Catatan Penerjemah: Surat-Surat, Sindiran, dan Si Lady yang Enggak Bisa Diremehin
Halo, pembaca keren!
Sebelum kamu masuk ke dunia Lady Susan dan surat-surat penuh intriknya, izinkan kami curhat sebentar seputar penerjemahan novel ini. Kenapa sih, novel ini ditranslasikan dengan gaya yang enggak terlalu baku, kadang nyeleneh, dan banyak banget istilah kekinian?
Jawabannya: biar kamu bisa lebih nyambung dan ngerasain gregetnya Lady Susan tanpa harus kehabisan tenaga mikirin kalimat-kalimat berliku a la Inggris abad ke-18.
Jane Austen itu jenius dalam nulis sindiran dan dinamika sosial yang tajam, tapi gaya bahasanya emang bisa bikin pembaca modern agak ngos-ngosan. Makanya, kami coba menghadirkan versi yang lebih “nyantai” tapi tetap jujur pada isi dan karakter.
Bayangin kalau Lady Susan hidup di zaman sekarang—dia pasti rajin story di Instagram, DM diam-diam ke suami orang (amit-amit), dan tahu banget kapan harus acting jadi korban. Nah, semangat itulah yang coba kami bawa ke terjemahan ini. Gaya penulisan yang kamu temui di sini banyak pakai kalimat lincah, analogi zaman now, dan cara bicara yang lebih mendekati gaya ngobrol kita sehari-hari.
Kenapa ini penting? Karena Lady Susan bukan novel sejarah. Ini cerita karakter. Ini tentang perang strategi, konflik kepentingan, dan tarik-ulur antara image dan kenyataan. Kita enggak perlu kaku membacanya. Justru, kalau kita bisa santai dan menikmati alurnya kayak baca chat orang lain (ups!), pesan Austen bisa lebih terasa.
Terus, kenapa tetep pake bentuk surat? Bukannya malah jadul banget? Well, justru itu salah satu pesonanya. Gaya epistolari (alias cerita yang dikisahkan lewat surat) ngasih kita sudut pandang yang seru banget. Kita bisa tahu apa yang satu tokoh pikirkan tentang tokoh lain—dan sebaliknya—tanpa harus ada narator yang netral. Surat-surat ini penuh bias, penuh bumbu, dan kadang… penuh tipu-tipu. Kalau kamu suka drama dengan POV ganda, Lady Susan ini bisa jadi hidden gem buatmu.
Sebagai penerjemah, kami juga menghadapi tantangan menarik saat nerjemahin surat-surat ini. Misalnya, bagaimana ngubah kalimat sopan yang sebenarnya sinis banget dalam bahasa Inggris klasik ke dalam bahasa Indonesia kekinian? Atau kalimat pujian yang sebenernya penuh sindiran? Di sini kami coba nyeimbangin antara jaga kehalusan Austen sama bawa kegetiran humornya ke dalam bahasa yang bisa langsung “klik” di otak kita.
Contohnya, kalimat formal seperti: “He has every requisite of manhood, save perhaps that of sense.”
Diterjemahin jadi: “Cowok itu sih udah punya semua syarat jadi pasangan ideal—kecuali otak, mungkin.”
Apakah ini terlalu bebas? Mungkin. Tapi percayalah, itu jauh lebih dekat dengan “suara batin” Austen yang sebenarnya sarkas dan nakal.
Akhir kata, Lady Susan ini adalah novel pendek tapi berbobot. Kalau kamu suka karakter perempuan yang licik tapi cerdas, cerita yang penuh konflik sosial tanpa harus ada plot berdarah-darah, dan ending yang “enggak manis tapi memuaskan,” kamu bakal suka banget.
Selamat membaca! Dan kalau kamu abis ini jadi waspada tiap dapet chat basa-basi dari mantan atau gebetan temen, ya… Lady Susan pasti bangga. 😉
Salam hangat,
—Kami yang belajar jadi lebih waspada setelah kenalan sama Lady Susan.
Dukung Penulis/Penerjemah Novel Favoritmu
Login untuk memberikan vote dukungan
📝 Belum ada komentar untuk bab ini. Jadilah yang pertama berkomentar!
Silakan login untuk meninggalkan komentar.