Merahnya Merah - Iwan Simatupang
Merahnya Merah - Iwan Simatupang
Rp89.500
Lihat di Shopee
Pride and Prejudice - Jane Austen
Pride and Prejudice - Jane Austen
Rp66.750
Lihat di Shopee
Gadis Penari dari Izu - Yasunari Kawabata
Gadis Penari dari Izu - Yasunari Kawabata
Rp58.500
Lihat di Shopee
The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde - Robert Louis Stevenson
The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde - Robert Louis Stevenson
Rp36.750
Lihat di Shopee
Kumpulan Cerpen Terbaik DH Lawrence
Kumpulan Cerpen Terbaik DH Lawrence
Rp104.250
Lihat di Shopee
Pulang - Leila S. Chudori
Pulang - Leila S. Chudori
Rp117.000
Lihat di Shopee

Bab 2 — Tali Persahabatan dan Perkauman

• Azab dan Sengsara •

👁️ 11 views

MARI kita tinggalkan sejenak rumah kecil yang tadi—rumah seorang ibu dan anaknya—biarkan mereka terlelap. Tidur mereka bukan sekadar istirahat, tapi simpanan tenaga untuk menghadapi hari-hari yang, entah besok atau lusa, mungkin akan datang membawa kemiskinan.

Kita berjalan ke arah utara, menyusuri jalan besar yang keluar dari Sipirok. Malam ini gelap, tapi tak perlu khawatir. Jalan ini tidak berliku-liku, dan kita mengenalnya betul.

Lihatlah ke depan. Di kiri dan kanan, terbentang sawah luas, seakan jalan ini hanyalah garis kecil di tengah bentangan hijau. Padi muda yang sedang berisi itu memantulkan warna hijau yang lembut, seperti karpet beledu raksasa.

Sekitar satu setengah pal dari Sipirok, di tengah hamparan itu, terlihat pucuk-pucuk pohon kelapa dan pepohonan lain, di antaranya atap-atap rumah beratap ijuk. Semakin dekat, semakin jelas: itu sebuah kampung—kampung tempat lahir dan tinggal seorang anak muda bernama Aminuddin, baru delapan belas tahun usianya.

Ayahnya adalah kepala kampung di sana. Nama kampung ini, biarlah kita sembunyikan, cukup kita sebut huruf pertamanya saja. Bukan karena misterius, hanya sopan—tidak semua hal harus diucapkan gamblang.

Ayah Aminuddin terkenal di seluruh luhak Sipirok. Hartanya banyak, kerbau dan lembu pun tak terhitung di Padang Lawas. Sawahnya berpetak-petak, hasil padinya tiap tahun mencapai ratusan rupiah—belum lagi kopi dari kebunnya. Semua itu memang warisan orang tua, tapi bukan berarti ia duduk berpangku tangan. Kerajinannya membuat harta itu semakin menumpuk.

Orang segan kepadanya bukan hanya karena kekayaan dan pangkat kepala kampung yang sudah ia pegang dua puluh tahun. Ia juga dikenal berbudi baik. Penduduk dusun memandangnya dengan hormat—dan hormat seperti itu tidak bisa dibeli dengan uang.

Dua dekade hidupnya ia habiskan bersama sang istri. Perkawinan mereka bukan sekadar resmi di mata adat, tapi juga erat diikat rasa cinta yang sudah ada sejak masa muda. Si suami mencintai istrinya bukan hanya karena ia lemah lembut dan berwajah manis, tapi karena perempuan itu pandai menjaga hati.

Kalau suaminya marah, ia tertawa pelan, membuat kerutan kening itu perlahan hilang. Kalau suaminya gundah, ia menenangkan dengan kata-kata yang selembut kain sutra. Senyumannya yang manis bisa membuat hati yang panas menjadi sejuk. Konon, kalau perempuan seperti ini menginginkan sesuatu, ia cukup menggerakkan jari kelingkingnya.

Dua tahun setelah menikah, lahirlah anak pertama mereka—Aminuddin. Bayi itu jadi matahari di rumah mereka, memberi sinar kegembiraan yang hangat.

