Bab 9 – Kode Cinta dari Mr. Elton
MR. KNIGHTLEY boleh saja marah, tapi Emma tidak sanggup marah pada dirinya sendiri. Ia tahu betul bahwa sahabatnya itu sangat kecewa—terbukti dari jeda yang lebih lama dari biasanya sebelum lelaki itu kembali menginjakkan kaki di Hartfield. Dan ketika akhirnya mereka bertemu, tatapan suram Mr. Knightley mengisyaratkan satu hal yang jelas: ia belum memaafkan.
Emma menyesal… tapi tidak menyesali tindakannya.
Sebaliknya, justru dalam beberapa hari ke depan, semuanya tampak semakin memperkuat dan membenarkan pilihan-pilihannya. Ia makin terikat secara emosional pada rencananya—karena semuanya berjalan begitu sesuai harapan.
Lukisan potret Harriet yang telah dibingkai dengan anggun akhirnya sampai juga, tak lama setelah Mr. Elton kembali dari perjalanannya. Begitu digantungkan di atas perapian ruang duduk umum, Mr. Elton langsung berdiri mendekat, memandangi hasil karya itu dengan kekaguman yang tertahan—seperti yang seharusnya dilakukan seorang pria sopan. Ia melontarkan komentar-komentar setengah gumam yang terdengar pas di telinga Emma.
Adapun Harriet, perasaannya semakin hari semakin mantap, sekuat dan setenang yang bisa diharapkan dari gadis seusianya dengan pemahaman seperti itu. Emma pun kini nyaris yakin bahwa Robert Martin sudah tak lebih dari sekadar kenangan kabur—kenangan yang justru membuat Mr. Elton tampak jauh lebih menawan.
Rencana Emma untuk “memperkaya” pikiran sahabat kecilnya itu lewat bacaan bergizi dan diskusi bermanfaat, sayangnya belum pernah berhasil melewati bab-bab awal. Selalu ada niat untuk melanjutkan “besok”. Toh, berbincang-bincang jauh lebih menyenangkan daripada mengulas fakta-fakta membosankan. Jauh lebih menggoda membiarkan imajinasi mengembara dan menyulam masa depan Harriet, daripada menyibukkan diri dengan kerja keras memperluas wawasan gadis itu.
Satu-satunya “pembekalan intelektual” yang benar-benar menarik perhatian Harriet saat ini adalah mengumpulkan dan menyalin segala macam teka-teki dan sandi, untuk dibukukan dalam kertas kuarto istimewa buatan Emma, lengkap dengan ornamen huruf dan hiasan trofi seperti buku hadiah kemenangan.
Di zaman semodern ini, koleksi teka-teki seperti itu bukanlah hal aneh. Miss Nash, guru senior di sekolah Mrs. Goddard, bahkan konon sudah menyalin lebih dari 300. Harriet, yang awalnya terinspirasi dari situ, sangat berharap bisa menyaingi itu—tentu dengan bantuan Miss Woodhouse. Emma pun turut menyumbang ide, daya ingat, dan selera seni. Dan karena tulisan tangan Harriet memang cantik dan rapi, proyek ini menjanjikan hasil yang mengesankan, baik dari segi isi maupun bentuk.
Ayah Emma, Mr. Woodhouse, juga tampak hampir sama antusiasnya. Ia sering mencoba mengingat-ingat teka-teki dari masa mudanya. “Dulu banyak sekali teka-teki cerdas,” katanya, “anehnya, Papa tidak bisa mengingat satu pun sekarang! Tapi semoga suatu hari nanti ingat kembali.”
Sayangnya, usahanya selalu berakhir pada satu-satunya baris yang berhasil ia ulang terus-menerus: “Kitty, a fair but frozen maid.”
Teman dekatnya, dokter Perry, juga sempat diajak bicara. Meski saat itu Mr. Perry tidak bisa mengingat satu pun teka-teki, ia diminta tetap waspada—siapa tahu sewaktu mengunjungi pasien, ia menemukan sesuatu yang menarik.
Tentu saja, Emma tidak menghendaki seluruh warga Highbury ikut mencurahkan tenaga dan pikiran mereka untuk proyek ini. Satu-satunya orang yang ia ajak berkontribusi secara khusus adalah Mr. Elton. Ia diundang untuk menyumbangkan enigma, teka-teki, atau charade (puisi cinta dalam bentuk teka-teki puitis) yang layak.
