Rekomendasi
Animal Farm - George Orwell
Animal Farm - George Orwell
Lihat Buku
Rekomendasi
Emma - Jane Austen (Shandi Publisher)
Emma - Jane Austen (Shandi Publisher)
Lihat Buku
Rekomendasi
Kumpulan Cerpen Terbaik Guy de Maupassant
Kumpulan Cerpen Terbaik Guy de Maupassant
Lihat Buku
Rekomendasi
Frankenstein - Mary Shelley
Frankenstein - Mary Shelley
Lihat Buku
Rekomendasi
Sherlock Holmes - A Study in Scarlet
Sherlock Holmes - A Study in Scarlet
Lihat Buku
Rekomendasi
Poirot\\\\\\\'s Early Cases - Agatha Christie
Poirot\\\\\\\'s Early Cases - Agatha Christie
Lihat Buku

Bab 4 – Membalas Dendam

• Sengsara Membawa Nikmat •

👁️ 13 tayangan

Pada suatu hari, pasar di kampung itu sangat ramai. Orang-orang berdatangan dari berbagai penjuru. Ada yang berbelanja, ada pula yang menjual hasil kebun mereka. Para pedagang kecil dari Bukittinggi juga banyak yang datang, ada yang menjual kain-kain, ada pula yang membeli hasil bumi.

Tak heran pasar begitu ramai, karena sebentar lagi bulan puasa tiba. Saat orang sibuk berjual-beli, tiba-tiba terdengar teriakan, “Awas, Pak Inuh lepas! Pak Inuh lepas! Dia bawa pisau!” Seketika itu juga, orang-orang di pasar berlarian ketakutan. Mereka bersembunyi, menghindari Pak Inuh. Para pedagang meninggalkan lapak mereka, pembeli pun lupa membawa barang yang sudah dibayar. Suasana kacau balau, tak terkendali.

Pak Inuh sendiri adalah seorang warga kampung itu, masih keluarga Tuanku Laras. Usianya sudah lebih dari 45 tahun.

Dulu, di masa mudanya, Pak Inuh dikenal gagah berani. Selain Haji Abbas, tak ada seorang pun yang berani melawannya. Warga kampung segan dan takut padanya. Ketika Tuanku Laras menjadi Penghulu Kepala, pernah terjadi kerusuhan di kampung itu. Saat itulah Pak Inuh berjasa mengamankan negeri. Tanpa minta bantuan pemerintah, ia berhasil memulihkan ketertiban.

Tapi kenapa sekarang orang ketakutan saat Pak Inuh muncul? Rupanya, pikiran Pak Inuh sudah berubah. Ia kini tak waras lagi. Sudah empat tahun ia kehilangan akal sehatnya. Selama itu, Tuanku Laras tak pernah mengizinkannya keluar rumah. Jika dilepas, ia selalu mengganggu orang. Karena itu, Tuanku Laras membangunkan rumah khusus untuknya. Entah bagaimana, hari itu Pak Inuh berhasil kabur. Ini sudah kedua kalinya. Begitu sampai di pasar, ia langsung merusuh. Barang-barang orang ia lempar ke sana kemari, warga ia kejar sambil berteriak-teriak. Jika ada yang tertangkap, ia pukul dan terjang.

Kali ini, Pak Inuh datang membawa pisau. Hal itu membuat orang semakin ketakutan. Tak ada yang berani mendekat, apalagi menangkapnya. Selain karena Pak Inuh membawa senjata, ia juga masih kuat. Lagi pula, siapa pun yang berani menangkapnya pasti akan berurusan dengan Tuanku Laras. Jadi, orang-orang hanya membiarkannya mengamuk di tengah pasar. Kalau bukan Tuanku Laras sendiri, sulit menangkapnya. Tapi sayang, Tuanku Laras sedang pergi ke Bukittinggi. Tanpa ada yang menahan, ulah Pak Inuh semakin menjadi-jadi. Sungguh memilukan melihat kejadian itu.

