Azab dan Sengsara

Bab 4 — Laki-Istri dan Anak-Beranak

👁️ 8 tayangan

SEBELUM kita melanjutkan kisah persahabatan Aminuddin dan Mariamin, mari kita sejenak mundur. Kembali ke satu peristiwa yang diam-diam menjadi akar dari banyak kesedihan di kemudian hari—kematian Sutan Baringin—dan bagaimana keluarganya jatuh melarat, seperti yang sempat kita singgung di awal cerita.

Dulu, orang tua Sutan Baringin termasuk golongan berada di Sipirok. Mereka hanya punya satu anak laki-laki—dan seperti sering terjadi pada anak tunggal, ia tumbuh manja, keras kepala, dan merasa dunia ada untuk melayaninya. Waktu kecil, apa pun keinginannya pasti dituruti.

Salah atau benar, jarang sekali ia dimarahi. Pukulan? Ah, jangan harap.

Kalau ayahnya mulai naik darah, ibunya segera datang menyeretnya sambil bersungut, “Baru salah sedikit sudah mau dihantam! Anak satu-satunya laki-laki diperlakukan begitu? Tidakkah kau ingat, dialah satu-satunya penerus?”

Namanya waktu kecil: Tohir. Semakin besar, Tohir makin jauh dari kata penurut. Rumah mereka nyaris selalu berisi suara pertengkaran ayah dan ibu soal kelakuannya. Ayahnya pernah mencoba mengubahnya, tapi upaya itu selalu kandas di hadapan kasih sayang yang—kalau boleh jujur—terlalu buta. Bagi si ayah, ibunya itulah sumber masalah: terlalu memanjakan.

Ia pernah berkata dengan nada gusar, “Jangan biarkan anak kita tumbuh seperti anak yang tak punya orang tua. Kalau salah, tegur. Kalau perlu, pukul sedikit, biar dia tahu batas.”

Si ibu langsung membalas dengan wajah tersinggung, “Apa-apaan itu? Dia masih kecil. Kalau besar nanti, dia pasti mengerti sendiri.”

Ayahnya menghela napas panjang. Ia tahu, ini percakapan yang tak akan pernah sampai ke tujuan.

Tapi ia mencoba lagi, “Kalau sejak kecil dia tak pernah ditegur, nanti ketika besar ia tak akan tahu mana yang benar dan salah. Tabiat buruk itu seperti benalu—kecil di awal, tapi makin lama makin rimbun, akarnya menembus ke dalam. Lama-lama pohon yang ditumpanginya kurus, merana, lalu mati. Begitu pula hati anak. Kalau tidak dibersihkan dari awal, kebaikan di dalamnya akan habis dimakan akarnya sendiri.”

Si ibu hanya melipat tangan, “Jadi maumu, kita keras pada Tohir? Semua perumpamaanmu itu indah, tapi hati seorang ibu tak akan tega melakukannya.”

 Ayahnya mulai meninggi suara, “Kau ini keras kepala! Anak itu seperti batang kayu: waktu kecil mudah dibengkokkan. Kalau sudah besar, coba bengkokkan—yang ada patah!”

Si ibu membalas dengan dengusan, “Itu cuma omong kosong untuk orang yang tak tahu rasanya melahirkan. Perempuan yang menganggap anaknya beban mungkin mau mendengar kata-katamu, tapi aku tidak.”
“Sudahlah,” kata si ayah, kali ini benar-benar marah. “Kaulah yang akan membuatnya binasa. Dan kau akan menyesal seumur hidup.”

Ia nyaris mengumpat, tapi buru-buru menahan diri. Lebih baik keluar rumah daripada menambah dosa. Maka ia pun pergi, meninggalkan istri yang lebih sibuk melindungi anaknya dari teguran, daripada membentuknya menjadi manusia.

Waktu berlalu. Dan seperti yang sudah ditebak, semua kekhawatiran si ayah jadi kenyataan. Sutan Baringin—begitulah nama gelarnya setelah menikah—tumbuh tanpa hormat pada orang tua, tanpa perilaku yang pantas. Setelah ayahnya meninggal, ia hanya tinggal bersama ibu dan adik perempuannya yang masih kecil.