Emma tersenyum dalam hati melihat betapa serius Mr. Elton mencurahkan ingatannya. Ia bisa merasakan betapa pria itu berusaha keras memilih teka-teki yang sopan, yang tidak hanya menggoda pikiran, tetapi juga memuja keanggunan kaum perempuan. Dari tangannya, mereka mendapat dua atau tiga teka-teki terhalus yang pernah mereka salin.
Dan saat akhirnya ia mengingat dan dengan nada sentimental membacakan charade terkenal itu—
Bagian pertamaku bicara tentang derita,
Yang kedua—dialah yang menanggung luka.
Namun bersatu, keduanya jadi penawar,
Pelipur lara, pereda segala gentar.
(My first doth affliction denote,
Which my second is destin’d to feel.
And my whole is the best antidote,
That affiction to soften and heal.)
—Emma merasa hampir bersalah memberitahu bahwa teka-teki itu sebenarnya sudah ada di halaman sebelumnya.
“Kenapa Anda tidak menulis yang orisinal untuk kami, Mr. Elton?” godanya sambil tersenyum. “Itu satu-satunya jaminan agar isinya segar. Dan bagi Anda itu seharusnya sangat mudah.”
“Oh, tidak… saya hampir tak pernah menulis hal semacam itu seumur hidup saya,” sahutnya dengan nada merendah. “Saya ini orang paling tumpul pikirannya! Rasanya, bahkan Miss Woodhouse,” ia berhenti sejenak, lalu melirik Harriet, “atau Miss Smith, pun tak bisa memberi saya ilham.”
Namun keesokan harinya, sebuah “ilham” mendadak muncul.
Mr. Elton datang sebentar, hanya untuk meletakkan secarik kertas di atas meja. Katanya, itu charade dari “seorang teman”, yang ditujukan pada seorang “wanita pujaan”. Namun dari raut wajah dan caranya bicara, Emma langsung yakin: itu karangan Mr. Elton sendiri.
“Saya tak menyarankan charade ini dimasukkan ke koleksi Miss Smith,” katanya hati-hati. “Karena ini milik teman saya, saya tak berhak mempublikasikannya. Tapi mungkin Anda tidak keberatan membacanya.”
Kata-katanya ditujukan lebih pada Emma daripada Harriet, dan Emma mengerti betul. Ada kesadaran yang dalam pads sikap Mr. Elton, dan ia tampak jauh lebih mudah menatap mata Emma daripada mata Harriet.
Lelaki itu pergi secepat ia datang.
Setelah sesaat diam, Emma tersenyum, menyodorkan kertas itu pada Harriet.
“Itu untukmu. Ambillah—itu milikmu.”
Namun Harriet gemetar, bahkan untuk menyentuhnya pun ia tak sanggup.
Akhirnya, seperti biasa, Emma yang mengambil inisiatif. Ia membacanya lebih dulu:
Untuk Nona ———
Bagian pertamaku adalah kemegahan para raja,
Kemewahan hidup, kesenangan dunia.
Bagian keduaku menyajikan sisi berbeda,
Di lautan, lelaki berkuasa, berwibawa!
Tapi, ah—bila keduanya disatukan,
Semua kebebasan lenyap dari tangan.
Penguasa daratan dan lautan kini tunduk jua,
Karena wanita—oh wanita—jadi ratu segala.
Kau yang cerdas, pasti tahu jawabannya,
Semoga matamu bersinar menyetujuinya.
(My first displays the wealth and pomp of kings,
Lord of the earth! their luxury and ease.
Another view of man, my second brings,
Behold him there, the monarch of the seas!
But, ah—united, what reverse we have!
Man’s boasted power and freedom, all are flown;
Lord of the earth and sea, he bends a slave,
And woman, lovely woman, reigns alone.
Thy ready wit the word will soon supply,
May its approval beam in that soft eye!)
Emma hanya bisa mengangkat alis. Charade ini bukan sekadar teka-teki biasa—ini pujian, pengakuan, dan barangkali… sebuah pengantar.
Emma mengedarkan pandangannya sekilas ke atas kertas itu. Ia merenung sejenak, menangkap maksud tersembunyi di balik bait-baitnya, lalu membacanya ulang dengan lebih saksama—hanya untuk memastikan bahwa ia benar-benar memahami setiap lapis makna di dalamnya. Setelah yakin sepenuhnya, ia menyodorkan kertas itu ke Harriet, sambil duduk kembali dengan senyum puas mengembang di wajahnya.
