The Odyssey

Buku I – Sidang Para Dewa

πŸ‘οΈ 1 tayangan

Ringkasan

Dalam sidang para dewa diputuskan bahwa Odysseus harus dipulangkan dari Pulau Ogygia, tempat nimfa Kalypso menahannya. Athena kemudian pergi ke Ithaka dengan menyamar sebagai Mentes, raja bangsa Taphia dan sahabat lama Odysseus. Kepada Telemakhos, ia menganjurkan agar mencari kabar tentang ayahnya dengan mengunjungi Nestor di Pylos dan Menelaos di Sparta. Setelah menyingkapkan tanda-tanda keilahiannya, Athena pergi. Telemakhos kemudian menegur ibunya, Penelope, agar kembali ke kamar atas, dan di hadapan para pelamar menyatakan bahwa kelak ia akan membalas penghinaan yang mereka lakukan.

NYANYIKANLAH bagiku, wahai Dewi Muse, kisah lelaki yang penuh siasat itu, yang telah mengembara jauh setelah menumbangkan kota suci Troya. Banyak negeri ia jelajahi, banyak pula manusia yang dikenalnya beserta adat dan watak mereka. Di tengah lautan ia menanggung begitu banyak penderitaan demi menyelamatkan nyawanya sendiri dan membawa pulang sahabat-sahabatnya.

Namun, betapa pun keras usahanya, ia tidak mampu menyelamatkan mereka. Mereka binasa karena kebodohan mereka sendiriβ€”orang-orang malang yang memakan ternak suci Helios, sang Dewa Matahari yang menempuh perjalanannya di langit. Karena itulah sang dewa merampas hari kepulangan mereka. Wahai putri Zeus, kisahkanlah kepada kami sebagian dari semua itu.

Kini semua pahlawan lain yang berhasil lolos dari kebinasaan telah kembali ke negeri masing-masing, selamat dari perang maupun ganasnya lautan. Hanya Odysseus seorang yang masih terpisah dari tanah air dan istrinya. Nimfa mulia Kalypso, salah seorang dewi, menahannya di dalam gua yang luas karena menghendakinya menjadi suami.

Tetapi ketika putaran tahun demi tahun akhirnya membawa saat yang telah ditentukan para dewa bagi kepulangannya ke Ithaka, bahkan ketika waktunya telah tiba, penderitaannya belum juga berakhir, meskipun ia kelak akan berada di tengah orang-orang yang mengasihinya. Semua dewa menaruh belas kasihan kepadanya, kecuali Poseidon, yang tidak pernah berhenti murka kepada Odysseus yang setara dewa itu hingga ia kembali menginjakkan kaki di tanah kelahirannya.

Pada waktu itu Poseidon sedang berada jauh di negeri bangsa Aethiopia, manusia yang tinggal paling jauh di muka bumi. Sebagian menetap di tempat matahari terbit, sebagian lagi di tempat matahari terbenam. Di sana ia menerima persembahan agung berupa seratus ekor lembu dan domba, lalu duduk menikmati jamuan mereka. Sementara itu, para dewa lainnya berkumpul di istana Zeus di puncak Olimpus.

Di sanalah Zeus, Bapa para dewa dan manusia, mulai berbicara. Ingatannya tertuju kepada Aigisthos yang telah dibunuh Orestes, putra Agamemnon yang termasyhur. Mengenang nasibnya, Zeus berkata kepada para dewa yang abadi,

“Betapa anehnya manusia selalu menyalahkan para dewa. Mereka berkata bahwa segala penderitaan berasal dari kita, padahal merekalah yang, karena kebodohan mereka sendiri, menanggung kesengsaraan melebihi apa yang telah ditentukan takdir.

“Lihatlah Aigisthos. Melawan kehendak takdir, ia memperistri istri Agamemnon dan membunuh sang raja ketika pulang dari Troya, padahal ia telah diperingatkan tentang kehancuran yang menantinya. Kami mengutus Hermes, pembunuh Argos yang setia, untuk memperingatkannya agar tidak membunuh Agamemnon ataupun meminang istrinya, sebab Orestes kelak akan membalas kematian ayahnya ketika ia dewasa dan kembali menuntut haknya. Hermes telah menyampaikan semuanya, tetapi Aigisthos tidak mau mendengarkan. Kini ia telah menanggung balasan atas segala perbuatannya.”

