Bab 2 – Siulan di Malam Hari
• The Adventure of the Speckled Band •
Helen lanjutin keterangannya.
“Keluarga Roylott dulu termasuk yang paling kaya di Inggris. Tanah mereka lebar banget, nyebar ke Berkshire di utara dan Hampshire di barat. Tapi di abad terakhir, empat ahli waris berturut-turut punya sifat boros dan suka foya-foya, dan kekayaan keluarga itu akhirnya hancur di tangan seorang ahli waris yang doyan judi.
“Enggak ada yang tersisa kecuali beberapa hektar tanah dan rumah berumur 200 tahun, yang sekarang juga udah pada masuk pegadaian. Pemilik terakhirnya hidup sengsara di sana, kayak orang miskin yang aristokrat.
“Anak satu-satunya pewaris itu, ayah tiriku, sadar kalo dia harus nyesuaiin diri dengan kondisi baru. Dia dapet pinjeman dari saudara, yang bikin dia bisa dapet gelar dokter, terus pergi ke Kalkutta, di mana, berkat keahlian profesionalnya dan karakternya yang kuat, dia bisa buka praktik besar.
“Tapi karena marah sama perampokan yang terjadi di rumahnya, dia sampe bunuh pembantu yang orang lokal dan hampir kena hukuman mati. Dia akhirnya dipenjara lama, dan pas balik ke Inggris jadi orang yang pemurung dan temperamental.
“Waktu Dr. Roylott di India, dia nikah sama ibuku, Mrs. Stoner, janda muda dari Mayor Jenderal Stoner dari Artileri Bengal. Aku sama saudariku Julia itu anak kembar, dan kami baru berumur dua tahun pas ibu nikah lagi.
“Ibu punya penghasilan yang cukup banyak, enggak kurang dari seribu pound setahun, dan dia warisin semuanya ke Dr. Roylott selama kami tinggal sama dia, dengan syarat kami dapet uang tahunan kalo kami nikah.
“Beberapa waktu setelah kami balik ke Inggris, Ibu meninggal—dia tewas delapan tahun lalu dalam kecelakaan kereta dekat Crewe. Dr. Roylott akhirnya berhenti dari praktiknya di London dan bawa kami tinggal di rumah leluhurnya di Stoke Moran. Penghasilan yang ditinggalin Ibu cukup buat semua kebutuhan kami, dan kayaknya enggak ada yang enggak bikin kami hidup enak dan bahagia.
“Tapi beberapa waktu belakangan, ayah tiri kami berubah jadi serem. Bukannya temenan sama tetangga, yang awalnya seneng banget liat keluarga Roylott balik ke rumah leluhurnya, dia malah ngurung diri di rumah dan jarang banget keluar, kecuali buat berantem sama siapapun yang ganggu dia.
“Sifat emosional yang sampe kayak orang gila itu kok kayaknya udah turun-temurun di keluarga ini. Dalam kasus ayah tiriku, kayaknya makin parah karena dia tinggal lama di daerah tropis. Dia bolak-balik ngajak kelahi orang, bahkan untuk urusan sepele banget, dua di antaranya sampe berakhir di pengadilan. Sampe akhirnya dia jadi momok di desa, dan orang-orang bakal kabur kalo dia dateng, soalnya dia orangnya kuat banget dan enggak bisa dikontrol kalo lagi marah.
“Minggu lalu dia ngelempar pandai besi dari pagar ke sungai. Dan cuma dengan bayar aparat pake semua uang yang bisa aku kumpulin, aku bisa bikin dia terhindar dari masalah yang lebih besar.
“Dia enggak punya temen sama sekali kecuali orang gipsi yang suka keliling, dan dia ngasih mereka izin buat berkemah di beberapa hektar tanah penuh semak yang jadi sisa tanah keluarga Roylott. Sebagai gantinya dia bebas dateng ke tenda-tenda mereka, kadang pergi sama mereka selama berminggu-minggu.
“Dia juga punya hobi koleksi binatang India, yang dikirim sama korespondennya. Terus sekarang dia punya cheetah dan babon yang dibiarin keliaran bebas di tanahnya, bikin takut penduduk desa hampir sama kayak mereka takut sama pemilik hewan-hewan itu.