Sementara Harriet masih berkutat—antara harapan dan kebingungan—Emma membatin dengan geli, “Bagus sekali, Mr. Elton. Sangat bagus. Aku pernah membaca charade yang lebih buruk dari ini. Kata kunci: courtship—isyarat yang cerdas. Kau pantas mendapat pujian. Ini namanya mengatur langkah dengan hati-hati. Ini pernyataan yang terselubung tapi jelas: ‘Tolong, Miss Smith, beri saya izin untuk menyatakan cinta. Jika Anda menyukai charade ini, maka setujuilah niat saya.’
“‘May its approval beam in that soft eye.’ Ya, sangat cocok. ‘Soft’ memang kata yang paling tepat untuk mata Harriet—dari semua kata sifat, itu yang paling pas.
“‘Thy ready wit the word will soon supply.’ Hmm, ‘ready wit’ dan Harriet? Itu justru makin memperjelas—laki-laki ini benar-benar jatuh cinta. Ah, seandainya Mr. Knightley membaca ini, aku yakin dia akan mengakui kekeliruannya. Charade ini bukan hanya bagus, tapi juga sangat tepat sasaran. Segalanya pasti akan sampai ke puncaknya dalam waktu dekat.”
Namun aliran pikirannya yang begitu menyenangkan itu harus terhenti, karena Harriet, dengan mata membelalak dan napas tersengal karena penasaran, mulai bertanya tergopoh-gopoh:
“Apa ya artinya, Miss Woodhouse? Saya sama sekali tidak bisa menebak. Tidak ada bayangan sedikit pun! Bisa jadi apa, ya? Tolong bantu saya, Miss Woodhouse. Ini sulit sekali! Apakah jawabannya kingdom? Saya penasaran siapa teman Mr. Elton itu… dan siapa wanita muda yang dimaksud. Menurut Anda bagus tidak, ya? Mungkinkah jawabannya woman?
“‘And woman, lovely woman, reigns alone…’ Atau Neptune, mungkin? ‘Behold him there, the monarch of the seas!’ Atau trident? Mermaid? Atau… hiu? Oh tidak! Shark cuma satu suku kata. Ini pasti cerdas sekali, atau dia tidak akan sampai hati membawakannya. Miss Woodhouse, menurut Anda, kita bisa menebaknya?”
“Mermaid dan shark? Aduh, Harriet sayang, kau sedang melantur ke mana?” kata Emma sambil terkekeh geli. “Apa gunanya Mr. Elton membawakan charade tentang ikan atau makhluk laut untuk kita? Dengar baik-baik. Aku bacakan, ya:
“‘Untuk Nona ——,’ ganti saja jadi ‘Untuk Nona Smith’.
“My first displays the wealth and pomp of kings,
Lords of the earth! their luxury and ease.
Itu kerajaan (court), sudah pasti.
“Another view of man, my second brings;
Behold him there, the monarch of the seas!
Itu kapal (ship). Sangat jelas.
“Sekarang, bagian yang paling penting:
“But ah! united, (courtship , kamu tahu) what reverse we have!
Man’s boasted power and freedom, all are flown.
Lord of the earth and sea, he bends a slave,
And woman, lovely woman, reigns alone.
(Kata “courtship” (court + ship) dalam puisis teka-teki ini bermakna proses pendekatan cinta atau lamaran, Pen.).
“Sebuah pujian yang sangat layak! Dan selanjutnya penutupnya, Harriet, kupikir kau tak akan kesulitan memahami maksudnya. Bacalah sendiri dengan tenang. Tak ada keraguan bahwa ini ditulis untukmu—dan ditujukan padamu.”
Harriet, tentu saja, tak lama bisa menahan godaan sebesar itu. Begitu membaca bait terakhir, ia langsung tersipu, tergetar, dan nyaris kehilangan kata. Namun ia tak perlu bicara. Cukup baginya merasa. Emma sudah bicara untuknya.
“Pujian ini terlalu spesifik dan terlalu pribadi untuk bisa ditujukan ke siapa pun selain kamu,” kata Emma mantap. “Aku tidak ragu sedikit pun soal niat Mr. Elton. Kau adalah tujuannya—dan tak lama lagi, kau akan menerima bukti nyata akan hal itu. Aku sudah menduganya. Rasanya mustahil aku bisa keliru dalam hal seperti ini.