Rekomendasi
Little Women - Louisa May Alcott
Little Women - Louisa May Alcott
Lihat Buku
Rekomendasi
Romeo & Juliet - William Shakespeare
Romeo & Juliet - William Shakespeare
Lihat Buku
Rekomendasi
Sense and Sensibility - Jane Austen (Shandi Publisher)
Sense and Sensibility - Jane Austen (Shandi Publisher)
Lihat Buku
Rekomendasi
Northanger Abbey - Jane Austen (Gramedia)
Northanger Abbey - Jane Austen (Gramedia)
Lihat Buku
Rekomendasi
Pride and Prejudice - Jane Austen
Pride and Prejudice - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
The Return of Sherlock Holmes
The Return of Sherlock Holmes
Lihat Buku

Laki-laki, perempuan, semua berlarian pontang-panting. Banyak anak-anak terinjak karena terjatuh. Di sana-sini terdengar jeritan orang kesakitan, ada yang terantuk, ada yang terpelanting. Yang paling menyedihkan adalah para ibu yang sedang menggendong anak. Sambil memeluk anak, mereka tetap harus lari menyelamatkan diri.

Midun kebetulan sedang ada di pasar. Ia duduk di sebuah warung nasi ketika kejadian itu terjadi.

Hampir-hampir Midun tak bisa menahan emosinya. Ia sangat sedih melihat para ibu berlarian ketakutan. Dalam hati ia berpikir, “Kalau dilaporkan ke Tuanku Laras, beliau sedang tidak ada. Jika dibiarkan, Pak Inuh pasti akan melukai banyak orang. Lagi pula, dia membawa pisau. Bisa-bisa ada yang tewas karena ulahnya. Ini tidak boleh dibiarkan.” Saat Midun melihat seorang perempuan diinjak-injak oleh Pak Inuh, ia pun melompat ke tengah pasar untuk mengejarnya.

Begitu Pak Inuh melihat Midun, ia berteriak, “Hei, anak kecil! Ini dia santapan pisauku!” Sambil melompat, ia menyerang Midun. Namun, Midun sama sekali tidak gentar. Ia menunggu dengan tenang. Orang-orang yang melihatnya justru merasa ngeri. Para ibu berteriak meminta Midun lari, khawatir ia celaka. Dengan gesit, Midun menangkis serangan pisau itu. Dalam sekejap, pisau Pak Inuh berhasil direbutnya. Pisau itu langsung ia lempar jauh-jauh, lalu disuruhnya orang lain mengambilnya.

Pak Inuh murka dan menyerang Midun sekuat tenaga. Namun, Midun dengan mudah menjatuhkannya, lalu menangkapnya. Meski Pak Inuh berusaha melepaskan diri, ia tak berdaya. Midun berkata, “Tenanglah, Mamak. Aku takkan melepaskanmu.” Midun lalu menyuruh orang mengambil tali untuk mengikat Pak Inuh. Setelah terikat, ia membujuk Pak Inuh agar tenang. Dibawanya ke warung nasi, diberinya makan. Luka di kening Pak Inuh akibat terjatuh dibalutnya. Kemudian, ia mengantarkannya pulang ke rumah keluarganya.

Rekomendasi
Little Women - Louisa May Alcott
Little Women - Louisa May Alcott
Lihat Buku
Rekomendasi
Romeo & Juliet - William Shakespeare
Romeo & Juliet - William Shakespeare
Lihat Buku
Rekomendasi
Sense and Sensibility - Jane Austen (Shandi Publisher)
Sense and Sensibility - Jane Austen (Shandi Publisher)
Lihat Buku
Rekomendasi
Northanger Abbey - Jane Austen (Gramedia)
Northanger Abbey - Jane Austen (Gramedia)
Lihat Buku
Rekomendasi
Pride and Prejudice - Jane Austen
Pride and Prejudice - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
The Return of Sherlock Holmes
The Return of Sherlock Holmes
Lihat Buku

Sehari-hari setelah itu, orang hanya membicarakan Midun. Tua muda, laki-laki perempuan, semua memuji keberanian dan ketangkasannya menangkap Pak Inuh. Ketiga orang tua Midun pun terkejut mendengar kabar itu. Mereka tahu betul betapa berani dan kuatnya Pak Inuh dulu. Perbuatan Midun dipuji oleh mereka. Hanya saja, mereka khawatir kalau keluarga Tuanku Laras tidak terima karena Pak Inuh terluka. Tapi mereka yakin, jika Tuanku Laras berpikir jernih, ia justru akan berterima kasih pada Midun.

