Rekomendasi
The Adventures of Sherlock Holmes
The Adventures of Sherlock Holmes
Lihat Buku
Rekomendasi
Pride and Prejudice - Jane Austen
Pride and Prejudice - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
Little Women - Louisa May Alcott
Little Women - Louisa May Alcott
Lihat Buku
Rekomendasi
Kumpulan Cerpen Terbaik HG Wells
Kumpulan Cerpen Terbaik HG Wells
Lihat Buku
Rekomendasi
The Old Man and the Sea - Ernest Hemingway
The Old Man and the Sea - Ernest Hemingway
Lihat Buku
Rekomendasi
Moby Dick - Herman Melville
Moby Dick - Herman Melville
Lihat Buku

Bab 3 – Dimusuhi

• Sengsara Membawa Nikmat •

👁️ 11 tayangan

Di kampung itu sudah menjadi adat turun-temurun, apabila ada pekerjaan berat, orang-orang suka bergotong-royong. Pekerjaan yang dilakukan dengan sukarela ini hampir tak pernah meminta upah. Apalagi dalam keadaan darurat seperti kebakaran, mereka rela mempertaruhkan nyawa untuk menolong sesama warga. Bukan hanya di kampung ini, melainkan di seluruh tanah Minangkabau, tradisi tolong-menolong ini telah mengakar sejak zaman nenek moyang. Mulai dari mengerjakan sawah, mendirikan rumah, hingga pekerjaan berat lainnya, semuanya dikerjakan bersama-sama dengan semangat kebersamaan.

Musim menuai padi sudah hampir tiba. Waktu itu juga tak lama lagi bulan puasa akan datang. Setiap hari, bendi-bendi dari Bukittinggi tak pernah berhenti mengantar orang-orang yang pulang merantau, berhenti di pasar kampung itu. Mereka adalah para perantau yang telah bertahun-tahun merantau mencari nafkah di negeri orang.

Karena itu, pasar kampung itu ramai setiap hari. Banyak orang menanti-nantikan kedatangan sanak saudara mereka. Setiap kali bendi terlihat dari kejauhan, hati mereka berdebar-debar, berharap di atas bendi itu ada ayah, mamak, adik, atau kerabat lainnya yang pulang.

Hanya dalam hitungan hari, kampung itu sudah riuh oleh kedatangan para perantau. Yang dibicarakan orang hanya satu: kabar tentang mereka yang baru pulang. Para perantau itu pun tak ketinggalan bercerita tentang pengalaman mereka selama di rantau, tentang susah payah hidup di negeri orang, dan keadaan tempat mereka berdagang.

Tak lama kemudian, tersiarlah kabar bahwa si A yang pulang dari negeri Anu telah membeli sawah untuk adik dan ibunya. Si B yang juga pulang dari negeri yang sama, telah membangun rumah baru untuk keluarganya. Beragam cerita sukses terdengar, banyak di antara mereka yang menginvestasikan hasil jerih payahnya untuk masa depan.

Hal ini membuat banyak warga kampung yang belum merantau tergiur untuk mencoba peruntungan. Namun, tak semua pulang dengan keberhasilan. Ada yang pulang dengan tangan hampa, bahkan membawa penyakit dari negeri orang. Mereka ini biasanya yang ceroboh dan boros selama di rantau, tak memikirkan hari esok, hanya memuaskan hawa nafsu semata.

Rekomendasi
Romeo & Juliet - William Shakespeare
Romeo & Juliet - William Shakespeare
Lihat Buku
Rekomendasi
The Secret Garden - Frances Hodson Burnett
The Secret Garden - Frances Hodson Burnett
Lihat Buku
Rekomendasi
Pride and Prejudice - Jane Austen
Pride and Prejudice - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
Around the World in Eighty Days - Jules Verne
Around the World in Eighty Days - Jules Verne
Lihat Buku
Rekomendasi
A Study in Scarlet - Sir Arthur Conan Doyle
A Study in Scarlet - Sir Arthur Conan Doyle
Lihat Buku
Rekomendasi
The Ladies\' Paradise - Émile Zola
The Ladies\' Paradise - Émile Zola
Lihat Buku

Pada suatu malam, Pak Midun berkata kepada anaknya, “Midun, beritahukanlah pada kawan-kawanmu bahwa hari Ahad depan kita akan mengirik padi di sawah. Sampaikan juga pada Pendekar Sutan dan murid-muridnya. Orang lain yang menurutmu pantas diundang, undanglah! Kali ini kita akan memotong kambing untuk menjamu para tamu yang datang membantu. Menyembelih kambing sendiri tak jauh beda harganya dengan membeli daging di pasar.”

