BAB VI – SENJA KALA UMAT MANUSIA
βSUATU hal ganjil segera saya sadari mengenai tuan rumah kecil ini, yakni kurangnya minat mereka. Mereka datang kepada saya dengan seruan-seruan heran penuh gairah, seperti anak-anak, tetapi, sebagaimana anak-anak pula, mereka segera berhenti memeriksa saya lalu beralih mengejar mainan lain. Setelah jamuan makan dan percobaan-percobaan awal percakapan selesai, barulah saya sadari untuk pertama kalinya bahwa hampir semua yang mula-mula mengelilingi saya telah pergi.
βAneh juga betapa cepatnya saya sendiri mulai mengabaikan orang-orang kecil ini. Begitu rasa lapar terpuaskan, saya keluar kembali melalui portal menuju dunia yang diterangi matahari. Saya terus-menerus bertemu manusia-manusia masa depan lain yang akan mengikuti saya sejenak, berceloteh dan tertawa tentang diri saya, lalu, setelah tersenyum dan memberi isyarat ramah, kembali meninggalkan saya sendirian.
βKetenangan senja telah turun ke atas dunia ketika saya keluar dari aula besar itu, dan seluruh pemandangan disinari cahaya hangat matahari terbenam. Pada mulanya segala sesuatu terasa amat membingungkan. Semuanya begitu berbeda dari dunia yang saya kenalβbahkan bunga-bunganya sekalipun. Bangunan besar yang baru saja saya tinggalkan berdiri di lereng sebuah lembah sungai yang luas, tetapi Sungai Thames tampaknya telah bergeser sekitar satu setengah kilometer dari letaknya sekarang.
βSaya memutuskan untuk mendaki puncak sebuah bukit kecil, mungkin sekitar tiga kilometer jauhnya, dari sana saya dapat memperoleh pandangan lebih luas atas planet kita pada tahun 802.701 Masehi. Sebab itulah, perlu saya jelaskan, tanggal yang ditunjukkan oleh jarum-jarum kecil pada Mesin Waktu.
βSelagi berjalan saya berjaga-jaga terhadap setiap kesan yang mungkin dapat membantu menjelaskan mengapa kemegahan dunia yang terlihat pernah ada telah runtuhβkarena memang runtuhlah keadaannya. Sedikit mendaki bukit, misalnya, terdapat timbunan besar granit yang diikat bersama gumpalan-gumpalan aluminium, suatu labirin luas dinding-dinding curam dan reruntuhan berserakan, di tengahnya tumbuh lebat tanaman-tanaman indah menyerupai pagodaβmungkin jelatangβnamun dengan daun-daun bercorak cokelat yang menakjubkan dan sama sekali tak menyengat.
Mau Lanjut Baca?
Kamu sudah mencapai batas bebas baca 5 bab awal novel ini sebagai tamu. Buat akun Reader gratis untuk melanjutkan membaca.
π Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!



Silakan login untuk meninggalkan komentar.