The Old Man and the Sea - Ernest Hemingway
The Old Man and the Sea - Ernest Hemingway
Rp46.500
Lihat di Shopee
Sense and Sensibility - Jane Austen (Pastel Books)
Sense and Sensibility - Jane Austen (Pastel Books)
Rp49.500
Lihat di Shopee
Alpha Romeo - Indah Hanaco
Alpha Romeo - Indah Hanaco
Rp115.000
Lihat di Shopee
Persuasion and Lady Susan (Shandi Publisher)
Persuasion and Lady Susan (Shandi Publisher)
Rp113.050
Lihat di Shopee
Dracula - Bram Stoker
Dracula - Bram Stoker
Rp85.000
Lihat di Shopee
The Memoirs of Sherlock Holmes
The Memoirs of Sherlock Holmes
Rp56.250
Lihat di Shopee

Bab 1 — Waktu Senja

• Azab dan Sengsara •

👁️ 11 views

SORE yang terik itu perlahan berubah menjadi sejuk. Matahari—sang raja siang—mulai turun ke peraduannya di balik Gunung Sibualbuali, batas alami dataran tinggi Sipirok yang elok. Langit barat terbakar warna jingga dan kuning keemasan, memantulkan sinar terakhirnya di pucuk-pucuk pohon yang menjulang, seakan seluruh hutan telah disepuh emas murni.

Angin gunung yang lembut berembus, membawa kesejukan yang menyenangkan bagi para petani yang pulang dari kebun kopi di lereng-lereng subur itu. Semakin lama, hembusannya kian kencang, menggoyangkan dahan dan daun, seolah pepohonan turut bersorak gembira menyambut pergantian panas terik dengan udara senja yang nyaman.

Padi di sawah luas ikut bergoyang, dibelai angin seperti riak ombak di laut hijau. Dari kejauhan, burung-burung beterbangan, lalu bertengger di dahan beringin rimbun. Mereka berkicau riang, seperti memberi hormat terakhir kepada sang matahari yang merunduk di balik punggung gunung.

Dari lembah, bunyi kelintingan kerbau terdengar bersahut-sahutan, diiringi nyanyian anak gembala yang menggiring ternaknya pulang. Asap tipis mengepul dari atap-atap rumah di desa, dan lantunan azan dari menara masjid besar di Sipirok mengundang orang-orang untuk bersujud, mensyukuri rahmat yang tak terhingga.

Jalan-jalan mulai lengang. Para lelaki menunaikan magrib di masjid, para perempuan sibuk menanak nasi untuk keluarga. Namun di tepi sungai yang mengalir membelah kota Sipirok, di dekat sebuah rumah beratap ijuk, seorang gadis muda duduk sendirian.

Pandangan matanya tertuju pada beringin di tepi air, tetapi jelas pikirannya melayang entah ke mana. Suara gemericik sungai tak sampai ke telinganya. Angannya sibuk mengulang-ulang satu pertanyaan yang menyesakkan: Belum juga dia datang? Sakitkah dia? Kenapa begitu lama tak kulihat?

Siapakah gadis ini? Sabar dulu. Kita akan mengenalnya.

Dan, oh, soal Sipirok—jangan terburu membandingkannya dengan Sibolga atau Padang. Sipirok tidaklah semegah itu. Ia hanyalah kota kecil—atau sebutlah kampung besar—di dataran tinggi yang luas. Kalau kata “kota” terasa berlebihan, biarlah. Bacalah saja “kampung Sipirok” agar kita tak berdebat.

Letaknya di jantung Keresidenan Tapanuli, di punggung Bukit Barisan yang memanjang membelah Sumatera. Di timur dibatasi Dolok Sipipisan, di barat berdiri gagah Sibualbuali yang berasap sepanjang waktu. Ke selatan ada Simagomago, pemisah tanah Angkola; ke utara, Simole-ole yang memisahkan dataran ini dari Pangaribuan.

