Penutup Kisah
The Great God Pan pertama kali terbit pada tahun 1894, karya Arthur Machen, penulis asal Wales yang dikenal sebagai salah satu perintis horor supernatural modern. Novel ini memadukan unsur cerita detektif, misteri, dan mitologi, sambil menyembunyikan sebagian besar horornya di antara celah-celah narasi.
Nama “Pan” dalam judul tidak hanya merujuk pada dewa Yunani yang berwujud setengah manusia setengah kambing, tetapi juga menjadi simbol kekuatan kuno yang liar, bebas, dan berbahaya—sesuatu yang berada di luar batas persepsi manusia. Machen mengaitkannya dengan ide “membuka pintu” menuju dunia yang tak terlihat, dengan konsekuensi yang tidak dapat dikendalikan.
Bagi pembaca yang bertanya-tanya tentang sosok Helen Vaughan, penulis dengan sengaja menyisakan banyak detail untuk imajinasi. Helen bukan sekadar tokoh antagonis; ia adalah hasil dari pertemuan terlarang antara manusia dan kekuatan asing yang muncul akibat eksperimen dr. Raymond pada Mary.
Mary, ibu Helen, adalah korban dari upacara serupa—hasil dari “pembukaan pintu rumah kehidupan” yang dilakukan oleh tangan manusia yang terlalu yakin akan ilmunya.
Helen lahir membawa warisan itu: tubuh manusia sebagai kedok, di dalamnya berdenyut sesuatu yang bukan manusia. Sejak lahir, Helen membawa sifat ganda—manusia sekaligus bukan manusia—yang membuat penampilannya berubah-ubah dan kehadirannya selalu diiringi kehancuran moral maupun fisik orang-orang di sekitarnya.
Itulah sebabnya wajah Helen bisa berganti-ganti, matanya memantulkan lebih dari satu bentuk kehidupan, dan kehadirannya selalu disertai kehancuran.
Fragmen prasasti yang disebut di bagian akhir adalah benang penghubung antara peristiwa masa lalu dan tragedi masa kini. “Dewa Agung Nodens” yang disebut di sana adalah dewa laut dalam mitologi Keltik, yang di sini diposisikan Machen sebagai entitas purba dari “Kedalaman” atau “Abyss.”
Penyebutan “pernikahan di bawah naungan” mengisyaratkan peristiwa penggabungan antara manusia dan kekuatan asing—cikal bakal tragedi yang menimpa Mary, dan kemudian Helen. Pernikahan yang “disaksikan di bawah naungan” bukanlah pesta manusia, melainkan ikatan antara manusia dan sesuatu yang tidak berasal dari dunia ini. “Naungan” itu adalah hutan, tapi juga tirai tipis yang memisahkan terang dan gelap, nyata dan tak-terkatakan.
Prasasti di pilar itu tidak pernah dimaksudkan untuk dibaca oleh orang awam. Ia adalah peringatan sekaligus pengakuan dosa, ditinggalkan oleh seseorang yang pernah melihat perbatasan itu terbuka. Tapi seperti semua peringatan kuno, ia diabaikan—sampai akhirnya sejarah mengulang dirinya, dan Helen menjadi bukti hidup bahwa ada rahasia di bawah naungan hutan yang seharusnya tetap terkubur.
Arthur Machen tidak pernah menjelaskan seluruh “rahasia” dalam novel ini. Sebagian besar makna disampaikan secara samar, mengandalkan imajinasi pembaca untuk mengisi kekosongan. Justru di situlah letak kekuatan The Great God Pan: cerita ini tetap meninggalkan rasa tidak nyaman dan tanda tanya bahkan setelah halaman terakhir ditutup.
Dukung Penulis/Penerjemah Novel Favoritmu
Login untuk memberikan vote dukungan
💖 Suka baca cerita ini?
Bantu KlikNovel menerjemahkan lebih banyak novel public domain seperti The Great God Pan karya Arthur Machen ini. Scan QR Code untuk berdonasi via Saweria 🙏
📝 Belum ada komentar untuk bab ini. Jadilah yang pertama berkomentar!










Silakan login untuk meninggalkan komentar.