Sherlock Holmes - The Hound of the Baskervilles
Sherlock Holmes - The Hound of the Baskervilles
Rp36.500
Lihat di Shopee
Kumpulan Cerpen Terbaik Guy de Maupassant
Kumpulan Cerpen Terbaik Guy de Maupassant
Rp74.250
Lihat di Shopee
Pride and Prejudice - Jane Austen (Shandi Publisher)
Pride and Prejudice - Jane Austen (Shandi Publisher)
Rp112.100
Lihat di Shopee
Pride and Prejudice - Jane Austen (Terjemahan)
Pride and Prejudice - Jane Austen (Terjemahan)
Rp79.600
Lihat di Shopee
Emma - Jane Austen (Shandi Publisher)
Emma - Jane Austen (Shandi Publisher)
Rp119.700
Lihat di Shopee
Man Candy - Indah Hanaco
Man Candy - Indah Hanaco
Rp75.050
Lihat di Shopee

Bab 2 — Mencari Mr. Hyde

• The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde •

👁️ 5 views

MALAM itu, Mr. Utterson pulang ke rumah lajangnya dengan suasana hati muram. Ia makan malam tanpa selera. Biasanya, setiap malam Minggu setelah makan malam, ia akan duduk dekat perapian sambil membaca buku teologi yang kering dan berat—jenis bacaan yang hanya bisa dinikmati segelintir orang—hingga lonceng gereja tetangga berbunyi pukul dua belas. Setelah itu, barulah ia pergi tidur dengan tenang dan penuh rasa syukur.

Namun malam ini berbeda. Begitu meja dibereskan, ia langsung mengambil lilin dan menuju ruang kerjanya. Di sana, ia membuka brankas, mengambil sebuah dokumen dari bagian paling tersembunyi—sebuah surat wasiat bertanda tangan milik Dr. Jekyll. Keningnya berkerut saat ia mulai membaca isi surat itu.

Wasiat itu ditulis tangan oleh Dr. Jekyll sendiri. Meski sekarang Mr. Utterson yang menyimpan, dulunya ia menolak membantu menyusun surat itu sedikit pun. Dalam surat itu tertulis bahwa bila Henry Jekyll—dokter, ahli hukum, sarjana, anggota berbagai perkumpulan ilmiah ternama—meninggal dunia, maka seluruh harta bendanya akan diwariskan kepada “teman dan penolongnya, Edward Hyde.”

Yang lebih mengganggu, jika Dr. Jekyll tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan selama lebih dari tiga bulan, maka Edward Hyde berhak mengambil alih semua milik Dr. Jekyll tanpa ditunda atau dipersulit, kecuali membayar sedikit uang kepada staf rumah tangga sang dokter.

Bagi Mr. Utterson, surat ini benar-benar menjengkelkan. Sebagai seorang pengacara dan pengagum ketertiban aturan hidup yang masuk akal, dokumen itu terasa tak masuk akal, bahkan cenderung cabul secara moral. Awalnya, ia hanya kesal karena tak tahu siapa sebenarnya Mr. Hyde. Namun sekarang, setelah tahu sedikit tentang orang itu, kekesalannya berubah menjadi kecemasan.

Dulu, nama itu hanya sebatas nama. Sekarang, nama itu punya citra—dan citra itu penuh hal menjijikkan. Dari kabut samar yang dulu membuatnya penasaran, kini muncul gambaran jelas tentang sesosok makhluk menyeramkan.

“Aku dulu mengira ini hanyalah sebuah kegilaan,” gumamnya sambil mengembalikan surat itu ke dalam brankas. “Tapi sekarang aku mulai takut, ini sebenarnya adalah aib.”

Dengan pikiran itu, ia meniup lilin, mengenakan mantel tebal, lalu keluar menuju Cavendish Square—pusat dunia kedokteran—tempat sahabat lamanya, Dr. Lanyon, tinggal dan membuka praktik.

“Kalau ada yang tahu soal ini, pasti orang itu adalah Lanyon,” pikirnya.