Athena yang bermata kelabu menjawab, “Wahai Ayahku, putra Kronos, raja yang tertinggi, memang pantas ia menerima kematian seperti itu. Demikian pula hendaknya binasa siapa pun yang melakukan kejahatan serupa.

“Akan tetapi, hatiku pilu memikirkan Odysseus yang bijaksana dan malang itu. Sudah terlalu lama ia terpisah dari sahabat-sahabatnya dan menderita di sebuah pulau yang dikelilingi laut, tepat di tengah samudra. Pulau itu berhutan lebat, dan di sanalah tinggal seorang dewi, putri Atlas yang berhikmat, yang mengetahui kedalaman seluruh lautan dan menopang tiang-tiang agung yang memisahkan bumi dan langit. Putrinya itulah yang menahan Odysseus. Dengan kata-kata yang lembut dan penuh bujukan ia terus berusaha membuatnya melupakan Ithaka.

“Namun Odysseus hanya merindukan tanah kelahirannya. Bahkan andai ia hanya dapat melihat asap yang mengepul dari negerinya sendiri sekali lagi, ia rela mati sesudahnya. Tidakkah hatimu tergerak, wahai Zeus Olimpus? Bukankah dahulu Odysseus mempersembahkan kurban yang berlimpah kepadamu di Troya yang luas, di dekat kapal-kapal bangsa Yunani? Mengapa engkau begitu murka kepadanya?”

Zeus Sang Penghimpun Awan menjawab, “Anakku, bagaimana mungkin perkataan seperti itu keluar dari bibirmu? Bagaimana mungkin aku melupakan Odysseus yang mulia, manusia yang mengungguli semua orang dalam kebijaksanaan dan yang paling banyak mempersembahkan kurban kepada para dewa penghuni langit?

“Tetapi Poseidon, Penguasa Lautan, terus menyimpan amarah karena Odysseus telah membutakan mata Polyphemos, sang kiklop yang perkasa. Polyphemos adalah putra Poseidon dengan nimfa Thoosa, putri Phorkys, penguasa lautan yang tandus. Karena itulah Poseidon tidak membunuh Odysseus, tetapi terus mengembarakannya jauh dari tanah kelahirannya.

“Namun marilah kita semua bersama-sama memikirkan jalan agar ia dapat pulang. Poseidon pada akhirnya harus meredakan kemarahannya, sebab ia seorang diri tidak akan sanggup menentang kehendak semua dewa yang abadi.”

Athena yang bermata kelabu pun berkata, “Wahai ayahku, putra Kronos, raja yang tertinggi, apabila memang para dewa yang berbahagia telah berkehendak agar Odysseus yang bijaksana kembali ke negerinya, marilah kita segera mengutus Hermes, pembunuh Argos, ke Pulau Ogygia. Biarlah ia menyampaikan kepada nimfa berambut indah itu keputusan kita yang tidak dapat diubah: bahwa Odysseus yang tabah harus diizinkan pulang ke tanah airnya.

“Sementara itu aku sendiri akan pergi ke Ithaka. Aku akan membangkitkan semangat putranya dan menanamkan keberanian ke dalam hatinya. Aku akan mendorongnya memanggil sidang bangsa Yunani yang berambut panjang dan memerintahkan para pelamar berhenti menyembelih domba-domba serta lembu-lembunya yang gemuk. Sesudah itu aku akan mengirimnya ke Sparta dan Pylos yang berpasir untuk mencari kabar tentang ayahnya. Jika ia memperoleh berita, setidaknya nama baik akan menyertainya di antara manusia.”

Setelah berkata demikian, Athena mengenakan sandal emasnya yang abadi, sandal yang membawanya melintasi ombak laut maupun hamparan bumi seluas angin bertiup. Kemudian ia menggenggam tombak perunggunya yang besar, berat, dan berujung tajamβ€”senjata yang dengannya ia meruntuhkan barisan para pahlawan ketika murka menyala di dalam hatinya.

Bagaikan kilat ia melesat turun dari puncak Olimpus dan tiba di Ithaka. Ia berdiri di depan gerbang istana Odysseus sambil menyamar sebagai Mentes, penguasa bangsa Taphia. Di tangannya tergenggam tombak perunggu seorang pengembara.

Di sana ia melihat para pelamar yang congkak sedang bersenang-senang di halaman istana. Sebagian duduk di atas kulit lembu yang mereka sembelih sendiri sambil bermain lempar dadu. Para bentara dan pelayan sibuk melayani mereka; ada yang mencampurkan anggur dengan air ke dalam bejana, ada yang mengelap meja dengan spons berpori halus, sementara yang lain memotong daging untuk jamuan.