Di sinilah si ibu mulai punya rencana. “Kalau anakku terjadi apa-apa nanti, dan dia belum menikah, habislah nama keluarga ini,” pikirnya.

Selain itu, ia percaya—entah dari mana keyakinan itu datang—bahwa pernikahan akan membuat hati anaknya “cepat tua” dan perangainya membaik. Keyakinan ini umum di kalangan orang kampung: kalau anak perempuan sudah cukup umur, nikahkan. Anak laki-laki? Sama saja. Menunda dianggap aib.

Maka si ibu cepat-cepat mencari gadis untuk dijadikan menantu, tanpa berpikir panjang apakah putranya sudah siap jadi suami. Baginya, pernikahan hanyalah soal memenuhi adat, bukan kesiapan batin.

Padahal, kalau mau jujur, pernikahan bukan sekadar adat. Ia adalah janji, tanggung jawab, dan ujian kesabaran. Tuhan memang menciptakan Adam dan Hawa untuk saling menemani, tapi bukan berarti kita boleh asal mengikat dua orang hanya karena “sudah waktunya”. Kalau ikatannya rapuh, perceraian akan jadi ujungnya—dan itu bukan sekadar memisahkan dua orang, tapi juga meretakkan hati yang tak bersalah.

Bayangkan seorang ibu yang diceraikan suaminya saat tengah mengandung. Ia menimang bayi mungilnya sambil berkata lirih, “Aduhai, Anakku, tangkai hatiku. Malang benar nasib kita. Kau lahir tanpa pernah mendengar suara ayahmu, karena dia membuang ibumu. Kalau saja dia menyayangimu, meski membenciku, tentu ia takkan meninggalkan kita. Tapi beginilah takdir.”

Kata-kata itu bukan hanya keluhan, tapi cambuk yang mengingatkan: ada keputusan-keputusan yang, sekali diambil, akan meninggalkan luka sampai generasi berikutnya.

Kadang, nasib perempuan begitu kejamnya, hingga satu-satunya jalan keluar yang ia lihat hanyalah kematian. Bukan karena ia membenci hidup, tetapi karena hatinya tak sanggup lagi menatap anaknya yang hidup segan, mati tak mau—terjebak di antara lapar dan sekarat.

Apalagi, tubuh si ibu masih lemah, kurus, dan wajahnya pucat setelah melahirkan. Apa daya mencari nafkah, sementara dirinya sendiri nyaris roboh? Maka maut, pikirnya, mungkin lebih murah hati daripada nasib yang membelenggunya.

Itulah salah satu akhir yang kerap terjadi pada perkawinan tanpa cinta—perkawinan yang rapuh, yang hancur begitu saja seperti daun kering dihembus angin. Dan di kota besar seperti Batavia, kisah-kisah semacam itu tak pernah langka.

Sebut saja seorang janda yang bekerja sebagai koki di rumah keluarga Eropa. Ia punya seorang anak perempuan yang membantu menjaga anak majikannya. Saat sang anak berusia lima belas tahun, datanglah seorang lelaki muda meminangnya.

Ibunya menyampaikan kabar itu dengan semangat. “Orang itu ingin kau jadi istrinya,” katanya.

Anak gadis itu memandang ibunya, terkejut. “Kenapa Ibu berpikiran begitu? Aku bahkan tak mengenalnya. Ibu pun tak tahu bagaimana orangnya. Aku masih anak-anak. Apa salahnya kita tetap tinggal bersama lebih lama? Kalau Ibu sudah tak kuat bekerja, biarlah aku yang mencari nafkah. Gajiku cukup untuk kita berdua.”

Ibunya menggeleng. “Jadi kau mau membujang selamanya? Tak patut di mata orang.”

“Aku tak menolak menikah, Bu. Tapi seperti yang kukatakan, aku belum kenal dia. Dan kota ini… terlalu ramai, terlalu banyak cerita buruk. Lagipula aku belum dewasa.”

