Rekomendasi
The Phantom of the Opera - Gaston Leroux
The Phantom of the Opera - Gaston Leroux
Lihat Buku
Rekomendasi
Northanger Abbey - Jane Austen
Northanger Abbey - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
Kumpulan Cerpen Terbaik Guy de Maupassant
Kumpulan Cerpen Terbaik Guy de Maupassant
Lihat Buku
Rekomendasi
Winnetou 2 - Karl May
Winnetou 2 - Karl May
Lihat Buku
Rekomendasi
Romeo Juliet - William Shakespeare
Romeo Juliet - William Shakespeare
Lihat Buku
Rekomendasi
The Snow Queen and Other Tales - Hans Christian Andersen
The Snow Queen and Other Tales - Hans Christian Andersen
Lihat Buku

Bab 4 — Kasus Pembunuhan Sir Danvers Carew

• The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde •

👁️ 8 tayangan

HAMPIR setahun setelah kejadian sebelumnya, tepatnya pada bulan Oktober, London dikejutkan oleh sebuah kejahatan yang begitu brutal. Yang membuat peristiwa ini semakin menggemparkan adalah karena korbannya ternyata seorang tokoh terkemuka.

Rincian kejadiannya memang tidak banyak, tapi cukup mencengangkan. Seorang pembantu rumah tangga yang tinggal sendirian di sebuah rumah tak jauh dari sungai naik ke kamar tidurnya sekitar pukul sebelas malam. Walaupun kabut tebal menyelimuti kota di dini hari, awal malam itu justru cerah, dan gang kecil yang menghadap ke jendela si pembantu tampak terang benderang diterangi cahaya bulan purnama.

Kebetulan si gadis ini rupanya punya jiwa melankolis. Ia duduk di atas peti di bawah jendela dan larut dalam lamunan. Katanya—dengan air mata berlinang saat menceritakan ulang kejadian itu—malam itu ia merasa begitu damai, seolah hatinya penuh kasih terhadap semua orang.

Saat itulah ia melihat seorang pria tua yang tampan, berambut putih, berjalan pelan di gang. Tak lama kemudian, muncul seorang pria lain, jauh lebih pendek, yang awalnya tidak terlalu ia perhatikan.

Ketika mereka sampai di bawah jendela tempat si pembantu mengintip, pria tua itu menyapa dengan sopan dan ramah. Dari gerak-geriknya, tampaknya ia hanya menanyakan arah, sebab beberapa kali ia menunjuk ke sana kemari. Sorot wajahnya yang diterangi cahaya bulan terlihat begitu tulus, penuh kebaikan hati ala zaman dulu, namun tetap berwibawa.

Namun saat si gadis mengalihkan pandangan ke pria satunya, ia terkejut. Ia mengenal pria itu—Mr. Hyde—yang pernah berkunjung ke rumah majikannya. Sejak saat itu, si gadis memang sudah merasa tidak suka padanya.

Mr. Hyde membawa tongkat kayu berat dan tampak gelisah, memainkan tongkat itu sambil menahan ketidaksabaran. Tanpa menjawab sepatah kata pun, ia tiba-tiba meledak dalam amarah. Ia menginjakkan kakinya ke tanah dengan keras, mengayunkan tongkat, dan bertindak seperti orang kesurupan—begitu yang digambarkan si pembantu.

Pria tua itu mundur selangkah, terkejut dan mungkin sedikit tersinggung. Namun justru saat itulah Mr. Hyde kehilangan kendali sepenuhnya. Ia menghantam korban hingga roboh, lalu—dengan kemarahan buas seperti binatang—menginjak-injaknya dan menghujaninya dengan pukulan bertubi-tubi. Tulang korban terdengar patah, tubuhnya terhempas keras ke jalanan.

Rekomendasi
Dracula - Bram Stoker
Dracula - Bram Stoker
Lihat Buku
Rekomendasi
Pollyanna - Eleanor H. Potter
Pollyanna - Eleanor H. Potter
Lihat Buku
Rekomendasi
Le Petit Prince - Antoine de Saint-Exupery
Le Petit Prince - Antoine de Saint-Exupery
Lihat Buku
Rekomendasi
Northanger Abbey - Jane Austen (Mizan)
Northanger Abbey - Jane Austen (Mizan)
Lihat Buku
Rekomendasi
Kumpulan Cerpen Terbaik Guy de Maupassant
Kumpulan Cerpen Terbaik Guy de Maupassant
Lihat Buku
Rekomendasi
Emma - Jane Austen (Shandi Publisher)
Emma - Jane Austen (Shandi Publisher)
Lihat Buku

Si gadis yang menyaksikan kejadian mengerikan itu langsung pingsan.

