Bagian 1 — Léon Chenal si Pelukis Tua
KAMI bertujuh dalam kereta kuda beroda empat—empat perempuan dan tiga laki-laki, salah satunya duduk di samping kusir, di kursi depan yang tinggi. Kereta kami melaju pelan menyusuri jalan besar yang meliuk-liuk mengikuti garis pantai.
Kami berangkat dari Étretat sejak fajar menyingsing, menuju reruntuhan Tancarville yang konon penuh sejarah. Masih mengantuk dan menggigil diterpa hawa pagi yang lembap, kami duduk terdiam.
Para perempuan, terutama, yang tak biasa berpetualang sepagi ini, tak kuasa menahan kantuk. Kelopak mata mereka naik-turun seolah menimbang-nimbang untuk terpejam, kepala mereka mengangguk pelan, lalu bangkit lagi, sambil sesekali menguap—tak peduli pada keindahan subuh yang membentang di hadapan.
Musim gugur sedang berada di puncaknya. Di kiri-kanan jalan, ladang-ladang terbentang sunyi, tanahnya menguning karena bekas panen gandum dan jagung yang menyisakan tunggul tajam, seperti janggut kasar yang baru tumbuh.
Bumi terasa lembap dan hangat, seperti mengepulkan asap halus. Di atas, burung-burung pipit bernyanyi tinggi di langit, sementara burung-burung kecil lainnya berkicau pelan di balik semak.
Akhirnya matahari pun muncul, membara merah di batas cakrawala. Perlahan-lahan ia naik, makin terang dari menit ke menit, dan seakan-akan seluruh alam tersentak bangun, tersenyum, lalu menggeliat malas seperti gadis muda yang baru bangun tidur, masih mengenakan kamisol tipis dan putihnya.
Saat itu, Comte d’Etraille yang duduk di depan berseru:
“Lihat! Lihat! Seekor kelinci!” Ia menunjuk ke arah kiri, ke semak-semak yang tumbuh di sisi ladang.
Seekor kelinci muda tampak beringsut perlahan, nyaris tak terlihat karena warna bulunya menyaru dengan tanah. Hanya telinganya yang panjang bergerak-gerak, seperti antena.
Kelinci iru melompat pelan menyeberangi cekungan tanah, berhenti sebentar, lalu lanjut lagi, kadang berbelok tanpa arah pasti, kadang terpaku, seolah mendeteksi bahaya yang tak kasat mata, tak tahu harus ke mana. Lalu, secepat kilat, ia berlari dengan loncatan-loncatan panjang dan lenyap di balik ladang bit yang lebat.
Semua lelaki dalam rombongan sontak terbangun, mengikuti larinya hewan itu dengan mata penuh semangat.
René Lemanoir tertawa kecil dan berseru, “Pagi ini kita benar-benar tidak sopan, ya.” Lalu ia berpaling ke tetangganya, si Baroness kecil dari Stérennes yang tengah bergelut dengan kantuk, dan berbisik:
“Baroness, Anda pasti sedang memikirkan suami Anda. Tenang saja, ia tidak akan kembali sebelum Sabtu. Masih ada empat hari tersisa.”
Perempuan itu tersenyum mengantuk, “Betapa kurang ajarnya Anda.”
Namun ia mengibaskan kantuknya, lalu menambahkan, “Ayo dong, ada yang harus mulai bicara—ceritakan sesuatu yang bisa membuat kita semua tertawa. Anda, Monsieur Chenal, yang katanya kekayaannya melebihi Duke de Richelieu, ceritakanlah kisah cinta paling gila yang pernah Anda alami. Bebas, apa saja.”
Léon Chenal—seorang pelukis tua, yang dulunya tampan dan tegap, dan masih bangga akan tubuhnya meski kini telah menua—mengelus janggut putih panjangnya dan tersenyum. Ia diam sejenak, seolah sedang menyaring ingatan dari antara serpih-serpih waktu. Namun kemudian wajahnya berubah muram, suara tawanya lenyap, digantikan keseriusan yang nyaris khidmat.
“Madame sekalian, cerita ini mungkin tidak akan membuat Anda tertawa. Karena yang akan saya kisahkan adalah kisah cinta paling menyedihkan dalam hidup saya. Dan saya sungguh berharap tak seorang pun dari Anda pernah mengalami hal serupa.”
Dukung Penulis/Penerjemah Novel Favoritmu
Login untuk memberikan vote dukungan
💖 Suka baca cerita ini?
Bantu KlikNovel menerjemahkan lebih banyak novel public domain seperti Miss Harriet karya Guy de Maupassant ini. Scan QR Code untuk berdonasi via Saweria 🙏
📝 Belum ada komentar untuk bab ini. Jadilah yang pertama berkomentar!
Silakan login untuk meninggalkan komentar.