Suatu malam, si ibu sedang menyusui Aminuddin di atas tempat tidur. Sang ayah memandang penuh bahagia.

“Ah,” katanya sambil memeluk istrinya, “anak ini seperti cahaya yang Tuhan kirim untuk menyinari hidup kita. Betul, kan, Anggi?”

The Hound of the Baskervilles - Sir Arthur Conan Doyle
The Hound of the Baskervilles - Sir Arthur Conan Doyle
Rp59.250
Lihat di Shopee
A Midsummer Night\'s Dream - William Shakespeare
A Midsummer Night\'s Dream - William Shakespeare
Rp29.250
Lihat di Shopee
Little Women - Louisa May Alcott
Little Women - Louisa May Alcott
Rp92.650
Lihat di Shopee
A Study in Scarlet - Sir Arthur Conan Doyle
A Study in Scarlet - Sir Arthur Conan Doyle
Rp52.000
Lihat di Shopee
The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde - Robert Louis Stevenson
The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde - Robert Louis Stevenson
Rp36.750
Lihat di Shopee
The Case-Book of Sherlock Holmes
The Case-Book of Sherlock Holmes
Rp56.250
Lihat di Shopee

Sang istri tersenyum, memandang mata suaminya. “Kalau ayahnya saja begini bahagia, apalagi ibunya yang merasakan semua susah-payah melahirkannya?”

Tatapan itu—jernih, dalam, dan penuh kasih—menembus hati sang suami. Ia memeluk lebih erat, tangannya sedikit bergetar.

“Pelan-pelan, anak kita belum tertidur,” kata istrinya sambil membaringkan bayi itu.

“Aduh… cantik sekali kau malam ini,” ucap sang suami, tersenyum lebar sebelum ia berdiri meninggalkan ranjang.

Saat Aminuddin berumur delapan tahun, ia mulai bersekolah. Di kelasnya, ia yang termuda—kebanyakan teman sekelas sudah sembilan atau sepuluh tahun. Zaman itu, anak kecil jarang disuruh bersekolah cepat-cepat.

Walau kecil, ia rajin. Di sekolah, matanya tak lepas dari gurunya. Setiap kata ditangkapnya, seakan tak ingin kehilangan satu huruf pun. Dari kelas satu sampai kelas tiga, ia selalu jadi yang terpandai.

Namun, Aminuddin tak pernah sombong. Ia rendah hati, disenangi teman-temannya, dan tidak ada yang iri padanya. Ia ringan tangan membantu siapa saja—bahkan kadang sampai kena marah guru karena menolong teman saat ujian berhitung.

Gurunya tahu, anak ini berhati halus seperti perempuan, tapi tegas seperti laki-laki sejati. Itu tampak dari matanya—tajam, jernih, terlindung di bawah alis hitam melengkung seperti busur siap panah.

Waktu itu, Aminuddin baru sepuluh tahun. Kelas tiga sekolah rakyat, badannya masih kecil, tapi jarang sekali ia menganggur. Begitu pulang sekolah, bukannya lari main layang-layang atau mandi di sungai bersama kawan-kawan, ia malah ikut bapaknya ke sawah atau kebun. Katanya, sudah terbiasa bekerja—dan bapaknya memang sengaja membentuknya jadi “orang tani yang patut.”

Ibunya sering kali tak tahan melihat itu.
“Janganlah kakanda terlalu keras kepada anak kita,” ucapnya suatu malam, nada suaranya lembut tapi jelas. “Umurnya baru sepuluh, tulangnya belum kuat. Jangan samakan kekuatannya dengan kakanda. Biar saja dia ikut ke sawah untuk belajar, tapi jangan sampai seperti dipekerjakan sungguhan.”

Bapaknya tersenyum, mencoba melunakkan hati sang istri.
“Adinda jangan khawatir. Kakanda tidak memaksa dia. Anak kita itu memang suka bekerja—sama seperti kakanda dulu. Bukankah baik kalau ia mencontoh ayahnya? Masakan kakanda tidak menjaga Aminuddin, buah hati dan cahaya mata kakanda itu?”

