Bagian 1 – Mr. Braggett Dihantui Rasa Bersalah
• The Ghost of Charlotte Cray •
MR. Sigismund Braggett sedang duduk di ruangan kecil yang ia sebut sebagai studinya, tenggelam dalam renungan yang dalam—untuk tidak mengatakan muram. Padahal, tak ada satu pun dalam hidupnya saat ini, ataupun dalam keadaan sekitarnya, yang bisa menjelaskan mengapa ia tampak begitu murung.
Ia menjalankan usaha penerbitan sekaligus menjual buku; lelaki yang berkecukupan, memiliki bisnis yang berkembang di kota, dan rumah mungil paling cantik di Streatham.
Umurnya baru lewat sedikit dari empat puluh; tak sehelai pun rambutnya memutih, giginya masih asli semua, dan ia bahkan baru tiga bulan menikah dengan seorang perempuan Inggris yang secantik sekaligus sebaik itu—seorang istri penuh kasih yang sanggup menyulap rumah seorang bujangan menjadi surga dunia.
Apa lagi yang bisa diinginkan Mr. Sigismund Braggett? Tidak ada! Justru masalahnya, ia telah memperoleh lebih dari yang seharusnya ia inginkan.
Kita semua punya dosa kecil—kenangan kikuk yang ingin kita kubur sedalam mungkin, agar tak pernah terungkit lagi, tetapi anehnya sering muncul pada saat yang paling tak menyenangkan. Dan tak ada orang yang lebih rawan disergap bayangan semacam itu selain seorang bujangan paruh baya yang akhirnya masuk ke dunia pernikahan.
Mr. Sigismund Braggett sama sekali tak tahu apa yang menantinya ketika ia menggandeng Emily Primrose yang merona malu menuju altar, lalu bersumpah akan menjadi miliknya, hanya miliknya, hingga maut memisahkan.
Ia tak pernah membayangkan bahwa rasa ingin tahu seorang perempuan bisa begitu tajam, lidahnya begitu lincah, dan daya imajinasinya begitu tepat.
Berhari-hari sebelum saat perkawinan, ia habiskan untuk membakar surat-surat lama, menghapus inisial, menghancurkan ikal rambut, dan menyamarkan pemberian-pemberian lama seolah ia membelinya sendiri.
Namun semua itu sia-sia. Ny. Braggett menyergapnya bak burung pemangsa nan elok, membujuk, merayu, bahkan menciuminya hingga setengah rahasianya terungkap tanpa ia sadari.
Kalaupun ada satu hal yang tak pernah ia ceritakan, itu adalah tentang Charlotte Cray. Dan kini, ia hampir berharap seandainya ia benar-benar pernah melakukannya, sebab Charlotte Cray-lah sumber kemuramannya hari ini.
Ada wanita, dan ada “wanita.” Sebagian sangat pemalu, hanya bisa didekati secara halus. Sebagian lain justru jadi pemburu: mengejar mangsanya sampai ke benteng pertahanan, atau mengintai bagai gurita, mengulurkan tentakel ke segala arah demi menangkap korban.
Dan Charlotte Cray jelas termasuk golongan yang terakhir. Bukan sosok yang pantas ditangisi, mungkin bisa dikatakan begitu. Namun, Mr. Braggett memang tidak berlaku baik padanya.
Charlotte adalah salah satu “dosa kecil” itu. Ia seorang penulis perempuan—bukan “author” yang berkesan profesional, melainkan “authoress” yang karyanya sarat keanggunan khas wanita: plot-plotnya penuh sentuhan manis, sajak-sajaknya rapi.
Mereka bertemu dalam ikatan antara penerbit dan penulis—pertama kali di kantor belakang yang sempit dan berdebu, hubungan pun dimulai dengan tawar-menawar biasa yang lazim terjadi.
Bagi Mr. Braggett, menerbitkan cerita atau puisi Miss Cray adalah risiko. Tetapi ia menemukan banyak manfaat lain dari tindakan itu, hingga sesekali ia melempar “tulang” berupa publikasi demi mempertahankan jasanya.