Kemudian Pak Midun berpaling pada istrinya, “Polam, sampaikan pada keluarga kita bahwa hari Ahad kita akan mengirik padi. Beri tahu juga ipar besan, undang warga kampung yang akan membantu mengirik, mengangin padi, dan yang mau membantu di dapur. Semua itu tugasmu.”

Ibu dan Midun mengangguk, menyetujui perkataan suami dan ayah mereka. Midun lalu menambahkan, “Karena kita akan menyembelih kambing, tidakkah lebih baik kita ramaikan acara ini dengan puput, salung, dan pencak silat secukupnya, Ayah?”

“Hal itu lebih baik kau bicarakan dengan mamakmu, Datuk Paduka Raja. Aku sudah memberitahunya bahwa kita akan mengirik padi hari Ahad. Jika dia setuju, kenapa tidak? Malah lebih baik.”

“Baik, Ayah! Sekarang juga aku akan menemui beliau. Setelah itu aku akan ke rumah Bapak Pendekar Sutan.”

Hari Ahad pagi-pagi, Midun sudah memikul tongkat pengirik menuju sawah. Sesampainya di sana, ia membersihkan tunggul-tunggul padi untuk tempat orang mengirik. Kemudian ia membuat sebuah lapangan kecil untuk tempat bermain pencak silat, berpuput, dan bersalung. Tikar untuk tempat mengirik pun dibentangkannya. Setelah itu, ia menurunkan padi seonggok demi seonggok dari timbunannya.

Tak lama kemudian, orang-orang mulai berdatangan ke sawah Pak Midun. Berduyun-duyun, dalam jumlah yang banyak. Mereka disambut oleh Midun dan ayahnya dengan sopan, lalu dipersilakan duduk di tikar yang telah disediakan. Dengan hormat, Midun meletakkan cerana berisi sirih di hadapan tamu-tamunya. Rokok yang telah disiapkan pun tak lupa dihidangkan.

Setelah bercakap-cakap sejenak, pengirikan padi pun dimulai. Midun bertugas mengambil padi yang sudah diirik. Para perempuan sibuk memisahkan jerami dari gabah. Suasana di sawah Midun sangat meriah. Sorak-sorai dan canda tawa para pemuda tak ketinggalan. Tertawa dan gurauan terdengar di mana-mana. Rupanya, orang-orang sangat menikmati pekerjaan mereka di sawah Midun yang ramah itu. Bunyi hentakan tongkat pengirik menandakan bahwa padi di tempat itu sudah habis, seperti suara orang menumbuk padi di lesung.

Rekomendasi
Romeo & Juliet - William Shakespeare
Romeo & Juliet - William Shakespeare
Lihat Buku
Rekomendasi
The Secret Garden - Frances Hodson Burnett
The Secret Garden - Frances Hodson Burnett
Lihat Buku
Rekomendasi
Pride and Prejudice - Jane Austen
Pride and Prejudice - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
Around the World in Eighty Days - Jules Verne
Around the World in Eighty Days - Jules Verne
Lihat Buku
Rekomendasi
A Study in Scarlet - Sir Arthur Conan Doyle
A Study in Scarlet - Sir Arthur Conan Doyle
Lihat Buku
Rekomendasi
The Ladies\' Paradise - Émile Zola
The Ladies\' Paradise - Émile Zola
Lihat Buku

Belum lama matahari naik, setimbun besar padi sudah selesai diirik.

