Menyambut Sunyi: Terjemahan Baru Miss Harriet
Dalam dunia sastra Prancis abad ke-19, nama Guy de Maupassant selalu menempati tempat istimewa. Ia dikenal sebagai penulis cerita pendek yang tajam, ironis, dan kerap menggali sisi gelap kehidupan manusia. Di antara ratusan ceritanya, Miss Harriet menonjol sebagai kisah yang lembut dan melankolis—sebuah pengecualian yang justru memperkuat kepiawaiannya sebagai pencerita.
Terjemahan Miss Harriet ini hadir bukan sekadar sebagai bentuk pelestarian karya sastra klasik, tetapi sebagai ajakan untuk menyelami ulang tema-tema universal tentang cinta, kesendirian, dan keterasingan dalam balutan gaya naratif yang halus. Ini bukan kisah cinta romantis seperti dalam novel-novel populer, melainkan kisah cinta yang sepi—cinta yang tidak disambut, tidak sempat terucap, dan pada akhirnya hanya meninggalkan jejak samar dalam ingatan seseorang.
Protagonis cerita ini, Miss Harriet, adalah sosok yang nyaris tidak kita temukan dalam cerita-cerita modern: perempuan tua, puritan, asing, dan sendirian. Ia bukan tokoh yang mudah disukai, tetapi Maupassant berhasil menyalurkan simpati pembaca melalui tragedi kecil yang menimpa hidupnya. Cerita ini tidak menawarkan jawaban, tidak menutup dengan keadilan atau kebahagiaan, melainkan dengan keheningan yang mengganggu—sebuah pertanyaan terbuka tentang makna hidup, cinta, dan penolakan.
Dalam menerjemahkan cerita ini, kami berusaha mempertahankan nada lirih dan ironi tipis yang menjadi kekuatan utama gaya Maupassant. Bahasa Indonesia yang digunakan mengalir dalam gaya semi-formal, elegan namun tetap dekat dengan pembaca masa kini. Dialog dan deskripsi dipilih agar tetap hidup dan emosional, tanpa kehilangan nuansa zaman dan tempat asal cerita.
Karya ini juga menawarkan kesempatan bagi pembaca Indonesia untuk merefleksikan posisi perempuan, usia lanjut, dan spiritualitas dalam lanskap sosial kita sendiri. Bagaimana kita memandang perempuan yang tak lagi muda? Apakah mereka masih dilihat sebagai individu penuh keinginan dan emosi, atau hanya bayang-bayang yang tak kasat mata? Miss Harriet mengajukan pertanyaan-pertanyaan semacam itu tanpa pernah mengatakannya secara gamblang. Ia mempercayakan semuanya pada empati pembaca.
Di tengah era digital yang serba cepat dan bising, Miss Harriet mengajak kita berhenti sejenak, mendengarkan sunyi, dan menghargai tragedi-tragedi kecil yang tak tercatat dalam sejarah besar manusia. Kisah ini menegaskan bahwa bahkan dalam kehidupan yang tampaknya biasa dan tertutup, bisa tersembunyi getar cinta dan luka terdalam. Dan mungkin, dalam kisah semacam inilah kita justru menemukan wajah kemanusiaan yang paling jujur.
Selamat membaca.
Dukung Penulis/Penerjemah Novel Favoritmu
Login untuk memberikan vote dukungan
📝 Belum ada komentar untuk bab ini. Jadilah yang pertama berkomentar!
Silakan login untuk meninggalkan komentar.