Namun seperti biasa, kehendak orang tua lebih kuat. Si anak tak berani menolak keras, apalagi saat ibunya mulai mengancam. Maka ia pun menikah dengan lelaki yang nyaris asing baginya.

Dua bulan setelah pernikahan, ibunya meninggal—dengan hati lega, mungkin, karena merasa anaknya kini dijaga oleh seorang suami. Ia tak sempat berpikir, bagaimana nasib anak itu nanti bila ia tiada.

Sayang, satu tahun cukup untuk membongkar tabir kenyataan. Suaminya ternyata pemalas, pemboros, dan hanya mementingkan kesenangan diri.

Uang warisan ibunya habis. Barang-barang rumah berpindah ke pegadaian. Bahkan gaji istrinya—karena ia tetap bekerja di rumah majikannya—lenyap tak bersisa, seperti hujan yang jatuh di pasir.

Dan suatu hari, suami itu menghilang. Kota besar tak peduli pada orang hilang, apalagi yang tak membunuh atau merampok.

Gadis malang itu kini sendirian, tanpa uang, tanpa barang, kecuali pakaian di badan. Ia tinggal di sebuah pondok bambu di kampung, setelah berhenti bekerja dua minggu sebelumnya—perutnya yang buncit tak lagi memungkinkannya membantu majikan. Usianya bahkan belum tujuh belas tahun.

Namun, di tengah kemiskinan dan kesepian, ia masih menyimpan harapan.

“Kalau anakku lahir dengan selamat, mungkin suamiku akan kembali. Mungkin hatinya akan luluh. Kami bisa memulai lagi. Hidup dengan cinta, damai, dan saling menjaga.”

Harapan itu menjadi satu-satunya alasan ia bertahan, meski tubuhnya lemah dan rumahnya hanya berlantai tanah. Cincin dan kain terakhir pun rela ia gadaikan, asalkan bisa membeli beras sampai hari kelahiran tiba.

Tapi takdir tak mengenal iba. Dua hari sebelum melahirkan, suaminya meninggalkannya untuk selamanya. Ia sendirian—tanpa keluarga, tanpa kenalan, tanpa pertolongan.

Hari kelahiran pun tiba. Seorang bayi laki-laki lahir sehat, bersih, dan menggemaskan. Untuk sejenak, rasa sakit terberat di dunia itu terbayar dengan kegembiraan yang membuncah di hati sang ibu.

Namun kebahagiaan itu tak bertahan lama. Sinar matahari yang ia nantikan ternyata tertutup kabut pekat. Suaminya benar-benar tak kembali. Barang sudah habis. Tenaga tak ada. Makanan pun sering kali sekadar belas kasihan tetangga—yang miskin juga.

Kadang-kadang, pikiran gelap itu datang: “Aku kelaparan… sementara di luar sana orang-orang makan berlebihan.”

Namun dunia memang begitu—penuh wajah berbeda, penuh nasib yang tak pernah sama. Dan di pojok sunyi sebuah pondok bambu, seorang ibu muda terus hidup, bukan karena hidup itu manis, tetapi karena ia belum bisa meninggalkan anak yang tidur di pangkuannya.

Segala sesuatu ada batasnya. Seperti tabung yang diisi terlalu penuh—akhirnya tak mampu lagi menahan, rebah, dan seluruh isinya tumpah berceceran.

Begitulah tubuh sang ibu itu. Sakit, kurus, air susunya makin sedikit. Ia tahu, kalau dibiarkan, bukan hanya dirinya yang merana—anaknya pun ikut melarat. Dan itu… itu satu-satunya hal yang tak sanggup ia terima.

Kasih seorang ibu memang sering membuat orang lupa pada dirinya sendiri. Ia bisa menyerahkan tubuh, bahkan nyawa, demi keselamatan anaknya. “Biar aku yang binasa, asal anakku selamat…” begitu pikirnya sambil memandangi wajah mungil itu.

Maka hari itu, ia menyerahkan bayinya kepada seorang kaya. Lelaki itu sudah lama menginginkan anak—maklum, ia dan istrinya tak pernah dikaruniai keturunan. Anak yang sehat, gemuk, rupawan, adalah impian yang ia rawat bertahun-tahun. Uang? Ah, baginya tak masalah. Berapa pun yang diminta, akan ia bayar.