Senja itu, langkah seorang pemuda mendekat ke batu besar tempat si gadis duduk.
“Masih di sini rupanya, Riam?” sapanya.

Riam tersentak, bukan karena tak mengenali suara itu, tetapi karena ia baru saja terseret jauh ke masa kanak-kanak lewat lamunannya.
“Ah, hari sudah malam rupanya. Dari tadi aku menunggu-nunggu angkang,” ujarnya sambil berdiri. “Mari kita naik, Angkang!”

Pollyanna - Eleanor H. Potter
Pollyanna - Eleanor H. Potter
Rp37.500
Lihat di Shopee
Northanger Abbey - Jane Austen
Northanger Abbey - Jane Austen
Rp44.250
Lihat di Shopee
Poirot\'s Early Cases - Agatha Christie
Poirot\'s Early Cases - Agatha Christie
Rp67.000
Lihat di Shopee
Coming Up for Air - George Orwell
Coming Up for Air - George Orwell
Rp63.750
Lihat di Shopee
Peter Pan - J. M. Barrie
Peter Pan - J. M. Barrie
Rp44.250
Lihat di Shopee
Pride and Prejudice - Jane Austen
Pride and Prejudice - Jane Austen
Rp66.750
Lihat di Shopee

“Tak usah, Riam,” jawabnya. “Aku cuma mampir sebentar. Malam ini aku hendak ke rumah seorang sahabat yang baru tiba dari Deli.”

“Apa salahnya singgah sebentar? Mak juga sudah lama ingin bertemu kakak.”

“Tidak, aku hanya ingin bicara sebentar di sini. Kalau kau mau, duduklah. Ada yang ingin kusampaikan.”

Mereka duduk berdampingan di atas batu. Hening. Pemuda itu menunduk, wajahnya dibayangi kesedihan. Riam menatapnya, tapi gelap senja menyembunyikan air mata yang merembes di pipi lelaki itu. Ia hanya bisa merasakan ada beban yang dipikulnya.

“Katakanlah, apa yang hendak angkang sampaikan,” bisik Riam lembut.

“Riam… jangan kaget. Cintaku padamu tidak berkurang—justru semakin dalam setiap harinya. Kau percaya, kan?”

“Mengapa harus bertanya lagi?” jawab Riam, suaranya tetap tenang seperti biasa. Ia memang jarang marah, apalagi pada sahabat karibnya ini.

“Aku bertanya bukan karena meragukanmu…” Ia terdiam lagi. Kata-kata yang ingin diucapkannya seakan tersangkut di tenggorokan. Ia menarik napas dalam, menyeka air mata, lalu berkata perlahan, “Riam… berat sekali bagiku mengatakannya, tapi lambat laun kau akan tahu juga. Lebih baik sekarang. Aku berniat pergi ke Deli untuk mencari pekerjaan. Malam ini aku ke rumah temanku itu untuk menanyakan keadaan di sana.

Aku pergi bukan untuk meninggalkanmu. Percayalah. Kalau saja kau tahu isi hatiku… Kau pasti mengerti. Selama bertahun-tahun aku berharap bisa selalu di dekatmu. Tapi kini aku sadar, mustahil itu terwujud kalau aku tetap di sini. Satu-satunya jalan adalah pergi… demi kelak bisa kembali untukmu. Jangan terkejut, jangan sedih, Riam. Ingatlah, aku pergi untuk mendapatkanmu.”

Kata-kata terakhirnya keluar tersendat, seolah setiap suku kata menambah perih di dadanya. Dan saat ia mendengar Riam tersedu-sedu, kesedihan itu kian menyesakkan.

Mereka terdiam. Hanya suara malam yang menutup percakapan mereka. Langit gelap tanpa bulan, hanya bintang-bintang yang berusaha menipiskan kegelapan. Wajah pemuda itu muram, pikirannya berputar-putar seperti roda tanpa henti—seperti seseorang yang terombang-ambing di laut badai, kelelahan, dan hanya bisa berharap ada kapal penyelamat yang lewat, membawanya ke tujuan.

