Bab 4 – Hari Kedua di Kastil Dracula
7 Mei – Hari Kedua di Kastil Dracula
Baru bangun pagi lagi nih, tapi aku udah ngerasa cukup segar setelah istirahat seharian penuh kemarin. Aku tidur nyenyak sampe siang bolong, bangun sendiri tanpa ada yang bangunin. Pas udah selesai mandi dan ganti baju, aku pergi ke ruangan tempat kami makan malem kemarin, nemuin sarapan dingin yang udah disiapin, tapi kopinya masih anget karena tekonya sengaja ditaruh di deket perapian.
Ada kartu kecil di atas meja, tulisannya: “Aku harus pergi sebentar. Jangan tunggu aku kalau mau makan. – D”
Aku langsung makan dengan lahap. Habis makan, aku nyari bel buat manggil pelayan biar mereka tau aku udah selesai, tapi anehnya enggak nemu bel sama sekali. Ini rumah kok aneh banget sih, padahal perabotannya semua mewah-mewah. Piring sendoknya aja dari emas, buatannya halus banget, pasti harganya selangit.
Gorden-gorden sama pelapis kursi dan sofanya dari bahan-bahan termahal dan tercantik yang pernah aku liat, umurnya pasti udah ratusan tahun tapi masih terawat banget. Aku pernah liat yang mirip begini di Hampton Court, tapi yang di sana udah kusam dan dimakan ngengat.
Tapi yang paling aneh – di semua ruangan ini enggak ada satu pun cermin! Enggak ada cermin rias di meja kamarku, sampe-sampe aku musti ngambil cermin cukur kecil dari tasku dulu sebelum bisa nyukur atau nyisir rambut.
Aku juga belum liat satu pun pelayan sejauh ini, atau denger suara apapun di sekitar kastil ini kecuali lolongan serigala. Enggak lama setelah selesai makan – aku bingung harus bilang ini sarapan atau makan malem, soalnya jamnya udah antara jam lima sama enam sore – aku nyari-nyari sesuatu buat dibaca, soalnya aku enggak berani keliling kastil sebelum minta izin Count Dracula.
Di ruangan ini enggak ada apa-apa – enggak ada buku, koran, bahkan alat tulis. Jadi aku buka pintu lain di ruangan ini dan nemuin semacam perpustakaan. Pintu yang ada di seberang kamarku aku coba buka, tapi dikunci.
Di perpustakaan, aku seneng banget nemuin banyak buku-buku berbahasa Inggris, entah ada berapa rak dan semuanya penuh! Ada juga kumpulan majalah sama koran. Di tengah, ada meja yang berantakan dengan majalah sama koran Inggris, meskipun enggak ada yang terbitan baru.
Jenis bukunya macem-macem – sejarah, geografi, politik, ekonomi politik, botani, geologi, hukum – semua tentang Inggris: kehidupan sama kebiasaan orang Inggris. Bahkan ada buku-buku referensi kayak London Directory, buku “Red” dan “Blue”, Whitaker’s Almanac, daftar Angkatan Darat dan Laut, dan – entah kenapa hatiku jadi seneng liat ini – daftar Pengacara.
Pas aku lagi asyik liat-liat buku, tiba-tiba pintu kebuka dan Count Dracula masuk. Dia nyapa aku dengan ramah, nanya apa aku tidur nyenyak tadi malem. Terus dia bilang:
“Aku senang kamu menemukan jalan ke sini, sebab aku yakin sekali banyak yang menarik buatmu. Teman-teman ini” – sambil nunjuk beberapa buku – “sudah jadi teman baikku, dan selama beberapa tahun terakhir, sejak aku punya ide untuk pindah ke London, sudah memberi aku banyak jam-jam menyenangkan. Lewat mereka, aku jadi kenal Inggris-mu yang hebat; dan mengenalnya berarti mencintainya. Aku ingin sekali berjalan-jalan di jalanan ramai London yang megah, merasakan hiruk pikuk manusia, merasakan hidupnya, perubahannya, kematiannya, dan semua yang membuat London menjadi London. Tapi, sayang, selama ini aku cuma kenal bahasamu lewat buku. Kepadamulah, temanku, aku berharap bisa belajar bicara dengan benar.”
“Tapi Count,” jawabku, “Anda sudah bisa berbahasa Inggris dengan sangat lancar!”
