Guy de Maupassant
5 Agustus 1850 - 6 Juli 1893
Miss Harriet
Ia tinggal di loteng penginapan itu—perempuan tua berpakaian hitam, selalu membawa Alkitab lusuh ke mana pun ia pergi. Matanya tajam seperti burung pemangsa, tetapi suaranya lembut dan ragu. Tidak ada...
Boule de Suif
Ketika kereta berhenti sejenak di tengah salju yang sunyi, semua mata berpaling pada Boule de Suif—wanita bertubuh montok dengan riasan mencolok, yang kini duduk canggung dalam diam. Meski dicemooh karena...
Suzanne menutupi wajah dengan kedua tangan, tak bergerak. Ia memikirkan pemuda yang mungkin akan ia cintai seumur hidupnya! Kehidupan yang indah yang bisa mereka jalani bersama!
Ia seakan melihat pemuda itu sekali lagi di masa silam yang telah lenyap, di masa lalu yang padam selamanya. Kekasih yang telah tiada—betapa itu merobek hatinya!
Oh, ciuman itu, satu-satunya ciuman seumur hidupnya! Ia menyimpannya di dalam jiwanya. Dan setelah itu, tidak ada apa-apa lagi, sepanjang sisa usianya!
La Main (Tangan)
“Setahun penuh berlalu. Suatu pagi, menjelang akhir November, pelayanku membangunkanku dan mengabarkan bahwa Sir John Rowell telah dibunuh malam itu.
“Setengah jam kemudian aku memasuki rumah si Inggris itu bersama komisaris polisi dan kapten gendarmerie. Si pelayan, kebingungan dan putus asa, menangis di depan pintu. Awalnya aku curiga padanya, tapi ia tak bersalah.
“Pelakunya tak pernah ditemukan.
L’Auberge (Penginapan)
Penginapan ini terbuka selama enam bulan dalam setahun, dihuni oleh keluarga Jean Hauser. Namun begitu salju mulai turun dan memenuhi lembah hingga jalan menuju Loeche tak lagi bisa dilalui, sang ayah dan ketiga putranya pergi, meninggalkan rumah itu kepada penjaga tua Gaspard Hari, bersama pemandu muda Ulrich Kunsi, serta Sam, anjing gunung besar yang setia.
Le Portrait (Potret)
Tepat di hadapanku tergantung sebuah potret perempuan. Potret setengah badan, menampakkan kepala, bahu, dan tangan yang memegang buku. Ia muda, tanpa penutup kepala, pita terjalin di rambutnya, dengan senyum sendu.
Mengapa senyum itu terasa begitu alami? Ia tampak benar-benar di rumahnya, tersenyum seperti seseorang yang larut dalam pikiran sendiri, bukan yang sedang dipandang. Kehadirannya memenuhi ruangan besar itu, seakan ia sendiri yang memberinya jiwa.
Coco
Si bocah tak kembali hari itu. Ia berkeliaran di hutan mencari sarang burung.
Keesokan harinya ia kembali. Coco, kelelahan, terbaring. Saat melihat bocah itu, ia bangkit, berharap akhirnya dipindahkan.
Namun si petani kecil itu tak menyentuh palu yang tergeletak di tanah. Ia mendekat, menatap hewan itu, melemparkan segumpal tanah ke kepala kuda hingga hancur di surai putihnya, lalu pergi sambil bersiul.
Kuda itu tetap berdiri selama ia masih bisa melihat si bocah; lalu, sadar bahwa usahanya menjangkau rumput terdekat akan sia-sia, ia kembali berbaring miring dan memejamkan mata.
La Vendetta (Balas Dendam)
Sepanjang hari itu, sang ibu tua tidak memberinya makan. Hewan itu, marah, menggonggong serak. Satu malam lagi berlalu.
Lalu, saat fajar, Madame Saverini meminta seikat jerami dari seorang tetangga. Ia mengambil kain-kain bekas yang dulu dipakai suaminya dan menyusunnya hingga menyerupai tubuh manusia.
Ia menancapkan sebatang tongkat di tanah, di depan kandang Semillante, lalu mengikat boneka kain itu sehingga tampak berdiri. Ia membuat kepala dari kain-kain lama.
La Ficelle (Seutas Tali)
Keesokan harinya, sekitar pukul satu siang, Marius Paumelle—buruh milik Maître Breton, petani di Ymanville—mengembalikan dompet beserta isinya kepada Maître Houlbreque di Manneville.
Buruh itu mengaku menemukan benda itu di jalan; tetapi karena ia tak bisa membaca, ia membawanya pulang dan memberikannya pada majikannya.
Berita itu pun tersebar. Maître Hauchecome segera berkeliling, menceritakan kisahnya yang kini berakhir bahagia. Ia merasa menang.
Le Père Milon (Pak Milon)
Tengah hari. Seluruh keluarga makan di bawah teduh pohon pir di depan pintu rumah: ayah, ibu, empat anak, serta para pembantu—dua perempuan dan tiga lelaki. Semua duduk diam.
Sup sudah disantap, lalu disajikan kentang goreng berlemak daging asap. Sesekali, salah satu perempuan bangkit, turun ke gudang bawah tanah, mengambil kendi penuh sari apel.
Sang pria, tegap, berumur sekitar empat puluh tahun, memperhatikan sulur anggur yang masih gundul, melilit seperti ular di dinding rumah. Akhirnya ia berkata, “Pohon anggur Ayah bertunas lebih awal tahun ini. Mungkin kita bisa memetik hasilnya.”
