Bab 5 – Rencana Sherlock Holmes
• The Adventure of the Speckled Band •
Bangunan rumah keluarga Roylott dibuat dari batu abu-abu yang udah penuh lumut, dengan bagian tengah yang tinggi, sama dua sayap melengkung, kayak capit kepiting, di setiap sisi. Di salah satu sayap, jendelanya pecah dan ditutup pake papan kayu, sementara atapnya sebagian udah ambruk, keliatan kayak reruntuhan.
Bagian tengah bangunan enggak jauh lebih baik, tapi blok sebelah kanan keliatan lebih modern. Tirai di jendelanya, dengan asap biru yang ngepul dari cerobong asap, nunjukkin kalo itu tempat di mana para penghuninya tinggal.
Ada perancah yang dibangun di ujung tembok, dan batu-batunya udah dibongkar, tapi enggak ada tanda-tanda ada pekerja bangunan waktu kami dateng. Holmes jalan pelan-pelan di atas rerumputan yang enggak rapi, dan meriksa bagian luar jendela dengan teliti.
“Ini, aku tebak, kamar yang biasa kamu tempatin, yang tengah punya kembaran kamu, terus yang sebelah bangunan utama punya Dr. Roylott. Bener, kan?”
“Iya, bener banget. Tapi sekarang aku tidur di kamar yang tengah.”
“Sambil nunggu kamarmu direnovasi, kan? Ngomong-ngomong, kayaknya enggak ada yang musti direnovasi deh di tembok ujung itu. Buat apa coba?”
“Emang enggak ada. Aku nebak itu cuma alasan aja buat mindahin aku dari kamarku.”
“Ah! Ini menarik. Sekarang, di sebelah lain sayap sempit ini ada koridor yang jadi akses ke tiga kamar ini. Di situ ada jendelanya, kan?”
“Iya, tapi kecil banget. Terlalu sempit buat orang lewat.”
“Karena kamu berdua selalu ngunci pintu kamar waktu malem, kamar kamu enggak bisa diakses dari sebelah situ. Sekarang, tolong masuk ke kamar kamu, terus kunci penutup jendelanya.”
Helen Stoner nurut dan lakuin apa yang dibilang Holmes.
Setelah ngecek dengan teliti lewat jendela yang kebuka, Holmes nyoba buka penutup jendelanya dengan segala cara, tapi enggak berhasil. Bahkan enggak ada celah yang cukup untuk masukin pisau buat ngangkat palangnya. Terus dia periksa engselnya pake kaca pembesar, tapi benda itu dibuat dari besi padet keras, disatuin ke tembok yang tebal pake semen kuat.
“Hmm!” kata Holmes, sambil garuk-garuk dagu dengan bingung, “dugaanku kayaknya enggak sepenuhnya bener. Enggak ada yang bisa lewat dari penutup jendela ini kalo dikunci. Oke, kita bakal liat apa bagian dalemnya bisa kasih petunjuk lain.”
Satu pintu samping kecil jadi tempat masuk ke koridor putih yang jadi akses ke tiga kamar tidur. Holmes enggak mau ngecek kamar ketiga, jadi kami langsung ke kamar kedua, kamar tengah tempat Helen Stoner sekarang tidur, sekaligus tempat kembarannya meninggal.
Kamarnya kecil tapi nyaman, dengan langit-langit rendah dan perapian yang kebuka, kayak rumah-rumah tua di pedesaan. Ada lemari cokelat di satu sudut, tempat tidur putih sempit di sudut lain, sama meja rias di sisi kiri jendela. Semua barang ini, ditambah dua kursi anyaman kecil, jadi perabotan penghias kamar itu, ditambah karpet Wilton persegi di tengah.
Papan lantai dan panel temboknya dari kayu ek cokelat yang udah dimakan rayap, udah tua dan pudar. Kayaknya masih asli dan enggak pernah diganti sejak rumah itu dibangun.
Holmes narik salah satu kursi ke sudut dan duduk diem, sambil matanya muter-muter, ngeliatin setiap detail ruangan.
“Bel itu nyambung ke mana?” tanyanya akhirnya, sambil nunjuk ke tali bel besar yang nggantung di samping tempat tidur, dengan rumbai yang nyender di bantal.
“Itu nyambung ke kamar pembantu di belakang.”
“Keliatannya lebih baru dari yang lain-lain di kamar ini?”
“Iya, itu baru dipasang beberapa tahun lalu.”
“Kembaran kamu yang minta, ya?”
“Enggak, aku enggak pernah denger dia make itu. Lagian, kami udah biasa ngurusin sendiri apa aja yang kami butuhin.”
“Emang, keliatannya enggak perlu pasang tali bel yang bagus di situ. Sekarang tolong kasih aku beberapa menit buat meriksa lantai ini.”