Telemakhos adalah orang pertama yang melihat Athena. Ia duduk di tengah-tengah para pelamar, tetapi hatinya dipenuhi duka. Dalam benaknya ia membayangkan ayahnya yang mulia tiba-tiba kembali, mengusir para pelamar dari istana, merebut kembali kehormatannya, dan sekali lagi memerintah rumah tangganya sendiri.

Ketika masih tenggelam dalam lamunan itu, pandangannya tertuju kepada tamu asing yang berdiri di depan gerbang. Ia segera bangkit, sebab ia merasa malu membiarkan seorang tamu menunggu begitu lama di ambang pintu.

Ia menghampiri tamu itu, menjabat tangan kanannya, menerima tombak perunggunya, lalu berkata dengan ramah, “Selamat datang, wahai tamu. Engkau akan kami sambut sebagaimana mestinya. Setelah engkau menikmati hidangan kami, barulah engkau dapat menyampaikan maksud kedatanganmu.”

Telemakhos berkata demikian, lalu mempersilakan tamunya masuk, sementara Athena mengikutinya ke dalam istana.

Sesampainya di ruang utama, Telemakhos menerima tombak perunggu dari tangan tamunya dan menyandarkannya pada sebuah tiang tinggi di dalam gudang senjata yang dipoles mengilap. Di sana telah berjajar banyak tombak lain milik Odysseus yang tabah. Sesudah itu ia mengantar tamunya menuju sebuah takhta yang indah berhias ukiran berwarna-warni. Ia membentangkan sehelai kain di atasnya, sementara sebuah tumpuan kaki telah tersedia di bawah kursi itu.

Untuk dirinya sendiri, Telemakhos mengambil sebuah kursi yang diletakkan agak berjauhan dari para pelamar. Ia khawatir tamunya akan merasa terganggu oleh kegaduhan mereka dan kehilangan selera makan di tengah orang-orang yang begitu congkak. Selain itu, ia ingin berbicara leluasa dengan tamu asing itu mengenai ayahnya yang telah lama menghilang.

Seorang pelayan perempuan datang membawa kendi emas yang indah. Ia menuangkan air ke atas baskom perak agar mereka dapat membasuh tangan, lalu meletakkan sebuah meja yang telah dipoles hingga berkilau di hadapan mereka.

Tak lama kemudian, pengurus rumah tangga yang telah lanjut usia menghidangkan roti dan aneka makanan terbaik yang masih tersedia di dalam rumah, berusaha menjamu mereka sebaik mungkin. Sang juru masak menyajikan berbagai macam daging di atas piring-piring, sementara cawan-cawan emas diletakkan di sisi mereka. Seorang bentara terus berkeliling menuangkan anggur ke dalam cawan.

Tak lama berselang, para pelamar yang angkuh memasuki balairung. Mereka duduk berderet di atas kursi dan dipan. Para bentara kembali membawakan air untuk membasuh tangan mereka, sementara para pelayan perempuan memenuhi keranjang-keranjang dengan roti. Semua orang pun mengulurkan tangan mengambil hidangan yang tersaji di hadapan mereka, dan para pelayan muda terus mengisi cawan mereka dengan anggur.

Setelah rasa lapar dan haus mereka terpuaskan, perhatian para pelamar beralih kepada hiburan, sebab nyanyian dan tarian selalu menjadi pelengkap sebuah perjamuan.

Bentara kemudian meletakkan sebuah kecapi yang indah ke tangan Phemios, penyanyi istana yang terpaksa menghibur para pelamar. Ia mulai memetik senarnya dan melantunkan lagu dengan suara merdu.

Sementara itu, Telemakhos mendekatkan kepalanya kepada Athena yang bermata kelabu agar percakapan mereka tidak terdengar oleh orang lain.

“Wahai tamu yang mulia,” katanya lirih, “jangan tersinggung oleh apa yang akan kukatakan. Bagi orang-orang itu, nyanyian dan kecapi hanyalah hiburan yang mereka nikmati tanpa rasa malu, sebab mereka menghabiskan harta milik orang lain tanpa harus mempertanggungjawabkannya. Mereka berpesta dengan kekayaan seorang lelaki yang mungkin kini tinggal tulang-belulangnya saja, membusuk diterpa hujan di suatu daratan asing, atau digulung ombak di dasar laut.