“Dari semua yang aku ceritain ini, bisa dibayangin gimana aku sama kembaranku Julia enggak punya kehidupan yang bahagia. Emggak ada pelayan yang mau tinggal sama kami, dan untuk waktu yang lama kami ngurusin semua pekerjaan rumah sendiri. Julia baru berumur tiga puluhan tahun waktu meninggal, tapi rambutnya udah mulai putih, sama kayak aku.”
“Jadi kembaran kamu udah meninggal?”
“Dia meninggal dua tahun lalu, dan itu yang mau aku ceritain sekarang. Mustinya bisa dipahami, dengan kehidupan kayak yang aku ceritain tadi, kami jarang ketemu orang yang seumuran dan setara sama kami. Tapi kami punya bibi, adik perempuan Ibu, Miss Honoria Westphail, yang tinggal deket Harrow, dan kami kadang diizinin buat main sebentar ke rumahnya.
“Julia main ke sana waktu Natal dua tahun lalu, dan kenalan sama seorang Mayor Marinir setengah baya, yang akhirnya tunangan sama dia. Ayah tiri tahu soal pertunangan itu waktu Julia balik, dan enggak nolak encana pernikahan mereka; tapi kurang dua minggu dari hari yang udah ditentuin buat mereka nikah, kejadian mengerikan itu terjadi dan bikin aku kehilangan satu-satunya temen.”
Sherlock Holmes udah nyender di kursi dengan mata merem dan kepalanya nyender di bantal, tapi pas denger kalimat terakhir, dia buka mata setengah dan ngeliat tamu kami.
“Tolong jelasin detail kejadiannya,” katanya.
“Enggak sulit buatku nyeritain semuanya dengan detail, soalnya setiap kejadian di waktu itu udah nempel di ingetanku. Rumah manor itu, kayak yang udah aku bilang, udah tua banget, dan cuma satu sayap yang sekarang ditempatin.
“Kamar tidur di sayap ini ada di lantai dasar, ruang tamu ada di bagian tengah bangunan. Dari deretan kamar tidur di sini, yang pertama punya Dr. Roylott, yang kedua punya Julia, dan yang ketiga punyaku. Enggak ada koneksi di antara kamar-kamar itu, tapi semuanya ngadep ke koridor yang sama. Apa ceritaku jelas?”
“Jelas banget.”
“Jendela dari tiga kamar itu kebuka ke arah taman. Malam naas itu Dr. Roylott udah masuk kamarnya lebih sore, walaupun kami tahu dia belum tidur, soalnya Julia ngerasa keganggu sama bau cerutu India yang lagi dia hisap. Jadi Julia keluar dari kamarnya dan dateng ke kamarku, di mana dia duduk sebentar, ngobrolin soal pernikahannya yang udah deket. Jam sebelas dia mau balik lagi ke kamarnya, tapi baru nyampe pintu dia berhenti Dan balik badan ngeliat aku.
“‘Coba kamu inget-inget, Helen,’ katanya, ‘kamu pernah denger orang siul-siul pas tengah malem?’
“‘Enggak pernah,’ jawabkku.
“‘Aku rasa kita enggak mungkin bisa siul-siul sendiri pas lagi tidur, kan?’
“‘Ya iyalah! Enggak mungkin banget. Kenapa emangnya?’
“‘Soalnya beberapa malem terakhir aku selalu denger suara orang siul-siul. Pelan tapi jelas, biasanya sekitar jam tiga pagi. Aku tuh tidurnya enggak pernah bisa bener-bener nyenyak, jadi suara itu selalu bangunin aku. Aku enggak tahu siulan itu dari mana—mungkin dari kamar sebelah, mungkin dari taman. Aku cuma mau nanya apa kamu juga pernah denger suara itu.’
“‘Enggak, aku nggak pernah denger. Mungkin itu orang gipsi yang kemah di kebun.’
“‘Mungkin. Tapi kalo itu di kebun, aku heran kenapa kamu enggak denger juga.’
“Palingan karena aku tidurnya lebih nyenyak dari kamu.’
“‘Yah, enggak masalah sih,’ dia balas senyum ke aku, nutup pintu kamarku, dan beberapa saat kemudian aku denger pintu kamarnya dikunci.’
“Memangnya,” kata Holmes, “kalian selalu ngunci pintu kamar waktu malem?”
“Selalu.”
“Kenapa?”
Dukung Penulis/Penerjemah Novel Favoritmu
Login untuk memberikan vote dukungan
📝 Belum ada komentar untuk bab ini. Jadilah yang pertama berkomentar!
Silakan login untuk meninggalkan komentar.