Bab 1 – Angsa dan Topi Misterius
• The Adventure of the Blue Carbuncle •
Malam itu, aku lagi santai di ruang tamu apartemen 221B di Jl. Baker, nikmatin suasana liburan Natal yang dingin. Sherlock Holmes duduk di dekat perapian, kayak biasa, matanya fokus ke sebuah topi lusuh yang lagi dia pegang.
Aku yang penasaran akhirnya nanya, “Topi jelek itu punya siapa, sih?”
Dia senyum tipis. “Ini bukan topi jelek biasa, Watson. Ini bagian dari sebuah misteri.”
Aku langsung pindah, duduk lebih deket ke dia. “Misteri? Misteri apa? Ceritain, dong!”
Holmes ngangkat topi itu dan mulai jelasin ke aku. “Tadi pagi, Inspektur Peterson dateng bawa barang ini sama seekor angsa mati. Kata dia, ada kejadian unik tadi malem. Ada seorang laki-laki lagi jalan sambil bawa angsa untuk makan malam Natal, tapi tau-tau ada perampok yang nyoba nyolong burung itu. Si laki-laki panik, terus jatuhin topi sama angsanya, dan kabur gitu aja. Perampoknya juga kabur pas Peterson dateng.”
Aku nyengir. “Jadi, sekarang kita nyelidikin… angsa yang kabur?”
Holmes ketawa kecil. “Enggak. Yang menarik malahan apa yang terjadi sesudah itu. Peterson bawa pulang angsa itu buat makan malam keluarganya, tapi pas istrinya mulai nyiapin makanan, mereka nemuin sesuatu di dalem perut angsa itu…”
Aku makin penasaran. “Apa itu?”
Holmes ngangkat alis dan dengan gaya dramatis dia ngeluarin sesuatu dari kantongnya—sebuah batu permata biru yang bersinar terang banget.
“Watson, ini adalah Blue Carbuncle, permata yang baru-baru ini dicuri dari kamar hotel Countess of Morcar!”
Aku melongo. “Jadi… permata seharga ribuan pound ini ditemuin di dalam perut seekor angsa mati?”
Holmes ngangguk. “Tepat sekali! Dan sekarang pertanyaannya: gimana ceritanya permata langka ini masuk ke perut si angsa?”
Aku geleng-geleng kepala. “Gila, kayaknya ini kasus paling aneh yang pernah kita tangani.”
Holmes senyum. “Itulah sebabnya kita musti nyari tahu jawabannya, Watson.”
Aku tau, malem yang awalnya santai ini barusan aja berubah jadi awal sebuah misteri Natal paling nyeleneh yang pernah aku alami.
Aku masih bengong ngeliatin permata biru itu bersinar di tangan Holmes. Gimana bisa batu mulia seharga ribuan pound malah nyangkut di perut seekor angsa?
“Terus, gimana rencanamu, Holmes?” tanyaku. “Kita kasih tahu Peterson?”
Holmes langsung geleng kepala. “Nanti dulu. Kita musti pecahin misterinya dulu. Kalo pemilik angsa ini ternyata bukan pencurinya, kita bisa balikin permata ini tanpa ngerusak reputasi orang yang enggak bersalah.”
Aku ngangguk. “Oke, tapi kita mulai dari mana?”
Holmes ngangkat topi lusuh yang tadi dia perhatiin serius. “Dari topi ini, tentu aja!”
Aku melongo. “Maksud kamu?”
Dia muter-mutering topi itu sambil jelasin, “Kamu liat, bahan topi ini bagus, sekalipun udah agak usang. Artinya, pemiliknya dulu orang yang lumayan berada, cuma kayaknya sekarang dia lagi kesulitan finansial. Terus, ukuran topi ini nunjukin kalo orangnya punya kepala gede—dan biasanya, kepala gede berarti otak yang cukup pintar.”
Aku ngakak. “Holmes, itu kesimpulan ngawur!”
Dia cuma nyengir. “Terus lagi, kamu liat tali di belakang topi ini. Tali ini kendor, artinya pemiliknya udah enggak peduli lagi sama penampilan dia. Jadi, aku bisa nyimpulin: dia dulunya terhitung orang mampu secara ekonomi, tapi sekarang lagi jatuh miskin dan kayaknya agak pasrah sama hidupnya.”
Aku geleng-geleng kepala. “Luar biasa. Tapi tetep aja, itu cuma tebakan.”
Holmes nyodorin sesuatu ke aku—selembar kertas lusuh yang ada di dalem topi itu. “Bukan cuma tebakan, Watson. Ini petunjuk. Di dalem topi ini ada tulisan kecil: ‘For Mr. Henry Baker’.”
Aku langsung semangat. “Berarti kita tinggal nyari siapa itu Mr. Henry Baker!”
Holmes senyum puas. “Persis! Dan kita bakal cari dia dengan cara simpel.”
Aku penasaran. “Gimana cara yang simpel itu?”
Holmes tegak dan ngambil mantel panjangnya. “Kita cukup masang iklan di koran malam ini. Kita bilang bahwa siapa pun yang kehilangan topi sama angsa, bisa dateng ke Baker Street buat ngambil.”
Aku ngangguk. “Kalo dia muncul, kita bakal tau apakah dia ada hubungannya sama permata ini atau cuma korban yang enggak sengaja kebawa dalam kasus ini.”
Holmes senyum puas. “Watson, kadang aku suka kaget sama kepintaranmu yang sesekali muncul!”
Aku mendelik. “Sesekali, kamu bilang?!”
Holmes ketawa kecil, terus narik lengan jaketnya. “Ayo, kita ke kantor koran sekarang. Nanti keburu tutup!”
Kami pun bergegas keluar untuk pergi ke kantor surat kabar, berharap Mr. Henry Baker bakal muncul dan bawa jawaban atas misteri ini.
Dukung Penulis/Penerjemah Novel Favoritmu
Login untuk memberikan vote dukungan
📝 Belum ada komentar untuk bab ini. Jadilah yang pertama berkomentar!
Silakan login untuk meninggalkan komentar.