Dia bungkukin badan dengan anggun. “Terima kasih atas pujianmu, temanku, tapi kemampuanku masih jauh dari yang aku inginkan. Benar aku tahu tata bahasa dan kosakata, tapi aku masih belum tahu cara berbahasa Inggris yang seperti orang Inggris.”
“Tidak, Count,” kataku, “Anda sudah berbicara bahasa Inggris dengan sangat baik sekali.”
“Tidak juga,” jawabnya. “Kalau aku jalan-jalan dan bicara di London, pasti orang langsung tahu aku orang asing. Itu tidak cukup buatku. Di sini aku bangsawan; aku boyar; rakyat biasa kenal aku, dan aku tuan mereka. Tapi orang asing di negeri orang, dia bukan siapa-siapa; orang tidak kenal dia – dan kalau tidak kenal berarti tidak peduli. Aku mau bisa menyamar dengan sempurna, sampai tidak ada yang berhenti hanya untuk memperhatikan aku atau merasa aneh waktu mendengar aku bicara, ‘Hah, orang asing!’ Aku sudah terlalu lama jadi tuan, dan aku mau tetap jadi tuan – atau setidaknya tidak ada yang jadi tuan atas diriku. Kamu datang ke sini bukan cuma sebagai perwakilan temanku Peter Hawkins dari Exeter, untuk memberi tahu aku tentang properti baruku di London. Aku harap kamu bisa tinggal lebih lama di sini, supaya lewat obrolan kita aku bisa belajar intonasi bahasa Inggris; dan aku mau kamu memberi tahu kalau ada kesalahan, sekecil apapun, dalam cara berbicaraku. Maaf hari ini aku harus pergi lama; tapi aku yakin kamu memaklumi orang yang punya banyak urusan penting.”
Tentu aja aku bilang aku siap bantu, dan nanya apa aku boleh masuk ke ruangan ini kapanpun aku mau. Dia langsung jawab: “Ya, tentu saja,” dan nambahin:
“Kamu boleh pergi ke mana saja di kastil ini, kecuali ruangan yang pintunya terkunci, yang pasti kamu juga tidak ingin masuk ke sana. Semua ada alasannya, dan kalau kamu bisa melihat seperti mataku melihat semuanya dan tahu apa yang aku tahu, mungkin kamu akan lebih mengerti.”
Aku bilang aku yakin bakal begitu, terus dia lanjutin:
“Kita ada di Transylvania; dan Transylvania bukan Inggris. Cara kami bukan caramu, dan akan banyak hal aneh buatmu. Bahkan dari ceritamu tentang pengalamanmu sejauh ini, kamu sudah tahu beberapa keanehan yang mungkin ada.”
Topik ini bikin kami ngobrol panjang lebar. Dan karena keliatannya dia pengen ngobrol, mungkin cuma buat ngisi waktu, aku tanya banyak hal tentang kejadian-kejadian yang udah aku alami atau liat. Kadang dia ngelantur dari topik, atau pura-pura enggak ngerti buat ganti pembicaraan; tapi kebanyakan dia jawab semua pertanyaanku dengan jujur.
Semakin lama aku semakin berani, dan nanya tentang beberapa kejadian aneh tadi malem, misalnya kenapa kusir pergi ke tempat-tempat yang ada nyala api biru. Dia jelasin kalo orang-orang sini percaya bahwa pada malam-malam tertentu dalam setahun – di antaranya kemarin malem itu – adalah malem ketika semua roh jahat bebas berkeliaran, dan nyala api biru bakalan muncul di tempat harta karun tersembunyi.
“Harta karun pasti banyak terpendam di daerah yang kamu lewati tadi malem,” lanjutnya, “soalnya tanah itu sudah jadi medan perang selama berabad-abad antara Wallachia, Saxon, dan Ottoman. Tidak ada sejengkal tanah pun di daerah ini yang tidak disiram darah para pejuang atau penjajah. Dulu-dulu pernah ada masa-masa bergejolak, ketika pasukan Austria dan Hongaria datang dalam jumlah besar, dan para pejuang – laki-laki, perempuan, orang tua, bahkan anak-anak – menyambut mereka di atas batu-batu di lereng bukit, siap menimpakan longsoran buatan. Ketika penjajah menang, mereka hampir tidak menemukan apa-apa, karena harta karun sudah disembunyikan di dalam tanah.”
