Buku XVII – Pengemis di Istana
TATKALA fajar yang dilahirkan pagi berjemari mawar telah merekah, Telemakhos, putra tercinta Odysseus yang luhur, mengikatkan sandal-sandal indah pada kedua kakinya. Ia mengambil tombak kokoh yang pas dalam genggamannya, lalu bersiap berangkat ke kota. Sebelum pergi, ia berkata kepada penjaga babinya:
βAyah, aku akan pergi ke kota agar ibuku dapat melihatku. Aku yakin ia tidak akan berhenti meratap dengan dukacita dan air mata sebelum melihatku sendiri. Namun kepadamu kuamanatkan ini: bawalah orang asing yang malang itu ke kota agar ia dapat mengemis makanan di sana.
βSiapa pun yang berkenan tentu akan memberinya sepotong roti dan sedikit minuman. Aku sendiri tidak sanggup menanggung semua orang, sebab hatiku telah dipenuhi kesedihan. Jika orang asing itu menjadi marah, kerugian akan menimpa dirinya sendiri. Sebab aku selalu lebih suka mengatakan kebenaran.β
Odysseus yang banyak akal menjawabnya, βWahai sahabatku, aku sendiri pun tidak ingin tinggal lebih lama di sini. Bagi seorang pengemis, lebih baik mengemis di kota daripada di pedesaan, sebab di kota selalu ada orang yang bersedia memberi. Lagi pula aku sudah terlalu tua untuk tetap tinggal di kandang-kandang ini dan menaati setiap perintah seorang tuan.
βPergilah dahulu. Orang ini, sebagaimana kehendakmu, akan membawaku ke kota segera setelah aku menghangatkan tubuh di dekat api dan matahari mulai meninggi. Pakaianku ini terlalu tipis, sehingga embun beku pagi dapat mengalahkanku. Bukankah kalian mengatakan bahwa kota itu masih cukup jauh?β
Mau Lanjut Baca?
Kamu sudah mencapai batas bebas baca 5 bab awal novel ini sebagai tamu. Buat akun Reader gratis untuk melanjutkan membaca.
π Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!



Silakan login untuk meninggalkan komentar.