Bab 51 — Rencana-Rencana dan Harriet
SURAT itu—ah, surat itu pasti akan menyentuh hati Emma. Dan meskipun ia sempat bersumpah takkan membiarkan dirinya tersentuh, ia tetap harus mengakui bahwa Mrs. Weston benar.
Begitu Emma menemukan namanya disebut, segalanya berubah. Ia tak bisa menahan diri. Setiap baris yang menyangkut dirinya terasa begitu menggugah—bahkan menyenangkan. Dan ketika bagian itu usai, rasa simpatinya terhadap si penulis pun mengambil alih. Rasa hormat lama terhadap Frank Churchill muncul kembali, dan tak bisa dimungkiri, betapa kuatnya pesona kisah cinta—terutama bagi seseorang yang sedang jatuh cinta.
Emma membaca surat itu sampai tuntas, tanpa jeda.
Memang benar, ia tak bisa menyangkal bahwa Frank telah bertindak salah. Namun ternyata tak separah yang ia bayangkan. Ia menyesal, ia telah menderita, dan rasa terima kasihnya kepada Mrs. Weston pun begitu tulus.
Dan betapa cintanya pemuda itu pada Jane Fairfax! Dan betapa bahagianya Emma sendiri saat itu—sehingga tak mungkin bersikap keras. Jika saja Frank Churchill masuk ke ruangan saat itu juga, mungkin Emma akan menyambutnya dengan hangat, seolah tak pernah ada perasaan buruk di antara mereka.
Mau Lanjut Baca?
Kamu sudah mencapai batas bebas baca 16 bab awal novel ini sebagai tamu. Buat akun Reader gratis untuk melanjutkan membaca.
📝 Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!



Silakan login untuk meninggalkan komentar.