Ketika ia sadar kembali, waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Ia segera memanggil polisi. Mr. Hyde sudah lama kabur, tapi tubuh korbannya masih tergeletak di tengah gang, begitu rusak hingga sulit dikenali. Tongkat yang digunakan untuk membunuh, meskipun terbuat dari kayu langka yang keras dan berat, patah dua. Setengahnya ditemukan di selokan terdekat, sementara sisanya kemungkinan besar dibawa kabur oleh pelaku.

Di tubuh korban ditemukan dompet dan jam emas, tapi tidak ada identitas lain selain sebuah amplop yang tertutup segel dan perangko—sepertinya hendak dikirimkan lewat pos. Di bagian depan amplop tertulis nama dan alamat Mr. Utterson.

Keesokan paginya, sebelum Mr. Utterson sempat bangun dari tempat tidur, amplop itu sudah sampai di tangannya, lengkap dengan berita mengejutkan. Begitu membacanya dan mendengar penjelasan singkat dari si pembawa kabar, wajah sang pengacara langsung mengeras.

“Aku tidak akan mengatakan apa pun sebelum melihat jenazahnya,” ujarnya singkat. “Ini bisa jadi sangat serius. Tunggu sebentar, aku akan bersiap.”

Tanpa banyak bicara, ia sarapan dengan cepat dan langsung menuju kantor polisi tempat jenazah disimpan. Begitu melihat tubuh itu, ia mengangguk.

“Ya,” katanya berat, “aku mengenalnya. Sayangnya… ini adalah Sir Danvers Carew.”

“Astaga, benar begitu, Sir?” petugas polisi itu berseru. Matanya seketika berbinar penuh semangat profesional. “Kasus ini pasti menggemparkan. Dan mungkin Anda bisa membantu kami menemukan pelakunya.”

Lalu si petugas menceritakan apa yang dilihat oleh pembantu dan menunjukkan tongkat yang ditemukan di lokasi.

Mr. Utterson langsung merasa tidak enak begitu mendengar nama Mr. Hyde. Namun ketika melihat tongkat—meskipun sudah patah dan rusak—ia tak bisa menyangkal bahwa itu adalah hadiah yang pernah ia berikan bertahun-tahun lalu kepada Henry Jekyll.

Rekomendasi
Dracula - Bram Stoker
Dracula - Bram Stoker
Lihat Buku
Rekomendasi
Pollyanna - Eleanor H. Potter
Pollyanna - Eleanor H. Potter
Lihat Buku
Rekomendasi
Le Petit Prince - Antoine de Saint-Exupery
Le Petit Prince - Antoine de Saint-Exupery
Lihat Buku
Rekomendasi
Northanger Abbey - Jane Austen (Mizan)
Northanger Abbey - Jane Austen (Mizan)
Lihat Buku
Rekomendasi
Kumpulan Cerpen Terbaik Guy de Maupassant
Kumpulan Cerpen Terbaik Guy de Maupassant
Lihat Buku
Rekomendasi
Emma - Jane Austen (Shandi Publisher)
Emma - Jane Austen (Shandi Publisher)
Lihat Buku

“Apakah Mr. Hyde itu bertubuh kecil?” tanyanya.

“Ya, sangat kecil. Dan menurut pembantu, wajahnya terlihat jahat,” jawab si petugas.

Mr. Utterson berpikir sejenak. Lalu, sambil mengangkat kepala, ia berkata, “Kalau Anda mau ikut naik keretaku, sepertinya aku bisa menunjukkan rumahnya.”

Pagi itu kira-kira pukul sembilan, dan kabut musim dingin pertama menyelimuti kota. Langit seperti ditutupi kain kafan cokelat gelap yang menggantung rendah. Namun angin terus berhembus, menggiring dan mengusir kabut yang menggumpal seperti pasukan musuh. Saat kereta kuda yang ditumpangi Mr. Utterson melintasi jalan demi jalan, ia menyaksikan beragam nuansa senja yang aneh.

Di satu sisi, suasananya bisa gelap seperti sore menjelang malam. Di sisi lain, tampak semburat cahaya kecokelatan menyala redup, mengingatkan pada nyala kebakaran jauh di kejauhan. Sesekali, kabut pecah sejenak, dan setitik cahaya siang yang pucat menyelinap di antara pusaran kabut.

