Mademoiselle Fifi - Guy de Maupassant
Mademoiselle Fifi - Guy de Maupassant
Rp43.000
Lihat di Shopee
The Return of Sherlock Holmes - Sir Arthur Conan Doyle
The Return of Sherlock Holmes - Sir Arthur Conan Doyle
Rp81.750
Lihat di Shopee
Peter Pan - J. M. Barrie
Peter Pan - J. M. Barrie
Rp44.250
Lihat di Shopee
Poirot\'s Early Cases - Agatha Christie
Poirot\'s Early Cases - Agatha Christie
Rp67.000
Lihat di Shopee
Around the World in Eighty Days - Jules Verne
Around the World in Eighty Days - Jules Verne
Rp42.750
Lihat di Shopee
Persuasion and Lady Susan (Shandi Publisher)
Persuasion and Lady Susan (Shandi Publisher)
Rp113.050
Lihat di Shopee

Bab 1 – Perjalanan Jonathan Harker ke Kastil Dracula (1)

• Dracula •

👁️ 32 views

CATATAN JONATHAN HARKER

(Ditulis pakai stenografi)

3 Mei. Bistritz.—Berangkat dari Munich jam 8:35 malem tanggal 1 Mei, nyampe di Vienna pagi besoknya. Seharusnya jam 6:46 udah sampe, tapi keretanya telat sejam.

Buda-Pesth keliatan keren banget dari kereta, meskipun aku cuma sempet liat sekilas dan jalan-jalan sebentar. Aku enggak berani jauh-jauh dari stasiun soalnya kami telat, dan musti berangkat sesuai jadwal. Rasanya kami baru aja ninggalin Barat dan masuk ke dunia Timur—jembatan megah di Sungai Danube yang super lebar dan dalem itu bawa kami ke suasana jaman kekuasaan Turki Ottoman.

Kami berangkat cukup tepat waktu dan nyampe di Klausenburgh pas udah malem. Aku nginep di Hotel Royale.

Buat makan malem, lebih tepatnya makan larut malem, aku pesen ayam masak cabe merah. Enak sih, tapi bikin haus. (Catet, minta resepnya buat Mina.)

Pas kutanya pelayannya, katanya itu namanya “paprika hendl,” dan karena ini makanan khas, harusnya gampang ditemuin di sepanjang Pegunungan Carpathia. Untungnya aku ngerti sedikit bahasa Jerman, soalnya kalo enggak, bisa repot banget.

Pas masih di London, aku sempet ke British Museum buat cari buku dan peta tentang Transylvania. Aku pikir, pengetahuan soal daerah ini pasti bakal berguna kalo mau ngobrol sama bangsawan lokal.

Daerah yang disebut si pelayan tadi ternyata ada di ujung timur, di perbatasan tiga wilayah: Transylvania, Moldavia, dan Bukovina, di tengah Pegunungan Carpathia—salah satu daerah paling liar dan jarang dikenal di Eropa.

Aku enggak nemu peta atau buku yang nunjukin lokasi pasti Kastil Dracula, soalnya peta di sini enggak sedetail peta Inggris. Tapi Bistritz, kota pos yang disebut Count Dracula, ternyata lumayan terkenal. Aku nyatet beberapa hal di sini, siapa tau nanti berguna pas aku cerita ke Mina.

Penduduk Transylvania terdiri dari empat kelompok: orang Saxon di selatan, campuran sama orang Wallachia (keturunan Dacia), Magyar di barat, dan Szekely di timur sama utara. Aku bakal ke wilayah Szekely, yang ngaku keturunan Attila dan bangsa Hun. Bisa jadi klaim itu bener, soalnya waktu Magyar naklukin daerah ini abad ke-11, bangsa Hun udah tinggal di sini.

Aku baca, semua takhayul di dunia kayaknya ngumpul semua di Pegunungan Carpathia, kayak pusatnya hal-hal mistis. Kalo bener, tinggal di sini bakalan seru banget. (Catet, tanya Count Dracula soal ini.)

Aku enggak bisa tidur nyenyak, meskipun kasurnya nyaman, soalnya mimpi aneh-aneh. Ada anjing melolong sepanjang malem di bawah jendela—mungkin itu penyebabnya, atau mungkin gara-gara makan cabe tadi, soalnya aku udah ngabisin semua air di kamar tapi tetep haus.

Pas subuh aku ketiduran, terus dibangunin sama orang yang ngetok-ngetok pintu. Kayaknya aku tidur nyenyak banget. Sarapannya ada paprikanya lagi, terus bubur jagung namanya “mamaliga,” sama terong isi daging cincang yang enak banget—mereka nyebutnya “impletata.” (Catet, minta resep ini juga.)

