PROFESOR CHALLENGER sedang berada dalam suasana hati yang seburuk-buruknya. Ketika aku berdiri di depan pintu ruang kerjanya, tangan masih memegang gagang pintu dan kaki masih di atas keset, kudengar sebuah monolog yang bergema keras ke seluruh rumah:
“Ya, saya katakan ini sambungan salah yang kedua. Yang kedua dalam satu pagi. Apakah kalian kira seorang ilmuwan harus diganggu dari pekerjaannya yang penting oleh campur tangan terus-menerus dari seorang tolol di ujung kabel sana? Saya tidak akan mentolerirnya. Panggil manajer kalian saat ini juga. Oh! Jadi Anda manajernya? Kalau begitu, mengapa Anda tidak mengelola dengan baik? Ya, Anda memang berhasil mengganggu pekerjaan saya—pekerjaan yang kepentingannya berada di luar kemampuan otak Anda untuk memahaminya. Saya ingin berbicara dengan kepala pengawas. Sedang pergi? Saya memang sudah menduganya. Saya akan membawa perkara ini ke pengadilan bila hal seperti ini terulang lagi. Ayam berkokok saja pernah diputuskan di pengadilan. Saya sendiri pernah memenangkan perkara semacam itu. Kalau ayam berkokok bisa, mengapa lonceng berdering-dering tidak? Kasusnya jelas. Permintaan maaf tertulis. Baik sekali. Akan saya pertimbangkan. Selamat pagi.”
Pada titik itulah aku memberanikan diri masuk. Jelas itu saat yang paling sial. Aku berhadapan dengannya tepat ketika ia berbalik dari telepon—seekor singa dalam amarahnya. Janggut hitamnya yang besar berdiri kaku, dadanya yang bidang naik-turun karena murka, dan mata abu-abunya yang congkak menyapu diriku dari atas ke bawah sementara sisa gelombang kemarahannya menghantamku.
“Bajingan-bajingan malas yang dibayar terlalu mahal!” gelegarnya. “Aku bisa mendengar mereka tertawa ketika aku menyampaikan keluhanku yang sepenuhnya sah. Ada konspirasi untuk menggangguku. Dan sekarang, Malone muda, kau datang melengkapi pagi yang kacau ini. Boleh aku bertanya, apakah kau datang atas urusanmu sendiri, atau koranmu mengirimmu untuk mewawancaraiku? Sebagai sahabat kau punya hak istimewa—sebagai wartawan kau berada di luar batas.”
Aku sedang merogoh saku mencari surat dari McArdle ketika tiba-tiba suatu keluhan baru terlintas dalam ingatannya. Tangan-tangannya yang besar dan berbulu mengobrak-abrik kertas di atas meja sampai akhirnya menemukan sebuah guntingan koran.
“Kau telah berbaik hati menyebut namaku dalam salah satu tulisanmu baru-baru ini,” katanya sambil mengguncang-guncangkan kertas itu ke arahku. “Itu dalam rangkaian komentarmu yang agak tolol mengenai fosil saurian yang baru ditemukan di lapisan Solenhofen. Kau memulai sebuah paragraf dengan kata-kata: ‘Profesor G. E. Challenger, yang termasuk salah satu ilmuwan terbesar yang masih hidup—’”
“Lalu, Profesor?” tanyaku.
“Mengapa ada pembatasan dan kualifikasi yang menjijikkan itu? Barangkali kau dapat menyebutkan siapa gerangan ilmuwan-ilmuwan besar lain yang kau anggap setara, atau mungkin lebih unggul daripada aku?”
“Itu memang susunan kalimat yang buruk. Seharusnya saya menulis: ‘ilmuwan terbesar yang masih hidup,’” aku mengakui. Lagi pula, memang itulah keyakinanku yang sesungguhnya. Kata-kataku mengubah musim dingin menjadi musim panas.
