Bab 8 — Di Tanah Asing
BUKIT-BUKIT di Pulau Samosir itu, dari kejauhan, seolah diselimuti beludru hijau. Langitnya bersih tanpa awan, terentang laksana payung raksasa dari sutra zamrud yang memantulkan bayangannya di permukaan Danau Toba—jernih, tenang—bagai dua bidadari tengah bercermin di kaca raksasa, mengagumi wajah mereka sendiri.
Di tepian yang mereka sebut Laut Tawar, bunga-bunga mekar dengan warna-warna cerah. Tetes embun yang berkilauan di atas daun rumput seperti butiran permata bertaburan di halaman surgawi. Dan di atas keindahan itu, alam memainkan musiknya sendiri—suara yang menenangkan telinga, membuai hati.
Di padang rumput yang membentang di lereng-lereng bukit, ratusan hewan merumput. Suara kerbau menguak, lembu mengeluh, dan kuda Batak—terkenal akan ketangkasannya—berlari anggun.
Dari sinilah kuda-kuda itu dijual ke berbagai penjuru Tapanuli, bahkan hingga ke Medan dan Jawa. Siapa yang tak ingin menunggang kuda Batak yang kencang, tapi tetap pandai menjaga penunggangnya agar tak terguncang?
Lihatlah perahu itu! Haluannya mengarah ke utara, baru saja meninggalkan Balige, ibu kota daerah Toba. Angin bertiup dari belakang, mendorongnya melaju kencang. Layar-layarnya terbentang lebar, seperti sayap burung yang sedang melayang. Bila didekati, terdengar tawa riang, nyanyian, dan siul penumpangnya.
Mau Lanjut Baca?
Kamu sudah mencapai batas bebas baca 5 bab awal novel ini sebagai tamu. Buat akun Reader gratis untuk melanjutkan membaca.
📝 Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!




Silakan login untuk meninggalkan komentar.