The Secret Garden - Frances Hodson Burnett
The Secret Garden - Frances Hodson Burnett
Rp69.000
Lihat di Shopee
The Return of Sherlock Holmes
The Return of Sherlock Holmes
Rp56.250
Lihat di Shopee
Sherlock Holmes Short Stories #3 - Sir Arthur Conan Doyle
Sherlock Holmes Short Stories #3 - Sir Arthur Conan Doyle
Rp36.000
Lihat di Shopee
Winnetou 1 - Karl May
Winnetou 1 - Karl May
Rp88.000
Lihat di Shopee
Mrs. Daloway - Virginia Woolf
Mrs. Daloway - Virginia Woolf
Rp44.250
Lihat di Shopee
Northanger Abbey - Jane Austen
Northanger Abbey - Jane Austen
Rp44.250
Lihat di Shopee

1. La Ficelle (Seutas Tali)

• La Ficelle dan Kumpulan Cerpen Pilihan Guy de Maupassant •

👁️ 10 views

DI sepanjang semua jalan menuju Goderville, para petani dan istri-istri mereka datang menuju kota kecil itu karena hari itu adalah hari pasaran.

Para pria berjalan dengan langkah lambat, seluruh tubuh condong ke depan setiap kali kaki mereka yang panjang dan bengkok bergerak—bentuk tubuh mereka rusak oleh kerja keras, oleh beban bajak yang sekaligus mengangkat bahu kiri dan memiringkan badan, oleh kegiatan menuai gandum yang membuat lutut mereka melebar untuk menopang tubuh, oleh semua pekerjaan desa yang lambat dan penuh penderitaan.

Blus biru mereka, kaku dan mengilap seakan dipernis, dihiasi motif putih kecil di bagian leher dan pergelangan tangan, menggembung di sekitar tubuh kurus mereka, seakan balon yang siap membawa mereka terbang. Dari setiap tubuh itu menonjol sebuah kepala, sepasang lengan, dan sepasang kaki.

Sebagian dari mereka menuntun seekor sapi atau anak sapi dengan seutas tali, sementara istri mereka berjalan di belakang hewan itu, mencambuk pantat hewan itu dengan ranting berdaun agar berjalan lebih cepat. Mereka membawa keranjang besar di lengan, yang dari beberapa keranjang itu muncul kepala ayam, dari yang lain kepala bebek.

Langkah mereka lebih cepat dan lebih hidup dibanding para suami. Tubuh mereka yang ramping dan tegak dibalut selendang kecil yang disematkan di dada datar mereka, sementara kepala dibungkus kain putih yang menempel di rambut dan ditutupi topi.

Kemudian lewatlah sebuah gerobak ditarik kuda yang berlari tersentak-sentak, berguncang aneh. Dua pria duduk berdampingan di kursi, dan seorang wanita di dasar gerobak, berpegangan pada sisi gerobak untuk mengurangi guncangan keras.

Di alun-alun Goderville, kerumunan besar manusia dan hewan bercampur. Tanduk sapi, topi tinggi berbulu panjang milik petani kaya, dan penutup kepala perempuan desa tampak di atas lautan kerumunan. Suara teriakan, nyaring, dan melengking membentuk kebisingan liar yang kadang ditimpa oleh tawa keras seorang petani atau lenguhan panjang seekor sapi yang diikat di dinding rumah.

Semua itu berbau kandang, susu, tumpukan kotoran, jerami, dan keringat—aroma tidak sedap khas kehidupan desa, campuran manusia dan hewan.

Maître Hauchecome, dari Breaute, baru saja tiba di Goderville dan melangkah menuju alun-alun ketika ia melihat di tanah sepotong kecil tali. Maître Hauchecome, hemat seperti orang Norman sejati, percaya bahwa segala sesuatu yang berguna sebaiknya diambil. Ia pun membungkuk dengan susah payah—ia menderita rematik—untuk memungut tali tipis itu, lalu menggulungnya dengan hati-hati.

Saat itulah ia melihat Maître Malandain, pembuat pelana, berdiri di ambang pintu toko, menatapnya. Mereka pernah berurusan soal tali kekang, dan hubungan mereka memburuk sejak itu—mereka berdua sama-sama penyimpan dendam yang baik.

