Buku XIX – Pengakuan yang Tertunda
NAMUN Odysseus yang ilahi tetap tinggal di dalam istana, bersama Athena merencanakan kebinasaan bagi para pelamar. Segera ia mengucapkan kata-kata bersayap kepada Telemakhos:
βTelemakhos, engkau harus menyimpan semua senjata perang itu di dalam ruang atas. Bila para pelamar menanyakannya, kelabuilah mereka dengan kata-kata yang lembut. Katakan bahwa aku memindahkannya dari asap, sebab senjata-senjata itu tak lagi seperti ketika dahulu ditinggalkan Odysseus saat berangkat ke Troya. Kini semuanya telah menjadi kusam karena terkena asap api.
βSelain itu, seorang dewi telah menanamkan pertimbangan lain dalam benakku. Jangan sampai, bila kalian mabuk dan bertengkar satu sama lain, kalian saling melukai sehingga mencemarkan jamuan maupun urusan meminang itu. Sebab baja sendiri dapat menarik manusia kepada pertumpahan darah.β
Demikian katanya, dan Telemakhos menaati ayahnya yang tercinta. Ia memanggil pengasuhnya, Eurykleia, lalu berkata:
βIbu Pengasuh, kemarilah. Kurung semua perempuan di dalam kamar mereka, sementara aku menyimpan senjata-senjata indah milik ayahku ke dalam ruang atas. Asap telah menghitamkannya karena tak seorang pun merawatnya selama ayahku pergi. Saat itu aku masih kecil. Kini aku ingin menyimpannya di tempat yang tak akan dijangkau asap api.β
Mau Lanjut Baca?
Kamu sudah mencapai batas bebas baca 5 bab awal novel ini sebagai tamu. Buat akun Reader gratis untuk melanjutkan membaca.
π Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!



Silakan login untuk meninggalkan komentar.