The Shadow Out of Time

Bab I – Pingsan Misterius Nathaniel Wingate Peaslee

👁️ 7 tayangan

SETELAH dua puluh dua tahun dihantui mimpi buruk dan teror—diselamatkan hanya oleh keyakinan nekat bahwa kesan-kesan tertentu bersumber pada mitos belaka—aku kini enggan menjamin kebenaran atas apa yang kupikir telah kutemukan di Australia Barat pada malam 17–18 Juli 1935.

Masih ada alasan untuk berharap bahwa pengalaman itu sepenuhnya, atau setidaknya sebagian, hanyalah halusinasi—dan memang, penyebab untuk itu tidaklah sedikit. Namun kengerian realitasnya terasa begitu pekat, begitu menjijikkan dalam kejelasannya, sehingga harapan itu kerap terasa mustahil.

Jika peristiwa itu sungguh terjadi, maka manusia harus bersiap menerima gagasan tentang jagat raya—dan tentang tempatnya sendiri di pusaran waktu yang mendidih—yang sekadar disebut pun sanggup membuat lumpuh.

Ia juga harus diperingatkan tentang suatu bahaya khusus yang mengintai; bahaya yang barangkali takkan menelan seluruh umat manusia, tetapi mampu menimpakan horor yang mengerikan dan tak terbayangkan pada beberapa jiwa yang terlalu berani menjelajah.

Demi alasan terakhir itulah aku mendesak—dengan segenap kekuatan batinku—agar segala upaya menggali kembali pecahan-pecahan bangunan purba yang tak dikenal itu dihentikan untuk selamanya.

Dengan asumsi bahwa aku waras dan benar-benar terjaga pada malam itu, maka pengalamanku adalah sesuatu yang belum pernah menimpa manusia mana pun sebelumnya. Lebih dari itu, ia menjadi pembenaran yang mengerikan atas semua yang selama ini ingin kuanggap sebagai mitos dan mimpi.

Syukurlah, tak ada bukti yang tersisa; sebab dalam ketakutanku aku kehilangan benda mengerikan itu—benda yang, seandainya nyata dan berhasil dibawa keluar dari jurang beracun tersebut, akan menjadi kesaksian yang tak terbantahkan.

Ketika aku menemukan kengerian itu, aku sendirian—dan sampai saat ini belum pernah kuceritakan kepada siapa pun. Aku tak mampu menghentikan rekan-rekanku menggali ke arah itu, tetapi segala kebetulan dan pergeseran pasir sejauh ini menyelamatkan mereka dari menemukannya.

Kini aku harus menyusun pernyataan yang tegas dan pasti—bukan hanya demi keseimbangan jiwaku sendiri, melainkan juga untuk memperingatkan siapa pun yang membacanya dengan sungguh-sungguh.

Halaman-halaman ini—yang bagian awalnya mungkin terasa akrab bagi pembaca setia surat kabar umum maupun jurnal ilmiah—kutulis di kabin kapal yang membawaku pulang.

Naskah ini akan kuserahkan kepada putraku, Prof. Wingate Peaslee dari Universitas Miskatonic—satu-satunya anggota keluarga yang tetap setia kepadaku setelah amnesiaku yang aneh bertahun-tahun silam, dan orang yang paling memahami fakta-fakta terdalam dari kasusku. Di antara semua orang yang masih hidup, dialah yang paling kecil kemungkinannya menertawakan apa yang akan kuceritakan tentang malam yang menentukan itu.

Aku tidak menjelaskannya secara lisan sebelum berlayar, karena kurasa ia lebih baik menerima pengungkapan ini dalam bentuk tertulis. Dengan membaca dan membacanya kembali dalam ketenangan, ia akan memperoleh gambaran yang jauh lebih meyakinkan daripada yang dapat disampaikan oleh lidahku yang sering tersendat.

Ia bebas melakukan apa pun yang dianggapnya tepat terhadap catatan ini—menunjukkannya, dengan penjelasan seperlunya, kepada pihak-pihak yang kiranya dapat mengambil manfaat darinya.

Dan demi para pembaca yang belum mengenal tahap-tahap awal kasusku, aku merasa perlu mendahului pengungkapan ini dengan ringkasan latar belakang yang cukup lengkap.

Namaku Nathaniel Wingate Peaslee, dan mereka yang masih mengingat berita-berita surat kabar satu generasi silam—atau tulisan-tulisan dalam jurnal psikologi enam atau tujuh tahun lalu—tentu tahu siapa dan apa diriku.