Nada suara ibu mulai melunak, meski wajahnya belum sepenuhnya tenang.
“Adinda pun tahu, anak kita itu kakanda cintai seperti adinda mencintainya.”

“Ah, tidak benar. Ibu selalu lebih sayang pada anak daripada bapak,” jawab si suami sambil tersenyum nakal.

Percakapan seperti itu sering terjadi setelah Aminuddin terlelap di kamarnya, di serambi depan, tepat di sebelah kamar orang tuanya.

“Sudah tidur Aminuddin?” tanya bapaknya setelah lama terdiam.
“Rasanya sudah,” jawab ibu. “Tadi setelah makan langsung ke kamar. Lelah sekali dia hari ini.”

The Hound of the Baskervilles - Sir Arthur Conan Doyle
The Hound of the Baskervilles - Sir Arthur Conan Doyle
Rp59.250
Lihat di Shopee
A Midsummer Night\'s Dream - William Shakespeare
A Midsummer Night\'s Dream - William Shakespeare
Rp29.250
Lihat di Shopee
Little Women - Louisa May Alcott
Little Women - Louisa May Alcott
Rp92.650
Lihat di Shopee
A Study in Scarlet - Sir Arthur Conan Doyle
A Study in Scarlet - Sir Arthur Conan Doyle
Rp52.000
Lihat di Shopee
The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde - Robert Louis Stevenson
The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde - Robert Louis Stevenson
Rp36.750
Lihat di Shopee
The Case-Book of Sherlock Holmes
The Case-Book of Sherlock Holmes
Rp56.250
Lihat di Shopee

“Lelah bekerja? Seharian ini kakanda tak melihatnya.”
“Ia menolong mencangkul sawah Mak Mariamin. Sekolah libur, jadi pagi-pagi ia pergi ke Sipirok. Baru sore pulang.”

“Menolong Mariamin?” Suara bapaknya pelan, seakan pikirannya melayang. “Ehm… baik sekali hati anak kita kepada ibu Mariamin. Apa artinya itu?”

“Apa pula maknanya? Ia hanya merasa dekat dengan mamaknya. Bukankah mereka masih keluarga? Adinda justru memuji perbuatannya. Meski muda, ia sudah punya rasa iba pada yang miskin. Tidak seperti kakanda…” Ibu menatap suaminya tajam. “Bukankah mendiang Sutan Baringin itu abang kandungku, ipar kandung kakanda, dan mamak Aminuddin? Kenapa kakanda tidak pernah melihat-lihat sawah mereka sejak ia wafat? Tiada kasihan?”

Bapak terdiam. Ia teringat Sutan Baringin—orang kaya yang hancur karena perkara.

Dulu, di Sipirok, nama Sutan Baringin harum. Sawahnya luas, kerbau banyak. Tapi ia punya satu kelemahan: doyan menggugat. Segala perselisihan ia bawa ke pengadilan. Sawah, kerbau, semua habis untuk membayar ongkos perkara. Ia kalah di pengadilan rendah, naik banding ke Padang. Kalah lagi, banding ke Jakarta. Semua karena hasutan orang—manusia macam “pokrol bambu”—pandai bicara, tapi isi kepalanya kosong.

Asisten residen di Padangsidempuan pernah berkata di depan banyak orang, “Kalau berselisih, selesaikanlah dengan damai. Yang menang perkara jadi bara, yang kalah jadi abu.” Tapi Sutan Baringin menutup telinga.

Istrinya sudah berkali-kali memohon agar ia berhenti. Semua sia-sia—nasihatnya jatuh seperti batu ke lubuk. Akhirnya ia mencoba mengajak seluruh keluarga memberi petuah, berharap suaminya segan. Hasilnya sama saja. Hasutan “pokrol bambu” sudah terlalu dalam meresap.

Ketika suatu kali istrinya berkata, “Kakanda, ingatlah anak-anak kita,” yang ia terima hanya bentakan:
“Diam kau! Perempuan tidak patut mencampuri perkara laki-laki. Dapur sajalah bagianmu!”