Dari menara masjid besar, suara azan Isya mengalun, menembus udara malam yang lembap. Kedua orang itu tersentak—seolah baru sadar kembali akan waktu dan diri mereka sendiri.

“Wah, sudah pukul setengah delapan rupanya,” ujar si pemuda sambil berdiri, sedikit terburu-buru. “Bagaimana keadaan ibu kita?” tanyanya, matanya mencari jawaban.

“Mudah-mudahan sudah berkurang,” sahut Mariamin, suaranya lembut. “Tinggal batuk saja yang masih membuatnya susah tidur.”

“Ah, tak sempat aku menjenguk beliau. Nanti, kalau sempat, aku datang. Selamat tinggal, Anggi! Jangan bersedih hati. Kita serahkan saja semua kepada Tuhan Yang Esa,” katanya, sambil menjabat tangan gadis yang dicintainya itu.

Pollyanna - Eleanor H. Potter
Pollyanna - Eleanor H. Potter
Rp37.500
Lihat di Shopee
Northanger Abbey - Jane Austen
Northanger Abbey - Jane Austen
Rp44.250
Lihat di Shopee
Poirot\'s Early Cases - Agatha Christie
Poirot\'s Early Cases - Agatha Christie
Rp67.000
Lihat di Shopee
Coming Up for Air - George Orwell
Coming Up for Air - George Orwell
Rp63.750
Lihat di Shopee
Peter Pan - J. M. Barrie
Peter Pan - J. M. Barrie
Rp44.250
Lihat di Shopee
Pride and Prejudice - Jane Austen
Pride and Prejudice - Jane Austen
Rp66.750
Lihat di Shopee

Mariamin hanya menatap, mengikuti langkahnya sampai bayangan itu hilang di tikungan gelap. Nafasnya terasa berat saat kakinya menapak tangga rumah. Ia langsung menuju bilik ibunya, yang terbaring pucat di ranjang.

“Sudah agak lega dada Ibu?” tanyanya, sambil meraba wajah yang mulai dingin itu. “Syukurlah, panasnya sudah turun. Mudah-mudahan dua-tiga hari lagi Ibu bisa turun, walau pelan-pelan.”

“Ya, Anakku. Rasanya sudah jauh lebih ringan, tenagaku pun mulai kembali,” jawab sang ibu dengan senyum tipis, mencoba menghibur hati anaknya. “Riam, di mana adikmu? Suruh dia masuk. Jangan dibiarkan main di luar. Malam sudah turun, nanti masuk angin.”

“Dia di dapur, Mak. Nanti kusuruh ke sini, biar ada teman Mak,” jawab Mariamin.

Ia menuangkan obat ke dalam cangkir, meletakkannya di samping ranjang, lalu menuju dapur. “Ibu tunggu sebentar ya. Aku mau masak. Tadi aku bawa sawi dan kol dari kebun kopi. Siapa tahu Ibu sudah ada selera. Sudah berapa hari Ibu tak makan…”

Sang ibu tidak menjawab. Matanya hanya mengikuti langkah Mariamin, penuh kasih yang tak bisa diucapkan kata. Dalam hati, ia berdoa lirih: Ya Allah, kasihanilah hamba-Mu yang miskin ini.

Ia memejamkan mata, tapi pikirannya melayang jauh ke masa lalu—saat suaminya masih hidup, saat harta mereka cukup, saat mereka dikenal dan disegani di Sipirok. Semua itu seperti mimpi lama. Sebab di dunia ini, roda nasib terus berputar: kadang di atas, kadang di bawah. Dan ia sudah menerima giliran di bawah.

Namun ia tidak pernah mengeluh. Baginya, Allah tetap adil. Ia selalu mengingatkan dirinya: setan senang bila manusia yang diuji kehilangan iman.