Lucu bukan? Dunia ini memang suka bercanda. Ada yang mendamba anak tapi tak bisa melahirkan, ada yang bisa melahirkan tapi nyaris mati karenanya. Dan yang satu diberkati hidup nyaman, sedang yang lain harus berjuang meneguk udara. Ironi yang berjalan di depan mata kita, tanpa malu.

“Berapa ratus rupiah kau minta?” tanya si kaya, suaranya datar.

“Aku… tak ingin uang, Tuan,” jawab perempuan itu pelan, hampir seperti bisikan. “Bukan itu sebabnya aku menyerahkan anakku. Hanya… aku ingin dia selamat kelak….”

Suaranya tercekat. Lidahnya seolah lumpuh, dan yang berbicara hanyalah air mata. Pipinya yang cekung basah, tubuhnya gemetar. Tak ada kata yang cukup untuk menggambarkan rasa perih saat seorang ibu bercerai dengan darah dagingnya sendiri.

“Ya, ya… jangan bersedih,” kata si kaya sambil menggoyang kursinya. Ia merogoh kantung, mengeluarkan beberapa lembar uang, lalu menyorongkannya. “Ambillah. Untuk belanjamu.”

“Tunggu, Tuan,” potong si ibu sambil menggendong bayinya—yang masih terlelap, tak tahu bahwa pagi itu akan jadi pagi terakhir ia merasakan hangat susu ibunya. Pelan, ia letakkan si kecil di pangkuan istri orang kaya itu.

“Uang Tuan ini… tak bisa kuterima. Bagiku, uang ini seperti racun. Aku takkan hidup dari harga tubuh dan nyawa anakku. Bukankah sama saja aku memakan dagingnya, meminum darahnya? Tidak, Tuan. Aku hanya minta dua hal: pertama, rawatlah dia seperti anakmu sendiri. Kedua, bila nanti ia besar dan bertanya tentang orang tuanya, katakan yang sebenarnya. Jelaskan mengapa aku menyerahkannya. Tapi… kalau ia tak pernah bertanya, simpan saja rahasia itu. Dan bila suatu saat ia ingin mencariku—laranglah. Tak ada gunanya, karena besok pun… aku mungkin sudah tak akan melihat matahari lagi.”

Perempuan itu melepas rantai lehernya—di tengahnya ada liontin bundar berbingkai emas, bergambar dirinya. “Inilah tanda peringatanku untuknya.”

Orang kaya itu menerima, menyimpannya di kantung. “Uangmu ini akan kusimpan. Kalau nanti kau memerlukannya, beri kabar. Akan kukirimkan.”

Perempuan itu tak menjawab. Matanya tak lepas dari anaknya, seolah ingin menghafal setiap garis wajah mungil itu. Ia membelai tangan si kecil pelan, takut membangunkannya.

“Selamat tinggal… cahaya mataku, buah hatiku… Di dunia kita berpisah, di akhirat semoga kita bertemu.” Suaranya pecah, napasnya patah-patah. Ia menunduk, memeluk, menciuminya berkali-kali—ciuman terakhir yang ia berikan.

“Selamat tinggal, anakku…” bisiknya lagi sebelum melangkah keluar. Sekali ia menoleh, dan itulah tatapan penghabisan.

Tak ada yang tahu bagaimana nasib ibu dan anak itu. Tapi dari ucapannya, “Besok aku takkan melihat lagi matahari,” kita mengerti: ia tak berniat melanjutkan hidup. Entah bagaimana caranya ia pergi, yang pasti—pasti menyedihkan. Tapi begitulah, jika hidup sudah terlalu sempit untuk dilalui, kematian kadang terasa seperti pintu keluar yang satu-satunya.

Dan semua ini… hanya karena sebuah perkawinan yang dipaksakan.

Perkawinan tanpa cinta itu ibarat perahu tanpa kemudi—mudah karam. Tak kenal, tak sayang, dipertemukan hanya karena keputusan orang tua… akhirnya berujung derita.

