Perang Prancis–Prusia dalam Goresan Pena Guy de Maupassant
• Deux Amis dan Kumpulan Cerpen Pilihan Guy de Maupassant •
PERANG Prancis–Prusia (1870–1871) adalah salah satu luka sejarah yang dalam bagi bangsa Prancis—sebuah perang singkat namun brutal, yang mengubah peta politik Eropa dan meninggalkan bekas pahit dalam jiwa rakyatnya.
Guy de Maupassant, yang saat itu masih muda, menyaksikan sendiri dampak perang ini.
Ia lahir dan besar di Normandia, daerah yang menjadi salah satu jalur pendudukan pasukan Prusia. Pengalaman langsung inilah yang kelak merembes masuk ke dalam cerpen-cerpennya, memberi warna realisme yang getir namun memikat.
Dalam kumpulan ini, kisah-kisah De Maupassant tidak sekadar bercerita tentang peperangan, tetapi tentang manusia yang terseret di dalamnya—orang biasa yang harus berhadapan dengan dilema moral, kehilangan, rasa takut, dan terkadang, kebodohan kolektif yang mengiringi patriotisme membabi buta.
Deux Amis, yang menjadi judul antologi ini, adalah contoh sempurna: kisah dua sahabat pemancing yang terjebak di tengah perang, di mana naifnya persahabatan dan kecintaan pada alam justru bertabrakan tragis dengan logika kekerasan.
De Maupassant tidak menulis perang dengan gaya heroik atau romantis. Ia mengupasnya dengan telanjang—tanpa tabir kebesaran, tanpa glorifikasi.
Dalam ceritanya, perang adalah kekacauan yang tidak pandang bulu, yang menghancurkan para petani sama seperti menghancurkan para perwira. Ia menertawakan kebanggaan nasional yang semu, tetapi juga menangkap kesedihan yang mendalam dari sebuah bangsa yang terluka.
Tema-tema yang hadir dalam antologi ini mencerminkan sikap De Maupassant yang skeptis terhadap kekuasaan dan perang. Ia kerap menampilkan tokoh-tokoh lugu, sinis, atau apatis, yang berusaha bertahan hidup di tengah situasi yang tak mereka mengerti sepenuhnya.
Dalam gaya bahasa yang padat dan to the point, ia menanamkan ironi yang halus, membuat pembaca tersenyum getir bahkan saat menghadapi akhir yang tragis.
Membaca kumpulan cerpen ini, kita diingatkan bahwa perang selalu memiliki dua wajah: di satu sisi, ia menjadi narasi besar yang diarak para penguasa; di sisi lain, ia adalah tragedi kecil yang menghantam individu-individu yang tak punya kuasa apa-apa.
De Maupassant memilih untuk memotret wajah kedua—yang lebih manusiawi, lebih menyakitkan, dan pada akhirnya, lebih abadi.
Semoga terjemahan ini tidak hanya menyampaikan cerita, tetapi juga nuansa getir, kegetiran humor, dan realisme tajam yang menjadi ciri khas De Maupassant. Karena perang, seperti yang ia tulis, bukan hanya tentang peluru dan bendera, tetapi tentang hati manusia yang terluka dan tak pernah sama lagi setelahnya.
Selamat membaca.
Dukung Penulis/Penerjemah Novel Favoritmu
Login untuk memberikan vote dukungan
📝 Belum ada komentar untuk bab ini. Jadilah yang pertama berkomentar!
Silakan login untuk meninggalkan komentar.