Malam itu, hatinya terasa berat. Ia memikirkan kedua anaknya—Mariamin yang sudah remaja, dan si bungsu yang baru empat tahun. Dulu, kalau ia sakit, ada pelayan, ada kerabat yang datang menjenguk. Sekarang? Satu pun tak ada. Orang memang begitu: saat kita punya, semua dekat; saat kita jatuh, semua menghilang.

Untunglah ada Mariamin. Anak itu, setiap pulang dari sawah atau ladang, pasti membawa sesuatu untuknya—meski hanya sayur murah, ia menerimanya seperti menerima hadiah emas. Baginya, kol rebus buatan Mariamin malam ini akan terasa lebih nikmat daripada sup ayam di masa jayanya dulu.

Ya Allah, bisiknya dalam hati, panjangkan umurku. Biarkan aku tetap hidup untuk menjaga mereka. Kalau aku tiada, siapa yang akan mencari makan untuk dua anak ini?

Seolah menjawab, ada suara lembut di dalam hatinya: Allah melindungi makhluk-Nya.

Tak lama, suara kecil memanggil dari dekat pintu. “Belum lapar, Bu?” tanya si bungsu sambil duduk di tepi ranjang.

Pollyanna - Eleanor H. Potter
Pollyanna - Eleanor H. Potter
Rp37.500
Lihat di Shopee
Northanger Abbey - Jane Austen
Northanger Abbey - Jane Austen
Rp44.250
Lihat di Shopee
Poirot\'s Early Cases - Agatha Christie
Poirot\'s Early Cases - Agatha Christie
Rp67.000
Lihat di Shopee
Coming Up for Air - George Orwell
Coming Up for Air - George Orwell
Rp63.750
Lihat di Shopee
Peter Pan - J. M. Barrie
Peter Pan - J. M. Barrie
Rp44.250
Lihat di Shopee
Pride and Prejudice - Jane Austen
Pride and Prejudice - Jane Austen
Rp66.750
Lihat di Shopee

“Sudah makan?” Sang ibu meraih tangannya, memeluk, menciuminya berkali-kali.

“Sudah, Mak. Kak Riam masak kol rebus. Enak, Mak. Makanlah, Kak Riam sudah bawa nasi untuk Ibu.”

Mariamin masuk, membawa mangkuk sayur hangat. “Makan dulu, Mak. Nasi sudah siap,” katanya sambil menata makanan.

Mereka makan bertiga. Si bungsu tertidur di belakang ibunya, sementara sang ibu diam-diam memperhatikan wajah Mariamin. Ada sesuatu yang berbeda malam ini—seperti ada duka yang disembunyikan.

“Susah hatimu, Riam? Karena Ibu belum sembuh?” tanya sang ibu.

Mariamin tersenyum paksa, pipinya sedikit memerah. “Moga-moga Ibu cepat sehat. Kalau Ibu selalu sakit… bagaimana nasib kami?”

Kalimat itu menusuk hati sang ibu. Ia tahu benar maksudnya. Kalau ia tiada, mereka berdua akan sendirian di dunia ini. Saudara mendiang suaminya pun tak pernah benar-benar peduli.

Pikiran itu selalu datang, membawa rasa sesak. Tapi ia menolaknya. Ia harus kuat. Ia percaya, Tuhan yang Pengasih akan menolong. Dan ia ingin Mariamin tumbuh dengan hati yang sama—rendah hati, sabar, dan tak pernah lepas dari iman.

“Pergilah tidur, Nak. Riam sudah lelah bekerja seharian. Tak perlu kau tunggui Ibu,” ujar Mak Mariamin, suaranya lembut namun penuh penegasan.

Riam menunduk, merapikan selimut ibunya, memastikan bantal nyaman, gelas air berada di jangkauan tangan. “Kalau Mak mau apa-apa, panggil saja. Ananda akan segera datang. Jangan bangun-bangun seperti dulu… nanti badan Mak makin lelah. Kalau Mak bersusah-susah, penyakit bisa bertambah, dan… ananda pun ikut susah.”