Tarian Kematian - Gustave Flaubert
Tarian Kematian - Gustave Flaubert
Rp49.500
Lihat di Shopee
The Memoirs of Sherlock Holmes
The Memoirs of Sherlock Holmes
Rp56.250
Lihat di Shopee
The Picture of Dorian Gray - Oscar Wilde
The Picture of Dorian Gray - Oscar Wilde
Rp44.250
Lihat di Shopee
Northanger Abbey - Jane Austen
Northanger Abbey - Jane Austen
Rp44.250
Lihat di Shopee
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Rp119.000
Lihat di Shopee
Dracula - Bram Stoker
Dracula - Bram Stoker
Rp85.000
Lihat di Shopee

Hauchecome tiba-tiba dilanda rasa malu karena tertangkap basah oleh musuhnya sedang memungut tali dari tanah. Ia segera menyembunyikan “temuannya” di bawah blus, lalu ke dalam saku celana. Ia pura-pura masih mencari sesuatu di tanah yang tak kunjung ditemukan, kemudian berjalan menuju pasar dengan kepala tertunduk, membungkuk karena nyeri.

Ia segera lenyap di tengah kerumunan yang ramai dan bergerak lambat, sibuk dengan tawar-menawar tanpa akhir. Para petani berkeliling, ragu-ragu, selalu takut tertipu, tak berani memutuskan, mengamati mata penjual, terus mencoba menemukan tipu daya pada orangnya dan cacat pada hewannya.

Para perempuan, setelah meletakkan keranjang besar mereka di kaki, mengeluarkan unggas yang diletakkan di tanah, kaki-kaki binatang itu terikat bersama, mata mereka terbelalak ketakutan, jengger merah menyala.

Mereka mendengarkan tawaran, menyebutkan harga dengan wajah datar dan dingin, atau tiba-tiba, jika memutuskan menerima potongan harga, berteriak kepada pembeli yang sudah berjalan pergi, “Baiklah, Maître Authirne, saya kasih dengan harga itu.”

Lambat laun alun-alun mulai sepi. Lonceng Angelus berbunyi menandakan tengah hari, dan mereka yang terlalu lama tinggal pun bubar kembali ke toko masing-masing.

Di penginapan Jourdain, ruang besar penuh orang yang sedang makan, sementara halaman luasnya dipenuhi kendaraan segala jenis—kereta, gig, gerobak, dan kereta muatan yang kuning karena debu, tambal-sulam di sana-sini, dengan poros menghadap ke langit seperti dua tangan terangkat, atau sebaliknya, porosnya menancap di tanah dengan bagian belakang terangkat.

Di seberang para tamu yang duduk di meja, perapian besar yang menyala terang memancarkan panas pada punggung barisan di sebelah kanan. Tiga batang pemanggang berputar, menancap ayam, burung merpati, dan kaki kambing; aroma daging panggang yang menggoda bercampur dengan tetesan saus yang membasahi kulit cokelat keemasan.

Semua itu menambah keriangan dan membuat semua orang menelan ludah. Semua “bangsawan bajak” makan di sana, di tempat Maître Jourdain—pemilik penginapan sekaligus pedagang kuda—seorang licik yang kaya.

Piring-piring berpindah dan kosong, begitu pula kendi-kendi berisi sari apel kuning. Semua orang menceritakan urusan mereka, pembelian dan penjualan mereka. Mereka membicarakan panen—cuaca baik untuk sayur-mayur, tetapi tidak untuk gandum.

Tiba-tiba suara genderang terdengar di halaman depan rumah. Semua orang, kecuali beberapa yang tak peduli, berdiri dan bergegas ke pintu atau jendela, mulut masih penuh makanan, serbet di tangan.

Setelah penabuh genderang berhenti, juru pengumuman pasar mulai berseru dengan suara terputus-putus:

“Diumumkan kepada seluruh penduduk Goderville, dan pada umumnya kepada semua yang hadir di pasar, bahwa telah hilang pagi ini di jalan menuju Benzeville, antara pukul sembilan dan sepuluh, sebuah dompet kulit hitam berisi lima ratus franc dan beberapa dokumen. Barang siapa yang menemukan diminta segera mengembalikannya ke kantor walikota atau kepada Maître Fortune Houlbreque dari Manneville. Akan diberi imbalan dua puluh franc.”