“Andai sekarang mereka melihat ayahku kembali ke Ithaka, niscaya mereka lebih memilih memiliki kaki yang mampu berlari cepat daripada emas atau pakaian yang melimpah. Tetapi nasib buruk telah menimpanya. Kini tidak ada lagi penghiburan bagi kami. Sekalipun ada orang yang datang dan mengatakan bahwa ayahku masih hidup dan akan pulang, harapan itu hampir mustahil kami percayai. Hari kepulangannya seakan telah lenyap.

“Tetapi sekarang, ceritakanlah kepadaku dengan jujur. Siapakah engkau? Dari manakah asalmu? Di negeri mana kotamu berada? Siapakah ayah dan ibumu? Kapal macam apa yang membawamu ke Ithaka? Siapakah para pelaut yang mengantarmu? Aku tidak percaya engkau datang ke sini dengan berjalan kaki.

“Katakan pula kepadaku apakah engkau baru pertama kali datang ke rumah ini, ataukah dahulu engkau pernah menjadi tamu ayahku? Banyak orang mengenal rumah kami, sebab ayahku gemar bergaul dengan siapa saja.”

Athena yang bermata kelabu menjawab, “Aku akan menjawab semua pertanyaanmu dengan terus terang. Aku adalah Mentes, putra Anchialos yang gagah berperang, dan aku memerintah bangsa Taphia yang mencintai lautan.

“Aku datang ke sini bersama kapal dan awakku, berlayar menyeberangi laut yang gelap menuju negeri yang bahasanya berbeda. Tujuanku adalah Temese untuk memperoleh tembaga, sementara kapal kami membawa baja yang berkilau sebagai barang dagangan. Kapal kami kini berlabuh di Pelabuhan Reithron, di bawah lereng Gunung Neios yang berhutan, agak jauh dari kota.

“Ayah kita telah lama menjalin persahabatan. Jika engkau bertanya kepada Laertes yang telah tua, ia akan membenarkannya. Namun kini ia hampir tidak pernah lagi datang ke kota. Ia tinggal menyendiri di pedesaan, ditemani seorang pelayan tua yang menyiapkan makanan dan minuman baginya setiap kali tubuhnya letih setelah bekerja merawat kebun anggurnya.

“Aku datang ke sini karena kudengar ayahmu telah kembali. Tetapi tampaknya para dewa masih menghalangi perjalanannya. Odysseus yang mulia belum meninggal. Ia masih hidup, hanya saja tertahan di suatu tempat di tengah samudra yang luas, di sebuah pulau yang dikelilingi laut. Orang-orang yang kejam dan liar menahannya di sana melawan kehendaknya.

“Aku akan mengatakan sesuatu yang kurasakan berasal dari ilham para dewa, meskipun aku bukan seorang peramal dan tidak memahami pertanda burung. Menurut keyakinanku, ia tidak akan lama lagi berada jauh dari tanah kelahirannya. Sekalipun dibelenggu rantai baja, ia akan menemukan jalan untuk membebaskan diri. Sebab tak seorang pun lebih pandai menyusun siasat daripada Odysseus.

“Tetapi sekarang aku ingin bertanya kepadamu. Benarkah engkau putra Odysseus? Wajahmu, bentuk kepalamu, dan terutama matamu sangat menyerupai dirinya. Dahulu kami sering bersama sebelum ia berlayar menuju Troya bersama para pahlawan terbaik bangsa Yunani. Sejak saat itu aku tidak pernah melihatnya lagi, demikian pula ia tidak pernah melihatku.”

Telemakhos yang bijaksana menjawab, “Aku pun akan berbicara terus terang kepadamu, wahai tamu. Ibuku selalu mengatakan bahwa aku adalah putra Odysseus. Namun siapa yang sungguh-sungguh mengetahui siapa ayahnya sendiri?

“Sering kali aku berharap menjadi anak seorang lelaki yang berbahagia, yang dapat menikmati hari tuanya dengan tenang di tengah kekayaannya sendiri. Tetapi orang-orang mengatakan bahwa aku adalah putra manusia yang paling malang di dunia. Itulah jawaban yang dapat kuberikan.”

Athena memandangnya dengan penuh kasih.

“Para dewa tidak menakdirkan keluargamu menjadi hina,” katanya. “Penelope telah melahirkanmu, dan itu sudah cukup menjadi pertanda baik bagi masa depanmu.