Pelayan tua menyambut Mr. Utterson dengan penuh hormat dan langsung mengantar ke ruang makan, tempat Dr. Lanyon sedang menikmati anggurnya seorang diri.

Dr. Lanyon adalah pria yang ceria, sehat, rapi, dengan wajah kemerahan dan rambut memutih sebelum waktunya. Cara bicaranya keras dan tegas. Begitu melihat Mr. Utterson, ia langsung berdiri dan menjabat tangan sahabatnya dengan semangat. Gaya sambutannya mungkin tampak berlebihan, tapi itu memang sifat aslinya—tulus meski tampak teatrikal.

The Snow Queen and Other Tales - Hans Christian Andersen
The Snow Queen and Other Tales - Hans Christian Andersen
Rp36.750
Lihat di Shopee
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Rp119.000
Lihat di Shopee
Around the World in Eighty Days - Jules Verne
Around the World in Eighty Days - Jules Verne
Rp42.750
Lihat di Shopee
The Phantom of the Opera - Gaston Leroux
The Phantom of the Opera - Gaston Leroux
Rp51.750
Lihat di Shopee
Winnetou 1 - Karl May
Winnetou 1 - Karl May
Rp88.000
Lihat di Shopee
Max Havelaar - Multatuli
Max Havelaar - Multatuli
Rp77.500
Lihat di Shopee

Keduanya adalah sahabat lama, kawan sekolah dan kuliah, saling menghormati dan—yang lebih jarang—saling menikmati kebersamaan.

Setelah ngobrol ngalor-ngidul sebentar, Mr. Utterson akhirnya membawa percakapan ke arah yang sebenarnya ingin ia bahas.

“Kau sadar tidak, Lanyon,” katanya, “sepertinya kita ini dua sahabat paling tua yang dimiliki Henry Jekyll.”

“Semoga sahabat Henry bisa lebih muda lagi,” jawab Dr. Lanyon sambil tertawa. “Tapi ya, kurasa memang kita berdua seperti itu. Kenapa memangnya? Aku sudah jarang sekali bertemu dengannya sekarang.”

“Benarkah?” tanya Mr. Utterson. “Padahal dulu kalian sangat akrab.”

“Memang,” jawab Dr. Lanyon. “Tapi sudah lebih dari sepuluh tahun sejak aku merasa Henry mulai… aneh. Pola pikirnya berubah. Dan walaupun aku tetap peduli karena kami teman lama, kenyataannya aku hampir tidak pernah melihatnya lagi. Ide-idenya itu… omong kosong yang sama sekali tak ilmiah,” lanjutnya, wajahnya tiba-tiba memerah, “bisa membuat Damon dan Pythias pun bertengkar!”

Ledakan emosi itu justru membuat Mr. Utterson sedikit lega. “Ah, jadi cuma karena beda pendapat soal sains,” pikirnya.

Sebagai orang yang tak terlalu tergila-gila pada sains (kecuali soal urusan surat-menyurat legal), Mr. Utterson merasa masalah itu tak terlalu berat. Ia menunggu sejenak sampai sahabatnya kembali tenang, lalu bertanya ke hal yang benar-benar membuatnya gelisah.

“Pernahkah kau mendengar tentang seseorang bernama Mr. Hyde? Dia semacam… protégé-nya Dr. Jekyll.”

“Mr. Hyde?” ulang Lanyon. “Tidak. Aku tidak pernah dengar. Itu pasti setelah zamanku.”

Itu saja informasi yang berhasil dibawa pulang oleh Mr. Utterson malam itu. Ia kembali ke tempat tidurnya yang luas dan gelap, hanya untuk berguling ke sana kemari sampai dini hari tiba.

Malam itu benar-benar membuat pikirannya kacau. Ia gelisah, tersesat dalam gelap, dan dikepung oleh pertanyaan-pertanyaan yang tak kunjung menemukan jawaban.