Pers dahulu dipenuhi rincian tentang amnesia anehku pada tahun 1908–13, dan banyak yang mengaitkannya dengan tradisi horor, kegilaan, dan sihir yang konon mengintai di balik kota tua Massachusetts yang dahulu dan kini menjadi tempat tinggalku.

Namun aku ingin ditegaskan bahwa dalam garis keturunanku maupun masa mudaku tidak ada sedikit pun unsur kegilaan atau kegelapan. Fakta ini sangat penting, mengingat bayangan yang begitu tiba-tiba jatuh menimpaku dari sumber luar.

Mungkin berabad-abad perenungan muram telah menjadikan Arkham yang rapuh dan penuh bisik-bisik itu rentan terhadap bayangan semacam itu—meski hal ini pun tampak meragukan setelah kupelajari kasus-kasus lain kemudian.

Intinya, latar belakang dan asal-usulku sepenuhnya normal. Apa pun yang datang itu, datang dari tempat lain—dari mana, hingga kini aku masih ragu mengucapkannya secara gamblang.

Aku adalah putra Jonathan dan Hannah (Wingate) Peaslee, keduanya berasal dari keluarga lama yang terhormat di Haverhill.

Aku lahir dan dibesarkan di sana—di rumah keluarga di Boardman Street dekat Golden Hill—dan baru pergi ke Arkham saat memasuki Universitas Miskatonic pada usia delapan belas tahun, yakni tahun 1889. Setelah lulus, aku melanjutkan studi ekonomi di Harvard, lalu kembali ke Miskatonic sebagai pengajar Ekonomi Politik pada 1895.

Selama tiga belas tahun berikutnya hidupku berjalan tenang dan bahagia. Aku menikahi Alice Keezar dari Haverhill pada 1896, dan tiga anak kami—Robert K., Wingate, dan Hannah—lahir masing-masing pada 1898, 1900, dan 1903.

Pada 1898 aku diangkat menjadi profesor madya, dan pada 1902 menjadi profesor penuh. Tidak pernah sekalipun aku memiliki minat terhadap okultisme ataupun psikologi abnormal.

Amnesia aneh itu datang pada Kamis, 14 Mei 1908. Peristiwa itu terjadi secara mendadak, meskipun belakangan kusadari bahwa beberapa jam sebelumnya aku sempat mengalami kilasan-kilasan penglihatan yang kacau dan mengganggu—penglihatan yang sama sekali belum pernah kualami sebelumnya—yang tampaknya merupakan gejala pendahuluan.

Kepalaku sakit, dan ada perasaan ganjil—benar-benar asing bagiku—seolah-olah seseorang lain sedang berusaha merebut kendali atas pikiranku.

Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 10.20 pagi, ketika aku sedang mengajar kelas Ekonomi Politik VI—sejarah dan kecenderungan mutakhir ekonomi—untuk mahasiswa tingkat tiga dan beberapa tingkat dua.

Tiba-tiba bentuk-bentuk aneh menari di depan mataku, dan aku merasa berada di sebuah ruangan grotesk yang bukan ruang kelas. Pikiran dan ucapanku melenceng jauh dari materi, dan para mahasiswa segera menyadari ada sesuatu yang sangat tidak beres.

Lalu aku terkulai tak sadarkan diri di kursiku, jatuh ke dalam pingsan yang tak dapat dibangunkan siapa pun. Dan selama lima tahun, empat bulan, dan tiga belas hari berikutnya, kesadaranku yang sah tak lagi menatap terang dunia normal kita ini.

Tentu saja, apa yang terjadi selanjutnya kuketahui dari orang lain. Selama enam belas setengah jam aku tak menunjukkan tanda-tanda kesadaran, meski telah dipindahkan ke rumahku di 27 Crane Street dan diberi perawatan medis terbaik.

Pada pukul tiga dini hari tanggal 15 Mei, mataku terbuka dan aku mulai berbicara—namun tak lama kemudian para dokter dan keluargaku ketakutan melihat arah pembicaraanku.

Jelas bahwa aku tak memiliki ingatan sedikit pun tentang identitasku maupun masa laluku, meskipun entah mengapa aku tampak berusaha menyembunyikan kekosongan itu. Tatapanku kepada orang-orang di sekeliling terasa asing dan dingin, dan gerak otot wajahku pun sama sekali tak dikenal.