Sejak itu, ia jarang berani bicara. Sekali ia berani berkata lirih, “Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tiada berguna, Angkang.” Air matanya jatuh ke kepala bayi yang sedang dipangkunya.

Dan memang benar. Kemelaratan datang seperti yang ia takutkan. Sutan Baringin meninggal, meninggalkan istri dan anak-anak dalam keadaan nyaris tak punya apa-apa—dan sawah mereka kini terbengkalai.

Kini, di tengah percakapan malam itu, ibu Aminuddin kembali menatap suaminya dengan pandangan yang sama seperti dulu ia memandang almarhum kakaknya.
“Kakanda, tiadakah kasihan pada anak dan istri saudaramu itu? Kalau sawah mereka tidak ditanami, apa yang akan mereka makan?”

Bapak masih diam. Hatinya seperti diseret kembali ke masa lalu yang getir.

“Menangis, Bu?” tanya Mariamin sambil menyeka keringat di keningnya. Baru saja ia pulang dari sawah, dan begitu melihat wajah ibunya yang muram, ia langsung memeluknya erat—ciuman hangat di kedua pipi wanita yang selama ini menjadi pusat hidupnya.

The Hound of the Baskervilles - Sir Arthur Conan Doyle
The Hound of the Baskervilles - Sir Arthur Conan Doyle
Rp59.250
Lihat di Shopee
A Midsummer Night\'s Dream - William Shakespeare
A Midsummer Night\'s Dream - William Shakespeare
Rp29.250
Lihat di Shopee
Little Women - Louisa May Alcott
Little Women - Louisa May Alcott
Rp92.650
Lihat di Shopee
A Study in Scarlet - Sir Arthur Conan Doyle
A Study in Scarlet - Sir Arthur Conan Doyle
Rp52.000
Lihat di Shopee
The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde - Robert Louis Stevenson
The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde - Robert Louis Stevenson
Rp36.750
Lihat di Shopee
The Case-Book of Sherlock Holmes
The Case-Book of Sherlock Holmes
Rp56.250
Lihat di Shopee

Ibunya menghela napas panjang. “Wahai, biji mataku… entah bagaimana nasibmu kelak,” ucapnya lirih. Tangannya tetap bergerak, menidurkan si kecil yang tengah disusuinya, lalu membawanya masuk ke bilik.

Pertanyaannya sederhana, tapi jawabannya rumit: siapa sebenarnya yang menjadi lawan Sutan Baringin dalam urusan ini?

Seperti yang sudah disinggung, Sutan Baringin adalah ipar dari ayah Aminuddin. Rumahnya tak jauh dari Sipirok. Hubungan keluarga mereka rapat seperti sulaman benang emas—ibu Aminuddin adalah adik kandung Sutan Baringin. Maka, Aminuddin memanggilnya “tulang” (paman dari pihak ibu), dan kepada ibu Mariamin, ia menyapa “nantulang”—istri sang paman.

Di tanah Batak, adat berkata lain dibanding tempat lain. Hubungan semacam ini justru membuat kedua belah pihak berharap: andai anak-anak itu kelak menikah, “tali perkauman” akan makin kuat. Kata orang kampung, itu justru ideal. Tapi, seperti peribahasa bilang, “lain padang lain belalang, lain tanah lain adatnya.”

Sutan Baringin sendiri bukan orang sembarangan. Lahan sawahnya luas, tanahnya subur, dan ia tak perlu berlelah membajaknya sendiri. Orang lain mengerjakan, ia tinggal menunggu panen, lalu menerima dua per lima hasilnya—untung bersih setiap tahun. Sejak orang tuanya wafat dan ia berkeluarga, hidupnya nyaris tak kekurangan. Kaya, iya. Bahagia? Belum tentu. Tak semua orang kaya bersenang hati.