Jam enam berdentang dari lonceng gereja yang letaknya begitu dekat dengan rumah Mr. Utterson, sementara ia masih sibuk memutar otak memikirkan teka-teki yang mengganggunya. Selama ini, persoalan itu hanya menggugah pikirannya—tapi sekarang imajinasinya ikut terlibat, atau bahkan seolah diperbudak. Saat ia terbaring gelisah dalam gelap gulita kamar yang tirainya tertutup rapat, cerita yang dituturkan Mr. Enfield kembali tergambar dalam pikirannya, seperti kilasan-kilasan cahaya di layar.

Ia membayangkan hamparan lampu di sebuah kota malam hari; lalu sesosok pria berjalan cepat; kemudian seorang anak kecil berlari dari rumah sang dokter—dan kedua sosok itu bertemu. Sosok pria itu, seperti kendaraan tanpa nurani, menabrak anak kecil itu hingga tersungkur, lalu melanjutkan langkahnya tanpa peduli pada teriakan sang anak.

The Snow Queen and Other Tales - Hans Christian Andersen
The Snow Queen and Other Tales - Hans Christian Andersen
Rp36.750
Lihat di Shopee
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Rp119.000
Lihat di Shopee
Around the World in Eighty Days - Jules Verne
Around the World in Eighty Days - Jules Verne
Rp42.750
Lihat di Shopee
The Phantom of the Opera - Gaston Leroux
The Phantom of the Opera - Gaston Leroux
Rp51.750
Lihat di Shopee
Winnetou 1 - Karl May
Winnetou 1 - Karl May
Rp88.000
Lihat di Shopee
Max Havelaar - Multatuli
Max Havelaar - Multatuli
Rp77.500
Lihat di Shopee

Atau kadang ia membayangkan sebuah kamar mewah, tempat sahabatnya sedang tertidur pulas, tersenyum dalam mimpinya. Lalu riba-tiba pintu kamar terbuka, tirai tempat tidur tersibak, dan sang pemimpi dipanggil kembali ke dunia nyata—dan di sisinya berdiri sosok yang memiliki kuasa. Meski tengah malam buta, ia harus bangun dan mengikuti perintahnya.

Sosok dalam dua rupa itu menghantui Mr. Utterson sepanjang malam. Dan ketika ia sempat terlelap, sosok itu muncul kembali—kali ini bergerak lebih sembunyi-sembunyi, menyusuri rumah-rumah yang terlelap, berlari makin cepat, hingga kota yang diterangi lampu terasa bagaikan labirin yang memusingkan. Di setiap tikungan jalan, ia menghantam seorang anak, lalu meninggalkannya dalam jeritan.

Dan yang paling mengganggunya—sosok itu tidak punya wajah. Bahkan dalam mimpi, wajahnya selalu kabur atau meleleh begitu saja. Dari sinilah muncul keinginan kuat yang hampir tak masuk akal dalam benaknya: melihat wajah asli Mr. Hyde. Ia berpikir, jika bisa melihat sosok itu walau sekali saja, mungkin misteri ini akan menjadi lebih ringan, atau bahkan lenyap sepenuhnya—seperti kebanyakan misteri yang larut ketika ditatap lekat-lekat.

Mungkin ia akan menemukan alasan di balik ketertarikan atau bahkan keterikatan aneh sahabatnya—sebutlah itu “pilihan” atau “perbudakan,” sesuka orang-orang. Bahkan mungkin ia akan memahami klausul mengejutkan dalam surat wasiat itu. Paling tidak, wajah pria seperti itu—yang mampu membuat Richard Enfield, pria yang biasanya tidak mudah terpengaruh, merasa jijik dan membenci seumur hidup—pasti layak untuk dilihat.

Sejak saat itu, Mr. Utterson mulai rutin mendatangi pintu rumah yang berada di gang kecil di antara deretan toko. Pagi-pagi sebelum jam kantor, siang hari saat kesibukan memuncak, malam hari di bawah cahaya bulan yang tersaput kabut kota—ia selalu berada di sana. Tak peduli cahaya apa yang menerangi atau seberapa ramai sekitarnya, sang pengacara setia berjaga di tempat pilihannya.

“Kalau dia Mr. Hyde,” pikirnya, “maka aku adalah Mr. Seek.”