Tarian Kematian - Gustave Flaubert
Tarian Kematian - Gustave Flaubert
Rp49.500
Lihat di Shopee
The Memoirs of Sherlock Holmes
The Memoirs of Sherlock Holmes
Rp56.250
Lihat di Shopee
The Picture of Dorian Gray - Oscar Wilde
The Picture of Dorian Gray - Oscar Wilde
Rp44.250
Lihat di Shopee
Northanger Abbey - Jane Austen
Northanger Abbey - Jane Austen
Rp44.250
Lihat di Shopee
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Rp119.000
Lihat di Shopee
Dracula - Bram Stoker
Dracula - Bram Stoker
Rp85.000
Lihat di Shopee

Lalu juru pengumuman pasar itu pergi. Suara genderang dan seruannya kembali terdengar menjauh.

Orang-orang mulai membicarakan peristiwa itu, memperdebatkan apakah Maître Houlbreque akan menemukan dompetnya atau tidak.

Makan siang pun usai. Mereka sedang menghabiskan kopi ketika seorang kepala gendarme muncul di ambang pintu. Ia bertanya, “Apakah Maître Hauchecome dari Breaute ada di sini?”

Maître Hauchecome, yang duduk di ujung meja, menjawab, “Aku di sini.”

Petugas itu melanjutkan, “Maître Hauchecome, maukah Anda ikut saya ke kantor walikota? Pak Wali ingin berbicara dengan Anda.”

Petani itu, terkejut dan bingung, menenggak habis segelas kecil brendinya, lalu bangkit, tubuhnya lebih bungkuk daripada pagi tadi—karena langkah-langkah pertama setelah setiap istirahat terasa paling sulit—dan mulai berjalan sambil mengulang, “Aku di sini, aku di sini.”

Sang wali kota sudah menunggunya, duduk di kursi besar. Ia adalah notaris setempat, pria gemuk dan serius, yang gemar menggunakan kalimat-kalimat penuh wibawa.

“Maître Hauchecome,” kata Walikota, “pagi ini Anda terlihat memungut sebuah dompet di jalan menuju Benzeville—dompet milik Maître Houlbreque dari Manneville.”

Si petani, terperanjat, menatap Walikota, ketakutan oleh tuduhan yang jatuh padanya tanpa tahu apa sebabnya.

“Aku? Aku? Aku memungut dompet itu?”

“Ya, Anda sendiri.”

“Demi kehormatanku, aku tak pernah melakukannya.”

“Tapi ada Anda yang melihat Anda melakukannya.”

“Ada yang melihat aku melakukannya? Siapa?”

“Maître Malandain, si pembuat pelana.”

Orang tua itu teringat, mengerti, dan wajahnya memerah karena marah.

“Ah, ternyata dia yang melihatku, si kampungan itu. Dia melihatku memungut tali ini, Tuan Wali Kota.” Sambil merogoh saku, ia mengeluarkan seutas tali kecil.

Namun Walikota, tak percaya, menggelengkan kepala. “Jangan kira saya akan percaya, Maître Hauchecome, bahwa Maître Malandain, yang adalah orang terpercaya, keliru membedakan tali ini dengan sebuah dompet.”

Si petani, marah, mengangkat tangannya, meludah ke samping untuk menegaskan kehormatannya, sambil mengulang, “Itu kebenaran Tuhan yang suci, Tuan Walikota. Aku bersumpah demi jiwaku dan keselamatanku.”

Walikota melanjutkan, “Setelah memungut benda itu, Anda berdiri tegak, memandangi lumpur lama sekali untuk melihat apakah ada uang yang jatuh.”

Orang tua itu tercekik oleh rasa marah dan takut.

“Bagaimana orang bisa… bagaimana orang bisa… memfitnah seperti itu dan merusak nama baik orang jujur! Bagaimana bisa…”

Tak ada gunanya ia membantah; tak seorang pun mempercayainya. Ia dipertemukan dengan Maître Malandain, yang tetap bersikeras dengan pernyataannya.

Tarian Kematian - Gustave Flaubert
Tarian Kematian - Gustave Flaubert
Rp49.500
Lihat di Shopee
The Memoirs of Sherlock Holmes
The Memoirs of Sherlock Holmes
Rp56.250
Lihat di Shopee
The Picture of Dorian Gray - Oscar Wilde
The Picture of Dorian Gray - Oscar Wilde
Rp44.250
Lihat di Shopee
Northanger Abbey - Jane Austen
Northanger Abbey - Jane Austen
Rp44.250
Lihat di Shopee
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Rp119.000
Lihat di Shopee
Dracula - Bram Stoker
Dracula - Bram Stoker
Rp85.000
Lihat di Shopee

Mereka saling memaki selama satu jam. Atas permintaannya sendiri, Maître Hauchecome digeledah, tetapi tak ditemukan apa pun.

