Epilog — Setelah Segalanya Diam
KISAH Miss Harriet berakhir bukan hanya dalam senyap sumur tua, tetapi dalam diam yang tak mudah ditebak: diam yang tak menuduh, tak menuntut, tak membela—hanya meninggalkan jejak samar di hati mereka yang menyaksikan, dan mereka yang kelak mendengarkan kisah ini.
Tak ada yang tahu pasti dari mana ia datang. Tak ada yang benar-benar tahu siapa dirinya, selain bahwa ia menyukai alam, mencintai Tuhan dengan cara yang tak lazim, dan mendambakan sesuatu yang tak pernah ia ucapkan dengan jujur.
Mungkin karena tak pernah diizinkan untuk mengatakannya. Atau mungkin, karena cinta dalam dirinya tidak seperti cinta yang dikenali dunia.
Ia datang sebagai orang asing dan pergi tetap asing. Namun tubuhnya ditanam di tanah yang ia pilih sendiri.
Mungkin hanya itulah satu-satunya pilihan bebas yang ia miliki dalam hidupnya. Sebuah tanah yang tak pernah memeluknya semasa hidup, tetapi kini menutupi tubuhnya sepenuhnya dengan tenang.
Ada yang berkata ia mati karena cinta. Tapi barangkali tidak. Cinta, bagi perempuan itu, bukanlah perkara romantik atau nafsu yang meluap—melainkan kekaguman, pengabdian, harapan akan keajaiban kecil yang tak kunjung datang.
Ia mencintai dari kejauhan, dari balik lipatan doa, dari sela-sela brosur injil yang ia sembunyikan di topi orang-orang. Ia mencintai dari balik tatapan kepada kabut pagi, dari bisikan kepada kuda yang merumput, dari hela napas ketika mendengar suara burung. Barangkali itu saja cinta yang ia miliki—dan mungkin justru karena itulah ia rapuh.
Dan ketika ia akhirnya berani—ketika ia memberi isyarat, membuka sedikit pintu hatinya, lalu disambut oleh ciuman pada pelayan muda di kandang ayam—itulah momen ketika dunia menegaskan bahwa ia bukan bagian dari cerita ini.
Ia tidak meledak dalam kemarahan. Ia tidak mencaci, tidak melawan. Ia hanya pergi.
Dalam banyak kisah, tokoh seperti Miss Harriet dilupakan. Mereka yang berbeda, yang tidak cantik, yang tidak luwes, yang terlalu jujur atau terlalu diam, tak pernah punya akhir cerita yang agung. Namun dalam kisah ini, ia mendapatkan satu hal yang jarang diberikan: pengakuan.
Dunia tak pernah mencintainya, tapi ia dicatat. Namanya disebut. Dan pada bibir kaku seorang pelukis, bibirnya—yang belum pernah disentuh oleh cinta—akhirnya menerima ciuman.
Bukan ciuman hasrat, tetapi ciuman belas kasih. Ciuman yang terlambat, mungkin, tapi tak palsu.
Dan barangkali, hanya barangkali, itu sudah cukup baginya.
Dukung Penulis/Penerjemah Novel Favoritmu
Login untuk memberikan vote dukungan
💖 Suka baca cerita ini?
Bantu KlikNovel menerjemahkan lebih banyak novel public domain seperti Miss Harriet karya Guy de Maupassant ini. Scan QR Code untuk berdonasi via Saweria 🙏
📝 Belum ada komentar untuk bab ini. Jadilah yang pertama berkomentar!










Silakan login untuk meninggalkan komentar.