Akhirnya, kesabarannya membuahkan hasil.

Malam itu cerah dan kering; udara mengandung embun beku; jalanan bersih seperti lantai aula dansa; dan lampu-lampu yang tak terganggu angin memancarkan bayangan yang rapi di tanah. Sekitar pukul sepuluh, saat toko-toko mulai tutup, gang itu tampak sunyi. Suara-suara kecil terdengar jauh; percakapan dari dalam rumah bisa terdengar jelas dari kedua sisi jalan, dan kabar kedatangan pejalan kaki terdengar lebih dulu sebelum sosoknya terlihat.

Mr. Utterson baru beberapa menit berjaga ketika ia mendengar langkah kaki ringan yang terdengar agak aneh. Dalam patroli malamnya, ia sudah terbiasa mendengar suara langkah kaki seseorang yang tiba-tiba muncul begitu jelas di tengah hiruk-pikuk kota. Namun malam itu, perhatian Mr. Utterson tertarik dengan cara yang sangat tajam—seolah firasatnya berkata bahwa inilah saatnya.

The Snow Queen and Other Tales - Hans Christian Andersen
The Snow Queen and Other Tales - Hans Christian Andersen
Rp36.750
Lihat di Shopee
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Rp119.000
Lihat di Shopee
Around the World in Eighty Days - Jules Verne
Around the World in Eighty Days - Jules Verne
Rp42.750
Lihat di Shopee
The Phantom of the Opera - Gaston Leroux
The Phantom of the Opera - Gaston Leroux
Rp51.750
Lihat di Shopee
Winnetou 1 - Karl May
Winnetou 1 - Karl May
Rp88.000
Lihat di Shopee
Max Havelaar - Multatuli
Max Havelaar - Multatuli
Rp77.500
Lihat di Shopee

Langkah kaki itu semakin dekat, terdengar makin keras ketika memasuki gang. Dari tempatnya mengintai, Mr. Utterson akhirnya bisa melihat siapa yang datang. Sosok itu kecil, berpakaian sangat sederhana, dan bahkan dari kejauhan pun, penampilannya langsung membuat sang pengacara merasa tidak nyaman. Pria itu berjalan langsung ke arah pintu, menyeberangi jalan untuk mempercepat langkahnya, dan sambil berjalan, ia mengeluarkan kunci dari saku—seperti seseorang yang pulang ke rumah sendiri.

Mr. Utterson keluar dari tempat persembunyiannya dan menepuk pundak lelaki itu, sambil berkata, “Anda pasti Mr. Hyde, benar?”

Mr. Hyde tersentak dan menarik napas pendek seperti mendesis. Namun rasa kagetnya hanya sesaat; meski ia tak menatap wajah sang pengacara, ia menjawab dengan tenang, “Ya, itu memang nama saya. Ada apa?”

“Saya lihat Anda hendak masuk,” kata Mr. Utterson. “Saya teman lama Dr. Jekyll—Mr. Utterson dari Gaunt Street. Anda pasti pernah dengar nama saya. Karena kebetulan kita bertemu, saya pikir mungkin Anda bisa mengizinkan saya masuk juga.”

“Dr. Jekyll tidak ada di rumah,” jawab Mr. Hyde sambil meniupkan napas ke kunci di tangannya. Lalu, tiba-tiba, masih tanpa menatap wajah lawan bicaranya, ia bertanya, “Dari mana Anda tahu saya?”

“Sebaliknya,” kata Mr. Utterson, “bolehkah saya meminta satu hal?”

“Dengan senang hati,” jawab Mr. Hyde. “Apa itu?”

“Bolehkah saya melihat wajah Anda?” tanya sang pengacara.

Mr. Hyde sempat tampak ragu. Namun kemudian, seolah tersadar oleh sesuatu, ia berbalik menghadapi Mr. Utterson dengan sikap menantang. Keduanya saling menatap lekat selama beberapa detik.

“Sekarang saya pasti akan mengenali Anda lagi,” kata Mr. Utterson. “Mungkin saja berguna.”