Ia punya dua anak: yang sulung perempuan, enam tahun, bernama Mariamin—sering dipanggil Riam—dan si bungsu, laki-laki, masih menyusu. Riam kecil jelita, meski pesonanya belum mekar sempurna. Ibarat bunga kuncup, kecantikannya masih terselubung. Kulitnya bersih, kuning langsat, matanya jernih berkilat, bibir tipis kemerahan yang selalu menyunggingkan senyum manis. Saat ia tertawa, giginya putih berkilau bagaikan mutiara. Ada sesuatu di wajahnya—jernih, suci—seperti cahaya gunung di senja hari. Kadang orang yang menatapnya lama-lama akan berbisik dalam hati, “Anak ini… jangan-jangan bukan manusia biasa. Barangkali keturunan bidadari.”

Ketika Riam berusia tujuh tahun, orang tuanya menyekolahkannya. Meski hanya orang kampung, mereka paham bahwa anak perempuan pun harus belajar—membaca, menulis, berhitung—bukan agar menandingi laki-laki, tapi supaya kelak menjadi ibu rumah tangga yang cakap dan berpikiran tajam. Di sekolah, anak-anak tak hanya diberi ilmu, tapi juga adat dan kesopanan—bekal yang akan mereka bawa ketika menggantikan orang tua memikul hidup di dunia ini.

Mariamin duduk di kelas dua. Aminuddin, di kelas empat. Sepulang sekolah, mereka berjalan bersama sampai simpang, lalu Aminuddin melanjutkan perjalanan sendiri ke kampungnya, dua pal jauhnya dari Sipirok. Pagi-pagi, sebelum jam tujuh, Mariamin sudah berdiri di depan rumah, menunggu. Mereka akrab, dan wajar saja—orang tua mereka bersaudara. Hubungan mereka seperti saudara kandung, ditambah lagi kesamaan tabiat.

The Hound of the Baskervilles - Sir Arthur Conan Doyle
The Hound of the Baskervilles - Sir Arthur Conan Doyle
Rp59.250
Lihat di Shopee
A Midsummer Night\'s Dream - William Shakespeare
A Midsummer Night\'s Dream - William Shakespeare
Rp29.250
Lihat di Shopee
Little Women - Louisa May Alcott
Little Women - Louisa May Alcott
Rp92.650
Lihat di Shopee
A Study in Scarlet - Sir Arthur Conan Doyle
A Study in Scarlet - Sir Arthur Conan Doyle
Rp52.000
Lihat di Shopee
The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde - Robert Louis Stevenson
The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde - Robert Louis Stevenson
Rp36.750
Lihat di Shopee
The Case-Book of Sherlock Holmes
The Case-Book of Sherlock Holmes
Rp56.250
Lihat di Shopee

Mariamin lembut hati, penyayang. Aminuddin pun demikian, meski sebagai anak laki-laki ia sedikit lebih keras. Perempuan, kata orang tua, lebih mudah luluh; kesalahan suami sebesar apa pun bisa dimaafkan ketika ia memohon ampun. Laki-laki? Kadang sebaliknya.

Aminuddin anak yang sopan dan pintar berbicara. Mariamin senang mendengar cerita-ceritanya, entah saat berjalan pulang atau di sawah—karena kebetulan sawah keluarga mereka berdampingan. Aminuddin pun senang ditemani Mariamin; ia menghargai adab gadis kecil itu.

Bila hujan turun, Mariamin selalu berusaha menahan Aminuddin agar tak pulang sendirian.
“Singgahlah dulu, angkang. Nanti kalau hujan reda baru pulang. Lagipula, nasi sudah siap,” bujuknya.
“Ah, biarlah saya terus. Hujannya kecil saja. Kalau berhenti, nanti malah pulang sendiri,” jawab Aminuddin.

Tapi Mariamin bukan tipe yang mudah kalah bicara. Ia memegang tangan Aminuddin, menatapnya tegas.
“Tidak. Nanti angkang sakit lagi, seperti dulu. Bukankah orang tua kita yang repot kalau itu terjadi? Saya antar nanti pulang, kalau angkang tak mau sendiri.”

Aminuddin tak sempat mencari alasan untuk menolak ajakan adiknya. Suara mamaknya yang memanggil dari dalam rumah sudah terdengar jelas. Lagi pula, Sutan Baringin, yang rupanya menguping dari tadi, sudah keluar dan memanggilnya masuk. Dan Aminuddin, tentu saja, mana mungkin melewati rumah mamaknya tanpa singgah.

