Bab VI – Puing-Puing Bangunan Batu dalam Mimpi (1)
KINI tibalah aku pada bagian yang paling genting dan paling sukar dalam seluruh kisahkuβlebih sukar lagi karena aku sendiri tidak dapat memastikan sepenuhnya apakah semua ini sungguh nyata.
Ada saat-saat ketika aku merasa, dengan keyakinan yang tak menyenangkan dan hampir menyiksa, bahwa aku sama sekali tidak sedang bermimpi atau tertipu; dan justru perasaan itulahβmengingat betapa dahsyat implikasi yang akan timbul bila pengalaman ini benar-benar obyektifβyang mendorongku untuk membuat catatan ini.
Putrakuβseorang psikolog terlatih yang mengetahui seluruh perkaraku dengan pengertian yang paling penuh dan simpati yang paling mendalamβakan menjadi penilai pertama atas apa yang hendak kusampaikan.
Pertama-tama biarlah kuuraikan hal-hal lahiriah sebagaimana diketahui oleh mereka yang berada di perkemahan. Pada malam 17β18 Juli, setelah seharian angin bertiup kencang, aku berbaring lebih awal, tetapi tak juga dapat tidur.
Menjelang pukul sebelas aku bangkit, danβseperti biasaβdihinggapi perasaan ganjil mengenai wilayah timur laut itu, lalu berangkat menjalani salah satu perjalanan malamku yang lazim; hanya berpapasan dan menyapa satu orang sajaβseorang penambang Australia bernama Tupperβketika meninggalkan kawasan kami.
Mau Lanjut Baca?
Kamu sudah mencapai batas bebas baca 5 bab awal novel ini sebagai tamu. Buat akun Reader gratis untuk melanjutkan membaca.
π Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!



Silakan login untuk meninggalkan komentar.