Mak Mariamin tersenyum tipis. “Ya, Riam. Pergilah tidur,” katanya, seolah ingin meyakinkan anaknya bahwa semuanya baik-baik saja.

Mariamin pun melangkah ke biliknya. Begitu pintu kamar tertutup, dunia luar terasa jauh. Ia lupa memalang pintu, dan tanpa ragu menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Sepanjang sore ia menahan duka yang mengeram di dada—sejak perpisahan dengan pemuda itu, hingga meninggalkan ibunya barusan. Di meja makan tadi, ibunya sudah sempat menangkap gurat mendung di wajahnya. Tapi sekarang… pertahanan itu runtuh.

Tangisnya pecah, deras, membanjiri bantal. “Oh, malangnya aku… Sampai hati kau meninggalkanku, Udin?” suaranya patah, tersendat air mata.

Tangisnya seperti mata air yang baru saja dijebol—mula-mula memancar deras, lalu perlahan melemah, tapi tak pernah benar-benar berhenti. Bantalnya basah, ia terduduk, dagu ditopang kedua tangan, tatapan kosong ke arah lampu kecil di dinding. Namun nyala lampu itu tak benar-benar ia lihat. Di matanya kini hanya parade kenangan masa kanak-kanak, wajah-wajah masa lalu yang silih berganti.

Kalau ada orang lain di kamar itu, pasti iba melihat gadis semuda itu, secantik itu, diserang kesedihan sedalam itu. Tapi ia sendiri. Hanya lampu yang seakan ingin bicara: “Jangan menangis, Tuan Putri. Siapa tahu yang kau anggap malang ini justru awal keberuntungan?” Tapi suara itu pun tak sampai ke hatinya.

Pollyanna - Eleanor H. Potter
Pollyanna - Eleanor H. Potter
Rp37.500
Lihat di Shopee
Northanger Abbey - Jane Austen
Northanger Abbey - Jane Austen
Rp44.250
Lihat di Shopee
Poirot\'s Early Cases - Agatha Christie
Poirot\'s Early Cases - Agatha Christie
Rp67.000
Lihat di Shopee
Coming Up for Air - George Orwell
Coming Up for Air - George Orwell
Rp63.750
Lihat di Shopee
Peter Pan - J. M. Barrie
Peter Pan - J. M. Barrie
Rp44.250
Lihat di Shopee
Pride and Prejudice - Jane Austen
Pride and Prejudice - Jane Austen
Rp66.750
Lihat di Shopee

Ia kembali mendengar percakapan sore tadi, di atas batu besar di pinggir rumah. “Aku pergi bukan hendak meninggalkanmu, tapi untuk mendapatkanmu. Aku terpaksa…” begitu kata Aminuddin.

Mariamin mencibir dalam hati. Terpaksa? Ke Deli, sejauh itu? Ia tahu benar, hilang dari mata, cepat atau lambat akan hilang dari hati. Tapi dirinya? Ia takkan lupa. Ia sudah menyerahkan cintanya, nyawanya, bahkan rasa percayanya padanya.

Di luar, malam merapatkan selimut gelap. Angin menderu, hujan rintik-rintik mengetuk genting. Sepertinya langit bersiap melepaskan hujan yang lebih deras lagi. Sunyi, selain suara alam yang menggeram.

“Riam, kenapa kau menangis?” suara itu datang dari pintu.

Mariamin tersentak. Ia menoleh, dan terperanjat melihat ibunya berdiri di ambang. Pucat, kurus, tapi jelas nyata. “Mak… ampun, Mak!” serunya sambil memeluk erat ibunya, air mata makin tak terbendung.

“Apa yang kau tangisi, Nak? Kukira kau sudah tidur,” ujar sang ibu pelan.

