The Old Man and the Sea - Ernest Hemingway
The Old Man and the Sea - Ernest Hemingway
Rp46.500
Lihat di Shopee
Pride and Prejudice - Jane Austen
Pride and Prejudice - Jane Austen
Rp66.750
Lihat di Shopee
Frankenstein - Mary Shelley
Frankenstein - Mary Shelley
Rp44.250
Lihat di Shopee
Little Women - Louisa May Alcott
Little Women - Louisa May Alcott
Rp59.250
Lihat di Shopee
Winnetou 3 - Karl May
Winnetou 3 - Karl May
Rp80.000
Lihat di Shopee
Kumpulan Cerpen Terbaik Leo Tolstoy
Kumpulan Cerpen Terbaik Leo Tolstoy
Rp90.000
Lihat di Shopee

Bab 1 – Bermain Sepak Raga

• Sengsara Membawa Nikmat •

👁️ 32 views

Waktu Asar telah tiba. Hari itu begitu cerah, langit biru bersih tanpa setitik awan pun. Matahari bersinar terang, tak ada yang menghalanginya. Lereng bukit dan puncak pepohonan seolah disepuh cahaya keemasan, sementara lembah dan tempat-tempat yang lebih rendah tampak redup diterpa bayangan. Demikian pula sebuah kampung yang terletak di lembah tak jauh dari Bukittinggi, diselimuti suasana sore yang tenang.

Di sebuah surau di tepi sungai yang mengalir melalui kampung itu, terdengar suara seseorang sedang berkasidah. Suaranya merdu, naik turun berirama. Bunyi air sungai yang mengalir pelan seolah menjadi pengiring alami, membuat lantunan kasidah itu semakin enak didengar. Seakan-akan suara itu berasal dari dalam sungai—kadang terdengar jelas, kadang menghilang, seperti sesuatu yang ada namun tiada.

“Akan menjadi orang laratkah engkau nanti, Midun?” tiba-tiba seseorang berseru dari halaman surau sambil mendekat. Suaranya terdengar bersahaja. “Bukankah berlagu itu hanya mengiba hati dan menjauhkan pikiran dari kenyataan? Lama-kelamaan badan pun bisa lelah karenanya.”

“Tidak, Maun,” jawab Midun sambil meletakkan tali yang sedang dipintalnya. Tangannya halus mengatur anyaman tali itu. “Aku berkasidah hanya untuk mengisi waktu senggang. Tidak kuhayati dalam hati, hanya sekadar melatih lidah dalam bahasa yang indah itu saja.” Ia mengangkat kepalanya, matanya yang jernih menatap Maun. “Dari manakah engkau?”

“Dari pasar,” jawab Maun sambil duduk di samping Midun. “Tidakkah engkau tahu, petang ini ada permainan sepak raga? Mari kita ke sana! Katanya kali ini sangat ramai karena banyak orang datang dari kampung sebelah!”

Wajah Midun berkerut sejenak. “Sudah banyakkah orang di pasar saat engkau tinggalkan tadi?”

“Banyak,” sahut Maun bersemangat. “Jenang pun sudah datang. Ketika aku pergi, mereka sedang membersihkan lapangan untuk permainan.”

“Si Kacak, keponakan Tuanku Laras itu, sudah datangkah?” tanya Midun lagi, suaranya rendah.

“Belum,” jawab Maun. “Tapi aku yakin dia akan datang. Dia juga suka bermain sepak raga, bukan?”

Midun menarik napas panjang, dadanya naik turun perlahan. “Ah, sebaiknya aku tidak ikut, Maun. Biarlah aku menyelesaikan pintalan tali ini. Aku ingin membuat tangguk baru.”

Maun mengerutkan kening. “Mengapa engkau menarik napas begitu? Apakah engkau bermusuhan dengan Kacak?”

“Tidak, kawan,” jawab Midun sambil menghela napas. “Tapi jika aku datang ke sana, bisa saja terjadi hal yang tidak diinginkan.”

“Sungguh aneh,” Maun menggeleng. “Tidak bermusuhan tapi bisa terjadi hal buruk? Apa maksudmu sebenarnya?”

Midun memandang Maun dengan serius. “Begini, Maun. Ingatkah engkau saat kenduri di masjid beberapa waktu lalu? Engkau duduk di sampingku, bukan?”

“Benar,” jawab Maun mengangguk.