“Tetapi katakanlah kepadaku satu hal lagi. Perjamuan apakah ini? Mengapa begitu banyak orang berkumpul di rumahmu? Apakah mereka sedang menghadiri pesta atau pesta pernikahan?

“Ini jelas bukan jamuan yang diselenggarakan bersama-sama. Orang-orang itu berpesta seolah-olah rumah ini milik mereka sendiri. Tingkah laku mereka begitu kurang ajar sehingga siapa pun yang berakal sehat pasti akan merasa geram melihat semua penghinaan yang mereka lakukan.”

Telemakhos menarik napas panjang sebelum menjawab, “Wahai tamu, karena engkau menanyakan hal itu, akan kuceritakan semuanya.

“Dahulu rumah ini dikenal sebagai salah satu yang paling makmur dan paling dihormati, selama ayahku masih tinggal di sini. Tetapi kini para dewa menghendaki jalan yang berbeda. Mereka menyembunyikan dirinya dari pandangan semua manusia.

“Seandainya ayahku gugur bersama rekan-rekannya di Troya, atau meninggal di pelukan sahabat-sahabatnya setelah perang usai, mungkin aku tidak akan terlalu berduka. Seluruh bangsa Yunani tentu akan mendirikan sebuah makam baginya. Nama besarnya akan diwariskan kepada anaknya untuk selama-lamanya.

“Tetapi kini ia lenyap tanpa jejak. Seolah-olah Harpyiai membawa pergi dirinya, hingga tak seorang pun mengetahui bagaimana nasibnya. Yang ditinggalkannya bagiku hanyalah kesedihan dan ratapan.

“Namun penderitaanku bukan hanya karena kehilangan ayah. Masih ada beban lain yang lebih berat. Semua pemimpin dari Dulikhion, Samos, Zakynthos yang berhutan, bahkan para bangsawan yang berkuasa di Ithaka yang berbatu, berlomba-lomba meminang ibuku. Mereka terus memenuhi rumah ini dan menghabiskan seluruh harta warisanku.

“Ibuku tidak sanggup menolak mereka, tetapi juga tidak mampu mengakhiri semuanya. Sementara itu mereka terus melahap kekayaanku sedikit demi sedikit. Dan aku yakin, bila keadaan ini terus berlangsung, bukan hanya hartaku yang akan musnah. Aku sendiri pun akhirnya akan mereka binasakan.”

Athena yang bermata kelabu memandang Telemakhos dengan belas kasihan, lalu berkata, “Sayang sekali. Betapa besar engkau membutuhkan kehadiran Odysseus. Andai sekarang ia muncul di ambang gerbang istananya dengan mengenakan ketopong, membawa perisai dan dua tombak, sebagaimana dahulu kulihat ketika ia bertandang ke rumah ayahku setelah kembali dari Ephyre, negeri Ilos putra Mermeros.

“Ketika itu Odysseus berlayar ke sana untuk mencari racun mematikan yang dapat dioleskan pada mata tombak dan anak panahnya. Namun Ilos menolak memberikannya karena takut kepada para dewa. Sebaliknya, ayahku menghadiahkannya kepada Odysseus karena sangat mengasihinya.

“Andai Odysseus yang dahulu itu kini berdiri menghadapi para pelamar, niscaya umur mereka tidak akan panjang dan pesta pernikahan yang mereka impikan akan berubah menjadi kematian yang pahit.

“Tetapi semua itu berada di tangan para dewa. Hanya mereka yang mengetahui apakah ia akan kembali dan membalas penghinaan itu di istananya sendiri. Sementara itu, pikirkanlah bagaimana caranya engkau mengusir para pelamar dari rumahmu.

“Dengarkan baik-baik nasihatku. Besok pagi, panggillah seluruh pemuka bangsa Yunani untuk mengadakan sidang. Di hadapan semua orang, dengan para dewa sebagai saksi, perintahkan para pelamar agar kembali ke rumah mereka masing-masing.

“Apabila ibumu sungguh ingin menikah lagi, biarkan ia pulang ke rumah ayahnya. Keluarganya akan menyelenggarakan pernikahan yang layak baginya dan menyediakan mas kawin sebagaimana pantas diberikan kepada seorang putri yang mereka kasihi.

“Sedangkan engkau, jika bersedia mengikuti saranku, siapkanlah kapal terbaik yang dapat kau peroleh beserta dua puluh orang pendayung. Berlayarlah mencari kabar tentang ayahmu yang telah lama menghilang. Mungkin ada seseorang yang mengetahui nasibnya, atau mungkin Zeus akan mengirimkan kabar yang dapat dipercaya, sebab berita seperti itu sering kali sampai kepada manusia melalui kehendak-Nya.