Bahkan cara bicaraku terdengar kaku dan ganjil. Aku menggunakan alat ucapku seolah-olah masih belajar, tersendat dan meraba-raba, dan pilihan kataku memiliki kekakuan aneh—seperti seseorang yang mempelajari bahasa Inggris semata-mata dari buku. Pengucapannya terdengar asing dan nyaris barbar, sementara idiom yang kugunakan mencampurkan serpihan arkaisme dengan ungkapan-ungkapan yang sama sekali tak dapat dipahami.

Salah satu ungkapan itu—yang begitu membekas dan menakutkan—bahkan masih diingat jelas oleh dokter termuda dua puluh tahun kemudian. Karena pada masa yang jauh lebih akhir itu, frasa tersebut mulai beredar luas—mula-mula di Inggris lalu di Amerika Serikat—dan meski rumit serta jelas modern, ia meniru secara persis kata-kata misterius yang pernah diucapkan pasien Arkham yang aneh pada 1908.

Kekuatan fisikku segera kembali, meskipun aku membutuhkan semacam pendidikan ulang yang ganjil untuk menggunakan tangan, kaki, dan tubuhku secara umum. Karena itu—dan karena hambatan lain akibat hilangnya ingatan—aku cukup lama berada di bawah pengawasan medis ketat.

Ketika kusadari bahwa usahaku menyembunyikan kekosongan itu telah gagal, aku mengakuinya secara terbuka dan menjadi sangat haus akan segala jenis pengetahuan. Bahkan para dokter mencatat bahwa aku tampak kehilangan minat terhadap kepribadianku yang semestinya begitu kasus amnesia itu diterima sebagai fakta alami.

Mereka memperhatikan bahwa upayaku justru terfokus pada penguasaan berbagai bidang—sejarah, sains, seni, bahasa, dan folklor—beberapa di antaranya sangat rumit dan abstrak, sementara yang lain justru teramat sederhana—yang secara aneh berada di luar kesadaranku.

Pada saat yang sama mereka juga menyadari bahwa aku memiliki penguasaan yang tak terjelaskan atas berbagai jenis pengetahuan yang nyaris tak dikenal—penguasaan yang justru tampak ingin kusamarkan alih-alih kupamerkan.

Tanpa sengaja aku kerap menyebut, dengan keyakinan santai, peristiwa-peristiwa tertentu dari zaman-zaman remang di luar jangkauan sejarah yang diakui—lalu tergesa-gesa menyebutnya gurauan begitu kulihat keterkejutan yang kutimbulkan.

Aku pun memiliki kebiasaan berbicara tentang masa depan dengan nada yang dua atau tiga kali benar-benar menimbulkan ketakutan. Kilatan-kilatan ganjil itu lambat laun menghilang, meski beberapa pengamat menganggap lenyapnya lebih karena kehati-hatian licik dariku ketimbang karena meredupnya pengetahuan aneh di baliknya.

Bahkan, aku tampak teramat haus menyerap bahasa, adat, dan sudut pandang zaman sekelilingku—seakan-akan seorang pengelana tekun dari negeri yang jauh dan asing tengah mempelajari dunia yang baru ia singgahi.

Begitu diizinkan, aku nyaris menghuni perpustakaan kampus siang dan malam; dan tak lama kemudian mulai merancang perjalanan-perjalanan ganjil serta mengikuti kursus-kursus khusus di berbagai universitas Amerika dan Eropa—hal yang menimbulkan begitu banyak perbincangan dalam beberapa tahun berikutnya.

Aku tak pernah kekurangan relasi ilmiah, sebab kasusku sempat menjadi bahan minat kecil di kalangan psikolog masa itu. Aku sering dijadikan contoh kuliah sebagai tipikal “kepribadian sekunder”—meski sesekali para dosen itu tampak kebingungan menghadapi gejala aneh atau secercah ejekan terselubung yang samar terpantul dari diriku.

Namun keramahan sejati hampir tak pernah kuterima. Ada sesuatu dalam penampilan dan ucapanku yang membangkitkan ketakutan samar dan penolakan dalam diri siapa pun yang kutemui—seolah-olah aku makhluk yang terpisah tak terhingga dari segala yang wajar dan sehat.

Gagasan tentang horor hitam tersembunyi yang berkaitan dengan jurang-jurang tak terhitung dari suatu jarak yang tak terbayangkan menyebar luas dan menetap secara ganjil. Keluargaku sendiri bukan pengecualian. Sejak saat aku terbangun secara aneh itu, istriku memandangku dengan ngeri dan jijik yang mendalam, bersumpah bahwa aku adalah entitas asing yang merebut tubuh suaminya.