“Nah, apakah engkau memperhatikan bagaimana cara Kacak memandangku saat itu?”

Maun mengernyitkan dahi. “Tidak. Apa yang terjadi?”

The Picture of Dorian Gray - Oscar Wilde
The Picture of Dorian Gray - Oscar Wilde
Rp44.250
Lihat di Shopee
Animal Farm - George Orwell
Animal Farm - George Orwell
Rp45.300
Lihat di Shopee
Coming Up for Air - George Orwell
Coming Up for Air - George Orwell
Rp63.750
Lihat di Shopee
The Adventure of Huckleberry Finn - Mark Twain
The Adventure of Huckleberry Finn - Mark Twain
Rp51.750
Lihat di Shopee
Northanger Abbey - Jane Austen (Mizan)
Northanger Abbey - Jane Austen (Mizan)
Rp75.650
Lihat di Shopee
Animal Farm - George Orwell
Animal Farm - George Orwell
Rp42.400
Lihat di Shopee

“Kita duduk di deretan tengah, sementara Kacak di deretan kedua. Ingatkah engkau ketika orang kampung mulai mengantarkan hidangan? Di hadapan kita, makanan menumpuk hampir setinggi duduk kita. Ada yang membawa nasi dengan lauk-pauk di atas talam perak, ada pula yang membawa penganan dan berbagai macam hidangan lainnya—sesuai dengan sedekah yang ingin mereka berikan. Tapi lihatlah hidangan di hadapan Kacak—tak sampai sepertiga dari yang kita terima.”

Maun mengangguk paham. “Hal itu wajar, Midun. Pertama, engkau seorang alim yang dihormati. Kedua, engkau disukai oleh semua orang di kampung ini. Sedangkan Kacak… dia hanya mengandalkan gelar sebagai keponakan Tuanku Laras. Tingkah lakunya buruk, tak heran jika orang tak terlalu menghormatinya.”

“Justru karena itulah,” Midun melanjutkan dengan suara berbisik, “wajahnya menjadi begitu suram ketika melihat hidangan di hadapan kita. Dan ketika matanya menatapku…” Midun berhenti sejenak, “jelas sekali kebencian terpancar dari sorot matanya. Aku bisa merasakan kecemburuan dan kejijikannya padaku.”

“Biarlah itu urusannya,” kata Maun sambil mengangkat bahu. “Bukankah itu kehendak orang kampung? Apa salahmu padanya?”

“Benar, tapi ingatlah posisi kita, Maun. Kita ini hanya rakyat biasa, sementara dia bangsawan tinggi—keponakan pemimpin kampung ini. Tidakkah hal seperti ini bisa menimbulkan masalah?”

Maun tertawa kecil. “Masalah apa lagi yang kaukhawatirkan? Kau terlalu banyak berpikir, Midun. Sudahlah, mari kita pergi bersama! Permainan sebentar lagi dimulai.”

Midun menghela napas lagi. “Patut kita pertimbangkan hal-hal yang mungkin membawa mudarat. Tapi jika engkau bersikeras…”

“Ah, belum apa-apa sudah engkau takut,” potong Maun sambil berdiri. “Terlalu berhati-hati justru merugikan, kurang hati-hati pun celaka. Kau terlalu khawatir dalam hal ini. Ayo cepat, permainan sebentar lagi dimulai!”

Akhirnya, dengan sedikit keraguan, Midun pun mengikuti Maun. Mereka berjalan beriringan menuju pasar. Midun adalah seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tahun, sudah menjadi guru mengaji di surau. Pakaiannya sederhana namun rapi—baju putih bersih dengan sarung yang terlipat rapi di pinggang. Setiap langkahnya tenang, mencerminkan ketenangan hati dan keluhuran budi.

Wajahnya tampan, dengan sorot mata yang jernih dan teduh. Badannya tegap, kuat, dan sehat. Tak ada kesan angkuh atau sombong dari dirinya, hanya ketenangan yang memancar dari setiap gerak-geriknya.

Tak lama kemudian, mereka tiba di pasar. Kerumunan orang sudah memadati tempat itu, dan suara riuh rendah terdengar di mana-mana. Permainan sepak raga akan segera dimulai.