“Pergilah terlebih dahulu ke Pylos dan bertanyalah kepada Nestor yang mulia. Setelah itu lanjutkan perjalanan ke Sparta untuk menemui Menelaos yang berambut keemasan, sebab dialah orang terakhir dari para pahlawan Yunani yang mengenakan baju zirah perunggu dan berhasil pulang dari Troya.

“Jika engkau mendengar bahwa ayahmu masih hidup dan akan kembali, maka bersabarlah satu tahun lagi, betapa pun berat penderitaanmu. Namun jika engkau mendengar bahwa ia benar-benar telah meninggal, pulanglah ke Ithaka. Dirikanlah sebuah makam yang pantas baginya, laksanakan seluruh upacara penghormatan terakhir sebagaimana mestinya, kemudian carikanlah suami bagi ibumu.

“Sesudah semuanya selesai, renungkanlah dengan sungguh-sungguh bagaimana engkau akan menyingkirkan para pelamar itu dari istanamu, entah dengan siasat maupun dengan kekuatan.

“Jangan lagi bertingkah seperti anak kecil. Usiamu telah cukup untuk menjadi seorang laki-laki. Apakah engkau tidak mendengar betapa masyhurnya nama Orestes di seluruh negeri setelah ia membunuh Aigisthos, pembunuh licik yang telah menghabisi ayahnya sendiri?

“Maka engkau pun, sahabatku, karena kulihat engkau tampan dan berbudi luhur, jadilah pemberani, supaya kelak orang-orang yang hidup sesudahmu mengenang namamu dengan hormat.

“Sekarang aku harus kembali ke kapalku. Awak kapalku telah terlalu lama menungguku dan tentu mulai gelisah. Ingatlah semua yang telah kukatakan.”

Telemakhos yang bijaksana menjawab, “Wahai tamu, engkau menasihatiku dengan ketulusan hati, seperti seorang ayah menasihati putranya sendiri. Aku tidak akan pernah melupakan semua perkataanmu.

“Tetapi tinggallah sebentar lagi, meskipun engkau terburu-buru melanjutkan perjalanan. Mandilah terlebih dahulu, segarkan hatimu, kemudian berangkatlah dengan sukacita. Aku ingin memberikan sebuah hadiah yang indah dan berharga sebagai kenang-kenangan dariku, sebagaimana lazim diberikan seorang tuan rumah kepada tamunya.”

Athena yang bermata kelabu tersenyum lalu menjawab, “Jangan menahanku lebih lama lagi, sebab aku harus segera berangkat. Mengenai hadiah yang hendak kau berikan, simpanlah dahulu. Berikan kepadaku ketika aku kembali nanti, agar dapat kubawa pulang. Sebagai balasannya engkau pun akan menerima hadiah yang tidak kalah indah.”

Setelah berkata demikian, Athena pun pergi. Dalam sekejap ia melayang ke angkasa laksana seekor burung.

Sebelum meninggalkan Telemakhos, sang dewi menanamkan keberanian dan keteguhan hati ke dalam dirinya. Ia juga membuat ingatan pemuda itu akan ayahnya menjadi semakin kuat.

Telemakhos terpaku beberapa saat. Ia merenungkan semua yang baru saja terjadi, lalu tiba-tiba menyadari bahwa tamunya tadi bukanlah manusia biasa, melainkan seorang dewi.

Tanpa membuang waktu, ia kembali memasuki balairung tempat para pelamar masih berpesta.

Phemios, penyanyi istana yang termasyhur, sedang melantunkan sebuah lagu. Semua orang duduk mendengarkan dalam keheningan ketika ia menyanyikan kisah pilu kepulangan bangsa Yunani dari Troyaβ€”sebuah perjalanan yang dipenuhi penderitaan sebagaimana telah ditentukan Athena.

Dari kamar atas, Penelope, putri Ikarios yang bijaksana, mendengar nyanyian itu. Didampingi dua orang pelayannya, ia menuruni tangga istana. Ketika tiba di ambang balairung, perempuan yang termulia itu berdiri sambil menutupi wajahnya dengan kerudung tipis. Seorang pelayan berdiri di masing-masing sisinya.