“Dan sekarang segalanya menjadi terang. Perasaannya sama jelas dan tegasnya dengan keinginanku sejak aku mengenalmu. Ya, Harriet, sejak awal aku menginginkan hal inilah yang terjadi. Aku memang tak bisa memutuskan apakah hubungan antara kalian berdua itu lebih masuk akal atau lebih cocok secara alami. Tapi ternyata—dua-duanya!
“Aku bahagia, Harriet. Aku sungguh mengucapkan selamat padamu dari lubuk hatiku. Ini adalah cinta yang bisa membuat seorang perempuan merasa bangga telah ikut andil membentuknya. Sebuah hubungan yang hanya membawa kebaikan. Ia akan memberimu segalanya—pengakuan, kebebasan, rumah yang pantas.
“Kau akan tinggal di tengah-tengah sahabatmu, dekat dengan Hartfield dan aku, dan kedekatan kita akan terikat selamanya. Harriet, ini adalah perjodohan yang tak akan membuat salah satu dari kita harus menunduk malu.”
“Miss Woodhouse tersayang!”—itu saja yang sempat Harriet ucapkan, berulang kali, diselingi pelukan hangat. Namun ketika akhirnya mereka sampai ke percakapan yang lebih panjang, Emma bisa membaca jelas bahwa Harriet merasakan, membayangkan, dan mengenang semuanya dengan cara yang sepatutnya.
Gadis itu benar-benar menempatkan Mr. Elton jauh di atas siapa pun.
“Apa pun yang Anda katakan pasti benar,” seru Harriet dengan nada penuh takzim. “Maka saya percaya. Saya berharap ini benar. Tapi kalau tidak ada Anda, saya tidak akan pernah membayangkannya! Rasanya terlalu indah untuk jadi kenyataan. Mr. Elton, yang bisa menikahi siapa pun! Semua orang pasti sepakat bahwa beliau sangat luar biasa. Dan puisi itu—‘Untuk Nona ——’. Astaga, betapa cerdasnya! Masa benar itu untuk saya?”
“Aku tak bisa menerima pertanyaan, apalagi keraguan, soal itu,” ujar Emma mantap. “Terimalah penilaianku. Itu semacam prolog sebelum drama dimulai, atau motto sebelum bab dibuka—dan sebentar lagi akan disusul prosa nyata yang lebih membumi.”
“Ini sungguh di luar dugaan siapa pun. Sebulan lalu, saya sendiri tak akan pernah menduga! Dunia ini sungguh penuh kejutan!”
“Ketika seorang Miss Smith dan seorang Mr. Elton saling mengenal… ya, memang aneh,” ujar Emma sambil tersenyum. “Tapi justru luar biasa bahwa sesuatu yang begitu jelas dan diinginkan semua orang akhirnya mengambil bentuknya sendiri tanpa bantuan siapa pun. Kalian berdua memang dipertemukan oleh takdir. Lingkungan, latar belakang, segalanya mendukung. Pernikahan kalian akan sepadan dengan yang terjadi di Randalls. Sepertinya udara Hartfield memang mengandung ramuan cinta yang mampu mengarahkan hati tepat ke jalur yang seharusnya.
“‘The course of true love never did run smooth—’Kalau Hartfield menerbitkan edisi Shakespeare sendiri, pasti bait ini diberi catatan kaki yang panjang sekali.”
Bahwa Mr. Elton benar-benar jatuh cinta pada Harriet—pada diri Harriet—Emma nyaris tak bisa mempercayainya.
“Bayangkan, saya yang dulu bahkan belum pernah berbincang dengannya waktu Michaelmas! Dan dia… dia itu pria tertampan yang pernah ada! Semua orang memujanya, persis seperti mereka memandang Mr. Knightley. Teman di mana-mana, undangan lebih banyak daripada hari dalam seminggu. Mereka bilang, dia tak pernah perlu makan sendirian kalau tak mau. Dan begitu luar biasa pula sebagai pendeta! Miss Nash sampai mencatat semua ayat yang pernah dia pakai untuk berkhotbah sejak tiba di Highbury. Astaga, kalau mengingat pertemuan pertama kami! Waktu itu saya dan dua bersaudara Abbot lari ke ruang depan, mengintip dari balik tirai saat tahu dia akan lewat. Miss Nash memergoki dan mengusir kami, tapi lalu dia sendiri mengintip, lalu memanggil saya kembali dan membiarkan saya melihat juga. Baik sekali, bukan? Dan betapa tampannya dia saat itu! Ia berjalan bergandengan dengan Mr. Cole.”