Pasar di kampung itu terletak di tepi jalan besar. Di seberang jalan, berderet beberapa rumah dan warung makan sederhana. Di belakangnya, sungai kecil mengalir dengan suara gemericik yang menenangkan. Pasar ini hanya ramai sekali seminggu, yaitu setiap Jumat, dan itu pun hanya sampai tengah hari. Setelah itu, para pedagang biasanya membongkar lapaknya, kecuali beberapa dangau yang sengaja dibiarkan berdiri di tepi pasar. Dangau-dangau itu biasa digunakan musafir untuk beristirahat atau orang yang ingin berteduh dari terik matahari.

The Picture of Dorian Gray - Oscar Wilde
The Picture of Dorian Gray - Oscar Wilde
Rp44.250
Lihat di Shopee
Animal Farm - George Orwell
Animal Farm - George Orwell
Rp45.300
Lihat di Shopee
Coming Up for Air - George Orwell
Coming Up for Air - George Orwell
Rp63.750
Lihat di Shopee
The Adventure of Huckleberry Finn - Mark Twain
The Adventure of Huckleberry Finn - Mark Twain
Rp51.750
Lihat di Shopee
Northanger Abbey - Jane Austen (Mizan)
Northanger Abbey - Jane Austen (Mizan)
Rp75.650
Lihat di Shopee
Animal Farm - George Orwell
Animal Farm - George Orwell
Rp42.400
Lihat di Shopee

Saat Midun tiba, beberapa pemuda segera menyambutnya dengan wajah berseri.

“Midun! Akhirnya kau datang juga!” seru salah seorang dari mereka sambil memukul pelan bahu Midun.

Yang lain segera mengelilinginya, bersalaman dengan hangat. Begitu pula ketika Midun mendekati kelompok orang tua yang duduk di pinggir lapangan, mereka semua menyambutnya dengan senyum lebar dan jabatan tangan yang erat. Sorot mata mereka berbinar-binar, menunjukkan kegembiraan yang tulus.

Mengapa mereka begitu menyukai Midun? Pemuda ini memang istimewa. Budi pekertinya luhur, tutur katanya lembut seperti embun pagi. Tertawanya punya daya penawar—sedap didengar, menyejukkan hati. Ia pemberani namun rendah hati, penyayang namun tegas. Kesabarannya luar biasa; jarang sekali orang melihatnya marah.

Tapi yang paling istimewa adalah karisma alaminya. Siapa pun yang berada di dekat Midun pasti merasa nyaman. Kesedihan seolah luruh oleh kehadirannya. Tak heran jika semua orang di kampung itu—tua muda, besar kecil—sangat menyayanginya. Nama Midun selalu terukir indah di bibir mereka, dan kelakuannya dijadikan teladan.

Di tengah keramaian pasar, orang-orang sudah duduk berkelompok di tempat yang disediakan. Para penonton yang ingin menyaksikan permainan sepak raga juga sudah berdatangan. Anak-anak kecil berlarian ke sana kemari, mencari tempat strategis untuk menonton. Beberapa di antara mereka bermain kejar-kejaran atau duduk-duduk sambil menunggu permainan dimulai.

Suasana di pasar itu gelisah, seolah semua orang tidak bisa diam. Sesekali, pandangan mereka tertuju ke jalan besar, seakan menantikan sesuatu—atau seseorang.

Dan tiba-tiba…

Seorang pemuda muncul dari ujung jalan. Ia mengenakan celana batik berwarna gelap, baju Cina berkerawang emas di bagian saku dan punggung. Kopiah sutera hitam menutupi kepalanya, sementara kakinya mengenakan terompah kayu yang berbunyi ‘klak-klok’ setiap melangkah. Sarung Bugis bermotif indah dililitkan di pinggangnya, menambah kesan anggun—atau lebih tepatnya, kesan ingin terlihat anggun.

Dari kejauhan, pemuda itu tampak gagah. Tapi begitu dekat, yang terlihat justru kesombongannya. Cara berjalannya terlalu dibuat-buat, seperti ayam jago yang ingin pamer bulu. Beberapa orang pengiring mengikutinya dari belakang, menambah kesan ‘penting’ yang ingin ditampilkannya.

“Itu dia Engku Muda Kacak sudah datang,” bisik Maun kepada Midun dan yang lain.