“Benar,” jawab Mr. Hyde. “Bagus juga kita bertemu. Ngomong-ngomong, Anda sebaiknya tahu alamat saya.” Ia lalu menyebutkan nomor sebuah rumah di kawasan Soho.

Ya Tuhan,” pikir Mr. Utterson. “Jangan-jangan dia juga memikirkan soal surat wasiat itu?” Namun ia memilih untuk menyimpan pikirannya sendiri, dan hanya mengangguk singkat sebagai tanda telah mengingat alamat yang disebutkkan.

“Dan sekarang,” lanjut Mr. Hyde, “bagaimana Anda bisa mengenali saya?”

“Lewat deskripsi,” jawab Mr. Utterson.

“Deskripsi dari siapa?”

“Kita punya beberapa teman yang sama,” kata sang pengacara.

“Teman yang sama,” gumam Mr. Hyde pelan, agak serak. “Siapa mereka?”

“Dr. Jekyll, contohnya,” jawab Mr. Utterson.

“Dia tidak pernah bercerita apa-apa,” seru Mr. Hyde, sambil mukanya memerah karena marah. “Saya tak mengira Anda akan berbohong.”

“Sudahlah,” kata Mr. Utterson tenang, “bahasa seperti itu tidak pantas.”

The Snow Queen and Other Tales - Hans Christian Andersen
The Snow Queen and Other Tales - Hans Christian Andersen
Rp36.750
Lihat di Shopee
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Rp119.000
Lihat di Shopee
Around the World in Eighty Days - Jules Verne
Around the World in Eighty Days - Jules Verne
Rp42.750
Lihat di Shopee
The Phantom of the Opera - Gaston Leroux
The Phantom of the Opera - Gaston Leroux
Rp51.750
Lihat di Shopee
Winnetou 1 - Karl May
Winnetou 1 - Karl May
Rp88.000
Lihat di Shopee
Max Havelaar - Multatuli
Max Havelaar - Multatuli
Rp77.500
Lihat di Shopee

Mr. Hyde justru tertawa kasar, nyaris seperti mendengus. Lalu dalam sekejap mata, ia membuka pintu dan masuk ke dalam rumah.

Mr. Utterson berdiri sejenak di depan pintu yang kini tertutup, tubuhnya penuh kegelisahan. Setelah itu ia berjalan perlahan menyusuri jalan, sesekali berhenti dan menekan keningnya seperti orang yang tengah dihimpit pikiran. Apa yang mengganggunya bukanlah teka-teki biasa—jenis teka-teki yang jarang ada jawabannya.

Mr. Hyde itu pucat dan bertubuh kecil. Ada kesan cacat padanya, walau tak bisa ditunjukkan letaknya. Senyumnya tak menyenangkan, dan cara ia bersikap—campuran antara takut dan nekat—menyisakan kesan mengerikan. Suaranya pun serak, pelan, dan seolah pecah.

Semua itu tentu bisa jadi alasan untuk tidak menyukainya. Namun bagi Mr. Utterson, tak satu pun dari itu cukup menjelaskan perasaan jijik, benci, dan takut yang begitu kuat setiap kali ia melihat wajah Mr. Hyde.

“Pasti ada sesuatu yang lain,” gumamnya. “Ada sesuatu yang belum kutemukan namanya. Ya Tuhan, orang itu nyaris tak terlihat seperti manusia! Seperti makhluk purba? Atau hanya cerminan jiwa jahat yang begitu busuk, sampai-sampai merembes keluar dan mengubah raut wajahnya?”

Ia menarik napas. “Mungkin itu jawabannya. Wahai sahabatku yang malang, Harry Jekyll… jika pernah kulihat tanda tangan Setan di wajah seseorang, maka wajah teman barumu itulah yang memuatnya.”

Tak jauh dari jalan sempit tadi, ada sebuah kawasan tua dengan rumah-rumah besar yang dulunya megah, kini sebagian besar telah berubah fungsi menjadi flat atau kantor kecil—dihuni oleh pengukir peta, arsitek, pengacara kelas dua, dan pebisnis gelap.