Lihatlah sekeliling kita. Tak sedikit yang bernasib sama. Di kota-kota besar, di siang atau malam hari, perempuan-perempuan berjalan di jalanan—menjual tubuhnya, bukan karena tak tahu malu, tapi karena tak lagi punya pilihan. Banyak di antara mereka dulunya istri yang diceraikan, lalu dibiarkan mengapung tanpa pegangan.

Dan salahkah mereka? Tidak sepenuhnya. Laki-lakilah yang lebih sering menjerumuskan.

Padahal Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan untuk saling menjaga. Sehidup semati, saling menghibur dan menopang. Jika itu dilupakan, maka pernikahan—yang seharusnya menjadi tempat berlindung—akan berubah menjadi jebakan yang mendorong perempuan jatuh ke jurang azab dan sengsara yang tak berujung.

Sudah agak jauh kita terseret dari pokok cerita. Semuanya gara-gara kisah sang ibu yang terlalu tergesa-gesa menikahkan Sutan Baringin. Baiklah, mari kita kembali. Sebelum kita masuk lebih dalam, ada baiknya kita berkenalan dulu dengan perempuan yang dinikahinya.

Perempuan itu… ah, siapa yang bisa memungkirinya? Sopan santun terpancar dari caranya duduk, dari gerak matanya yang jernih, dari sinar wajahnya yang tenang. Tidak ada yang berlebihan pada dirinya—bahkan perhiasan yang menempel di tubuhnya seperti tahu diri, tidak berani menutupi kecantikan pemiliknya. Banyak perempuan tampak cantik karena emas di leher atau sutra di badan; dia sebaliknya—keindahannya membuat perhiasan menjadi tak lebih dari pelengkap kecil.

Ia penyabar, lembut tutur katanya, tahu menghormati orang. Dan di sinilah ironi itu mulai: Sutan Baringin, suaminya, justru bertabiat sebaliknya. Mudah marah, perkataannya sering menyakitkan telinga. Nuria—ya, itulah nama si perempuan—ramah dan pengiba, sedangkan Baringin angkuh, bengis, dan merasa dirinya lebih tinggi dari siapa pun.

Jauh sekali mereka dari pepatah indah itu: “Setuju dengan istrinya, seperti bulan dengan matahari.”

Bukan berarti rumah tangga mereka tampak buruk di mata orang luar. Justru sebaliknya—kepada dunia, mereka pasangan yang rukun.

Semua itu berkat Nuria. Ia menutup kekurangan di antara mereka, mencoba menumbuhkan cinta di hati suaminya. Ia tahu betul apa yang menjadi kewajiban seorang istri, dan ia melakukannya sepenuh hati. Hanya saja, ada satu rahasia yang ia simpan rapat-rapat.

Sering ia bertanya dalam hati: “Kenapa, ya, rasa rinduku kepada suamiku begitu tipis? Kadang malah tak ada sama sekali. Tapi… kepada orang itu—orang yang dulu sering datang bertandang ke rumah waktu aku muda—hatiku justru berdebar. Aku rindu. Aku memikirkannya. Dan itu salah. Oh, betapa salah. Tapi mengapa bisa begini? Bukankah aku tidak pernah sengaja menaruh hati?”

Persahabatan dengan lelaki itu—kita sebut saja pemuda pertandang—awalnya biasa saja. Lama-lama, diam-diam, perasaan tumbuh. Ia sendiri tak sadar kapan mulai merindukannya. Hingga suatu sore, saat mereka duduk berdua, lelaki itu berkata pelan:

“Nuria… selama ini aku simpan sendiri. Sekarang tak bisa lagi. Aku mencintaimu. Katakanlah, walau sedikit saja, adakah perasaanmu padaku?”

Wajah Nuria memanas, tapi ia menjawab, hampir berbisik, “Tuanlah yang menjadi buah angan-anganku.”

Sejak itu, semua orang mengira mereka kelak berjodoh. Tapi takdir memilih jalan lain. Orang tua Nuria tidak setuju. Cita-cita indahnya menguap seperti kabut pagi. Dan yang tak pernah ia bayangkan justru kini duduk di hadapannya—Sutan Baringin, suami yang membuatnya harus menelan sabar sejak hari-hari pertama pernikahan.