Begitu mendengar nama itu disebut, orang-orang yang duduk berkelompok segera berdiri. Saat Kacak tiba di tengah pasar, mereka semua maju untuk bersalaman—tapi tidak seperti sambutan hangat yang diberikan kepada Midun. Kali ini, jabatan tangan mereka terasa kaku, wajah-wajah itu dipaksa tersenyum. Seolah ada ketakutan tersembunyi di balik sikap hormat mereka.

The Picture of Dorian Gray - Oscar Wilde
The Picture of Dorian Gray - Oscar Wilde
Rp44.250
Lihat di Shopee
Animal Farm - George Orwell
Animal Farm - George Orwell
Rp45.300
Lihat di Shopee
Coming Up for Air - George Orwell
Coming Up for Air - George Orwell
Rp63.750
Lihat di Shopee
The Adventure of Huckleberry Finn - Mark Twain
The Adventure of Huckleberry Finn - Mark Twain
Rp51.750
Lihat di Shopee
Northanger Abbey - Jane Austen (Mizan)
Northanger Abbey - Jane Austen (Mizan)
Rp75.650
Lihat di Shopee
Animal Farm - George Orwell
Animal Farm - George Orwell
Rp42.400
Lihat di Shopee

Sungguh ironis, nama “Kacak” yang berarti tampan sama sekali tidak mencerminkan sifat aslinya. Pemuda ini tinggi hati, sombong, dan kasar. Matanya yang juling selalu melirik sinis, alisnya yang tebal sering berkerut menunjukkan sikap angkuh. Hidungnya yang bengkok seolah melengkapi kesan buruknya.

Di kampung itu, Kacak dibenci banyak orang. Tutur katanya kasar, sering menyakiti perasaan. Tak ada sedikit pun sopan santun dalam dirinya. Ke mana-mana ia selalu membawa pengawal, seolah seorang raja kecil. Bahkan dalam urusan pemerintahan kampung, ia sering ikut campur—kadang lebih banyak urusannya daripada pamannya sendiri, Tuanku Laras.

Tapi tak ada yang berani menegurnya. Semua takut pada Tuanku Laras. Dan Kacak seolah tahu betul kekuasaannya—itulah sebabnya ia selalu bertindak semaunya.

“Sudah petang begini, jenang belum juga memulai permainan?” hardik Kacak dengan suara nyaring. Matanya yang juling menyapu kerumunan, seolah mencari seseorang.

“Sudah, Engku Muda,” jawab Maun dengan sopan sambil sedikit membungkuk. “Jenang sedang di warung nasi. Mungkin beliau menunggu kedatangan Tuan.”

“Bilang aku sudah datang!” seru Kacak dengan nada tinggi. “Matahari hampir tenggelam, masih juga berlama-lama!”

Tak lama kemudian, seorang lelaki berusia sekitar empat puluhan keluar dari warung nasi. Tubuhnya tegap, sorot matanya tajam—jenang permainan sepak raga. Begitu melihat Kacak, ia segera menghampiri.

“Sudah lama Engku Muda datang?” tanyanya sambil menjabat tangan Kacak.

“Lama,” jawab Kacak dengan muka masam. “Mengapa tidak dimulai saja? Apa harus menunggu matahari terbenam dulu?”

“Kami sudah siap dari tadi,” jawab jenang dengan hormat. “Hanya menunggu Engku Muda saja.”

“Kalau tak ada aku, rupanya permainan takkan jadi,” gerutu Kacak sambil melirik ke arah Midun.

Para penonton sudah duduk rapi di tempat yang disediakan. Jenang pun berkeliling, memberi salam kepada beberapa orang terhormat—bukan sekadar formalitas, tapi juga semacam permohonan izin untuk memulai acara.

“Rupanya banyak orang dari kampung lain datang hari ini,” ucap seorang penghulu sambil bersalaman dengan jenang.

“Benar, Datuk,” jawab jenang sambil mengangguk. “Sungguh ramai sekali.”

Setelah semua pemain berkumpul di tengah lapangan, jenang berdiri di pusat lingkaran. Matanya yang tajam mengamati setiap pemain. Tiba-tiba, ia berseru:

“Engku Muda Kacak! Permainan akan kita mulai!”

Suara jenang itu tegas, mengandung makna. Itu adalah sindiran halus agar Kacak segera memperbaiki posisinya yang asal-asalan.

Kacak tersentak. Pipinya memerah karena malu. Tapi di medan permainan ini, jenanglah yang paling berkuasa. Dengan wajah merah padam, ia menatap sekeliling, lalu meluruskan sikapnya dengan gerakan kasar.