“Sahabat muda yang baik, jangan kira aku orang yang suka menuntut pujian berlebihan. Namun dikelilingi kolega-kolega yang suka bertengkar dan tidak masuk akal seperti sekarang ini, seseorang terpaksa membela dirinya sendiri. Sikap menonjolkan diri sesungguhnya asing bagi sifatku, tetapi aku harus mempertahankan posisiku melawan berbagai serangan. Nah! Duduklah di sini! Apa maksud kunjunganmu?”
Aku harus melangkah hati-hati, sebab aku tahu betapa mudahnya membuat sang singa mengaum lagi. Kubuka surat McArdle.
“Bolehkah saya membacakannya untuk Profesor? Ini dari McArdle, editor saya.”
“Aku ingat orang itu—tidak terlalu buruk untuk ukuran golongannya.”
“Setidaknya dia sangat mengagumi Profesor. Dia berkali-kali meminta bantuan Profesor ketika membutuhkan kemampuan tertinggi dalam suatu penyelidikan. Dan sekarang pun demikian.”
“Apa yang dia inginkan?”
Challenger mengembangkan diri seperti seekor burung besar yang mabuk pujian. Ia duduk dengan siku di atas meja, tangan-tangan gorilanya saling menggenggam, janggutnya menonjol ke depan, dan mata abu-abunya yang besar—setengah tertutup kelopak yang turun—menatapku dengan ramah. Dalam segala hal ia selalu tampak besar, dan bahkan kemurahan hatinya terasa sama dahsyatnya dengan sifat garangnya.
“Akan saya bacakan pesannya. Dia menulis:
‘Tolong temui sahabat kita yang terhormat, Profesor Challenger, dan mintalah kerja samanya dalam keadaan berikut. Ada seorang pria Latvia bernama Theodore Nemor yang tinggal di White Friars Mansions, Hampstead, yang mengaku telah menemukan sebuah mesin dengan sifat luar biasa—mesin yang mampu menghancurkan struktur benda apa pun yang berada dalam jangkauan pengaruhnya.
“Materi akan terurai dan kembali ke kondisi molekuler atau atomiknya. Dengan membalik prosesnya, benda itu dapat disusun kembali. Klaim ini tampaknya sangat berlebihan, tetapi ada bukti kuat bahwa penemuan itu memiliki dasar nyata dan bahwa orang ini memang telah menemukan sesuatu yang luar biasa.
“Tak perlu saya jelaskan panjang lebar betapa revolusionernya penemuan semacam itu, maupun betapa pentingnya sebagai senjata perang yang potensial. Kekuatan yang dapat menghancurkan kapal perang, atau mengubah satu batalion—meskipun hanya sementara—menjadi sekumpulan atom, akan menguasai dunia. Demi alasan sosial dan politik, tidak boleh ada waktu yang terbuang untuk menyelidiki perkara ini sampai tuntas. Orang itu memang mencari publisitas karena ingin menjual penemuannya, jadi tidak ada kesulitan untuk mendekatinya. Kartu yang saya lampirkan akan membuka pintunya bagi kalian. Yang saya inginkan adalah Anda dan Profesor Challenger menemuinya, memeriksa penemuannya, lalu menulis laporan yang matang untuk Gazette mengenai nilai penemuan tersebut. Saya menunggu kabar malam ini.—
R. McARDLE.’”
“Itulah instruksi untuk saya, Profesor,” kataku sambil melipat kembali surat itu. “Saya sungguh berharap Profesor mau ikut bersama saya, sebab bagaimana mungkin saya, dengan kemampuan saya yang terbatas, menghadapi persoalan seperti ini sendirian?”
Mau Lanjut Baca?
Sepertiga awal cerpen ini tersedia gratis untuk tamu. Buat akun Reader gratis untuk lanjut baca — setiap bulan kamu dapat 4 cerpen gratis.
📝 Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!


Silakan login untuk meninggalkan komentar.