Emma mendengarkan ocehan Harriet itu dengan tenang, lalu menimpali dengan bijak, “Kalau teman-temanmu punya akal sehat, siapa pun mereka, mereka tak akan bisa menolak perjodohan ini. Jika yang mereka inginkan adalah agar kau menikah dengan baik, maka inilah jawabannya: pria dengan reputasi terpuji, penghasilan mapan, tempat tinggal yang pantas, dan masa depan yang menjanjikan. Tak ada alasan untuk tidak senang.”
“Benar sekali,” Harriet mengangguk bersemangat. “Cara Anda bicara selalu menenangkan. Anda mengerti segalanya. Anda dan Mr. Elton—kalian sama-sama pintar. Charade itu—duh, saya belajar setahun pun mungkin tak sanggup membuat yang seperti itu.”
“Aku memang merasa kemarin dia sengaja menolak dengan gaya itu, karena ingin mencoba kemampuannya sendiri,” ujar Emma.
“Menurutku, itu charade terbaik yang pernah aku baca. Tak ada yang lebih tepat sasaran.”
“Memang lebih panjang dari yang biasanya kita dapatkan.”
“Panjang belum tentu jadi nilai tambah,” Emma mengangkat bahu. “Charade biasanya justru semakin baik kalau pendek.”
Namun Harriet sudah terlalu larut dalam bait-baitnya. Ia tenggelam dalam pikiran sendiri, membandingkan segalanya dalam benaknya yang mulai memerah.
“Memang beda,” katanya kemudian, pipinya merona. “Ada orang yang bisa menulis dengan akal sehat yang baik—ya, seperti orang kebanyakan. Kalau ada yang harus disampaikan, ya tulis surat saja. Singkat, to the point. Tapi menulis puisi seperti ini? Itu lain urusan.”
Emma tak bisa meminta penolakan terhadap prosa-prosa Mr. Martin yang lebih tajam dan elegan dari itu.
“Baris terakhir itu… aduh, manis sekali!” seru Harriet. “Tapi… bagaimana saya bisa mengembalikan kertas ini, atau mengatakan bahwa saya sudah menemukan jawabannya? Oh, Miss Woodhouse, apa yang harus kita lakukan?”
“Serahkan padaku,” jawab Emma dengan tenang. “Kau tak perlu berbuat apa pun. Dia pasti datang malam ini, dan saat itu aku akan mengembalikan kertasnya dengan pura-pura berbasa-basi. Kau tak akan terlibat. Biarkan mata indahmu memilih saat yang tepat untuk bersinar. Percayakan padaku.”
“Oh, Miss Woodhouse, sayang sekali saya tak bisa menyalin charade ini ke dalam buku saya. Tak ada satu pun koleksi saya yang sebagus ini!”
“Singkirkan dua baris terakhir, dan kau bisa menyalinnya dengan tenang.”
“Tapi dua baris itu justru…” Harriet tak melanjutkan.
“Adalah yang terbaik, ya, aku tahu,” Emma tersenyum. “Tapi dua baris itu bisa kau simpan untuk kenikmatan pribadi. Mereka tetap tertulis, meskipun tidak dicantumkan. Maknanya tetap utuh. Kalau dua baris itu tak disertakan, tak ada lagi jejak bahwa itu untukmu. Maka ia akan menjadi charade yang sopan dan manis, cocok masuk ke buku koleksi siapa pun. Percayalah, Mr. Elton akan lebih terluka jika charade-nya dianggap remeh daripada jika perasaannya yang ditolak. Seorang penyair yang jatuh cinta butuh didukung baik sebagai penyair maupun sebagai kekasih—atau tidak didukung sama sekali. Berikan bukumu padaku, biar kutuliskan. Dengan begitu, tidak akan ada kesan bahwa kau menyambut pernyataan cinta.”
Harriet menyerah, meski di dalam hati ia masih merasa bahwa baris-baris itu terlalu pribadi, terlalu berharga, untuk dibagikan ke siapa pun. Rasanya hampir seperti menulis surat cinta secara terbuka.
“Buku ini tak akan pernah saya lepaskan dari tangan saya,” katanya lirih.
