Bagian 1 – Si Cantik Mrs. Lawless
AKAN aku ceritakan sebuah kisah yang barangkali terdengar sama mustahilnya dengan apa pun yang pernah kau dengar. Aku tidak berharap ada yang percaya, meskipun setiap kata yang akan kusampaikan adalah benar.
Mereka yang keras kepala dan picik mungkin akan membacanya sampai tuntas, lalu melemparnya begitu saja sambil berkata bahwa semua ini hanyalah omong kosong, tanpa sebutir pun kebenaran.
Sementara mereka yang lebih bijak dan berpengalaman akan berkata bahwa kisah ini aneh, luar biasa, nyaris tak masuk akalānamun tetap saja, mereka tahu ada lebih banyak hal di langit dan bumi daripada yang dapat diraih oleh filsafat mereka. Namun, tak seorang pun akan menerimanya dengan keyakinan yang bulat dan tanpa ragu.
Kendati demikian, ejekan maupun ketidak-percayaan tak akan mengubah kenyataan: bahwa ini adalah kisah nyata, tentang peristiwa yang sungguh terjadi beberapa tahun silam, pada orang-orang yang hingga kini masih hidup.
Latar ceritanya adalah Indiaādan ke India pula aku harus membawamu, agar engkau dapat berkenalan dengan para pelaku dalam drama yang benar adanya ini. Nama-nama orang dan tempat yang kusebutkan semuanya tentu saja fiktif.
Saat itu adalah masa Natal di sebuah pos militer terpencil di perbatasan Bengal. Dan betapa suramnya Natal bagi anggota resimen ke-145 Bengal Muftis.
Karena ditempatkan di pos kecil berarti harus bergaul dengan orang-orang yang sama hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun; terus melanjutkan pertengkaran lama dengan Jones, mendengar ocehan tak habis-habisnya dari Mrs. Robinson, atau mati bosan oleh celoteh Mayor Smith, tanpa harapan akan jeda atau pelarian.
Danātanpa menyinggung para priaāpara nyonya di lingkungan 145th Bengal Muftis pun tidak berada dalam suasana hati terbaik ketika kisah ini dimulai. Sering kali memang begitu: kaum wanita di resimen jarang benar-benar rukun. Mereka bisa saling menggunjing di garnisun Inggris, tapi apa yang terjadi di pos-pos terpencil India jauh lebih buruk.
Meski demikian, jika dilihat satu per satu, para wanita itu bukanlah contoh yang buruk bagi kaumnya. Hanya saja, ketika mereka berkumpul, kasih dan amal Kristiani yang mereka banggakan justru berubah menjadi hal sebaliknya.
Yang paling penting di antara mereka adalah Mrs. Dunstan, istri sang Kolonelādan ia pula tokoh sentral dalam kisah malang ini. Maka, biarlah Mrs. Dunstan yang pertama muncul di hadapan kita.
Kita menemukannya sedang duduk di kursi malas di ruang tamunya sendiri, di Mudlianah, dengan wajah yang jelas menunjukkan ketidak-puasan dan kemurungan. Padahal, bagi orang luar, pemandangan di sekitarnya cukup menawan.
Ruangannya dikelilingi serambi lebar yang dipenuhi sulur hijau. Bunga-bunga besar berbentuk terompet, berwarna ungu, merah menyala, dan oranye, menjuntai anggun di jendela dan pintu terbuka; melati bintang dan honey suckle dari Cape memenuhi udara dengan keharuman.
Di balik taman yang ditata indahāmeski tampak agak liar karena rimbunnya tumbuhanāterhampar deretan bukit bersalju, tampak begitu dekat di udara bening, padahal sesungguhnya berjauhan bermil-mil.
Ruang Mrs. Dunstan pun lengkap dengan segala kemewahan yang pantas bagi istri seorang kolonel, bahkan di pos militer terpencil. Kursi dan sofa dari kayu jati hitam berukir, meja penuh bunga, buku, dan sulaman; sebuah piano indah berdiri di sudut; lantai dilapisi tikar berwarna; di serambi berserakan mainan dari berbagai negeriātanda kehadiran malaikat kecil, buah hati yang menjadi pusat sukacita rumah tangga itu.
Nyonya rumah itu sendiri masih muda, masih cantik, memiliki kecerdasan maupun kesehatan untuk menikmati hidup. Maka jelas ada alasan yang lebih dalam bagi tatapan sayu di matanya, bagi garis kesedihan yang mengerutkan keningnya.