“Tapi bagaimana bisa harta itu tetap tersembunyi,” tanyaku, “kalau ada penunjuk yang jelas dan setiap orang mau mencarinya?”
Count Dracula tersenyum, dan pas bibirnya ditarik ke belakang bikin giginya yang panjang dan tajam keliatan, dia jawab:
“Soalnya petani pada dasarnya pengecut dan bodoh! Nyala api itu cuma muncul satu malam dalam setahun; dan pada malam itu tidak ada orang sini yang mau keluar rumah, malah kalau bisa mereka hindari. Dan, tuan yang terhormat, bahkan kalau mereka keluar pun mereka tidak akan tahu harus berbuat apa. Petani yang kamu ceritakan, yang menandai tempat nyala api itu, pun tidak akan bisa menemukan lagi tempat itu di siang hari. Kamu sendiri pun, aku yakin, tidak bakal bisa menemukan kembali tempat-tempat itu.”
“Anda benar,” jawabku. “Aku tidak bakal bisa menemukan lagi tempat-tempat itu.” Lalu kami ngobrol tentang hal lain.
“Sekarang,” dia bilang akhirnya, “ceritakan tentang London dan rumah yang sudah kamu siapkan buatku.”
Sambil minta maaf karena kelupaan, aku ke kamar untuk ngambil dokumen dari tas. Pas aku lagi ngerapiin kertas-kertas, aku denger suara gemerincing piring dan perak di ruangan sebelah, dan pas aku lewat, meja udah dibersihin dan lampu udah dinyalain soalnya udah mulai gelap.
Lampu di perpustakaan juga udah dinyalain, dan aku ngeliat Count Dracula lagi berbaring di sofa, baca – kamu enggak bakal nyangka – Bradshaw’s Guide versi Inggris. Pas aku masuk, dia bersihin buku dan kertas dari meja; dan kami mulai bahas rencana, dokumen, dan angka-angka.
Dia tertarik sama semua detail, dan nanya segudang pertanyaan tentang rumah itu dan sekitarnya. Jelas banget dia udah pelajari semua informasi yang bisa dia dapet tentang lingkungan rumah itu, soalnya semakin lama ngobrol semakin keliatan kalo dia malah lebih tau banyak hal daripada aku.
Pas aku bilang gitu, dia jawab: “Ya, tapi bukankah itu perlu, temanku? Ketika aku ke sana, aku akan sendirian, dan temanku Harker Jonathan – maaf, aku terbawa kebiasaan negeriku yang menyebut nama keluarga dulu – temanku Jonathan Harker tidak akan ada di sampingku untuk membantuku. Dia akan berada di Exeter, berkilo-kilometer jauhnya, mungkin sibuk dengan dokumen hukum bersama temanku yang lain, Peter Hawkins. Begitulah!”
Kami bahas detail pembelian properti di Purfleet. Setelah aku jelasin semuanya dan dia tanda tangan dokumen yang diperlukan, serta aku siapin surat buat dikirim ke Mr. Hawkins, dia mulai nanya gimana aku bisa nemuin tempat yang cocok. Aku bacain catatan yang aku buat waktu itu, yang sekarang aku tulis ulang di sini:
“Di Purfleet, di sebuah jalan kecil, aku nemuin tempat yang persis seperti yang dicari, dengan papan ‘Dijual’ yang udah lapuk. Tempatnya dikelilingi tembok tinggi dari batu besar kuno yang udah lama enggak diperbaiki. Gerbangnya dari kayu ek tua dan besi, udah berkarat semua.
“Propertinya bernama Carfax, mungkin dari kata ‘Quatre Face’ (Empat Muka) soalnya bentuk rumahnya persegi empat sesuai arah mata angin. Luasnya sekitar 20 acre, dikelilingi tembok batu yang udah disebut tadi. Banyak pohon-pohon gede yang bikin beberapa bagian keliatan suram, dan ada kolam atau danau kecil yang dalem dan keliatan gelap, jelas dapet airnya dari mata air soalnya jernih banget dan ngalir keluar jadi sungai kecil.
“Rumahnya gede banget dan terdiri dari berbagai bagian dari berbagai zaman, beberapa bagian kayaknya dari jaman abad pertengahan soalnya dinding batunya tebel banget dengan jendela-jendela kecil di atas yang dipasang teralis besi. Keliatannya seperti bagian dari benteng, dan deket dengan kapel atau gereja tua.