Namun Nuria bukan perempuan yang mudah menyerah.

“Baiklah, aku sabar. Siapa tahu jerih payahku berbuah. Ia suamiku. Ia tuanku. Aku akan tetap mengusahakan hatiku untuknya,” tekadnya.

Sayang, tekad itu tidak mudah. Bagaimana bisa mencintai sepenuh hati jika yang dicintai tak pernah memberi cinta kembali? Seperti tepuk tangan sebelah tangan—suara tak akan pernah terdengar.

Di tanah Batak, ada peribahasa: “Berumah tiada sebagai berdayung—kalau biduk tertumbuk, dapat dikelokkan.” Maksudnya, perkawinan di sana kukuh sekali; perceraian adalah aib besar. Laki-laki yang menceraikan istrinya dipandang hina, apalagi perempuan yang meminta talak. Mereka yang bercerai akan sulit sekali menikah lagi—terutama si perempuan, yang akan dicap tak setia.

Penulis cerita ini sendiri, selama lima belas tahun tinggal di kampung dekat Sipirok, hanya dua kali melihat perceraian. Bandingkan dengan Medan, di mana cerai-bercerai hampir seperti kejadian harian.

Namun sayang, kini kampung pun mulai terpengaruh kota. Dalam empat tahun penulis meninggalkan negeri, berita perceraian di Sipirok justru lebih banyak daripada lima belas tahun sebelumnya.

Hati penulis jadi perih. Ia mencintai tanah kelahirannya, dan mencintai bangsanya. Melihat penyakit ini menjalar, ia merasa harus mencari obatnya—karena mencintai tanah air, bagi dia, berarti berusaha menyelamatkan orang-orang yang menghuninya.

Kesentosaan dan kenikmatan perkawinan di bangsaku, rasanya kini seperti benang yang mulai rapuh. Talak—kata yang ringan di lidah, tapi berat di hati—terus mengintai di balik pintu rumah tangga.

Hatiku sedih memikirkannya. Apa sebabnya? Apakah ini hasil dari “kemajuan” yang salah arah? Ataukah dunia memang sudah terlalu tua dan letih? Aku tak tahu pasti. Yang jelas, aku merasa perlu berbuat sesuatu, sekecil apa pun, untuk menolong bangsaku.

Setiap orang punya caranya sendiri. Ada yang menolong dengan tenaga, ada yang dengan harta, ada pula dengan ilmu.

Aku memilih jalanku: menulis. Inilah jalanku memberi sesuatu, sekadar tanda bahwa aku peduli.

Cerita yang akan kau baca ini bukan sekadar rekaan. Ia lahir dari kisah nyata—potongan hidup yang pernah ada, dikumpulkan agar bangsaku mau membaca, merenung, dan, semoga, belajar. Bacalah baik-baik. Siapa tahu ia menjadi sedikit cahaya di tengah gelapnya pengetahuan kita yang masih miskin.

Mari kita mulai dari Sutan Baringin dan istrinya, Nuria. Sepuluh tahun sudah mereka hidup bersama. Dalam waktu itu, mereka dikaruniai dua anak: Mariamin, si sulung perempuan yang mulai beranjak gadis, dan si bungsu laki-laki yang baru tiga bulan usianya.

Dari luar, keluarga ini tampak sempurna. Rumah besar, sawah luas, ladang terbentang, harta melimpah, dan garis keturunan bangsawan. Orang luar pasti berkata, “Beruntung benar orang yang tinggal di rumah ini.”

Tapi itu cuma tirai. Angkat sedikit tirai itu, dan kau akan melihat sesuatu yang lain sama sekali.

Sutan Baringin—sejak kecil sudah dimanja berlebihan—tak pernah benar-benar tumbuh. Ia tetap tinggi hati, pemarah, malas, dan boros. Semua harta yang ia miliki hanyalah warisan ayahnya. Tak setetes pun keringatnya menetes untuk meraihnya.

