget! Kalo dikonversi ke jaman sekarang, yang 300 pound dalam bentuk emasnya aja udah setara sekitar Rp 8,5 miiar rupiah! Total imbalan yang dikasih Sang Raja ke Holmes enggak kurang dari Rp 10 miliar.
Holmes nulis tanda terima di buku catatannya, terus dikasih ke Sang Raja.
“Di mana alamat target kita?” tanya Holmes.
“Briony Lodge, Serpentine Avenue, St. John’s Wood.”
Holmes nyatet semua itu. “Satu pertanyaan lagi,” katanya. “Apakah foto itu dalam ukuran kabinet?”
Foto berukuran kabinet adalah tren di jaman itu. Kira-kira sebesar kartu pos atau tablet 10 inchi. Biasanya ada karton tebel yang ditempelin di belakang foto itu.
“Iya.”
“Kalau begitu, selamat malam, Yang Mulia, dan saya harap kami berdua segera punya kabar baik untuk Yang Mulia.”
Pas roda kereta kerajaan mulai jalan, Holmes ngomong ke aku, “Dan selamat malam, Watson. Kalo kamu mau dateng lagi besok sore, jam tiga, aku mau ngobrol banyak soal kasus ini sama kamu.”
📝 Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!










Silakan login untuk meninggalkan komentar.