Begitulah, akhirnya ia pun makin sering berjumpa dengan Mariamin. Di jalan pulang dari sekolah, di sawah, di tepian kampung—mereka seperti bayangan yang tak terpisahkan. Hubungan mereka tak ubahnya kakak dan adik; lagipula, umur mereka pun selisihnya tipis: Mariamin delapan tahun, Aminuddin sebelas.

Suatu sore, di tengah bentangan sawah yang menguning, Mariamin sedang jongkok menyiangi padi. Tangannya cekatan, wajahnya serius, seolah setiap rumpun yang ia bersihkan adalah janji masa depan yang tak boleh dikhianati. Dari pematang, Aminuddin berseru,
“Riam! Ayo pulang. Sebentar lagi hujan turun, kita bisa kehujanan.”

Mariamin menoleh sekilas, lalu melanjutkan pekerjaannya.
“Bentar lagi, Udin. Ini tinggal sedikit. Kalau selesai semua, hati rasanya lega. Lagi pula, matahari masih belum tenggelam betul. Tunggulah.”

Aminuddin menghela napas.
“Besok kan bisa dilanjut. Lihat itu—matahari sudah ketutup awan hitam. Sebentar lagi hujan turun deras. Panasnya seharian ini saja sudah bikin kepala seperti dipanggang.”

“Terlalu cepat kau panik,” jawab Mariamin sambil tersenyum tipis. “Kalau hujan pun, paling nanti malam. Sudahlah, kalau bosan menunggu, duduk saja di pondok.”

Aminuddin berdiri ragu, matanya berpindah-pindah antara langit yang gelap dan gadis kecil yang tak mau berhenti bekerja itu. Pada akhirnya, ia malah menyingsingkan lengan baju dan turun ke sawah, ikut menyiangi. Entah karena iba, atau memang senang menolongnya.

The Hound of the Baskervilles - Sir Arthur Conan Doyle
The Hound of the Baskervilles - Sir Arthur Conan Doyle
Rp59.250
Lihat di Shopee
A Midsummer Night\'s Dream - William Shakespeare
A Midsummer Night\'s Dream - William Shakespeare
Rp29.250
Lihat di Shopee
Little Women - Louisa May Alcott
Little Women - Louisa May Alcott
Rp92.650
Lihat di Shopee
A Study in Scarlet - Sir Arthur Conan Doyle
A Study in Scarlet - Sir Arthur Conan Doyle
Rp52.000
Lihat di Shopee
The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde - Robert Louis Stevenson
The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde - Robert Louis Stevenson
Rp36.750
Lihat di Shopee
The Case-Book of Sherlock Holmes
The Case-Book of Sherlock Holmes
Rp56.250
Lihat di Shopee

“Sebenarnya aku sudah letih, Riam,” katanya sambil mulai bekerja.

“Aku tahu,” potong Mariamin cepat. “Tapi kalau laki-laki saja bisa letih, apalagi perempuan yang tenaganya tak sekuat kalian?”

Aminuddin terdiam. Ia terus bekerja, namun pikirannya berputar. Sejurus kemudian, ia bertanya,
“Jadi kau memang menganggap laki-laki lebih tinggi dari perempuan?”

“Memang,” jawab Mariamin mantap. “Kalau aku laki-laki, tentu aku kuat bekerja. Aku bisa pergi merantau, mencari rezeki. Tapi perempuan? Kami hanya bisa tinggal di rumah, apalagi kalau sudah besar nanti.”

Tak ada yang menanggapi. Mereka larut lagi dalam pekerjaan. Sementara itu, langit semakin pekat, guruh bergemuruh jauh di sana, mendekat perlahan.

Akhirnya, Mariamin berdiri, tersenyum puas.
“Sudah. Sawahku bersih. Padi ini pasti subur nanti. Sekarang kita pulang.”

Aminuddin mengulang kata-katanya, “Pulang?” Matanya menelusuri pegunungan yang mengelilingi Sipirok—puncak-puncak itu satu per satu lenyap ditelan kabut.