Ibunya, yang dulu masih hidup, sudah lama khawatir anaknya akan jatuh miskin, sebab semua nasihatnya seperti angin lalu. Ia pun teringat ucapan suaminya dulu: kayu kecil masih bisa dibengkokkan, tapi kalau sudah besar, jangan harap.

Dan memang, sebelum sempat menyaksikan kehancuran anaknya, ibunya meninggal. Satu tahun lebih cepat dari badai yang akan datang.

Bagi Nuria, meninggalnya sang ibu mertua seperti pintu yang terbuka ke jurang. Tak ada lagi yang bisa menahan kelakuan suaminya. Mulailah Sutan Baringin sering keluar malam—ke kedai nasi atau rumah kopi—menghabiskan waktu dengan kawan-kawan yang “kurang baik.” Nuria, dengan kesabaran seorang istri yang tulus, selalu menunggu.

“Seharusnya kita makan bersama. Tak elok kalau istri makan duluan sebelum suaminya,” pikirnya.

Jam delapan lewat, ia akan memberi makan kedua anaknya, menidurkan mereka, lalu duduk di ruang makan, menunggu suaminya. Sambil menunggu, tangannya tak pernah diam—menganyam tikar, menjahit baju anak. Maklum, siang hari ia sibuk mengurus rumah, karena sang suami nyaris tak mau bekerja.

Bila suaminya pulang, Nuria menyambutnya tanpa wajah masam. Ia akan bertanya dengan lembut, “Mau makan, Bang?” Kadang ia menghibur suaminya dengan cerita kecil, atau bertanya ini-itu agar ada percakapan. Rumah selalu rapi, halaman bersih. Ia tak mengenakan pakaian mahal, tapi kesederhanaannya justru memancarkan keanggunan.

Sutan Baringin beruntung, tapi ia tak tahu. Atau lebih tepatnya, tak mau tahu.

Kadang manusia memang baru menyadari betapa berharganya sesuatu setelah kehilangan. Seperti sahabat yang terasa biasa-biasa saja saat bersama, tapi amat dirindukan setelah berpisah.

Seperti kesehatan yang baru dihargai ketika sakit. Begitu pula Sutan Baringin—ia tak mencintai istrinya sebagaimana istrinya mencintai dia. Semua kelembutan, tutur halus, dan kesetiaan Nuria seperti menabrak tembok di hatinya.

Dan Nuria tahu itu.

Malam-malam, saat rumah sunyi dan hanya napas anak-anaknya yang terdengar, Nuria kerap menatap wajah mereka dengan hati berat. Ia merasakan sesuatu yang tak ia inginkan: tali perkawinan mereka makin rapuh. Dari pihak suami, tak ada harapan. Sepuluh tahun ia bertahan, tapi tak ada perubahan.

Ia tak bosan, tapi khawatir. Khawatir kalau tenaganya habis, ia akan jatuh bersama anak-anaknya ke jurang kemelaratan.

Tangannya bergetar, peluh dingin membasahi wajah. Tanpa sadar, ia memeluk anaknya erat-erat, menciuminya berkali-kali. Air matanya jatuh satu-satu, seperti mutiara lepas dari untaian.

Malam itu menusuk tulang. Angin menderu seperti sedang memarahi bumi, membawa rintik hujan yang memercik di atap. Sesekali kilat menyambar, memamerkan cahaya putih menyilaukan, seperti sekilas wajah dewi malam yang tersibak tabirnya.

Langit menghitam, awan menebal, bintang-bintang pun menghilang bagai disapu tangan raksasa. Semua itu pertanda hujan deras akan segera mengguyur.

Sutan Baringin tak pulang malam itu. Istrinya, Nuria, gelisah di ranjang, tapi ia tahu, meskipun suaminya pulang, tak akan banyak bedanya. Sutan Baringin adalah laki-laki yang hatinya tak menyediakan tempat bagi istrinya. Bahkan untuk anaknya pun, cintanya samar—jika itu memang ada.

Bagi Sutan Baringin, perempuan diciptakan Tuhan sekadar pelengkap hidup laki-laki. Jika seorang lelaki merasa perlu, ia akan menikah; “mengambil” perempuan untuk kepentingan dirinya.