Pride and Prejudice - Jane Austen
Pride and Prejudice - Jane Austen
Rp101.150
Lihat di Shopee
Emma - Jane Austen
Emma - Jane Austen
Rp69.000
Lihat di Shopee
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Rp119.000
Lihat di Shopee
Emma - Jane Austen
Emma - Jane Austen
Rp118.150
Lihat di Shopee
Northanger Abbey - Jane Austen (Gramedia)
Northanger Abbey - Jane Austen (Gramedia)
Rp76.000
Lihat di Shopee
Pollyanna - Eleanor H. Potter
Pollyanna - Eleanor H. Potter
Rp37.500
Lihat di Shopee

Aku buru-buru sarapan, soalnya kereta yang mau aku naiki berangkat sebelum jam delapan—atau seharusnya gitu, karena pas aku sampe stasiun jam 7:30, aku masih harus nunggu di gerbong lebih dari sejam sebelum kereta mulai jalan.

Kayaknya semakin ke timur, kereta semakin enggak tepat waktu. Apa kabar ya, kereta api di Tiongkok?

Sepanjang hari, kereta jalan pelan banget lewat pemandangan yang cantik-cantik.

Kadang kami liat kota kecil atau kastil di atas bukit curam, kayak di lukisan jaman dulu. Kadang kami ngelewatin sungai yang tepinya penuh batu besar, kayak sering kebanjiran. Butuh air yang banyak dan deras banget buat ngikis tepi sungai kayak gitu.

Di tiap stasiun, ada orang-orang dengan pakaian unik. Ada yang kayak petani di kampung atau yang biasa aku liat di Prancis dan Jerman—pakai jaket pendek, topi bundar, sama celana buatan sendiri. Tapi ada juga yang penampilannya lebih warna-warni.

Cewek-ceweknya keliatan cantik dari jauh, tapi pas dideketin, kurang rapi di bagian pinggang. Mereka pakai baju lengan putih longgar, kebanyakan pake sabuk lebar dengan hiasan yang berkibar-kibar kayak di kostum balet—tentu aja ada rok di bawahnya.

Yang paling aneh itu orang Slovakia—lebih liar penampilannya, pake topi koboi besar, celana putih kotor yang longgar, kemeja linen, sama sabuk kulit tebal penuh paku kuningan. Mereka pake sepatu bot tinggi, celana dimasukin ke dalem, rambut hitam panjang, sama kumis tebal. Keliatannya eksotis tapi agak serem.

Di panggung teater, dengan dandanan kayak gitu bakal langsung dikira perampok dari Timur. Tapi katanya sih, mereka enggak berbahaya, malah agak pemalu.

Pas sampe Bistritz, hari udah mulai gelap. Ini kota tua yang menarik. Soalnya letaknya di perbatasan—Jalur Borgo nyambung ke Bukovina—tempat ini punya sejarah kelam, dan bekas-bekasnya masih keliatan.

Lima puluh tahun lalu, kota ini kebakar besar lima kali. Di awal abad ke-17, kota ini dikepung tiga minggu sampe 13.000 orang tewas—bukan cuma karena perang, tapi juga kelaparan dan kena wabah penyakit.

Count Dracula nyuruh aku nginep di Golden Krone Hotel, yang ternyata masih tradisional banget—aku suka model begini, soalnya pengen liat budaya lokal. Aku jelas udah ditunggu, soalnya pas mau masuk, ada nenek-nenek ceria pake baju petani—baju dalam putih dengan celemek dobel yang agak terlalu ketat.

Pas aku deketin, nenek-nenek itu nyungging senyum sambil bilang, “Tuan Inggris?” “Iya,” jawabku, “Jonathan Harker.” Dia senyum, terus ngomong sesuatu ke bapak tua pake kemeja lengan putih yang ngikutin dia. Bapak itu balik bawa surat:

Pride and Prejudice - Jane Austen
Pride and Prejudice - Jane Austen
Rp101.150
Lihat di Shopee
Emma - Jane Austen
Emma - Jane Austen
Rp69.000
Lihat di Shopee
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Rp119.000
Lihat di Shopee
Emma - Jane Austen
Emma - Jane Austen
Rp118.150
Lihat di Shopee
Northanger Abbey - Jane Austen (Gramedia)
Northanger Abbey - Jane Austen (Gramedia)
Rp76.000
Lihat di Shopee
Pollyanna - Eleanor H. Potter
Pollyanna - Eleanor H. Potter
Rp37.500
Lihat di Shopee

“Sahabatku—Selamat datang di Carpathia. Aku sudah menunggu kedatanganmu. Istirahat yang nyenyak malam ini, ya. Besok jam tiga, kereta kuda berangkat ke Bukovina—ada tempat yang sudah disiapin buatmu. Di Borgo Pass, keretaku bakal jemput dan bawa kamu ke tempatku. Kuharap perjalananmu dari London menyenangkan, dan kamu bakal suka tinggal di negeriku yang indah ini.”

“Sahabatmu,”
“DRACULA.”

4 Mei.—Ternyata pemilik penginapan udah dapet surat dari Count Dracula, nyuruh dia nyiapin tempat terbaik di kereta kuda buatku. Tapi pas kutanya detailnya, dia malah jadi canggung dan pura-pura enggak ngerti bahasa Jerman-ku. Padahal sebelumnya dia paham—seenggaknya jawabannya nyambung.

Dia sama istrinya cuma saling liat-liatan kayak takut gitu. Dia cuma bilang uangnya udah dikirim lewat surat, dan itu aja yang dia tau.