Ternyata ibu terbangun karena melihat cahaya dari kamar Mariamin, lalu mendengar suara lirih anaknya yang merintih. Pintu yang tak terkunci memudahkan langkahnya masuk tanpa disadari sang putri.

“Katakan, apa sebabnya?” tanya sang ibu lagi, jemarinya menyapu pipi anaknya yang basah.

Mariamin, tanpa berusaha menyembunyikan apa pun, menceritakan seluruh ucapan Aminuddin.

“Kalau kau tak mau menyusahkan bunda yang sakit ini, tenangkan hatimu. Bersabarlah… dan serahkan segalanya pada Tuhan,” nasihat ibunya.

Anak yang penurut itu hanya mengangguk. Ia menggandeng ibunya kembali ke kamar. “Jangan susah hati, Mak. Tak mungkin ananda mau memberatkan hati Ibu. Tadi… ananda hanya bodoh, terlalu muda berpikirnya. Sekarang tak akan menangis lagi. Tidurlah, Mak, malam sudah larut.”

Setelah ibunya kembali ke ranjang, Mariamin merebahkan diri. Ia mencoba menenangkan pikirannya yang masih berputar-putar. Tak lama, kantuk akhirnya datang.

Di luar, hujan kini jatuh seperti ember tumpah dari langit. Angin menderu, kilat menyambar, petir menggelegar seolah gunung runtuh. Rumah kecil itu tenggelam dalam sunyi, semua sudah terlelap. Hanya lampu kecil di sudut yang masih setia berjaga, cahayanya yang lembut mencoba melawan gelapnya malam—pertarungan kecil yang nyaris tak terlihat, tapi entah kenapa terasa begitu tabah.

Akses Terjemahan Gratis

Kamu hanya bisa membaca 1 bab lagi. Silakan buat akun KlikNovel untuk mengakses semua 11 bab secara GRATIS!

2 bab gratis11 bab total
Daftar Sekarang

Dukung Penulis/Penerjemah Novel Favoritmu

0 Total Vote
0 Pemberi Vote
Rp 0 Komisi Penulis/Penerjemah

💖 Suka baca cerita ini?

Bantu KlikNovel menerjemahkan lebih banyak novel public domain seperti Azab dan Sengsara karya Merari Siregar ini. Scan QR Code untuk berdonasi via Saweria 🙏

Lihat semua opsi kontribusi

Winnetou 3 - Karl May
Winnetou 3 - Karl May
Rp80.000
Lihat di Shopee
Moby Dick - Herman Melville
Moby Dick - Herman Melville
Rp40.500
Lihat di Shopee
Tarian Kematian - Gustave Flaubert
Tarian Kematian - Gustave Flaubert
Rp49.500
Lihat di Shopee
Winnetou 4 - Karl May
Winnetou 4 - Karl May
Rp68.000
Lihat di Shopee
The Adventures of Sherlock Holmes
The Adventures of Sherlock Holmes
Rp56.250
Lihat di Shopee
Frankenstein - Mary Shelley
Frankenstein - Mary Shelley
Rp44.250
Lihat di Shopee

📝 Belum ada komentar untuk bab ini. Jadilah yang pertama berkomentar!

Pulang - Leila S. Chudori
Pulang - Leila S. Chudori
Rp117.000
Lihat di Shopee
The Case-Book of Sherlock Holmes
The Case-Book of Sherlock Holmes
Rp56.250
Lihat di Shopee
Sherlock Holmes - The Sign of Four
Sherlock Holmes - The Sign of Four
Rp36.500
Lihat di Shopee
Dracula - Bram Stoker
Dracula - Bram Stoker
Rp85.000
Lihat di Shopee
Peter Pan - J. M. Barrie
Peter Pan - J. M. Barrie
Rp44.250
Lihat di Shopee
The Adventures of Sherlock Holmes
The Adventures of Sherlock Holmes
Rp56.250
Lihat di Shopee