Perempuan itu menoleh, menatap, tanpa suara. Pohon anggur itu tumbuh di tempat ayah mereka ditembak mati.
Itu terjadi di masa perang 1870. Prusia menduduki seluruh negeri. Jenderal Faidherbe dengan Divisi Utara tentara Prancis mengadang mereka.
Mademoiselle Fifi
Mademoiselle Fifi mendudukkan Rachel di pangkuannya. Ia sengaja membakar dirinya dalam demam nafsu, menciumi leher berkeriting hitam itu dengan gila, menghirup aroma tubuh hangat perempuan itu lewat celah gaun tipis, mencubit dengan buas hingga si gadis menjerit.
Seperti terobsesi ingin menghancurkan, Mademoiselle Fifi memeluk Rachel erat seolah hendak melebur, mencium bibir segar si gadis Yahudi hingga kehabisan napas. Tiba-tiba, ia menggigit begitu dalam hingga darah menetes dari dagu Rachel, mengalir ke gaunnya.
Rachel menatap Mademoiselle Fifi lurus, mencuci luka, lalu bergumam, “Kau akan membayar ini!”
La Mère Sauvage (Ibu Sauvage)
Saat perang pecah, anak laki-laki Sauvage, yang kala itu berusia 33 tahun, masuk dinas militer, meninggalkan ibunya sendirian di rumah. Orang-orang tidak terlalu merasa iba pada perempuan tua itu, karena mereka tahu ia punya uang.
Ia tinggal seorang diri di rumah terpencil itu, jauh dari desa, di tepi hutan. Namun ia tak merasa takut—darahnya sama seperti kaum lelaki keluarganya—perempuan tua yang tangguh, tinggi, dan kurus, jarang tertawa, dan tak seorang pun berani bercanda dengannya.
Perempuan pedesaan memang jarang tertawa; itu urusan lelaki. Mereka memikul hati yang suram dan sempit, hidup dalam kesedihan dan kemuraman.
L’Ombrelle (Payung)
MADAME Oreille adalah seorang wanita yang sangat hemat; setiap sen baginya sangat bernilai, dan ia memiliki gudang prinsip ketat dalam mengelola uang, sampai-sampai juru masaknya kesulitan sekali menyiapkan yang biasa disebut “uang belanja” untuk para pelayan, dan suaminya hampir tidak pernah diberi uang saku sama sekali. Meski demikian, mereka hidup cukup nyaman dan tidak memiliki […]
Les Bijoux (Permata Palsu)
MONSIEUR Lantin pertama kali bertemu dengan gadis muda itu dalam sebuah resepsi di rumah kepala departemen kedua tempatnya bekerja, dan seketika jatuh cinta padanya. Gadis itu adalah putri seorang pemungut pajak dari provinsi, yang telah meninggal beberapa tahun sebelumnya. Bersama ibunya, si gadis pindah ke Paris, di mana ibunya, yang mulai mengenal beberapa keluarga di […]
Le Baiser (Ciuman)
Hati-hati! Kita semua punya kebiasaan bodoh ini—memberi ciuman di saat paling tak tepat. Saat ia membawa segelas air, mengenakan sepatu, mengikat syal—pokoknya di saat ia berada dalam posisi tak nyaman—di situlah kita memilih memberi ciuman, memaksanya berhenti di tengah gerakan hanya untuk menyingkirkan kita!
Misti
Apa nikmatnya bercinta dengan seorang perempuan yang tidak dimiliki siapa pun, tapi bisa menjadi milik siapa saja? Selain itu, jika soal moral diabaikan, aku tidak pernah mengerti cinta yang dijadikan pekerjaan. Itu agak membuatku jijik.
L’Indiscrétion (Kecerobohan)
Sepuluh lilin menerangi ruangan dan memantul di cermin-cermin di sekeliling mereka, membuat cahaya tampak ribuan kali lipat. Henriette menenggak gelas demi gelas untuk menjaga keberaniannya, meski sudah merasa pusing setelah beberapa gelas pertama.
Paul, terbawa oleh kenangan yang kembali padanya, terus mencium tangan istrinya. Matanya berkilat.
Henriette merasa aneh—bersemangat di tempat baru ini, gelisah, senang, sedikit bersalah, tetapi juga penuh gairah. Dua pelayan yang serius dan diam, terbiasa melihat dan melupakan segalanya, keluar-masuk hanya saat diperlukan dan segera pergi jika merasa kehadiran mereka bakal mengganggu.
La Parure (Kalung Berlian)
Kereta itu mengantarkan mereka sampai ke pintu rumah di Jalan Martyr. Mereka menaiki tangga apartemen dengan letih.
Bagi sang istri, semuanya sudah berakhir. Bagi sang suami, ia hanya teringat harus masuk kantor pukul sepuluh pagi nanti.
Madame Loisel melepas mantelnya di depan cermin untuk melihat sekali lagi dirinya dalam kemegahan. Tiba-tiba ia menjerit. Kalung itu tak lagi melingkar di lehernya.
Deux Amis (Dua Sahabat)
Tiba-tiba mereka terkejut mendengar suara langkah di belakang, dan saat menoleh, mereka melihat empat pria tinggi berjanggut, berpakaian seperti pelayan dengan topi datar, mengacungkan senapan ke arah mereka.
Tongkat pancing terlepas dari tangan mereka dan hanyut terbawa arus. Dalam hitungan detik mereka ditangkap, diikat, dilemparkan ke perahu, lalu dibawa menyeberangi sungai ke Pulau Marante.
Di belakang rumah yang mereka kira kosong, ternyata ada sekitar 20 tentara Jerman.