Bukankah Midun telah menjaga keamanan kampung?

Kacak juga mendengar kabar itu. Saat kejadian berlangsung, ia sedang di kantor Tuanku Laras. Begitu tahu, ia langsung berlari ke pasar. Tapi Midun sudah tidak ada. Pak Inuh—yang merupakan mamaknya Kacak—sudah dibawa pulang. Ketika Kacak melihat luka di kening Pak Inuh, ia bertanya pada seseorang tentang bagaimana Midun menangkap mamaknya.

Orang itu menceritakan apa yang dilihatnya.

“Kalau tidak ada Midun,” katanya, “mungkin sudah banyak yang tewas di pasar tadi. Untung pisau di tangan Pak Inuh cepat direbut Midun.”

“Lalu kenapa Pak Inuh sampai terluka?” tanya Kacak dengan marah.

“Dia terjatuh saat Midun menghindari tikamannya,” jawab orang itu.

Mendengar itu, Kacak bukannya memuji Midun, malah semakin sakit hati. Ia sangat marah karena Midun berani melukai keluarga Tuanku Laras.

“Sekarang jelas, Midun adalah musuhku,” batin Kacak. “Sudah kau lukai mamakku, kau balut lukanya. Kau pikir kami tak akan marah? Kurang ajar! Nanti kau dapat balasanku. Begitu Tuanku Laras pulang, akan kuceritakan semuanya. Anak petani jahanam berani melukai keluarga raja di kampung ini?!”

Keesokan harinya, pagi-pagi, datanglah utusan Tuanku Laras memanggil Midun ke rumah orang tuanya. Saat itu, Midun sedang makan.

“Midun, Tuanku Laras memanggilmu sekarang juga!” kata utusan itu.

“Baik, Mamak. Sebentar, aku habiskan makan dulu,” jawab Midun.

“Berhenti makan! Beliau menyuruhmu datang secepatnya!” hardik utusan itu.

Rekomendasi
Little Women - Louisa May Alcott
Little Women - Louisa May Alcott
Lihat Buku
Rekomendasi
Romeo & Juliet - William Shakespeare
Romeo & Juliet - William Shakespeare
Lihat Buku
Rekomendasi
Sense and Sensibility - Jane Austen (Shandi Publisher)
Sense and Sensibility - Jane Austen (Shandi Publisher)
Lihat Buku
Rekomendasi
Northanger Abbey - Jane Austen (Gramedia)
Northanger Abbey - Jane Austen (Gramedia)
Lihat Buku
Rekomendasi
Pride and Prejudice - Jane Austen
Pride and Prejudice - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
The Return of Sherlock Holmes
The Return of Sherlock Holmes
Lihat Buku

Dengan tergesa-gesa, Midun cuci tangan lalu berangkat ke kantor Tuanku Laras.

“Tunggu,” kata utusan itu lagi, “kau harus dibelenggu, itu perintah yang kuterima.”

“Apa kesalahanku sampai harus dibelenggu seperti perampok, Mamak?” protes Midun.

“Aku tidak tahu. Nanti kau bisa jawab di sana,” ujar utusan itu.

Midun bingung, tak tahu kenapa ia dibelenggu. Pikirannya kacau karena ia merasa tidak bersalah. Dengan tangan terbelenggu, ia diarak melewati pasar. Midun sangat malu, seolah-olah ia penjahat besar. Tapi apa boleh buat, ia harus menurut. Sepanjang jalan ke kantor Tuanku Laras, berbagai pikiran muncul di benaknya. Akhirnya ia sadar, pasti ini terkait penangkapan Pak Inuh kemarin. Selain itu, ia merasa tak punya kesalahan lain. Ia yakin, pasti ada yang memfitnahnya.