Tugas suami? Menyediakan makan dan tempat tinggal. Selebihnya, perempuan harus menyerahkan tubuh dan hatinya demi kesenangan laki-laki, tanpa mengharap balasan kasih.

Cinta, bagi perempuan, adalah kewajiban, bukan hak. Dan yang lebih getir lagi—ia percaya perempuan tak punya jiwa. Jika mati, ya habis.

Surga dan akhirat? Bukan urusan mereka. Begitulah keyakinan Sutan Baringin, keras dan dingin seperti batu di dasar sungai.

Nuria mendengar segalanya malam itu: hujan yang menghantam tanah, guruh yang mengguncang langit, petir yang seolah membelah bumi. Ia memejamkan mata, memaksa pikirannya tenang, tapi kantuk tak juga datang.

Baru saja hampir terlelap, ia tersentak bangun, seperti terperanjat dari mimpi buruk yang belum sempat jadi. Ia duduk, mencoba mencari sebabnya, tapi tak menemukannya. Setelah membetulkan selimut anaknya yang tidur pulas, ia rebah lagi, menghela napas panjang.

Menjelang tengah malam, tubuhnya yang lelah akhirnya menyerah. Dalam tidur, ia bermimpi.

Ia melihat matahari baru saja terbit, memancarkan cahaya hangat, namun perlahan-lahan ditelan awan hitam pekat. Cahaya itu lenyap, gunung-gunung menghilang di balik kabut tebal.

Dari kejauhan, guruh bergemuruh, makin lama makin dekat. Gunung Sibualbuali memuntahkan asap kelabu, tanah bergetar, orang-orang panik berlarian. Nuria pun berlari, menggendong anak-anaknya.

Begitu ia menoleh, tanah di bawah rumahnya merekah. Dalam sekejap, rumah dan pekarangan ambruk ke dalam lubang besar. Ia menangis—suaminya masih di dalam, dan bumi menelannya bulat-bulat.

Tanah itu kembali menutup rapat, seolah tak pernah ada rumah di sana. Lalu terdengar ledakan dahsyat. Gunung berapi memuntahkan asap, belerang cair meluncur, melahap sawah, kebun, kampung—semuanya. Ladang mereka hilang. Hanya ia dan anak-anak yang sempat selamat.

Nuria tersentak bangun. Tak lama kemudian, ayam berkokok. Ia tak bisa tidur lagi. Hatinya gamang, tak tahu apa arti mimpi itu.

Saat fajar merekah, ia berwudhu. Dengan pasrah, ia berkata lirih, “Ya Allah… kalau ini pertanda, aku serahkan semuanya pada-Mu.”

Ia shalat subuh. Seusai menghadap Tuhan Yang Maha Pengasih, hatinya terasa lebih ringan. Bayangan mimpinya mulai memudar. Ia kembali ke sisi anak-anaknya yang masih terlelap, membetulkan selimut, lalu mencium dahi mereka satu per satu.

Matahari masih bersembunyi di balik Bukit Sipipisan. Rimba masih lelap. Namun Nuria, ibu yang setia itu, sudah di dapur menyiapkan pekerjaan rumah. Wajahnya menunjukkan betapa panjang penderitaan yang ia tanggung.

Luka fisik memang tak ada, tapi beban hati dan jiwa perlahan merusak raganya. Semalam ia telah memikul badai—bukan hanya yang di luar rumah, tapi juga yang berdiam di dalam dirinya.

🔒

Kuota Bab Tercapai

Kamu sudah mencapai batas bebas baca 5 bab awal novel ini sebagai tamu. Buat akun Reader gratis untuk melanjutkan membaca.

href="https://kliknovel.com/register?redirect=https%3A%2F%2Fkliknovel.com%2Fchapter%2Fbab-4-laki-istri-dan-anak-beranak%2F&paywall_novel=2265&paywall_chapter=2602 class="kn-btn btn-register" data-track="register_click" data-novel="2265" data-chapter="5"> Daftar & Lanjut Baca Sudah punya akun? Login

📝 Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!

×
×