“Bagus sekali,” jawab Emma. “Perasaan yang sangat wajar, dan aku senang jika itu bertahan lama. Tapi—ah, itu Papa datang. Kau tak keberatan kalau aku bacakan charade ini padanya, kan? Itu akan sangat menyenangkannya. Papa senang sekali dengan hal-hal seperti ini—terutama jika pujiannya ditujukan pada kaum perempuan. Papa punya semacam semangat ksatria yang lembut pada kita semua. Izinkan aku membacakannya, ya?”
Wajah Harriet mendadak serius.
“Sayangku Harriet,” Emma berkata lembut, “jangan terlalu serius dalam menghadapi charade ini. Kalau kau terlalu sadar, terlalu cepat mengaitkan maknanya, kau justru bisa membocorkan perasaanmu sendiri. Jangan terlalu terhanyut. Kalau Mr. Elton memang ingin menjaga rahasia, ia tentu tak akan meninggalkan kertas itu di hadapanku. Bahkan dia lebih mengarahkannya padaku daripada padamu. Jadi, jangan terlalu agung-agungkan ini. Dia sudah mendapat cukup dorongan untuk maju tanpa kita perlu menghela napas dalam-dalam hanya karena sebuah teka-teki.”
“Oh, tidak… saya harap saya tidak akan bertingkah konyol karenanya. Lakukan saja seperti yang Anda mau.”
Mr. Woodhouse masuk ke ruangan, dan tak butuh waktu lama baginya untuk kembali ke topik yang selalu ia tanyakan dengan penuh minat, “Nah, anak-anakku sayang, bagaimana kabar buku kalian? Ada sesuatu yang baru hari ini?”
“Ada, Papa. Kami punya sesuatu yang segar untuk dibacakan. Ada secarik kertas ditemukan pagi ini di atas meja—mungkin dijatuhkan oleh peri, barangkali—isinya sebuah charade yang sangat indah, dan kami baru saja menyalinnya ke dalam buku.”
Emma membacakan bait-baitnya dengan gaya yang disukai sang ayah: perlahan, jelas, dan diulang dua tiga kali, lengkap dengan penjelasan setiap barisnya. Seperti yang sudah ia perkirakan, Mr. Woodhouse sangat terkesan, terutama pada penutupnya yang memuji kaum wanita.
“Ya, ya, itu bagus sekali, sangat pantas dikatakan. Betul sekali. ‘Woman, lovely woman.’ Wah, charade-nya sungguh manis, Sayang. Dan aku tak perlu menebak siapa peri yang membawanya—hanya kau yang bisa menulis seindah itu, Emma.”
Emma hanya mengangguk dan tersenyum.
Setelah berpikir sebentar, lalu menarik napas panjang dengan perasaan haru, Mr. Woodhouse menambahkan, “Tak sulit melihat dari siapa kau mewarisi ini. Almarhum ibumu dulu sangat piawai dalam hal seperti ini! Andai saja ingatanku sebagus dia… Tapi Papa ini tak bisa mengingat apa pun—bahkan teka-teki favorit yang sering Papa ceritakan padamu. Yang Papa ingat cuma bait pertamanya. Padahal itu panjang.”
Ia mulai melafalkan:
Kitty, sang gadis elok namun beku,
Membakar hasrat yang kini kusesali selalu,
Kupanggil si bocah bertudung matanya, sang asmara,
Meski hatiku gentar kala ia mendekat nyata,
Telah membawa petaka dalam lamaranku yang pertama.
(Kitty, a fair but frozen maid,
Kindled a flame I yet deplore,
The hood-wink’d boy I called to aid,
Though of his near approach afraid,
So fatal to my suit before.)
“Itu saja yang bisa Papa ingat. Tapi seluruhnya sangat cerdas, percaya padaku. Tapi, Sayang, bukankah kau pernah bilang kalian sudah menyalinnya?”
“Sudah, Papa. Kami tulis di halaman kedua. Itu kami salin dari Elegant Extracts. Karya Garrick, Papa tahu, kan?”
“Oh ya, benar. Papa harap bisa mengingat lebih banyak lagi… Kitty, a fair but frozen maid… Nama itu mengingatkan Papa pada Isabella—dulu nyaris saja dia dinamai Catherine, seperti neneknya. Papa harap minggu depan dia bisa ke sini. Sudah kau pikirkan, Sayang, dia akan tidur di mana? Dan anak-anak?”
“Oh, tentu. Dia akan pakai kamarnya yang biasa, seperti selama ini. Dan anak-anak bisa di kamar bayi, seperti biasa juga. Tak ada yang perlu diubah.”