Pada 1910 ia memperoleh perceraian resmi, dan tak pernah lagi bersedia menemuiku, bahkan setelah aku kembali normal pada 1913. Perasaan serupa dimiliki putra sulungku dan putri kecilku—keduanya tak pernah lagi kulihat sejak itu.

Hanya putraku yang kedua, Wingate, yang tampaknya mampu menaklukkan rasa takut dan jijik yang ditimbulkan oleh perubahan diriku. Ia memang merasakan bahwa aku orang asing, tetapi pada usia delapan tahun tetap berpegang pada keyakinan bahwa diriku yang sejati akan kembali.

Ketika itu benar-benar terjadi, ia mencariku, dan pengadilan memberiku hak asuh atasnya. Pada tahun-tahun berikutnya ia membantuku dalam studi-studi yang memaksaku tenggelam, dan kini, pada usia tiga puluh lima, ia menjadi profesor psikologi di Miskatonic.

Meski demikian, aku tak heran atas kengerian yang kutimbulkan—sebab pikiran, suara, dan ekspresi wajah makhluk yang terbangun pada 15 Mei 1908 itu jelas bukan milik Nathaniel Wingate Peaslee.

Aku takkan mencoba menceritakan secara rinci kehidupanku antara 1908 hingga 1913, sebab pembaca dapat menemukan seluruh fakta lahiriahnya—seperti yang sebagian besar harus kulakukan sendiri—dalam arsip surat kabar lama dan jurnal ilmiah.

Aku diberi kendali atas dana pribadiku, dan menggunakannya secara perlahan serta, secara umum, bijaksana, untuk perjalanan dan studi di berbagai pusat pembelajaran. Namun perjalanan-perjalananku sungguh luar biasa dan ganjil; melibatkan kunjungan panjang ke tempat-tempat terpencil dan sunyi.

Pada 1909 aku menghabiskan sebulan di Himalaya, dan pada 1911 menarik perhatian lewat perjalanan unta ke gurun-gurun Arabia yang belum dipetakan. Apa yang terjadi dalam perjalanan-perjalanan itu tak pernah berhasil kupelajari.

Pada musim panas 1912 aku menyewa kapal dan berlayar ke Arktik di utara Spitzbergen, lalu kembali dengan tanda-tanda kekecewaan.

Akhir tahun itu aku menghabiskan berminggu-minggu sendirian melampaui batas eksplorasi terdahulu maupun sesudahnya, menyusuri sistem gua batu kapur yang luas di Virginia Barat—labirin hitam begitu rumit sehingga menelusuri ulang langkah sendiri pun hampir mustahil dibayangkan.

Masa-masa tinggalku di universitas ditandai oleh kemampuan asimilasi yang tak wajar cepatnya—seakan-akan kepribadian sekunderkulah yang memiliki kecerdasan jauh melampaui diriku yang asli.

Aku juga mengetahui bahwa kecepatan membacaku sungguh fenomenal. Sebuah buku dapat kukuasai seluruh rinciannya hanya dengan menelusurinya sekilas secepat aku membalik halaman; sementara kemampuanku menafsirkan diagram rumit dalam sekejap terasa nyaris menggentarkan.

Sesekali muncul pula laporan-laporan yang kurang sedap tentang kemampuanku memengaruhi pikiran dan tindakan orang lain, meskipun tampaknya aku cukup berhati-hati untuk membatasi demonstrasi kemampuan itu.

Laporan-laporan tak sedap lainnya menyangkut kedekatanku dengan pemimpin kelompok-kelompok okultis, serta para sarjana yang dicurigai memiliki hubungan dengan lingkaran-lingkaran rahasia para hierofant dunia purba yang menjijikkan.

Rumor-rumor itu, meski tak pernah terbukti kala itu, barangkali dipicu oleh jenis bacaan yang memang kukaji—sebab memeriksa buku-buku langka di perpustakaan tak mungkin dilakukan diam-diam.

Ada bukti nyata—berupa catatan pinggir—bahwa aku membaca dengan teliti karya-karya seperti Cultes des Goules karya Comte d’Erlette, De Vermis Mysteriis karya Ludvig Prinn, Unaussprechlichen Kulten karya von Junzt, fragmen-fragmen tersisa dari Book of Eibon yang membingungkan, dan Necronomicon yang ditakuti milik Arab gila Abdul Alhazred.

Tak dapat disangkal pula bahwa gelombang baru dan jahat aktivitas kultus bawah tanah merebak sekitar masa perubahan anehku itu.