“Aku enggak bisa masuk, soalnya enggak punya kunci pintu penghubungnya, tapi aku udah foto dari berbagai sudut pakai kodak. Rumahnya udah beberapa kali direnovasi, tapi enggak terencana baik, dan aku cuma bisa nebak seberapa luas tanahnya, yang pasti luas banget.
“Cuma ada beberapa rumah di deket situ, salah satunya rumah besar yang baru direnovasi jadi rumah sakit jiwa pribadi. Tapi enggak kelihatan dari tanah properti ini.”
Setelah aku selesai, Count Dracula bilang: “Aku senang rumahnya tua dan besar. Aku sendiri dari keluarga tua, dan tinggal di rumah baru akan membuatku tersika. Rumah tidak bisa langsung jadi layak huni dalam sehari; lagipula, seratus tahun itu cuma sebentar. Aku juga senang ada kapel tua.
“Kami bangsawan Transylvania tidak suka membayangkan tulang-belulang kami mungkin tercampur dengan rakyat biasa. Aku tidak mencari kesenangan atau kegembiraan, bukan juga kemewahan sinar matahari dan air mengalir yang disukai anak muda. Aku sudah tidak muda lagi; dan hatiku, setelah bertahun-tahun berduka, sudah tidak cocok dengan kegembiraan.
“Lagipula, tembok kastilku sudah rusak; bayangannya banyak, dan angin berhembus dingin melalui benteng dan jendela yang pecah. Aku suka keteduhan dan bayangan, dan ingin sendirian dengan pikiranku kalau bisa.”
Entah kenapa aku ngerasa kata-katanya sama ekspresinya enggak cocok, atau mungkin bentuk wajahnya yang bikin senyumnya keliatan jahat dan suram.
Enggak lama habis itu, dengan berpamitan sopan, dia pergi, minta aku ngerapiin dokumen-dokumen. Dia pergi lumayan lama, dan aku mulai liat-liat buku-buku di sekeliling. Salah satunya atlas yang kebuka di halaman Inggris, kayaknya sering dipake. Aku liat ada beberapa lingkaran kecil di beberapa tempat di halaman itu: satu di timur London (lokasi properti barunya), dua lagi di Exeter dan Whitby di pantai Yorkshire.
Hampir sejam baru Count Dracula balik ke kastil.
“Ah!” katanya, “masih baca buku? Bagus! Tapi jangan kerja terus. Yuk, katanya makan malammu sudah siap.”
Dia megang lenganku, dan kami pergi ke ruangan sebelah di mana ada makan malem enak yang udah siap di meja. Count Dracula minta maaf lagi karena udah makan di luar selama dia pergi. Tapi dia duduk seperti malem sebelumnya, ngobrol nemenin aku makan.
Habis makan aku ngerokok seperti malem kemarin, dan Count Dracula masih nemenin aku, ngobrol dan nanya tentang segala macam hal selama berjam-jam. Aku ngerasa hari udah larut banget, tapi aku enggak bilang apa-apa soalnya aku ngerasa musti hormatin keinginan tuan rumah.
Toh, aku enggak ngantuk, soalnya tidur panjang kemarin bikin aku seger; tapi aku ngerasain hawa dingin yang biasanya dateng jelang subuh, seperti perubahan arus laut. Katanya orang yang mau meninggal biasanya pergi di waktu subuh atau pas arus berubah; siapapun yang pernah ngerasain perubahan suasana ini pas capek dan terjaga pasti bakal percaya.
Tiba-tiba kami denger suara kokok ayam jago yang jelas banget di udara pagi. Count Dracula langsung melompat dan tegak: “Ah, sudah pagi! Aku terlalu asyik sampai-sampai lupa waktu. Lain kali ceritamu tentang Inggris yang kusayangi harus kamu buat kurang menarik, biar aku tidak lupa waktu,” dan dengan anggun dia cepat-cepat pergi.
Aku pergi ke kamar dan buka gorden, tapi enggak ada yang bisa diliat; jendelaku ngadep pelataran, yang keliatan cuma langit kelabu yang mulai terang. Jadi aku tutup lagi gordennya dan nulis catatan hari ini.
📝 Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!
Silakan login untuk meninggalkan komentar.