Pas kutanya apa dia kenal Count Dracula dan tau sesuatu soal kastilnya, mereka berdua langsung bikin tanda silang pake tangan, bilang enggak tau apa-apa, dan enggak mau ngomong lagi. Karena udah mau berangkat, aku enggak sempet nanya ke orang lain—semua ini bikin enggak nyaman.

Pas aku mau pergi, si nenek dateng ke kamar aku dan bilang dengan panik, “Harus pergi? Oh, Tuan Muda harus pergi?”

Si nenek gelisah banget sampe bahasanya campur-campur—Jerman plus bahasa lain yang enggak aku ngerti. Aku cuma bisa ngikutin dengan nanya berkali-kali.

Pas aku bilang kalo aku musti pergi karena urusan penting, dia nanya lagi, “Kamu tau hari ini hari apa?”

Aku jawab tanggal 4 Mei.

Dia geleng-geleng kepala sambil bilang, “Oh, iya! Aku tau itu! Tapi kamu tau enggak hari ini hari apa?”

Karena aku bingung, dia nerusin, “Ini malem sebelum Hari St. George. Kamu tau enggak, pas jam 12 malem nanti, semua makhluk jahat bakal bebas berkeliaran? Kamu tau enggak mau pergi ke mana dan bakal ngadepin apa?”

Si nenek keliatan khawatir banget. Aku coba tenangin dia, tapi enggak mempan. Akhirnya dia berlutut dan mohon supaya aku enggak pergi—diminta nunda sehari atau dua hari. Aneh sih, tapi aku jadi enggak enak.

Sayangnya urusanku enggak bisa ditunda, jadi aku bantu dia tegak lagi dan bilang terima kasih dengan serius, tapi aku lanjutin kalo aku harus pergi. Dia berdiri, keringin air matanya, terus lepas salib dari lehernya dan kasih ke aku.

Aku bingung—sebagai orang Inggris, aku diajarin kalo benda kayak gini tuh agak berbau pemujaan berhala. Jatuhnya bisa syirik. Tapi enggak enak juga nolak niat baik nenek-nenek yang lagi panik gitu, kan?

Mungkin dia liat raut wajahku, soalnya dia langsung gantungin rosario itu di leherku sambil bilang, “Demi ibumu,” terus pergi gitu aja.

Aku nulis ini sambil nunggu kereta kuda—yang tentu aja telat—dan salib pemberian si nenek masih di leherku. Entah karena kepengaruh sama ketakutan si nenek, juga karena denger cerita-cerita mistis di sini, atau salibnya sendiri, aku ngerasa enggak tenang kayak biasa.

Kalo catetan ini nyampe ke Mina sebelum aku pulang, bilang aja ini salam perpisahanku. Keretanya dateng!


Akses Terjemahan Gratis

Kamu telah mencapai kuota maksimal bab untuk pembaca tamu (unregistered members). Daftar akun GRATIS untuk melanjutkan membaca sampai tamat.

1 bab gratis6 bab total
Daftar Sekarang

Dukung Penulis/Penerjemah Novel Favoritmu

0 Total Vote
0 Pemberi Vote
Rp 0 Komisi Penulis/Penerjemah

💖 Suka baca cerita ini?

Bantu KlikNovel menerjemahkan lebih banyak novel public domain seperti Dracula karya Bram Stoker ini. Scan QR Code untuk berdonasi via Saweria 🙏

Lihat semua opsi kontribusi

Sherlock Holmes Short Stories #3 - Sir Arthur Conan Doyle
Sherlock Holmes Short Stories #3 - Sir Arthur Conan Doyle
Rp36.000
Lihat di Shopee
Sherlock Holmes Short Stories #2 - Sir Arthur Conan Doyle
Sherlock Holmes Short Stories #2 - Sir Arthur Conan Doyle
Rp36.750
Lihat di Shopee
Northanger Abbey - Jane Austen (Gramedia)
Northanger Abbey - Jane Austen (Gramedia)
Rp76.000
Lihat di Shopee
Winnetou 2 - Karl May
Winnetou 2 - Karl May
Rp68.800
Lihat di Shopee
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Rp74.250
Lihat di Shopee
Kumpulan Cerpen Terbaik Leo Tolstoy
Kumpulan Cerpen Terbaik Leo Tolstoy
Rp90.000
Lihat di Shopee

📝 Belum ada komentar untuk bab ini. Jadilah yang pertama berkomentar!

Winnetou 3 - Karl May
Winnetou 3 - Karl May
Rp80.000
Lihat di Shopee
Macbeth - William Shakespeare
Macbeth - William Shakespeare
Rp42.500
Lihat di Shopee
The Adventure of Huckleberry Finn - Mark Twain
The Adventure of Huckleberry Finn - Mark Twain
Rp51.750
Lihat di Shopee
The Golden Road - L. M. Montgomery
The Golden Road - L. M. Montgomery
Rp52.500
Lihat di Shopee
Kumpulan Cerpen Terbaik Leo Tolstoy
Kumpulan Cerpen Terbaik Leo Tolstoy
Rp90.000
Lihat di Shopee
Emma - Jane Austen
Emma - Jane Austen
Rp118.150
Lihat di Shopee