Teror Tak Kasatmata nan Mencekam
KETIKA kita membaca karya sastra horor klasik, seringkali kita dibawa ke dunia yang terasa jauh dari kehidupan kita sehari-hari. Latar abad ke-19 atau awal abad ke-20, suasana Eropa yang dingin dan berkabut, serta tokoh-tokoh yang berbicara dengan sopan santun formal. Namun The Terror karya Arthur Machen, meski lahir lebih dari seratus tahun lalu, punya daya gaung yang mengejutkanābahkan untuk pembaca Indonesia masa kini.
Latar cerita ini adalah pedesaan Wales di masa Perang Dunia I. Namun jangan bayangkan pertempuran atau ledakan di garis depan. Justru sebaliknya, The Terror menempatkan kita di wilayah yang tampaknya aman, jauh dari front perang.
Di sinilah letak keanehannya: orang-orang mulai ditemukan tewas dengan cara yang tidak dapat dijelaskan. Tidak ada peluru, tidak ada senjata, tidak ada saksi mata. Hanya misteri, ketakutan, dan desas-desus yang terus membesar.
Bagi pembaca Indonesia, suasana seperti ini mungkin terasa akrab. Kita hidup di negeri yang sering kali penuh rumorādari cerita hantu di kampung, kabar misterius di media sosial, sampai isu-isu politik yang bercampur antara fakta dan gosip.
Machen menangkap mekanisme sosial ini dengan tajam: bagaimana rasa takut bisa membesar bukan hanya karena ancamannya nyata, tapi karena tidak ada yang tahu persis apa yang terjadi.
Selain itu, The Terror berbicara tentang hubungan manusia dengan alam. Tanpa membocorkan akhir cerita, kami bisa mengatakan bahwa Machen memberi kita pelajaran halus: ketika manusia mengganggu keseimbangan alam, ada konsekuensi yang datangākadang dalam bentuk yang tak terduga dan menakutkan. Pesan ini terasa relevan di Indonesia, negara yang kerap berhadapan dengan bencana alam, perubahan iklim, dan kerusakan lingkungan.
Gaya penceritaan Machen juga layak diperhatikan. Ia tidak memberi jawaban cepat. Ia membiarkan pembaca tersesat di jalan setapak pedesaan, mendengarkan bisik-bisik warga, membaca potongan surat kabar, atau mengikuti obrolan di penginapan.
Dengan cara ini, kita merasakan sendiri ketidakpastian yang dialami para tokohnya. Tidak heran jika Lovecraftāsalah satu maestro horor abad ke-20āmengagumi kemampuan Machen membangun suasana.
Membaca The Terror hari ini adalah pengalaman yang menggabungkan sensasi misteri, keindahan prosa klasik, dan refleksi sosial. Kita bisa menikmatinya sebagai kisah detektif tak lazim, sebagai horor atmosferik, atau bahkan sebagai alegori tentang dunia kita yang penuh ancaman tak terlihat.
Di KlikNovel, kami menghadirkan terjemahan ini dengan harapan pembaca Indonesia dapat merasakan nuansa aslinya sekaligus menemukan resonansi dengan kehidupan kita sekarang. Jangan terburu-buru saat membaca. Nikmati setiap deskripsi lanskap, setiap bisikan ketakutan, dan setiap petunjuk yang Machen taburkan dengan hati-hati.
Dan mungkin, setelah menutup halaman terakhir, kamu akan bertanya-tanya: seandainya The Terror terjadi di kampung kita, apakah kita akan lebih siap⦠atau justru lebih takut?
Selamat membaca.
Dukung Penulis/Penerjemah Novel Favoritmu
Login untuk memberikan vote dukungan
š Belum ada komentar untuk bab ini. Jadilah yang pertama berkomentar!
Silakan login untuk meninggalkan komentar.