Midun juga mulai paham kenapa ia diperlakukan kasar. Pasti luka Pak Inuh dijadikan alasan untuk memojokkannya. Saat itu, terbayanglah sosok yang mungkin berada di balik semua ini. Midun teringat pandangan penuh kebencian dari Kacak sebelumnya.

“Tidak apa,” batin Midun. “Asal Tuanku Laras mau mendengar penjelasanku, pasti beliau akan paham bahwa aku berbuat baik. Malah mungkin beliau akan memujiku karena telah menjaga keamanan kampung.”

Dengan hati tenang, Midun berjalan santai. Ia bahkan tak lagi merasa risau dengan belenggu di tangannya, karena ia yakin perbuatannya kemarin benar.

Orang-orang di pasar heran melihat Midun dibelenggu. Mereka tak percaya melihatnya diperlakukan seperti pencuri, padahal ia dikenal alim dan berbudi. Banyak yang bertanya-tanya apa kesalahan Midun. Sebagian menduga ini terkait penangkapan Pak Inuh, tapi yang lain membantah, “Tidak mungkin, karena perbuatan Midun kemarin justru baik. Kalau karena Pak Inuh, pasti ia tidak dibelenggu.”

Beragam spekulasi beredar. Karena penasaran, banyak orang yang mengikuti Midun ke kantor Tuanku Laras.

Ayah dan ibu Midun sangat gelisah melihat anaknya dibelenggu. Sang ibu hampir menangis karena sedih melihat anak kesayangannya diperlakukan seperti penjahat. Untung Pak Midun cepat menenangkannya dan menjelaskan kemungkinan penyebabnya. Pak Midun paham bahwa ini pasti terkait penangkapan Pak Inuh. Tapi ia heran, kenapa anaknya diperlakukan sekeras itu.

Rekomendasi
Little Women - Louisa May Alcott
Little Women - Louisa May Alcott
Lihat Buku
Rekomendasi
Romeo & Juliet - William Shakespeare
Romeo & Juliet - William Shakespeare
Lihat Buku
Rekomendasi
Sense and Sensibility - Jane Austen (Shandi Publisher)
Sense and Sensibility - Jane Austen (Shandi Publisher)
Lihat Buku
Rekomendasi
Northanger Abbey - Jane Austen (Gramedia)
Northanger Abbey - Jane Austen (Gramedia)
Lihat Buku
Rekomendasi
Pride and Prejudice - Jane Austen
Pride and Prejudice - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
The Return of Sherlock Holmes
The Return of Sherlock Holmes
Lihat Buku

Dengan cepat, Pak Midun menyelesaikan makannya, lalu bergegas ke kantor Tuanku Laras untuk mendengarkan persidangan anaknya. Di jalan, pikirannya melayang tak karuan. Jika ada yang menyapanya, ia tak mendengar, karena kepalanya penuh dengan kegelisahan.

Saat Midun hampir sampai di kantor, dari jauh ia melihat Tuanku Laras berdiri di beranda. Begitu dekat, Midun tak berani menatap wajahnya karena Tuanku Laras terlihat sangat marah.

Dengan suara menggelegar, Tuanku Laras bertanya, “Kau yang bernama Midun?”

“Ya, Tuanku,” jawab Midun.

“Masuk!” hardik Tuanku Laras.

Setelah Midun masuk, orang lain disuruh pergi. Tuanku Laras kembali bertanya dengan nada marah, “Berani benar kau memukul orang gila sampai terluka! Apa maumu menyakiti Pak Inuh yang tak waras itu? Kurang ajar kau, kerbau!”

“Bukan begitu, Tuanku!” jawab Midun.