Charlotte Cray—yang seusia dengannya, sudah sampai pada usia di mana perempuan konon berdoa “Siapa saja, Tuhan, siapa saja!”—sebetulnya perempuan cerdas, mampu mengerjakan banyak hal, dan yang paling penting: ia benar-benar menargetkan Mr. Braggett untuk dijadikan suami. Dan Mr. Braggett—demi kepentingannya sendiri—membiarkannya berkhayal demikian.
Inilah dosa yang kini menghantui Mr. Bragget di ruang studi.
Ia pernah memuji Charlotte, memberi perempuan itu hadiah, membawanya bersenang-senang—semata karena gadis tersebut berguna, mau mengerjakan hal-hal kecil yang tak seorang pun mau lakukan, dan dengan bayaran lebih murah pula.
Ia tahu betul Charlotte jatuh cinta padanya, dan ia pun membiarkan perempuan itu percaya bahwa cintanya terbalas.
Saat itu ia tak terlalu memikirkannya. Ia belum berniat menikahi Emily Primrose, dan menganggap apa yang menyenangkan Miss Cray—selama tak merugikan siapa pun—adalah sesuatu yang adil.
Akan tetapi sekarang ia melihatnya dengan cara lain. Tiga bulan sudah ia menikah, dan dua minggu pertamanya dilalui dengan kepahitan. Charlotte mengganggunya dengan rentetan surat penuh cercaan, bahkan datang ke kantornya setiap hari untuk melancarkan teguran langsung.
Semua itu, ditambah ancaman-ancaman, membuat Mr. Braggett hidup dalam ketakutan. Ia takut para pegawainya mendengar isi percakapan mereka; lebih takut lagi jika sang istri mengetahui segalanya.
Ia sudah memohon pada Charlotte, lewat lisan maupun surat, agar berhenti mengusik.
Namun jawaban yang ia terima hanya tuduhan bahwa ia lelaki hina, pengkhianat, dan bahwa Charlotte akan terus datang ke kantornya serta mengiriminya surat lewat pos, sampai ia memperkenalkannya pada sang istri.
Di situlah letak kesalahan paling besar. Mr. Braggett terlalu takut untuk mempertemukan Emily dan Charlotte, dan Charlotte menganggap itu sebagai sebuah penghinaan.
Bagi Charlotte, sudah cukup menyakitkan mengetahui bahwa pria yang potret wajahnya ia letakkan di atas perapian kamarnya, pria yang rambutnya ia simpan dekat jantung, justru menikahi perempuan lain tanpa memberinya kesempatan menolak.
Namun yang lebih buruk lagi, kenyataan bahwa Mr. Braggett tak mengizinkannya untuk sekadar menengok sekilas ke dalam “taman Firdaus” baru yang telah lelaki itu ciptakan.
Miss Cray adalah seorang wanita dengan imajinasi menyala dan ambisi yang kuat. Baginya, semua belumlah berakhir, meski Mr. Braggett telah mengkhianati harapan yang pernah ia bangun.
Istri bukanlah makhluk abadi; hidup penuh dengan peluang dan perubahan, dan sudah sering terjadi hal-hal lebih aneh daripada kemungkinan bahwa Mr. Braggett, suatu hari nanti, akan menggunakan kesempatan kedua lebih bijak daripada yang pertama.
Namun jika ia bahkan tidak lagi diizinkan menjadi teman pria tersebut, sungguh itu terlalu kejam.
Dan si pemilik penerbitan yang berkhianat tetap teguh, meski digempur dengan segala macam tekanan dari Miss Cray, dan kini sudah sebulan lamanya ia tak melihat atau mendengar kabar dari perempuan itu.
Dukung Penulis/Penerjemah Novel Favoritmu
Login untuk memberikan vote dukungan
💖 Suka baca cerita ini?
Bantu KlikNovel menerjemahkan lebih banyak novel public domain seperti The Ghost of Charlotte Cray karya Florence Marryat ini. Scan QR Code untuk berdonasi via Saweria 🙏
📝 Belum ada komentar untuk bab ini. Jadilah yang pertama berkomentar!
Silakan login untuk meninggalkan komentar.