Dengan mata yang basah oleh air mata, ia berkata kepada Phemios, “Wahai Phemios, engkau mengetahui begitu banyak kisah yang dapat menghibur hati manusiaβ€”kisah tentang para dewa maupun para pahlawan yang selalu dinyanyikan para penyair. Nyanyikanlah salah satu dari kisah itu, sementara mereka menikmati anggur mereka dalam ketenangan.

β€œTetapi hentikanlah lagu yang menyayat hati ini. Setiap baitnya mengoyak hatiku, sebab tiada hari berlalu tanpa kesedihan yang terus menguasai diriku. Aku tidak pernah berhenti mengenang suamiku, seorang lelaki yang kemasyhurannya tersebar di seluruh Akhaia dan Argos.”

Namun Telemakhos segera menjawab ibunya, “Ibu, mengapa Ibu menyalahkan penyair yang hanya menyanyikan apa yang digerakkan hatinya? Bukan para penyair yang menentukan kisah mereka, melainkan Zeus yang menganugerahkan ilham kepada masing-masing menurut kehendak-Nya.

“Tidak ada alasan menyalahkan Phemios karena ia menyanyikan nasib pahit bangsa Akhaia. Justru lagu yang paling baru didengar biasanya paling disukai orang. Kuatkanlah hati Ibu untuk mendengarkannya.

“Odysseus bukan satu-satunya yang tidak kembali dari Troya. Banyak pahlawan lain juga kehilangan nyawa ataupun jalan pulang.

“Sekarang kembalilah ke kamar Ibu. Uruslah pekerjaan Ibu sendiriβ€”alat tenun, gelendong, dan para pelayan perempuan. Biarlah urusan berbicara menjadi tanggung jawab kaum lelaki, terutama aku. Sebab akulah yang memegang wewenang di dalam rumah ini.”

Perkataan itu membuat Penelope tertegun. Ia tidak membantah. Dalam hati ia mengakui kebijaksanaan yang terkandung dalam ucapan putranya.

Maka ia pun kembali ke kamar atas bersama para pelayannya. Di sana ia menangisi Odysseus, suaminya yang tercinta, hingga akhirnya Athena yang bermata kelabu menganugerahkan tidur yang nyenyak ke atas kelopak matanya.

Sementara itu, para pelamar masih berpesta pora di balairung. Di dalam hati masing-masing, mereka membayangkan Penelope akan menjadi istri mereka.

Telemakhos kemudian berdiri dan berbicara kepada mereka dengan suara lantang.

“Wahai para pelamar ibuku, orang-orang yang congkak dan keterlaluan! Malam ini marilah kita menikmati jamuan tanpa membuat keributan. Mendengarkan penyanyi sebaik Phemios, yang suaranya laksana suara para dewa, adalah kehormatan bagi kita semua.

“Tetapi besok pagi kita akan berkumpul dalam sidang rakyat. Di sana akan kusampaikan secara terbuka apa yang hendak kukatakan kepada kalian.

“Tinggalkan rumah ini. Selenggarakanlah jamuan di rumah kalian sendiri. Habiskanlah harta milik kalian sendiri dan saling bertamulah dari satu rumah ke rumah yang lain.

“Tetapi jika menurut kalian lebih baik terus menghabiskan harta seorang lelaki tanpa rasa bersalah, silakan teruskan. Aku akan memohon kepada para dewa yang abadi. Dan apabila Zeus menghendaki keadilan ditegakkan, maka kalian akan binasa di dalam rumah ini tanpa seorang pun dapat membalaskan kematian kalian.”

Demikianlah Telemakhos berbicara. Semua yang mendengarnya saling berpandangan dengan takjub. Mereka menggigit bibir, heran melihat keberanian pemuda itu berbicara dengan begitu tegas.

Akhirnya Antinoos, putra Eupeithes, angkat bicara.

“Wahai Telemakhos,” katanya, “tampaknya para dewa sendirilah yang mengajarimu berbicara dengan begitu angkuh dan berani. Tetapi semoga putra Kronos tidak pernah menjadikanmu raja di Ithaka yang dikelilingi laut, meskipun kerajaan itu memang merupakan warisan turun-temurunmu.”

Telemakhos yang bijaksana menjawab tanpa gentar, “Antinoos, apakah engkau mengira aku akan menolak seandainya Zeus benar-benar menganugerahkannya kepadaku?

“Menjadi raja bukanlah keburukan, seperti yang kau siratkan. Seorang raja akan segera melihat rumahnya menjadi makmur dan dirinya dihormati oleh banyak orang.