“Papa tidak tahu, Sayang. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir dia di sini—Paskah lalu, dan itu pun hanya beberapa hari. Menjadi istri pengacara itu sungguh menyulitkan. Kasihan Isabella… dia seperti direnggut dari kita semua! Dan dia pasti sangat sedih saat datang nanti dan mendapati Miss Taylor tak lagi di sini.”
“Dia takkan terkejut, Papa. Setidaknya itu.”
“Entahlah. Papa sendiri sangat terkejut ketika pertama kali mendengar dia akan menikah.”
“Kita harus mengundang Mr. dan Mrs. Weston makan malam saat Isabella di sini.”
“Ya, Sayangku, kalau waktunya cukup. Tapi…”—suara Mr. Woodhouse merendah, bernada sedih—“dia hanya seminggu di sini. Tak akan sempat melakukan apa-apa.”
“Memang sayang sekali mereka tak bisa lebih lama. Tapi ini tampaknya sudah keputusan penting. Mr. John Knightley harus kembali ke kota tanggal dua puluh delapan, dan kita patut bersyukur, Papa, bahwa kita mendapat seluruh waktu yang mereka punya. Untungnya tidak ada satu hari pun yang disita untuk kunjungan ke Abbey. Mr. Knightley bahkan rela tak menuntut haknya tahun ini—padahal, Papa tahu, mereka sudah lebih lama tak menginap di tempatnya dibandingkan di Hartfield.”
“Sungguh tak adil, Sayang, kalau Isabella sampai tidak menginap di Hartfield.”
Mr. Woodhouse memang tak pernah bisa menerima bahwa Isabella punya kewajiban kepada siapa pun selain dirinya. Ia terdiam, melamun sejenak, lalu berkata,
“Tapi Papa tak paham kenapa Isabella harus buru-buru pulang, hanya karena suaminya harus kembali. Kurasa, Emma, Papa akan mencoba membujuknya agar tinggal lebih lama. Dia dan anak-anak bisa tinggal saja di sini.”
“Ah, Papa—itu sesuatu yang sudah bertahun-tahun Papa coba, dan tak pernah berhasil. Isabella tak akan pernah rela tinggal jauh dari suaminya.”
Itu kenyataan pahit yang tak bisa dibantah. Mr. Woodhouse hanya bisa menghela napas menyerah. Melihat ayahnya mulai murung karena teringat betapa dalam cinta Isabella pada suaminya, Emma buru-buru mengalihkan topik ke hal yang bisa menyenangkan hati beliau.
“Harriet harus sering-sering datang menemani kita selama Isabella dan suaminya di sini. Aku yakin dia akan senang dengan anak-anak. Kita bangga sekali dengan mereka, kan, Papa? Kira-kira menurut Harriet nanti, siapa yang paling tampan, Henry atau John?”
“Ya, ya, Papa juga penasaran siapa yang akan dia pilih. Anak-anak malang itu, pasti senang sekali datang ke sini. Mereka sangat suka berada di Hartfield, ya, Harriet?”
“Saya yakin begitu, Sir. Saya juga tak tahu siapa yang tidak menyukai Hartfield.”
“Henry anak yang gagah, tapi John sangat mirip ibunya. Henry yang sulung, namanya diambil dari nama Papa, bukan dari ayahnya. John, si bungsu, baru pakai nama ayahnya. Beberapa orang mungkin heran kenapa bukan anak sulung yang dinamai John, tapi Isabella ingin dia dinamai Henry, dan Papa sangat tersentuh karenanya. Dan dia anak yang pintar sekali. Semuanya pintar. Banyak sekali tingkah lucu mereka. Mereka suka berdiri di sebelah kursi Papa, dan bilang, ‘Kakek, boleh minta tali?’—dan pernah sekali Henry minta pisau! Tapi Papa bilang padanya, pisau hanya dibuat untuk para kakek. Menurut Papa, ayah mereka sering terlalu kasar pada mereka.”
“Dia kelihatan kasar bagi Papa,” ujar Emma lembut, “karena Papa sendiri terlalu lembut. Tapi kalau Papa membandingkannya dengan para ayah lain, Papa pasti takkan bilang dia kasar. Dia hanya ingin anak-anaknya tumbuh tangguh dan lincah. Kalau mereka nakal, ya, kadang-kadang dia akan menegur dengan nada tajam. Tapi dia ayah yang penuh kasih—pasti. Mr. John Knightley itu ayah yang penyayang. Anak-anaknya semua menyayanginya.”