Kawasan Soho yang suram, terlihat melalui kilasan-kilasan aneh itu, tampak seperti bagian dari mimpi buruk. Jalanan berlumpur, para pejalan kaki yang lusuh, lampu-lampu jalan yang entah tidak pernah dipadamkan atau dinyalakan kembali hanya untuk melawan kegelapan yang datang lagi, semuanya membuat suasana makin muram di mata sang pengacara.

Belum lagi isi pikirannya sendiri yang juga gelap dan penuh kecurigaan. Dan ketika dia melirik ke arah pendampingnya di dalam kereta, sebersit ketakutan akan hukum dan para penegaknya sempat menyelinap—perasaan yang bisa menyentuh bahkan hati orang paling jujur sekalipun.

Ketika akhirnya kereta berhenti di alamat yang dituju, kabut sedikit menyingkap. Tampaklah sebuah jalan sempit yang kumuh: ada bar gin, warung makan Prancis yang murahan, toko yang menjual buku cerita seharga sekeping koin dan salad murahan, sekumpulan anak compang-camping yang menggigil di ambang pintu, serta perempuan dari berbagai bangsa keluar dengan kunci di tangan, hendak mencari segelas minuman pagi.

Namun dalam sekejap, kabut turun kembali, pekat seperti warna umber, dan menutupi lagi pemandangan kotor itu dari pandangan Mr. Utterson. Inilah tempat tinggal kesayangan Henry Jekyll—tempat tinggal pria yang kabarnya mewarisi seperempat juta pound sterling.

Rekomendasi
Dracula - Bram Stoker
Dracula - Bram Stoker
Lihat Buku
Rekomendasi
Pollyanna - Eleanor H. Potter
Pollyanna - Eleanor H. Potter
Lihat Buku
Rekomendasi
Le Petit Prince - Antoine de Saint-Exupery
Le Petit Prince - Antoine de Saint-Exupery
Lihat Buku
Rekomendasi
Northanger Abbey - Jane Austen (Mizan)
Northanger Abbey - Jane Austen (Mizan)
Lihat Buku
Rekomendasi
Kumpulan Cerpen Terbaik Guy de Maupassant
Kumpulan Cerpen Terbaik Guy de Maupassant
Lihat Buku
Rekomendasi
Emma - Jane Austen (Shandi Publisher)
Emma - Jane Austen (Shandi Publisher)
Lihat Buku

Seorang wanita tua berwajah pucat seperti gading dan berambut perak membuka pintu. Wajahnya menyimpan kesan jahat, meskipun ditutupi sikap sopan yang dibuat-buat. Namun tak bisa disangkal, etika dan caranya berbicara cukup baik.

Ya, kata wanita tua tersebut, ini memang tempat tinggal Mr. Hyde, tapi dia sedang tidak ada. Tadi malam dia sempat pulang larut sekali, lalu pergi lagi kurang dari satu jam kemudian. Itu bukan hal aneh. Katanya, kebiasaannya memang tak menentu dan sering pergi lama. Bahkan, wanita itu mengaku hampir dua bulan tak melihat Mr. Hyde sebelum kemarin.

“Baiklah, kalau begitu kami ingin melihat kamarnya,” kata sang pengacara.

Ketika wanita itu mulai menolak dengan alasan macam-macam, Mr. Utterson menimpali dengan tenang, “Mungkin sebaiknya saya beri tahu siapa rekan saya ini. Ini adalah Inspektur Newcomen dari Scotland Yard.”

Seketika wajah wanita itu berubah, ada kilatan kegembiraan yang tak menyenangkan di matanya. “Ah!” serunya. “Dia sedang dalam masalah, ya? Apa yang sudah dia lakukan?”

Mr. Utterson dan sang inspektur saling bertukar pandang.

“Kelihatannya dia memang bukan sosok yang banyak disukai,” ujar si inspektur. “Nah, sekarang, Ibu yang baik, biarkan kami berdua memeriksa tempat ini sebentar.”

Dari seluruh rumah itu—yang selain wanita tua itu, tampak kosong—ternyata Mr. Hyde hanya menempati dua kamar. Namun kedua kamar itu dipenuhi barang mewah dan rasa estetika yang tinggi. Di lemari ada anggur-anggur mahal, peralatan makan perak, serbet-serbet elegan, lukisan bagus tergantung di dinding (yang menurut dugaan Mr. Utterson adalah hadiah dari Henry Jekyll, sahabatnya yang memang pecinta seni), dan karpet tebal warna-warni yang menyenangkan dipandang.