Pada musim panas 1913 aku mulai menunjukkan tanda-tanda kejenuhan dan meredupnya minat, serta memberi isyarat kepada beberapa rekan bahwa suatu perubahan mungkin segera terjadi dalam diriku.

Aku berbicara tentang kembalinya ingatan akan kehidupanku sebelumnya—meski sebagian besar pendengar menganggapku tidak tulus, sebab kenangan yang kusebut bersifat umum dan mudah dipelajari dari arsip pribadiku yang lama.

Sekitar pertengahan Agustus aku kembali ke Arkham dan membuka kembali rumahku di Crane Street yang telah lama tertutup. Di sana aku memasang sebuah mekanisme yang amat ganjil bentuknya—dirakit bagian demi bagian oleh berbagai pembuat alat ilmiah di Eropa dan Amerika, serta dijaga ketat dari pandangan siapa pun yang cukup cerdas untuk menganalisisnya.

Mereka yang sempat melihatnya—seorang tukang, seorang pelayan, dan kepala rumah tangga baru—mengatakan bahwa alat itu merupakan campuran aneh batang, roda, dan cermin; tingginya sekitar dua kaki, lebarnya satu kaki, dan tebalnya satu kaki.

Cermin di tengahnya berbentuk bulat dan cembung. Para pembuat komponennya yang masih dapat dilacak membenarkan rincian itu.

Pada malam Jumat, 26 September, aku memulangkan kepala rumah tangga dan pelayan hingga tengah hari esoknya. Lampu-lampu rumah menyala hingga larut, dan seorang pria kurus, gelap, berwajah asing yang aneh datang dengan mobil.

Sekitar pukul satu dini hari lampu-lampu terakhir terlihat menyala. Pada 2.15 dini hari seorang polisi melihat rumah dalam keadaan gelap, tetapi mobil orang asing tadi masih terparkir di tepi jalan. Menjelang pukul empat mobil itu telah tiada.

Pada pukul enam terdengar suara asing yang ragu-ragu di telepon, meminta Dr. Wilson datang ke rumahku untuk membangunkanku dari pingsan yang aneh. Panggilan jarak jauh itu kemudian dilacak berasal dari bilik umum di North Station, Boston, tetapi tak pernah ditemukan jejak pria kurus asing tersebut.

Ketika dokter tiba, ia mendapati aku tak sadarkan diri di ruang duduk—tergeletak di kursi malas dengan meja ditarik mendekat di depanku. Pada permukaan meja yang mengilap tampak goresan-goresan, bekas benda berat yang pernah bertumpu di sana.

Mesin ganjil itu lenyap, dan tak pernah lagi terdengar kabarnya. Besar kemungkinan pria kurus gelap itulah yang membawanya pergi.

Di perapian perpustakaan terdapat banyak abu, jelas sisa pembakaran setiap lembar kertas yang kutulis sejak datangnya amnesia. Dr. Wilson menemukan pernapasanku sangat aneh, tetapi setelah suntikan hipodermik napasku menjadi lebih teratur.

Pada pukul 11.15 pagi tanggal 27 September aku bergerak kuat, dan wajahku yang selama ini seperti topeng mulai menunjukkan ekspresi. Dr. Wilson mencatat bahwa ekspresi itu bukan milik kepribadian sekunderkku, melainkan lebih menyerupai diriku yang normal.

Sekitar pukul 11.30 aku menggumamkan suku kata-suku kata yang sangat ganjil—tak menyerupai bahasa manusia mana pun. Aku pun tampak bergulat melawan sesuatu.

Lalu, sesaat setelah tengah hari—ketika kepala rumah tangga dan pelayan telah kembali—aku mulai bergumam dalam bahasa Inggris.

“. . . dari para ekonom ortodoks pada masa itu, Jevons melambangkan kecenderungan dominan menuju korelasi ilmiah. Upayanya mengaitkan siklus perdagangan kemakmuran dan depresi dengan siklus fisik bintik matahari barangkali merupakan puncak dari . . .”

Nathaniel Wingate Peaslee telah kembali—sebuah jiwa yang dalam skala waktunya sendiri masih berada pada Kamis pagi tahun 1908 itu, dengan kelas ekonomi menatap meja dosen yang aus di podium.

The Shadow Out of Time 2 dari 12
The Shadow Out of Time
Kamu sedang membaca sebagai pengunjung tamu. Buat akun Reader gratis agar bisa melanjutkan membaca dan menyimpan progres bacaanmu.
Progres Zona Bebas: 40%

📝 Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!

×
×