Buku VII – Di Istana Alkinoos
DEMIKIANLAH Odysseus yang tabah menanggung derita berdoa di tempat itu, sementara bagal-bagal yang kuat membawa sang putri menuju kota.
Sesampainya di istana ayahnya yang termasyhur, Nausikaa berhenti di serambi. Saudara-saudaranya telah berdiri mengelilinginya, laksana para dewa. Mereka melepaskan bagal-bagal dari kereta dan membawa pakaian-pakaian itu ke dalam rumah.
Nausikaa sendiri masuk ke kamarnya. Seorang perempuan tua dari Epeiros, pelayannya bernama Eurymedusa, menyalakan api untuknya. Dahulu perempuan itu dibawa dengan kapal dari Epeiros dan dipilih sebagai bagian rampasan untuk Alkinoos, sebab ia memerintah seluruh bangsa Phaiakia dan rakyat mematuhinya seolah-olah ia seorang dewa. Perempuan itulah yang membesarkan Nausikaa yang berlengan putih di dalam istana. Kini ia menyalakan api di kamarnya dan menyiapkan makan malam baginya.
Sementara itu Odysseus mulai berjalan menuju kota. Athena, yang senantiasa berbaik hati kepadanya, menyelimutinya dengan kabut yang sangat pekat, supaya tidak seorang pun dari bangsa Phaiakia yang sombong melihatnya, mencacinya, ataupun bertanya siapa dirinya.
Ketika hampir memasuki kota yang indah itu, Athena yang bermata biru menjumpainya dalam rupa seorang gadis muda yang sedang membawa kendi air. Sang dewi berdiri di hadapannya, lalu Odysseus yang mulia bertanya,
Mau Lanjut Baca?
Kamu sudah mencapai batas bebas baca 5 bab awal novel ini sebagai tamu. Buat akun Reader gratis untuk melanjutkan membaca.
π Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!




Silakan login untuk meninggalkan komentar.