Setelah itu, Midun mempersilakan para tamu beristirahat di lapangan yang telah disiapkan. Setelah makan minum, acara hiburan pun dimulai. Bunyi salung dan puput yang diiringi nyanyian mengalun merdu. Kemudian ada yang berbalas pantun, ada yang memperagakan pencak silat, dan ada pula yang menari dengan piring. Sementara itu, para perempuan sibuk menganginkan padi sambil menonton pertunjukan. Demikianlah suasana di sawah Midun hingga padi selesai diirik dan dianginkan.

Setelah padi dimasukkan ke dalam sumpit (wadah anyaman dari bambu), acara pun berakhir. Peralatan kecil dibawa pulang ke rumah. Saat pulang, setiap orang membawa sesumpit padi di pundaknya untuk diantarkan ke lumbung Pak Midun. Sepanjang jalan, mereka tetap bersalung dan berpuput, diiringi canda tawa yang riuh.

Tak jauh dari sawah Pak Midun, ada sawah milik istri Kacak. Luas kedua sawah itu hampir sama. Kebetulan, di sawah istri Kacak juga diadakan pengirikan padi pada hari yang sama. Namun, tak banyak orang yang datang ke sana. Yang hadir kebanyakan hanya keluarga dekatnya. Meski ada beberapa warga lain yang datang, terlihat jelas dari raut wajah mereka bahwa kehadirannya hanya sekadar formalitas, karena sawah itu milik kemenakan Tuanku Laras.

Bagi mereka, membantu mengirik di sawah Kacak seperti menjalankan kewajiban yang membosankan. Suasana di sana sangat berbeda dengan sawah Midun. Tak ada sorak-sorai, apalagi tawa riang. Mereka bekerja dengan wajah muram, tanpa semangat. Karena kurangnya antusiasme dan jumlah orang yang membantu, padi tak selesai diirik hari itu. Terpaksa dilanjutkan keesokan harinya.

Rekomendasi
Romeo & Juliet - William Shakespeare
Romeo & Juliet - William Shakespeare
Lihat Buku
Rekomendasi
The Secret Garden - Frances Hodson Burnett
The Secret Garden - Frances Hodson Burnett
Lihat Buku
Rekomendasi
Pride and Prejudice - Jane Austen
Pride and Prejudice - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
Around the World in Eighty Days - Jules Verne
Around the World in Eighty Days - Jules Verne
Lihat Buku
Rekomendasi
A Study in Scarlet - Sir Arthur Conan Doyle
A Study in Scarlet - Sir Arthur Conan Doyle
Lihat Buku
Rekomendasi
The Ladies\' Paradise - Émile Zola
The Ladies\' Paradise - Émile Zola
Lihat Buku

Melihat keramaian di sawah Midun, Kacak diliputi perasaan iri yang amat sangat. Kebenciannya pada Midun semakin menjadi-jadi. Apalagi mendengar sorak-sorai dan tawa riang dari sawah Midun, hatinya seperti diremas-remas.

Dalam hati, Kacak bergumam, “Jika dibiarkan, Midun akan menjadi raja di kampung ini. Setiap hari, temannya bertambah banyak, dan orang semakin menyukainya. Tua muda, laki-laki perempuan, semua menyayanginya. Bahkan dia dihormati dan dimuliakan seperti orang besar. Hampir setara dengan mamakku, Tuanku Laras. Padahal dia hanya anak peladang biasa!”

“Aku ini kemenakan Tuanku Laras, bangsawan di kampung ini, tapi tak dihormati seperti dia. Temanku bisa dihitung dengan jari. Warga kampung hampir tak ada yang menyukaiku. Ini jelas terlihat saat mereka bertemu denganku di jalan. Seolah mereka mencari cara untuk menghindariku. Sekarang aku sadar, Midunlah biang keladinya! Karena dialah orang-orang kampung membenciku. Lihatlah buktinya, ke sawahnya orang berbondong-bondong, sedangkan ke sawah istriku hanya sedikit.”

“Mulai sekarang, dia adalah musuhku!”

“Sayang aku tak bisa menghajarnya habis-habisan waktu perkelahian di pasar dulu, karena terlalu banyak orang. Jika bisa, kuhajar dia sampai muntah darah! Aku jamin, dengan ilmu starlakku, sekali serang saja, dia akan terkapar dengan busa di mulutnya!”

