Buku XX – Pertanda Menjelang Pembalasan
ODYSSEUS yang ilahi tidur di serambi istana. Di atas tanah ia menghamparkan selembar kulit lembu yang belum disamak, lalu menumpuk banyak kulit domba di atasnya, yakni kulit hewan yang telah dikurbankan oleh orang-orang Yunani. Setelah ia berbaring, Eurynome menyelimutinya dengan sebuah mantel.
Di sanalah Odysseus tetap terjaga, memikirkan pembalasan terhadap para pelamar. Sementara itu para pelayan perempuan, yang telah menjalin hubungan dengan para pelamar, keluar dari istana sambil tertawa dan bersenda gurau satu sama lain.
Melihat itu, dadanya bergolak. Dalam hati dan pikirannya ia terus mempertimbangkan apakah ia harus segera menerjang mereka dan membunuh setiap orang saat itu juga, atau membiarkan mereka sekali lagi bergabung dengan para pelamar yang congkak untuk terakhir kalinya.
Hatinya berguncang hebat. Seperti seekor anjing betina yang menggeram mengelilingi anak-anaknya ketika melihat orang asing dan siap menyerangnya, demikian pula hati Odysseus menggeram dalam dadanya karena murka melihat perbuatan mereka yang jahat.
Lalu ia memukul dadanya sendiri dan menegur hatinya:
Mau Lanjut Baca?
Kamu sudah mencapai batas bebas baca 5 bab awal novel ini sebagai tamu. Buat akun Reader gratis untuk melanjutkan membaca.
π Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!




Silakan login untuk meninggalkan komentar.