Akhirnya Walikota, yang kebingungan, membebaskan Maître Hauchecome sambil berkata akan berkonsultasi dengan jaksa untuk mendapat instruksi lebih lanjut.

Berita itu pun menyebar. Saat meninggalkan kantor wali kota, orang tua itu dikerumuni dan diinterogasi, ada yang serius, ada yang bercanda, tanpa sedikit pun rasa simpati.

Ia mulai menceritakan kisah tali itu. Tak ada yang percaya. Mereka menertawakannya.

Ia berjalan sambil menghentikan setiap temannya, terus-menerus mengulang ceritanya, membalikkan saku-sakunya untuk membuktikan bahwa ia tak membawa apa-apa.

Namun mereka berkata, “Dasar penipu tua, enyahlah!”

Ia marah, makin tersulut, panas hati, dan cemas karena tak dipercaya, tak tahu apa yang harus dilakukan, dan terus mengulang-ulang pembelaannya.

Malam tiba. Ia harus pulang. Dalam perjalanan bersama tiga tetangganya, ia menunjukkan tempat di mana ia menemukan tali itu, dan sepanjang jalan ia membicarakan petualangannya.

Sore harinya, ia berkeliling desa Breaute untuk menceritakannya pada semua orang. Yang ia temui hanya ketidakpercayaan. Malamnya ia jatuh sakit.

Keesokan harinya, sekitar pukul satu siang, Marius Paumelle—buruh milik Maître Breton, petani di Ymanville—mengembalikan dompet beserta isinya kepada Maître Houlbreque di Manneville.

Buruh itu mengaku menemukan benda itu di jalan; tetapi karena ia tak bisa membaca, ia membawanya pulang dan memberikannya pada majikannya.

Berita itu pun tersebar. Maître Hauchecome segera berkeliling, menceritakan kisahnya yang kini berakhir bahagia. Ia merasa menang.

“Yang paling menyakitkan bukanlah masalah barang itu sendiri, tapi kebohongan itu. Tak ada yang lebih memalukan daripada dicurigai karena kebohongan.”

Seharian ia membicarakan petualangannya: di jalan kepada para pejalan, di kedai anggur kepada para peminum, bahkan kepada orang-orang yang keluar dari gereja pada hari Minggu berikutnya.

Ia menghentikan orang asing untuk menceritakan kisahnya. Ia kini lebih tenang, tetapi ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya—ia merasa orang-orang bercanda saat mendengarnya. Mereka tampak tidak yakin. Ia merasa ada yang membicarakan dirinya di belakang.

Selasa minggu berikutnya, ia pergi ke pasar di Goderville, hanya karena merasa perlu membahas kasus itu.

Maître Malandain, berdiri di depan toko, tertawa saat melihatnya lewat. Mengapa?

Ia mendekati seorang petani dari Crequetot, yang bahkan tak membiarkannya selesai bicara, malah menepuk perutnya sambil berkata, “Dasar penipu besar!” Lalu membalikkan badan meninggalkannya.

Maître Hauchecome bingung. Mengapa ia dipanggil penipu besar?

Saat duduk di meja makan di kedai Jourdain, ia mulai menjelaskan “perkaranya”. Seorang pedagang kuda dari Monvilliers berseru, “Ayo, ayo, penipu tua, itu trik lama; aku tahu soal talimu itu!”

Tarian Kematian - Gustave Flaubert
Tarian Kematian - Gustave Flaubert
Rp49.500
Lihat di Shopee
The Memoirs of Sherlock Holmes
The Memoirs of Sherlock Holmes
Rp56.250
Lihat di Shopee
The Picture of Dorian Gray - Oscar Wilde
The Picture of Dorian Gray - Oscar Wilde
Rp44.250
Lihat di Shopee
Northanger Abbey - Jane Austen
Northanger Abbey - Jane Austen
Rp44.250
Lihat di Shopee
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Rp119.000
Lihat di Shopee
Dracula - Bram Stoker
Dracula - Bram Stoker
Rp85.000
Lihat di Shopee

Maître Hauchecome tergagap, “Tapi dompet itu sudah ditemukan.”

Yang lain menjawab, “Diam saja, Pak Tua. Ada yang menemukan, ada yang mengembalikan. Bagaimanapun, kau terlibat di situ.”