“Sabarlah! Waktunya akan tiba. Pada saatnya nanti, aku pasti bisa membalas sakit hatiku padanya. Ingat-ingatlah Midun! Kau pasti akan merasakan akibat dari perbuatanku, meski kau sudah belajar dari Haji Abbas. Kita akan lihat nanti, mana yang lebih hebat antara silatmu dan starlakku!”

“Tidakkah kau sadar bahwa di sini aku adalah kemenakan Tuanku Laras? Boleh bersultan di mata, berada di hati? Tidakkah kau paham bahwa sebagai kemenakan pemimpin kampung ini, aku bisa berbuat sekehendak hatiku? Ah, rupanya dia perlu tahu siapa diriku sebenarnya!”

Sejak hari itu, Kacak memendam kebencian yang mendalam pada Midun. Ia bertekad suatu saat akan memberi pelajaran pada Midun. Kebenciannya kian hari kian menjadi.

Setiap kali bertemu Midun di jalan, meski disapa, Kacak tak pernah menjawab. Kadang ia sengaja meludah untuk menunjukkan rasa jijik dan bencinya. Kacak terus mencari-cari kesempatan untuk berkelahi dengan Midun.

Midun menyadari kebencian Kacak itu. Tapi ia bingung, apa penyebabnya? Ia merasa tak pernah berbuat salah pada kemenakan Tuanku Laras itu. Bahkan dalam perkelahian saat bermain sepak raga dulu, ia sama sekali tak menyentuh Kacak. Lagipula, masalah itu sebenarnya disebabkan oleh Kadirun, bukan dirinya.

Kadang Midun berpikir, mungkin ludahan Kacak itu tak disengaja. Karena itu, ia tak terlalu menghiraukannya. Tak terpikir sedikit pun olehnya bahwa Kacak telah menganggapnya sebagai musuh yang harus dihancurkan.

Sengsara Membawa Nikmat Bab 3 / 5
Sengsara Membawa Nikmat
Sisa 1 bab lagi yang bisa kamu baca tanpa membuat akun KlikNovel.
Progres Zona Bebas: 75%

💝 Suka terjemahan ini?

Dukung KlikNovel menerjemahkan lebih banyak novel klasik seperti Sengsara Membawa Nikmat.

Rekomendasi
Pollyanna - Eleanor H. Potter
Pollyanna - Eleanor H. Potter
Lihat Buku
Rekomendasi
The Phantom of the Opera - Gaston Leroux
The Phantom of the Opera - Gaston Leroux
Lihat Buku
Rekomendasi
Macbeth - William Shakespeare
Macbeth - William Shakespeare
Lihat Buku
Rekomendasi
The Necklace and Other Stories - Guy de Maupassant
The Necklace and Other Stories - Guy de Maupassant
Lihat Buku
Rekomendasi
Northanger Abbey - Jane Austen (Mizan)
Northanger Abbey - Jane Austen (Mizan)
Lihat Buku
Rekomendasi
Northanger Abbey - Jane Austen (Gramedia)
Northanger Abbey - Jane Austen (Gramedia)
Lihat Buku

📝 Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!

Rekomendasi
Animal Farm - George Orwell
Animal Farm - George Orwell
Lihat Buku
Rekomendasi
Northanger Abbey - Jane Austen (Gramedia)
Northanger Abbey - Jane Austen (Gramedia)
Lihat Buku
Rekomendasi
Northanger Abbey - Jane Austen (Shandi Publisher)
Northanger Abbey - Jane Austen (Shandi Publisher)
Lihat Buku
Rekomendasi
Mrs. Daloway - Virginia Woolf
Mrs. Daloway - Virginia Woolf
Lihat Buku
Rekomendasi
Pollyanna - Eleanor H. Potter
Pollyanna - Eleanor H. Potter
Lihat Buku
Rekomendasi
The Valley of Fear - Sir Arthur Conan Doyle
The Valley of Fear - Sir Arthur Conan Doyle
Lihat Buku
×
×