“Lalu datanglah pamannya—dan mengangkat mereka tinggi-tinggi sampai nyaris menyentuh langit-langit! Seram sekali!”
“Tapi mereka menyukainya, Papa. Tak ada yang mereka suka lebih dari itu. Mereka sampai begitu senangnya, kalau pamannya tidak menetapkan aturan untuk bergiliran, anak yang pertama main pasti tak akan pernah berhenti dan memberi kesempatan adiknya.”
“Yah, Papa tetap tak mengerti.”
“Itu nasib kita semua, Papa. Separuh dunia tak bisa memahami kenikmatan separuh lainnya.”
Menjelang siang, tepat ketika para gadis hendak berpisah untuk bersiap makan malam pukul empat seperti biasa, sang pahlawan dari charade yang begitu memesona itu datang kembali.
Harriet buru-buru memalingkan wajah.
Namun Emma menyambut Mr. Elton dengan senyum seperti biasa—senyum yang tak kalah manis dari biasanya—dan matanya yang jeli segera menangkap sesuatu di balik sorot mata Mr. Elton: kesadaran bahwa lelaki itu telah bertaruh sesuatu, bahwa ia telah melempar dadu dan kini datang ingin tahu hasilnya.
Alasan yang ia kemukakan, tentu saja, jauh lebih masuk akal dan santun: ia ingin menanyakan apakah pesta kecil Mr. Woodhouse malam ini bisa berjalan tanpanya, atau apakah kehadirannya sangat diperlukan di Hartfield. Bila memang dibutuhkan, ia akan menyingkirkan semua urusan lain. Namun, bila tidak, temannya Mr. Cole telah mendesak dengan sungguh-sungguh agar ia datang makan malam, sampai-sampai ia terpaksa menyanggupi—tentu saja, hanya kalau di Hartfield tidak membutuhkan dirinya.
Emma mengucapkan terima kasih, tapi menegaskan bahwa ia tak boleh mengecewakan sahabatnya demi mereka. Ayahnya sudah pasti akan bermain kartu seperti biasa. Mr. Elton kembali menekankan kesediaannya, Emma tetap menolak dengan sopan. Ketika ia tampak hendak berpamitan, Emma mengambil secarik kertas dari meja dan menyerahkannya sambil berkata ringan,
“Oh! Ini charade yang Anda tinggalkan tempo hari. Terima kasih sudah membiarkan kami membacanya. Kami sangat mengaguminya, sampai-sampai saya nekat menyalinnya ke dalam koleksi milik Miss Smith. Semoga sahabat Anda tak keberatan. Tentu saja saya hanya menyalin delapan baris pertamanya.”
Mr. Elton jelas terlihat agak bingung harus berkata apa. Ia tampak ragu—sedikit gugup—menggumamkan sesuatu soal kehormatan, melirik ke arah Emma, lalu ke Harriet. Ketika melihat buku kumpulan charade itu terbuka di meja, ia mengambilnya dan membaca dengan penuh perhatian.
Untuk meredakan canggungnya suasana, Emma berkata dengan senyum menggoda,
“Sampaikan salam saya pada sahabat Anda. Tapi charade sebagus ini tak pantas hanya dinikmati satu-dua orang. Ia boleh yakin akan mendapat pujian dari semua wanita, selama puisinya seindah ini.”
“Saya… saya tak ragu mengatakan,” jawab Mr. Elton, meski terdengar sangat ragu saat mengatakannya, “saya tak ragu—setidaknya jika perasaan sahabat saya sama seperti saya—saya yakin, jika dia melihat hasil karyanya dihormati seperti ini…”—ia menatap buku itu lagi dan meletakkannya kembali ke meja—“…itu pasti akan jadi momen paling membanggakan dalam hidupnya.”
Dan setelah itu, ia segera pamit.
Emma merasa Mr. Elton tak bisa pergi lebih cepat dari itu, dan ia sama sekali tidak keberatan. Karena meski Mr. Elton adalah pria menyenangkan dan penuh sopan santun, ada sesuatu dalam cara bicaranya yang penuh gempita dan formalitas yang kerap membuat Emma ingin tertawa.
Gadis itu pun lari ke ruangan sebelah untuk melampiaskan geli itu sepuasnya—dan membiarkan bagian yang lembut dan menggetarkan hati dari kejadian barusan menjadi milik Harriet sepenuhnya.
📝 Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!
Silakan login untuk meninggalkan komentar.