Namun kali ini, kamar-kamar itu tampak seperti baru saja diacak-acak dengan tergesa-gesa. Baju-baju berserakan di lantai, saku-sakunya sudah dijungkir-balikkan. Laci-laci terkunci dibuka paksa, dan di atas perapian tampak tumpukan abu keabu-abuan—sepertinya banyak dokumen yang sengaja dibakar.

Rekomendasi
Dracula - Bram Stoker
Dracula - Bram Stoker
Lihat Buku
Rekomendasi
Pollyanna - Eleanor H. Potter
Pollyanna - Eleanor H. Potter
Lihat Buku
Rekomendasi
Le Petit Prince - Antoine de Saint-Exupery
Le Petit Prince - Antoine de Saint-Exupery
Lihat Buku
Rekomendasi
Northanger Abbey - Jane Austen (Mizan)
Northanger Abbey - Jane Austen (Mizan)
Lihat Buku
Rekomendasi
Kumpulan Cerpen Terbaik Guy de Maupassant
Kumpulan Cerpen Terbaik Guy de Maupassant
Lihat Buku
Rekomendasi
Emma - Jane Austen (Shandi Publisher)
Emma - Jane Austen (Shandi Publisher)
Lihat Buku

Dari sisa pembakaran itu, sang inspektur menemukan potongan buku cek berwarna hijau yang bagian belakangnya masih utuh, meskipun nyaris hangus. Sisa tongkat yang patah ditemukan di balik pintu. Temuan itu memperkuat kecurigaannya, dan ia tampak sangat puas.

Mereka lalu mengunjungi bank, dan ditemukan bahwa ada beberapa ribu pound masih tersimpan atas nama tersangka pembunuh. Ini makin membuat si inspektur yakin.

“Bisa saya pastikan, Tuan,” ujarnya pada Mr. Utterson, “kita sudah menangkapnya. Dia pasti panik—kalau tidak, mana mungkin dia tinggalkan tongkat itu, apalagi membakar buku ceknya? Uang itu adalah hidup dan napasnya. Sekarang tinggal tunggu dia muncul di bank dan kita sebar selebaran buronan.”

Sayangnya, hal itu tidak semudah kedengarannya. Mr. Hyde nyaris tidak punya teman dekat. Bahkan, majikan dari pembantu rumah tangga itu baru dua kali melihatnya. Tak ada informasi tentang keluarganya, dan dia pun belum pernah difoto. Beberapa orang yang pernah melihatnya pun tak bisa memberi gambaran yang seragam tentang wajahnya.

Namun ada satu hal yang mereka semua sepakati: pria itu meninggalkan kesan deformitas yang sulit dijelaskan, seolah ada sesuatu yang salah, sesuatu yang tidak pada tempatnya—sesuatu yang tidak bisa ditunjuk langsung, tapi tetap membekas dalam pikiran mereka.

The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde Bab 4 / 13
The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde
Bab terakhir non-Reader! Cukup buat akun untuk lanjut baca sampai tamat.
Progres Zona Bebas: 100%
PREV NEXT 🔒

💝 Suka terjemahan ini?

Dukung KlikNovel menerjemahkan lebih banyak novel klasik seperti The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde.

Rekomendasi
Macbeth - William Shakespeare
Macbeth - William Shakespeare
Lihat Buku
Rekomendasi
Pride and Prejudice - Jane Austen
Pride and Prejudice - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
Mrs. Daloway - Virginia Woolf
Mrs. Daloway - Virginia Woolf
Lihat Buku
Rekomendasi
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Jane Eyre - Charlotte Brontë
Lihat Buku
Rekomendasi
The Ladies\' Paradise - Émile Zola
The Ladies\' Paradise - Émile Zola
Lihat Buku
Rekomendasi
Winnetou 3 - Karl May
Winnetou 3 - Karl May
Lihat Buku

📝 Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!

Rekomendasi
The Snow Queen and Other Tales - Hans Christian Andersen
The Snow Queen and Other Tales - Hans Christian Andersen
Lihat Buku
Rekomendasi
Macbeth - William Shakespeare
Macbeth - William Shakespeare
Lihat Buku
Rekomendasi
Animal Farm - George Orwell
Animal Farm - George Orwell
Lihat Buku
Rekomendasi
The Island of Doctor Moreau - H.G. Wells
The Island of Doctor Moreau - H.G. Wells
Lihat Buku
Rekomendasi
Anne of Green Gables - L. M. Montgomery
Anne of Green Gables - L. M. Montgomery
Lihat Buku
Rekomendasi
Persuasion - Jane Austen
Persuasion - Jane Austen
Lihat Buku
×
×