The Picture of Dorian Gray - Oscar Wilde
The Picture of Dorian Gray - Oscar Wilde
Rp44.250
Lihat di Shopee
Animal Farm - George Orwell
Animal Farm - George Orwell
Rp45.300
Lihat di Shopee
Coming Up for Air - George Orwell
Coming Up for Air - George Orwell
Rp63.750
Lihat di Shopee
The Adventure of Huckleberry Finn - Mark Twain
The Adventure of Huckleberry Finn - Mark Twain
Rp51.750
Lihat di Shopee
Northanger Abbey - Jane Austen (Mizan)
Northanger Abbey - Jane Austen (Mizan)
Rp75.650
Lihat di Shopee
Animal Farm - George Orwell
Animal Farm - George Orwell
Rp42.400
Lihat di Shopee

Permainan pun dimulai. Jenang menendang raga ke udara dengan lihai, lalu berseru:

“Bagian Engku Muda Kacak!”

Kacak melompat, menendang bola itu tinggi-tinggi. “Bagianmu, Midun!” serunya sambil melihat ke arah Midun.

Midun yang berdiri tenang tiba-tiba menjadi pusat perhatian. Dengan gerakan gesit, ia menangkap bola itu, lalu memainkannya dengan lihai—sepuluh kali tendangan beruntun tanpa menyentuh tanah. Semua orang berdecak kagum.

Lalu dengan tendangan terakhir, ia mengembalikan bola ke arah Kacak. “Sambutlah, Engku Muda!”

Sorot mata Kacak menjadi tajam. Dalam hatinya, ia bergumam: “Berapa pun hebatnya kau, aku lebih baik.”

Ketika raga melambung tinggi, Kacak melangkah mundur untuk mengambil ancang-ancang. Wajahnya penuh konsentrasi, matanya tak lepas dari bola yang berputar di udara.

Tapi celaka—kakinya yang sebelah kiri tergelincir di atas tanah yang licin!

Dengan suara ‘bruk!’, tubuhnya yang sombong itu terjungkal ke tanah.

Para penonton terkesiap. Beberapa orang tersenyum, tapi segera menunduk atau berpura-pura batuk untuk menahan tawa. Tak ada yang berani tertawa terang-terangan—semua takut pada Kacak.

Saat Kacak terduduk kesakitan, seorang pemuda berbadan kecil dengan wajah ceria tiba-tiba berseru:

“Cempedak hutan!”

Itu adalah Kadirun, teman masa kecil Midun. Pemuda ini terkenal lucu dan pandai membuat orang tertawa. Hanya dengan melihat wajahnya saja, orang sudah ingin tersenyum.

Mendengar teriakan Kadirun, kawan-kawan mereka yang lain—yang juga sudah dewasa sekarang—langsung teringat kenangan masa kecil. Beberapa di antara mereka tak kuasa menahan tawa.

Kacak yang masih duduk di tanah langsung menegakkan kepala. Wajahnya merah padam.

“Apa maksudmu?!” hardiknya sambil menuding Kadirun.

Kadirun hanya tersenyum polos. “Tanyakan pada Midun,” jawabnya santai.

Mendengar nama Midun disebut, darah Kacak mendidih. Tanpa pikir panjang, ia bangkit dan menyerbu Midun. Tinjunya melayang, tapi Midun dengan tenang mengelak.

Kacak terus menyerang, tendangan dan pukulannya semakin kasar. Midun hanya mundur selangkah demi selangkah, menghindar dengan gerakan halus.

Hingga akhirnya, Midun terpojok ke sebuah dangau kayu. Kacak yang emosional menerjang dengan sekuat tenaga—tapi justru tangannya menabrak tiang penyangga dangau itu!

Dengan suara berderak, tiang itu patah. Atap dangau yang terbuat dari rumbia itu runtuh menimpa Kacak, menyisakan kepalanya yang tersembul di antara tumpukan daun rumbia.

Suasana pun ricuh. Orang-orang tertawa terbahak-bahak, meski beberapa berusaha menahannya. Jenang segera melompat ke depan untuk melerai.

Setelah Kacak berhasil keluar dari tumpukan rumbia, Midun diminta menjelaskan arti “cempedak hutan” yang disebut Kadirun tadi.