“Kita sudah dihambat hujan, Riam! Cepat, ke pondok!”

Kilatan cahaya menyambar, disusul deru hujan yang turun tanpa ampun, seolah langit menumpahkan seluruh isinya sekaligus. Syukurlah mereka sempat berteduh di pondok kecil di tengah sawah.

Belum pukul empat, tapi suasananya sudah seperti senja. Angin membawa gigil ke tulang. Mariamin menyalakan api, dan mereka duduk berdiang. Beberapa kali Mariamin melirik Aminuddin yang hanya diam, menatap nyala api dengan mata kosong.

“Apa yang kau pikirkan, Udin?” tanyanya pelan, menepuk bahunya.

Aminuddin tersentak, tapi hanya memandangnya tanpa menjawab.

“Jangan rahasiakan dariku,” desak Mariamin. “Kalau kau susah hati, katakan.”

“Tidak ada apa-apa, Riam,” jawabnya singkat.

Mariamin menatapnya lekat-lekat, seakan ingin menyelam ke dasar hatinya.
“Katakanlah,” ujarnya lagi, kali ini agak tak sabar.

Aminuddin menarik napas.
“Entah kenapa… bulu kudukku berdiri, hati berdebar. Rasanya tak enak. Seperti ada sesuatu yang akan terjadi. Tapi jangan takut, Allah akan menjaga kita.”

Wajah Mariamin memucat. Mereka pun kembali diam, mendengar hujan yang makin menderu, kilat yang bersahut-sahutan, dan halilintar yang mengguncang bumi. Angin menjerit di luar pondok kecil itu, membuat suasana semakin mencekam.

Di dalam hatinya, Mariamin bertanya: Bahaya apa yang akan datang?

Akses Terjemahan Gratis

Kamu telah mencapai kuota maksimal bab untuk pembaca tamu (unregistered members). Daftar akun GRATIS untuk melanjutkan membaca sampai tamat.

2 bab gratis11 bab total
Daftar Sekarang

Dukung Penulis/Penerjemah Novel Favoritmu

0 Total Vote
0 Pemberi Vote
Rp 0 Komisi Penulis/Penerjemah

💖 Suka baca cerita ini?

Bantu KlikNovel menerjemahkan lebih banyak novel public domain seperti Azab dan Sengsara karya Merari Siregar ini. Scan QR Code untuk berdonasi via Saweria 🙏

Lihat semua opsi kontribusi

Little Women - Louisa May Alcott
Little Women - Louisa May Alcott
Rp92.650
Lihat di Shopee
Frankenstein - Mary Shelley
Frankenstein - Mary Shelley
Rp44.250
Lihat di Shopee
Laut Bercerita - Leila S. Chudori
Laut Bercerita - Leila S. Chudori
Rp98.500
Lihat di Shopee
The Necklace and Other Stories - Guy de Maupassant
The Necklace and Other Stories - Guy de Maupassant
Rp48.500
Lihat di Shopee
Sense and Sensibility - Jane Austen (Shandi Publisher)
Sense and Sensibility - Jane Austen (Shandi Publisher)
Rp108.300
Lihat di Shopee
Max Havelaar - Multatuli
Max Havelaar - Multatuli
Rp77.500
Lihat di Shopee

📝 Belum ada komentar untuk bab ini. Jadilah yang pertama berkomentar!

Emma - Jane Austen (Shandi Publisher)
Emma - Jane Austen (Shandi Publisher)
Rp119.700
Lihat di Shopee
Burmese Days - George Orwell
Burmese Days - George Orwell
Rp81.750
Lihat di Shopee
Winnetou 4 - Karl May
Winnetou 4 - Karl May
Rp68.000
Lihat di Shopee
Northanger Abbey - Jane Austen
Northanger Abbey - Jane Austen
Rp44.250
Lihat di Shopee
Moby Dick - Herman Melville
Moby Dick - Herman Melville
Rp40.500
Lihat di Shopee
The Island of Doctor Moreau - H.G. Wells
The Island of Doctor Moreau - H.G. Wells
Rp33.750
Lihat di Shopee