Sebuah Kisah tentang Kesendirian
• The House on the Borderland •
The House on the Borderland adalah sebuah ziarah menuju ketidak-mungkinan kosmos. William Hope Hodgson, yang menulisnya pada 1908, menghadirkan karya yang aneh, eksperimental, bahkan cenderung liar dalam struktur naratifnya. Namun di balik keanehan itu, tersembunyi sebuah visi yang akan memberi pengaruh besar pada generasi setelahnya, terutama Lovecraft.
Novel ini dimulai sederhana: dua petualang menemukan sebuah manuskrip tua di reruntuhan rumah terpencil di Irlandia. Dari sinilah kita diajak masuk ke dalam catatan sang penghuni rumah, seorang pria yang tak disebut namanya.
Apa yang tertulis dalam buku harian itu menantang batas imajinasi: serangan makhluk-makhluk babi dari jurang bawah tanah, perjalanan melalui ruang dan waktu hingga menyaksikan kehancuran matahari, dan penglihatan kosmik yang seolah menghapus makna eksistensi manusia.
Rumah itu sendiri, “house on the borderland”, bukan sekadar bangunan, melainkan simbol liminal: berada di perbatasan antara dunia nyata dan sesuatu yang lebih purba, lebih asing, lebih mengerikan.
Menerjemahkan karya ini sangat menantang, sebab Hodgson sering kali menulis dengan gaya yang meloncat-loncat. Narasi bisa berpindah dari deskripsi harian yang tenang, ke peperangan melawan makhluk babi yang brutal, lalu tiba-tiba melesat ke visi kosmik yang membentang jutaan tahun.
Konsistensi gaya bahasa menjadi pertaruhan. Kami berusaha menjaga perbedaan ritme itu dalam bahasa Indonesia: bagian harian dibuat tenang dan reflektif, bagian pertempuran dibuat padat dan keras, sementara bagian kosmik dijaga tetap megah, nyaris seperti kitab suci yang apokaliptik.
Ada pula tantangan dalam istilah religius-metafisik. Hodgson banyak menggunakan kata-kata yang bernuansa mistik, kadang menyerempet ke bahasa Kristen, kadang ke arah okultisme.
Dalam penerjemahan, kami harus memilih diksi yang tepat agar tidak terasa janggal, tetapi tetap menjaga nuansa misterius. Misalnya, istilah tentang “the Pit” atau “the Swine-things” tidak diterjemahkan ke padanan literal yang kaku, tetapi diolah agar terasa organik bagi pembaca Indonesia tanpa kehilangan efek seram.
Mengapa karya ini penting bagi kita?
Karena ia adalah cikal bakal horor kosmik modern. Lovecraft sendiri mengakui utangnya pada Hodgson, khususnya dalam hal visi kosmik yang melampaui manusia.
Namun berbeda dari Lovecraft yang kering dan penuh nihilisme, Hodgson masih memberikan ruang bagi lirih keindahan, bahkan cinta—seperti hubungannya dengan sang saudari yang hanya sebentar disentuh tetapi penuh emosi.
Dalam arti ini, The House on the Borderland adalah sebuah kisah tentang kesendirian, tentang manusia yang berdiri di ambang jurang semesta, menyadari kecilnya diri, tetapi tetap mencoba memahami.
Membaca novel ini dalam bahasa Indonesia adalah pengalaman yang penting. Ia mengajak kita menengok jauh ke dalam imajinasi awal abad ke-20, ketika horor belum sepenuhnya menjadi formula industri, melainkan masih sebuah eksperimen liar.
Bagi kami, menerjemahkannya adalah upaya untuk membuka jendela itu kembali bagi pembaca modern. Kami ingin pembaca Indonesia merasakan keterasingan yang sama: perasaan bahwa rumah bisa menjadi pintu ke dunia lain, bahwa malam bisa menyimpan makhluk yang menunggu, bahwa semesta bisa berakhir dalam kesunyian yang abadi.
Kata pengantar ini sekaligus menjadi undangan: mari membaca The House on the Borderland bukan hanya sebagai cerita seram, tetapi sebagai sebuah mitos modern.
Ia mengingatkan kita bahwa sastra horor tidak sekadar soal menakut-nakuti, melainkan juga soal merenungkan posisi manusia di tengah kosmos yang tak terbatas. Hodgson, dengan segala kejanggalannya, berhasil menangkap momen itu.
Dan kini, melalui terjemahan ini, kami berharap pembaca Indonesia pun dapat ikut berdiri di ambang jurang, menatap kegelapan, dan merasakan tarikan misteri yang sama.
Selamat membaca.
Dukung Penulis/Penerjemah Novel Favoritmu
Login untuk memberikan vote dukungan
📝 Belum ada komentar untuk bab ini. Jadilah yang pertama berkomentar!
Silakan login untuk meninggalkan komentar.