Namun satu rumah, tepatnya rumah kedua dari sudut jalan, masih utuh dimiliki satu orang. Dari luar, rumah itu terlihat mewah dan nyaman, walau sekarang tampak gelap kecuali sedikit cahaya dari kaca di atas pintu. Mr. Utterson mengetuk.

Seorang pelayan tua yang berpakaian rapi membuka pintu.

“Dr. Jekyll ada di rumah, Poole?” tanya Mr. Utterson.

“Saya periksa dulu, Tuan,” jawab Poole, sambil mempersilakan tamunya masuk ke sebuah ruang depan yang luas, beratap rendah, berlantai batu, dan hangat berkat perapian terbuka yang menyala terang. Beberapa lemari kayu ek tampak menghiasi ruangan itu dengan gaya elegan khas rumah pedesaan.

“Tuan ingin menunggu di sini, dekat perapian? Atau saya siapkan lampu di ruang makan?”

“Di sini saja, terima kasih,” jawab Mr. Utterson, lalu bersandar di pagar besi perapian. Ruangan ini sebenarnya salah satu bagian favorit Dr. Jekyll, dan Mr. Utterson sendiri sering menyebutnya sebagai ruang ternyaman di seluruh London.

Namun malam itu, tubuhnya justru merinding. Wajah Mr. Hyde masih menghantui pikirannya. Ia merasa mual, bahkan jijik terhadap hidup—perasaan yang amat jarang dialaminya. Dalam suasana hati yang kelam, ia merasa nyala api yang berkedip di lemari kayu dan bayangan yang menari di langit-langit seperti membawa ancaman.

The Snow Queen and Other Tales - Hans Christian Andersen
The Snow Queen and Other Tales - Hans Christian Andersen
Rp36.750
Lihat di Shopee
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Rp119.000
Lihat di Shopee
Around the World in Eighty Days - Jules Verne
Around the World in Eighty Days - Jules Verne
Rp42.750
Lihat di Shopee
The Phantom of the Opera - Gaston Leroux
The Phantom of the Opera - Gaston Leroux
Rp51.750
Lihat di Shopee
Winnetou 1 - Karl May
Winnetou 1 - Karl May
Rp88.000
Lihat di Shopee
Max Havelaar - Multatuli
Max Havelaar - Multatuli
Rp77.500
Lihat di Shopee

Ia bahkan sempat merasa lega—meskipun malu mengakuinya—saat Poole kembali dan mengabarkan bahwa Dr. Jekyll sedang keluar.

“Aku tadi melihat Mr. Hyde masuk lewat pintu ruang bedah lama, Poole,” katanya. “Apa itu boleh, kalau Dr. Jekyll sedang tidak di rumah?”

“Boleh, Tuan. Mr. Hyde memang punya kuncinya.”

“Tuanmu tampaknya sangat mempercayai orang muda itu,” gumam Mr. Utterson.

“Ya, benar sekali, Tuan,” jawab Poole. “Kami semua diperintahkan untuk patuh padanya.”

“Saya tidak yakin pernah bertemu langsung dengan Mr. Hyde,” kata Mr. Utterson.

“Oh, tentu belum, Tuan. Dia tidak pernah makan malam di sini. Bahkan kami pun jarang melihatnya di sisi rumah ini. Biasanya ia masuk lewat laboratorium.”

“Baiklah. Selamat malam, Poole.”

“Selamat malam, Tuan Utterson.”

Sang pengacara pun melangkah pulang dengan hati yang berat.

“Kasihan Harry Jekyll,” pikirnya. “Aku khawatir dia sedang dalam masalah besar. Dia memang sempat liar di masa muda—sudah lama sekali, tentu saja. Tapi dalam hukum Tuhan, tak ada yang namanya kadaluwarsa. Mungkin ini hukuman yang datang terlambat—sebuah dosa lama, aib yang tersembunyi, kini muncul membawa azabnya. Hukuman itu datang pelan, tapi pasti.”

Pikiran itu membuatnya gelisah. Ia pun mulai merenungi masa lalunya sendiri, menelusuri tiap sudut ingatan, khawatir kalau-kalau ada ‘kotak tua berisi dosa’ yang tiba-tiba meloncat keluar.