Ya, pagi itu ia baru saja menerima kunjungan āMees Margie MacQuirk,ā dan seperti biasa, wanita itu meninggalkan jejak yang membuat hati gelisah.
āMees Margieā adalah seorang Skotlandia jangkung, berusia lebih dari lima puluh, datang ke India untuk mengurus rumah kakaknya, dokter resimen 145. Seorang Presbiterian keras, dengan logat sekasar prinsipnya, serta penilaian setajam mata elang.
Karena tak pernah tergoda berbuat salah, ia merasa dirinya amat suci; dan justru sibuk mengendus kesalahan orang lain, bahkan sebelum dosa itu terjadi.
Ia dibenci seluruh resimen, dan karena itu Mrs. Dunstan, mau tak mau, harus memperlakukannya dengan ramah demi menutupi ketidak-sukaan orang lain. Sebab Miss MacQuirk tak pernah lewat setengah jam tanpa melontarkan tuduhan baru tentang kenakalan seseorang.
Ia yakin semua tentara adalah buaya darat yang tak bisa dipercaya, dan bila tak menemukan dosa pada para pria, ia akan menimpakannya pada para pelayan.
Seandainya ia hanya datang membawa kabar tentang Freshfield yang menggoda, atau Masterman yang gemar berjudi, Mrs. Dunstan mungkin akan menertawakannya.
Namun pagi itu, arah pembicaraan Miss MacQuirk berbeda: ia hanya bicara tentang pendatang baru yang cantik jelita, Mrs. Lawless, yang baru saja kembali bersama suaminya, Jack Lawless, dari penugasan di barat laut.
Dan, seperti yang dikatakan Miss MacQuirk, kehadiran Mrs. Lawless seakan membuat semua pria di resimen kehilangan akal. Celakanya, banyak dari ucapannya memang benarādan itulah yang paling menusuk hati Ethel Dunstan. Karena kita semua, pada akhirnya, terlalu mudah percaya pada apa pun yang mengancam kebahagiaan kita sendiri.
āMemang, itu betul-betul mengerikan,ā kata Miss Margie dengan logat kampungnya yang kental, āmelihat segerombolan kepala dungu terseret ke jalan yang salah hanya gara-gara wajah pucat dengan sepasang mata besar di tengahnya.
āItu cukup membuat seorang perempuan yang takut akan Tuhan bersyukur kepada Sang Pencipta yang telah menjaganya tetap di jalan lurus. Sebab aku takkan berani mengatakan ini semata hasil usahaku sendiri, tetapi aku bisa angkat kepala di hadapan Ratu Inggris sekalipun, bila perlu.ā
āTapi Mrs. Lawless memang sangat, sangat cantikātak mungkin ada pendapat berbeda soal itu,ā seru Mrs. Dunstan yang berhati besar. āBagiku sendiri, aku belum pernah melihat wajah seindah miliknya. Suamiku pun berkata hal yang sama.ā
āAh, itu jelas! Kepala Kolonel pun sudah terbalik seperti yang lain-lain. Tapi tentu tak pantas kalau para pria mengejar seorang wanita yang jelas-jelas sudah punya suami sah.ā
āTapi pemikiranmu itu aneh sekali, Miss MacQuirk. Jika seorang pria menunjukkan sedikit perhatian pada seorang wanita, kau langsung menyebutnya āmengejarā. Kita di sini hidup seperti satu keluarga, terkurung di barak kecil ini. Jika kita tak boleh bersikap ramah, sungguh menyedihkan nasib kita.ā
āRamah tamah!ā seru Miss Margie. āKau menyebutnya ramah tamah bila berjalan di kegelapan malam dengan istri orang lain? Dan itulah yang dilihat kakakku semalam, ketika dia pulang dari mess.ā
āSiapa? Dengan siapa?ā tanya Ethel Dunstan, kali ini benar-benar tertarik dengan gosip Miss MacQuirk.
Dukung Penulis/Penerjemah Novel Favoritmu
Login untuk memberikan vote dukungan
š Suka baca cerita ini?
Bantu KlikNovel menerjemahkan lebih banyak novel public domain seperti Little White Souls karya Florence Marryat ini. Scan QR Code untuk berdonasi via Saweria š
š Belum ada komentar untuk bab ini. Jadilah yang pertama berkomentar!
Silakan login untuk meninggalkan komentar.