“Namun di Ithaka masih banyak pemimpin bangsa Akhaia, baik yang tua maupun yang muda. Biarlah salah seorang di antara mereka menjadi raja, jika memang Odysseus telah tiada.

“Aku tidak mempersoalkan takhta. Akan tetapi, atas rumah ini akulah tuannya. Atas para pelayan yang diperoleh Odysseus sebagai rampasan perang dan diwariskan kepadaku, akulah yang berkuasa.”

Kemudian Eurymakhos, putra Polybos, berkata, “Telemakhos, biarlah para dewa yang menentukan siapa yang akan memerintah Ithaka. Itu bukan urusan kita.

“Engkau tentu akan tetap memiliki harta warisanmu sendiri dan menjadi penguasa rumah ini. Selama Ithaka masih berpenghuni, semoga tak pernah ada orang yang cukup berani merampas milikmu dengan kekerasan.

“Tetapi ada satu hal yang ingin kutanyakan. Siapakah tamu asing itu? Dari negeri mana ia datang? Di mana tanah kelahirannya? Siapa keluarganya?

β€œApakah ia membawa kabar tentang kepulangan ayahmu? Atau mungkin ia datang untuk menagih suatu utang yang belum dibayar Odysseus? Ia pergi begitu tergesa-gesa hingga kami bahkan belum sempat mengenalnya. Namun dari penampilannya jelas ia bukan orang sembarangan.”

Telemakhos menjawab dengan tenang, “Eurymakhos, aku tidak lagi berharap ayahku akan pulang. Aku tidak lagi mempercayai kabar apa pun, dari mana pun asalnya. Bahkan jika ibuku memanggil seorang peramal ke istana untuk menanyakan nasibnya, aku pun tidak akan memercayainya.

“Tamu itu adalah sahabat lama ayahku dari Taphos. Ia memperkenalkan dirinya sebagai Mentes, putra Anchialos yang gagah berperang dan penguasa bangsa Taphia yang hidup dari lautan.”

Demikianlah jawaban Telemakhos. Namun jauh di dalam hatinya ia mengetahui bahwa tamu itu bukanlah Mentes, melainkan seorang dewi yang abadi.

Setelah itu para pelamar kembali menikmati tarian dan nyanyian. Mereka berpesta hingga senja turun menyelimuti langit. Ketika malam benar-benar tiba, mereka pun pulang ke rumah masing-masing untuk beristirahat.

Sementara itu Telemakhos menuju kamar tidurnya yang terletak di bagian atas istana, di tempat yang paling menonjol. Sepanjang jalan pikirannya dipenuhi berbagai renungan. Di belakangnya berjalan Eurykleia yang setia, putri Ops, anak Pisenor, sambil membawa obor yang menyala.

Dahulu, ketika Eurykleia masih muda dan sedang berada pada puncak kecantikannya, Laertes telah membelinya dengan harga seratus ekor lembu. Di dalam istana ia diperlakukan dengan penuh hormat, hampir setara dengan istrinya sendiri. Namun Laertes tidak pernah membawanya ke pembaringan, sebab ia tidak ingin melukai hati permaisurinya.

Di antara semua pelayan perempuan, Eurykleia-lah yang paling menyayangi Telemakhos. Dialah yang mengasuhnya sejak masih bayi.

Setelah tiba di kamar, Telemakhos membuka pintunya lalu duduk di tepi pembaringan. Ia melepaskan jubah lembut yang dikenakannya dan menyerahkannya kepada perempuan tua itu. 

Dengan penuh perhatian Eurykleia melipat pakaian itu, merapikannya, lalu menggantungnya pada pasak di samping ranjang yang kokoh. Sesudah itu ia keluar dari kamar, menarik daun pintu hingga tertutup, menguncinya dengan gelang perak pada kaitnya, lalu mengencangkan penguncinya dengan tali kulit.

Sepanjang malam Telemakhos berbaring di bawah selimut wol yang hangat. Namun matanya sulit terpejam. Di dalam benaknya ia terus memikirkan perjalanan yang telah disarankan Athena kepadanyaβ€”perjalanan yang mungkin akan mengubah seluruh hidupnya.

The Odyssey 2 dari 25
The Odyssey
Kamu sedang membaca sebagai pengunjung tamu. Buat akun Reader gratis agar bisa melanjutkan membaca dan menyimpan progres bacaanmu.
Progres Zona Bebas: 40%

πŸ“ Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!

×
×