Masa lalunya sebenarnya cukup bersih. Tak banyak pria yang bisa membaca kembali sejarah hidupnya dengan lebih sedikit rasa takut dibanding dirinya. Namun tetap saja, ia merasa rendah hati saat mengingat dosa-dosa kecil yang pernah ia lakukan, dan bersyukur—dengan ngeri—atas begitu banyak dosa besar yang nyaris ia lakukan tapi berhasil dihindari.

Dan kemudian, pikirannya kembali ke topik semula, menyalakan secercah harapan.

“Mr. Hyde ini, kalau diteliti lebih jauh, pasti menyimpan rahasia. Rahasia kelam, dari wajahnya saja sudah kelihatan. Bahkan bisa jadi rahasianya jauh lebih buruk dibanding milik Dr. Jekyll. Ini tak bisa dibiarkan. Rasanya seperti membayangkan makhluk itu menyelinap ke kamar Dr. Jekyll seperti pencuri. Ya ampun, betapa ngerinya kalau Dr. Jekyll terbangun dan melihatnya!”

Dan yang paling mengkhawatirkan: kalau Mr. Hyde tahu soal isi surat wasiat itu, bisa saja dia tak sabar ingin segera ‘mewarisi’.

“Ya, aku harus turun tangan… kalau Harry Jekyll membiarkan aku melakukannya,” gumamnya. “Kalau saja Dr. Jekyll mau…”

Sebab dalam benaknya, Mr. Utterson kembali melihat dengan jelas—sejelas kertas transparan—butir-butir aneh dalam surat wasiat yang pernah ia baca.

Akses Terjemahan Gratis

Kamu telah mencapai kuota maksimal bab untuk pembaca tamu (unregistered members). Daftar akun GRATIS untuk melanjutkan membaca sampai tamat.

2 bab gratis13 bab total
Daftar Sekarang

Dukung Penulis/Penerjemah Novel Favoritmu

0 Total Vote
0 Pemberi Vote
Rp 0 Komisi Penulis/Penerjemah

💖 Suka baca cerita ini?

Bantu KlikNovel menerjemahkan lebih banyak novel public domain seperti The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde karya Robert Louis Stevenson ini. Scan QR Code untuk berdonasi via Saweria 🙏

Lihat semua opsi kontribusi

The Old Man and the Sea - Ernest Hemingway
The Old Man and the Sea - Ernest Hemingway
Rp46.500
Lihat di Shopee
Northanger Abbey - Jane Austen (Noura Publishing)
Northanger Abbey - Jane Austen (Noura Publishing)
Rp67.150
Lihat di Shopee
20 Thousand Leagues under the Sea - Jules Verne
20 Thousand Leagues under the Sea - Jules Verne
Rp79.000
Lihat di Shopee
Frankenstein - Mary Shelley
Frankenstein - Mary Shelley
Rp44.250
Lihat di Shopee
The Return of Sherlock Holmes
The Return of Sherlock Holmes
Rp56.250
Lihat di Shopee
Emma - Jane Austen
Emma - Jane Austen
Rp118.150
Lihat di Shopee

📝 Belum ada komentar untuk bab ini. Jadilah yang pertama berkomentar!

Gadis Penari dari Izu - Yasunari Kawabata
Gadis Penari dari Izu - Yasunari Kawabata
Rp58.500
Lihat di Shopee
Sherlock Holmes - The Sign of Four
Sherlock Holmes - The Sign of Four
Rp36.500
Lihat di Shopee
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Rp119.000
Lihat di Shopee
The Case-Book of Sherlock Holmes
The Case-Book of Sherlock Holmes
Rp56.250
Lihat di Shopee
Pollyanna - Eleanor H. Potter
Pollyanna - Eleanor H. Potter
Rp37.500
Lihat di Shopee
Kumpulan Cerpen Terbaik Guy de Maupassant
Kumpulan Cerpen Terbaik Guy de Maupassant
Rp74.250
Lihat di Shopee