Bab VI – Puing-Puing Bangunan Batu dalam Mimpi (2)
TERBINGUNG-BINGUNG oleh serbuan dari dunia mimpi ini, aku mendapati diriku gemetar dan bermandi peluh dingin.
Lalu, sebagai sentuhan terakhir yang tak tertahankan, kurasakan aliran udara sejuk yang samar dan licin, merembes naik dari suatu cekungan di dekat pusat tumpukan raksasa itu.
Seketika, seperti sebelumnya, penglihatanku memudar, dan yang tersisa hanyalah cahaya bulan jahat itu, gurun yang muram dan membisu, serta gundukan pasangan batu purba yang tersebar.
Sesuatu yang nyata dan berwujudβnamun sarat dengan sugesti misteri malam tanpa batasβkini berdiri di hadapanku. Karena aliran udara itu hanya dapat berarti satu hal: suatu jurang tersembunyi yang luas di bawah balok-balok yang terserak kacau di permukaan.
Pikiranku pertama-tama melayang pada legenda-legenda kelam orang pribumi tentang pondok-pondok batu raksasa di bawah tanah di antara megalit, tempat kengerian terjadi dan angin besar dilahirkan. Lalu mimpi-mimpiku sendiri kembali menyusul, dan kenangan samar yang samar mulai menarik-narik kesadaranku.
Mau Lanjut Baca?
Kamu sudah mencapai batas bebas baca 5 bab awal novel ini sebagai tamu. Buat akun Reader gratis untuk melanjutkan membaca.
π Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!




Silakan login untuk meninggalkan komentar.