Si petani tercekik. Ia mengerti. Mereka menuduhnya sengaja menyuruh seorang kaki tangan mengembalikan dompet itu.

Ia mencoba membela diri. Satu meja penuh tertawa terbahak-bahak. Ia tak sanggup menghabiskan makan siangnya dan pulang diiringi ejekan.

Ia pulang dengan rasa malu dan marah, tercekik oleh kemarahan dan kebingungan, semakin hancur hati karena ia tahu bahwa—dengan kecerdikan khas orang Norman—ia memang sanggup melakukan apa yang dituduhkan, dan bahkan akan membanggakannya sebagai kelicikan yang cerdas.

Baginya, membuktikan ketidak-bersalahannya terasa mustahil, karena kelicikannya sudah dikenal. Dan ia amat terpukul oleh ketidakadilan kecurigaan itu.

Lalu ia kembali menceritakan petualangannya, setiap hari menambah cerita itu dengan alasan-alasan baru, sumpah-sumpah yang lebih keras, yang ia susun saat sendirian—seluruh pikirannya hanya dipenuhi kisah tali itu.

Semakin rumit ia membela diri, semakin orang tidak percaya. “Itu cuma alasan bohong,” kata orang-orang di belakangnya.

Ia tahu semua itu, hatinya terkikis, dan ia menghabiskan tenaga untuk membela diri yang sia-sia. Ia merosot di hadapan mata semua orang.

Orang-orang iseng kini sengaja memintanya bercerita tentang tali itu untuk menghibur diri, seperti meminta seorang mantan tentara menceritakan pertempurannya. Jiwanya, yang telah tersentuh sampai ke dasar, mulai melemah.

Menjelang akhir Desember, Maître Hauchecome jatuh sakit.

Ia meninggal di awal Januari, dan dalam deliria menjelang ajalnya, ia terus bersikeras akan ketidakbersalahannya, berulang-ulang berkata, “Seutas tali, seutas tali—lihat—ini dia, Tuan Wali Kota.”

Akses Terjemahan Gratis

Kamu telah mencapai kuota maksimal bab untuk pembaca tamu (unregistered members). Daftar akun GRATIS untuk melanjutkan membaca sampai tamat.

1 bab gratis5 bab total
Daftar Sekarang

Dukung Penulis/Penerjemah Novel Favoritmu

0 Total Vote
0 Pemberi Vote
Rp 0 Komisi Penulis/Penerjemah

💖 Suka baca cerita ini?

Bantu KlikNovel menerjemahkan lebih banyak novel public domain seperti La Ficelle dan Kumpulan Cerpen Pilihan Guy de Maupassant karya Guy de Maupassant ini. Scan QR Code untuk berdonasi via Saweria 🙏

Lihat semua opsi kontribusi

The Old Man and the Sea - Ernest Hemingway
The Old Man and the Sea - Ernest Hemingway
Rp46.500
Lihat di Shopee
The Secret Garden - Frances Hodson Burnett
The Secret Garden - Frances Hodson Burnett
Rp69.000
Lihat di Shopee
Northanger Abbey - Jane Austen
Northanger Abbey - Jane Austen
Rp44.250
Lihat di Shopee
Max Havelaar - Multatuli
Max Havelaar - Multatuli
Rp77.500
Lihat di Shopee
Coming Up for Air - George Orwell
Coming Up for Air - George Orwell
Rp63.750
Lihat di Shopee
The Sexy Secret - Indah Hanaco
The Sexy Secret - Indah Hanaco
Rp71.250
Lihat di Shopee

📝 Belum ada komentar untuk bab ini. Jadilah yang pertama berkomentar!

Kumpulan Cerpen Terbaik DH Lawrence
Kumpulan Cerpen Terbaik DH Lawrence
Rp104.250
Lihat di Shopee
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Rp119.000
Lihat di Shopee
The Adventures of Sherlock Holmes
The Adventures of Sherlock Holmes
Rp56.250
Lihat di Shopee
Kumpulan Cerpen Terbaik Leo Tolstoy
Kumpulan Cerpen Terbaik Leo Tolstoy
Rp90.000
Lihat di Shopee
Poirot\'s Early Cases - Agatha Christie
Poirot\'s Early Cases - Agatha Christie
Rp67.000
Lihat di Shopee
Laut Bercerita - Leila S. Chudori
Laut Bercerita - Leila S. Chudori
Rp98.500
Lihat di Shopee