Ia lalu menceritakan kejadian sebenarnya dari awal sampai akhir. Tapi Tuanku Laras sama sekali tak menghiraukan. Bukannya reda, kemarahannya malah semakin menjadi. Midun hanya menunduk, terus dimaki tanpa henti.

Setelah puas memarahi, Tuanku Laras akhirnya memberi keputusan.

“Sebenarnya kau pantas diadili dan dibawa ke Bukittinggi. Tapi kali ini aku maafkan. Sebagai pelajaran, kau dihukum enam hari. Kau harus memotong rumput empat ikat sehari. Setelah itu, bekerja di kantor ini dan jaga malam.”

Midun diam saja. Ia tak berani membantah. Saat akan keluar, ia bertanya, “Boleh hukuman itu mulai hari ini, Tuanku?”

“Ya, mulai hari ini!” jawab Tuanku Laras ketus.

Midun segera keluar dan menceritakan semuanya pada ayahnya.

Mendengar putusan itu, Pak Midun sedikit lega karena anaknya tidak dibawa ke Bukittinggi. “Terimalah dengan sabar, Midun. Asal masih di kampung ini, hukumannya tidak masalah. Aku bersyukur kau tidak dibawa ke Bukittinggi. Tapi sebenarnya kau tidak pantas dihukum, karena kau tidak bersalah. Kau berbuat baik, malah dihukum. Apa boleh buat. Bukankah Tuanku Laras raja kita yang berkuasa di sini?”

Rekomendasi
Little Women - Louisa May Alcott
Little Women - Louisa May Alcott
Lihat Buku
Rekomendasi
Romeo & Juliet - William Shakespeare
Romeo & Juliet - William Shakespeare
Lihat Buku
Rekomendasi
Sense and Sensibility - Jane Austen (Shandi Publisher)
Sense and Sensibility - Jane Austen (Shandi Publisher)
Lihat Buku
Rekomendasi
Northanger Abbey - Jane Austen (Gramedia)
Northanger Abbey - Jane Austen (Gramedia)
Lihat Buku
Rekomendasi
Pride and Prejudice - Jane Austen
Pride and Prejudice - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
The Return of Sherlock Holmes
The Return of Sherlock Holmes
Lihat Buku

Midun hanya diam mendengar kata ayahnya. Tapi orang-orang yang mengikutinya bersungut-sungut, merasa keputusan itu tidak adil.

Midun pulang mengambil sabit dan keranjang rumput. Di pasar, banyak orang mengerumuninya, menanyakan kenapa ia dipanggil. Midun menjelaskan bahwa ia dihukum karena menangkap dan melukai Pak Inuh. Menurutnya, itu sudah pantas karena ia melukai orang. Tapi orang-orang yang mendengar justru menggigit bibir, merasa Midun tidak seharusnya dihukum.

“Tidak adil! Cuma luka sedikit, padahal seharusnya serigala itu dibunuh. Kalau tidak ada Midun, mungkin kemarin pasar sudah banjir darah,” batin mereka.

Banyak warga yang bahkan rela menggantikan hukuman Midun. Ada yang mau memotong rumput sepuluh ikat sehari dan jaga kantor siang-malam asal Midun dibebaskan. Tapi permintaan mereka ditolak Midun.

“Siapa yang berutang, dialah yang bayar. Siapa yang bersalah, dialah yang dihukum. Aku yang bersalah, saudara-saudara yang dihukum, itu mustahil. Biarlah aku jalani hukumanku. Terima kasih atas kebaikan kalian.”

Setelah memotong rumput, Midun mengerjakan tugas lain: membersihkan kandang kuda, mencabut rumput di halaman kantor. Pekerjaan itu dilakukan tanpa henti, selalu diawasi Kacak. Kacak sengaja memberinya tugas berat. Bahkan untuk sekadar merokok pun Midun hampir tak sempat. Jika ia berhenti sebentar karena lelah, Kacak langsung menghardiknya dengan kata-kata kasar.

Malam harinya, Midun tak bisa tidur sama sekali. Kacak terus memeriksanya tiap jam, memastikan ia tetap berjaga.