“Dengarlah, Engku Muda,” kata Midun dengan suara tenang. “Mereka tidak menertawakanmu. Mereka hanya teringat kenangan masa kecil kami.”

Lalu ia pun bercerita tentang suatu hari ketika mereka masih kecil, menggembalakan kerbau di hutan. Saat itu, mereka mendengar suara aneh dan mengira itu harimau. Semua ketakutan, berhimpitan seperti onggokan kecil. Ternyata, itu hanya suara buah cempedak hutan yang jatuh. Sejak saat itu, Kadirun selalu diolok-olok dengan sebutan “cempedak hutan”.

Mendengar cerita Midun, orang-orang semakin tergelak. Tawa mereka pecah, tak bisa dibendung lagi.

Kacak berdiri di sana, wajahnya merah padam. Rasanya dunia ini berputar. Dengan pandangan penuh kebencian kepada Midun, ia akhirnya memutuskan pergi. Langkahnya berat, tapi penuh amarah.

Permainan sepak raga pun dihentikan. Hari sudah semakin petang. Orang-orang beranjak pulang, membawa cerita tentang kejadian hari itu.

Sementara Midun berjalan kembali ke surau, pikirannya tak tenang. Ia terus membayangkan tatapan Kacak tadi—sorot mata yang penuh dendam. Hatinya berdebar-debar, ada firasat buruk yang mengganggunya.

Tapi kemudian ia menghela napas panjang.

“Ah, tak ada utang tak perlu bayar, tak ada salah tak perlu takut,” bisiknya pada diri sendiri. “Masakan hanya karena gurauan kecil, Kacak akan mendendam?”

Namun di sudut hatinya yang paling dalam, Midun tahu—pertemuan hari ini bukan akhir. Sesuatu yang lebih besar mungkin sedang menanti.

Dan ia harus siap menghadapinya.

Akses Terjemahan Gratis

Kamu telah mencapai kuota maksimal bab untuk pembaca tamu (unregistered members). Daftar akun GRATIS untuk melanjutkan membaca sampai tamat.

1 bab gratis5 bab total
Daftar Sekarang

Dukung Penulis/Penerjemah Novel Favoritmu

0 Total Vote
0 Pemberi Vote
Rp 0 Komisi Penulis/Penerjemah

💖 Suka baca cerita ini?

Bantu KlikNovel menerjemahkan lebih banyak novel public domain seperti Sengsara Membawa Nikmat karya Tulis Sutan Sati ini. Scan QR Code untuk berdonasi via Saweria 🙏

Lihat semua opsi kontribusi

Sherlock Holmes - A Study in Scarlet
Sherlock Holmes - A Study in Scarlet
Rp40.150
Lihat di Shopee
The Old Man and the Sea - Ernest Hemingway
The Old Man and the Sea - Ernest Hemingway
Rp46.500
Lihat di Shopee
The Golden Road - L. M. Montgomery
The Golden Road - L. M. Montgomery
Rp52.500
Lihat di Shopee
Pollyanna - Eleanor H. Potter
Pollyanna - Eleanor H. Potter
Rp37.500
Lihat di Shopee
The Adventure of Huckleberry Finn - Mark Twain
The Adventure of Huckleberry Finn - Mark Twain
Rp51.750
Lihat di Shopee
Pulang - Leila S. Chudori
Pulang - Leila S. Chudori
Rp117.000
Lihat di Shopee

📝 Belum ada komentar untuk bab ini. Jadilah yang pertama berkomentar!

The Sexy Secret - Indah Hanaco
The Sexy Secret - Indah Hanaco
Rp71.250
Lihat di Shopee
Kumpulan Cerpen Terbaik DH Lawrence
Kumpulan Cerpen Terbaik DH Lawrence
Rp104.250
Lihat di Shopee
Winnetou 3 - Karl May
Winnetou 3 - Karl May
Rp80.000
Lihat di Shopee
The Valley of Fear - Sir Arthur Conan Doyle
The Valley of Fear - Sir Arthur Conan Doyle
Rp59.250
Lihat di Shopee
The Island of Doctor Moreau - H.G. Wells
The Island of Doctor Moreau - H.G. Wells
Rp33.750
Lihat di Shopee
The Return of Sherlock Holmes - Sir Arthur Conan Doyle
The Return of Sherlock Holmes - Sir Arthur Conan Doyle
Rp81.750
Lihat di Shopee