Anne Brontë

Anne Brontë

17 Januari 1820 - 28 Mei 1849

Anne Brontë lahir pada 17 Januari 1820 di desa kecil Thornton, Yorkshire, Inggris. Ia merupakan anak bungsu dari enam bersaudara dalam keluarga Brontë, yang kemudian dikenal sebagai salah satu keluarga paling berpengaruh dalam sejarah sastra Inggris. Ayahnya, Patrick Brontë, adalah seorang pendeta asal Irlandia yang berpendidikan dan memiliki minat besar terhadap literatur serta pendidikan. Ibunya, Maria Branwell Brontë, berasal dari keluarga yang cukup berada di Cornwall, namun meninggal dunia pada tahun 1821, ketika Anne baru berusia satu tahun. Sejak saat itu, anak-anak Brontë dibesarkan oleh ayah mereka dengan bantuan bibi dari pihak ibu, Elizabeth Branwell.

Anne memiliki lima saudara: Maria, Elizabeth, Charlotte, Branwell, dan Emily. Dua kakak tertuanya, Maria dan Elizabeth, meninggal dunia pada usia muda akibat kondisi buruk di sekolah asrama Clergy Daughters’ School di Cowan Bridge. Tragedi ini meninggalkan dampak mendalam bagi keluarga Brontë, dan terutama memengaruhi pandangan mereka terhadap pendidikan dan kehidupan sosial—tema yang kelak muncul dalam karya-karya mereka.

Pendidikan Anne sebagian besar berlangsung di rumah di Haworth, setelah keluarga pindah ke sana ketika ayahnya ditugaskan sebagai pendeta di paroki setempat. Di lingkungan yang relatif terpencil, Anne dan saudara-saudaranya mengembangkan dunia imajinasi mereka sendiri. Bersama Emily, ia menciptakan dunia fiksi Gondal, sebuah kerajaan imajiner yang menjadi wadah eksplorasi kreatif mereka sejak kecil. Melalui puisi dan cerita yang mereka tulis bersama, Anne mulai mengasah kemampuan literernya sejak usia dini.

Seperti banyak perempuan kelas menengah pada zamannya, Anne akhirnya harus bekerja untuk membantu perekonomian keluarga. Ia bekerja sebagai governess di beberapa keluarga, termasuk keluarga Ingham dan Robinson. Pengalaman ini sangat menentukan dalam pembentukan pandangan hidup dan karya-karyanya. Sebagai governess, Anne berada dalam posisi sosial yang ambigu: tidak sepenuhnya dianggap sebagai anggota keluarga majikan, tetapi juga bukan pelayan. Ia menyaksikan secara langsung bagaimana anak-anak dimanjakan, bagaimana pendidikan diabaikan, dan bagaimana perempuan sering kali diperlakukan secara tidak adil dalam struktur sosial.

Pengalaman-pengalaman inilah yang kemudian menjadi bahan utama dalam novel pertamanya, *Agnes Grey* (1847). Novel ini ditulis dengan pendekatan yang sangat realistis, menggambarkan kehidupan seorang governess dengan kejujuran yang jarang ditemukan dalam karya-karya sezamannya. Tidak seperti karya Charlotte yang lebih romantis atau Emily yang lebih gelap dan penuh gairah, Anne menulis dengan gaya yang sederhana, tenang, tetapi tajam secara moral.

Sebelum menerbitkan novel, Anne bersama Charlotte dan Emily terlebih dahulu menerbitkan kumpulan puisi pada tahun 1846 dengan menggunakan nama samaran maskulin: Acton Bell (Anne), Currer Bell (Charlotte), dan Ellis Bell (Emily). Penggunaan nama samaran ini dilakukan untuk menghindari bias gender yang kuat dalam dunia penerbitan saat itu. Sayangnya, kumpulan puisi tersebut tidak mendapat perhatian besar dan hanya terjual sedikit.

Namun, pada tahun berikutnya, ketiganya mencoba menerbitkan novel. Proses penerbitan tidaklah mudah. Naskah mereka ditolak oleh beberapa penerbit sebelum akhirnya diterima oleh Thomas Cautley Newby dan Smith, Elder & Co. *Agnes Grey* diterbitkan bersamaan dalam satu volume tiga bagian dengan *Wuthering Heights* karya Emily Brontë. Meskipun awalnya tidak mendapat sambutan sebesar *Jane Eyre* karya Charlotte yang terbit pada tahun yang sama, *Agnes Grey* tetap diakui sebagai karya yang memiliki kejujuran dan kekuatan observasi sosial.

Novel kedua Anne, *The Tenant of Wildfell Hall* (1848), menunjukkan perkembangan yang lebih berani dalam tema dan pendekatan. Dalam novel ini, Anne mengangkat isu-isu yang sangat kontroversial pada zamannya, seperti alkoholisme, kekerasan dalam rumah tangga, dan hak perempuan untuk meninggalkan suami yang abusif. Tokoh utamanya, Helen Huntingdon, dianggap sebagai salah satu figur perempuan paling progresif dalam sastra Victoria. Novel ini mendapatkan kesuksesan komersial yang lebih besar dibandingkan karya pertamanya, meskipun juga menuai kritik karena dianggap terlalu “kasar” dan tidak pantas.

Proses penerbitan *The Tenant of Wildfell Hall* juga menarik, karena Anne tetap menggunakan nama samaran Acton Bell, dan identitasnya sebagai perempuan baru terungkap kemudian. Charlotte Brontë sendiri sempat merasa tidak nyaman dengan keberanian tema yang diangkat Anne, dan setelah kematian Anne, Charlotte bahkan membatasi penerbitan ulang novel tersebut untuk beberapa waktu.

Anne Brontë meninggal dunia pada 28 Mei 1849 di Scarborough, dalam usia yang sangat muda, 29 tahun, akibat tuberkulosis. Meskipun hidupnya singkat, kontribusinya terhadap sastra sangat signifikan. Ia meninggalkan dua novel yang tidak hanya merefleksikan realitas sosial zamannya, tetapi juga melampaui batas-batas tersebut dengan keberanian moral dan kejujuran yang luar biasa.

Hari ini, Anne Brontë semakin diakui sebagai penulis yang visioner. Karya-karyanya, terutama *The Tenant of Wildfell Hall*, sering dianggap sebagai salah satu novel feminis awal dalam sastra Inggris. Sementara *Agnes Grey* tetap menjadi potret yang halus namun tajam tentang kehidupan perempuan biasa yang berjuang mempertahankan martabatnya di tengah dunia yang tidak selalu adil.

Agnes Grey

Aku tidak dapat mengatakan bahwa hidupku di Horton Lodge memberiku kebahagiaan; tetapi di tengah kesepian itu, aku belajar memahami diriku sendiri. Tidak ada sahabat yang dapat kupercaya, tidak ada hati...
👁 0

The Tenant of Wildfell Hall

Novel Romansa
Suatu pagi di akhir musim gugur, ketika angin dari padang ilalang bertiup lebih tajam daripada biasanya dan langit menggantung rendah di atas lembah, kabar itu sampai ke telinga kami: Wildfell...
👁 2

Tidak ada cerpen.

×
×