Holmes langsung tengkurep dengan kaca pembesar di tangan, terus ngerangkak cepat bolak-balik, meriksa celah-celah antara papan lantai. Dia lakuin hal yang sama dengan kayu yang jadi panel di kamar itu. Terus dia jalan ke tempat tidur dan ngeliatin benda itu beberapa lama, sambil matanya muter-muter di tembok.
Akhirnya dia pegang tali bel dan ditarik dengan cepat. “Wah, ini palsu,” katanya.
“Lho, jadi itu enggak bakal bunyi?”
“Enggak, ini bahkan enggak nyambung ke kabel bel. Ini menarik banget. Kamu bisa liat sekarang kalo tali bel ini diikat ke kait tepat di atas lubang kecil ventilasi.”
“Kok aneh, ya? Aku enggak pernah merhatiin itu sebelumnya.”
“Aneh banget!” gumam Holmes, sambil narik tali itu lagi. “Ada satu-dua hal yang aneh banget di kamar ini. Contohnya, kok goblok banget tukang bangunannya buka ventilasi di kamar lain, padahal dia bisa bikin ventilasi ke udara luar di kamar ini!”
“Tapi itu juga terhitung baru,” kata Helen Stoner.
“Iya, kayaknya juga dibuat di waktu yang sama dengan tali bel,” tambah Holmes.
“Iya, emang ada beberapa renovasi kecil di waktu-waktu itu.”
“Keliatannya renovasi itu punya tujuan yang menarik—tali bel palsu, juga ventilasi bo’ongan. Kalo kamu kasih izin, Nona Stoner, kami bakal lanjutin penyelidikan ke kamar dalam.”
Kamar Dr. Grimesby Roylott lebih besar dari kamar anak tirinya, tapi sama-sama sederhana. Tempat tidur lipat, rak kayu kecil penuh buku–kebanyakan buku teknis, kursi males di samping tempat tidur, kursi kayu polos di tembok, meja bundar, sama brankas besi besar jadi barang-barang utama yang langsung keliatan mata.
Holmes jalan pelan-pelan dan ngecek semuanya dengan penuh minat.
“Ada apa di sini?” tanya dia, sambil ngetok-ngetok brankas.
“Surat-surat bisnis ayah tiriku.”
“Oh! Kamu pernah liat isinya?”
“Cuma sekali, beberapa tahun lalu. Aku inget di dalemnya penuh sama kertas.”
“Di dalemnya enggak ada kucing, kan?”
“Enggak. Dugaan yang aneh!”
“Yah, coba liat ini!” Holmes ngambil piring kecil berisi susu yang ada di atas brankas.
“Enggak; kam enggak pelihara kucing. Tapi ada cheetah sama babon.”
“Ah, iya, tentu! Cheetah itu cuma kucing besar, tapi aku yakin mereka enggak bakal cukup kalo disuruh minum susu di piring kecil kayak gini. Ada satu hal yang pengen aku pastiin.” Holmes jongkok di depan kursi kayu, terus meriksa dudukannya dengan teliti.
“Terima kasih. Semua udah jelas,” katanya, sambil berdiri dan masukin kaca pembesarnya ke kantong. “Halo! Ada sesuatu yang menarik!”
Benda yang menarik perhatiannya itu cambuk kecil yang digantung di salah satu sudut tempat tidur. Cambuknya melingkar dan diiket jadi simpul.
“Menurut kamu itu apa, Watson?”
“Itu cambuk biasa. Tapi aku enggak tahu kenapa kok diiket gitu.”
“Agak aneh, kan? Ah, ya! Dunia ini jahat, dan kalo orang pinter pake otaknya buat ngelakuin kejahatan, itu paling parah sih. Aku pikir aku udah liat semua yang aku pengen tau, Nona Stoner. Kalo kamu kasih izin, kami mau jalan-jalan ke taman.”
Aku enggak pernah liat wajah Holmes seserius atau segelap ini waktu kami ninggalin kamar tempat penyelidikan ini. Kami udah jalan bolak-balik di taman beberapa kali, dan aku sama Nona Stoner enggak berani ganggu pikirannya sebelum dia sendiri yang kemudian ngomong.
“Denger aku, Nona Stoner,” katanya, “kamu musti nurut sama semua yang bakal aku kasih tau.”
“Iya, aku bakal nurut.”
“Ini serius banget, jadi kamu enggak boleh ragu-ragu sedikit pun. Hidupmu mungkin banget bakal tergantung sama nurut apa enggaknya kamu.”
“Aku bakal nurutin semuanya.”
“Pertama, malem ini aku sama temenku musti nginep di kamar kamu.”
Aku sama Nona Stoner langsung ngeliat Holmes dengan kaget.
Apa maksudnya coba, minta nginep di kamar cewek?
Dukung Penulis/Penerjemah Novel Favoritmu
Login untuk memberikan vote dukungan
📝 Belum ada komentar untuk bab ini. Jadilah yang pertama berkomentar!
Silakan login untuk meninggalkan komentar.