Demikianlah penderitaan Midun hari demi hari. Ia menahannya dengan sabar. Segala perintah Kacak ia turuti dengan ikhlas. Berbagai siksaan diberikan padanya, bahkan tugas-tugas yang seharusnya bukan tanggung jawabnya. Siang bekerja keras, malam tak bisa tidur. Hampir-hampir Midun tak kuat lagi. Dalam tiga hari saja, tubuhnya yang tegap mulai kurus dan pucat.

Orang kampung iba melihat perubahan Midun. Apalagi ibunya, sering menangis melihat anaknya yang semakin lemah. Tapi Midun selalu berkata, “Sabarlah, Ibu. Jangan menangis. Ini hanya ujian dunia, di akhirat nanti mungkin lebih berat lagi. Bukankah segala sesuatu sudah takdir Tuhan? Jadi jangan disesali, karena itu sama saja mengumpat Tuhan. Tenangkan hatimu, Ibu. Aku baik-baik saja. Tuhan selalu bersamaku. Badanku pucat dan kurus karena baru bekerja berat. Ini justru pelajaran berharga untuk hidupku.”

Rekomendasi
Little Women - Louisa May Alcott
Little Women - Louisa May Alcott
Lihat Buku
Rekomendasi
Romeo & Juliet - William Shakespeare
Romeo & Juliet - William Shakespeare
Lihat Buku
Rekomendasi
Sense and Sensibility - Jane Austen (Shandi Publisher)
Sense and Sensibility - Jane Austen (Shandi Publisher)
Lihat Buku
Rekomendasi
Northanger Abbey - Jane Austen (Gramedia)
Northanger Abbey - Jane Austen (Gramedia)
Lihat Buku
Rekomendasi
Pride and Prejudice - Jane Austen
Pride and Prejudice - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
The Return of Sherlock Holmes
The Return of Sherlock Holmes
Lihat Buku

Pada hari kelima, Midun hampir tak berdaya. Saat membawa rumput ke kandang kuda, ia terjatuh. Kacak langsung melompat dan memukulnya.

“Ini balasan karena kau lukai mamakku! Rasakan! Jangan pura-pura jatuh, bangun!”

Par! Pukulan Kacak mendarat di punggung Midun. Midun hampir pingsan. Andai ia tak segera menahan emosi, mungkin sabitnya sudah menancap di perut Kacak. Perlahan ia bangkit dan berkata, “Jangan terlalu menyiksaku, Engku Muda. Kesalahanku tidak seberapa, tak sepadan dengan siksaan ini. Sepertinya Engku Muda sedang membalas dendam. Apa dosaku padamu? Kalau memang aku bersalah, katakanlah. Apa pun hukumannya, akan kuterima.”

“Kau memang musuhku, jahanam!” bentak Kacak. “Kau yang menghasut orang-orang membenciku. Kau ingin jadi raja di kampung ini, binatang!”

Dengan amarah meluap, Kacak memukul, meninju, dan menendang Midun. Ia melampiaskan semua kebenciannya selama ini. Untung Tuanku Laras melihat dari beranda kantor dan segera melerai.

“Kau mau membunuh orang, Kacak?”

Baru saat itu Kacak berhenti. Andai Tuanku Laras tidak ada, entah apa yang terjadi. Mungkin Midun akan membalas, atau mungkin ia binasa karena sudah tak berdaya.

Keesokan harinya, Midun jatuh sakit. Ia tak sanggup lagi memotong rumput. Pagi-pagi, Pak Midun sudah pergi menggantikan anaknya. Sebelum matahari terbit, empat ikat rumput sudah ia antar ke kandang kuda. Lalu ia menemui Tuanku Laras, memberitahu bahwa anaknya sakit keras. Ia memohon untuk menjalani hukuman satu hari yang tersisa.

Belum sempat Tuanku Laras menjawab, Haji Abbas datang. Atas nama guru dan orang tua Midun, ia memohon ampun untuk muridnya. Apalagi Midun sedang sakit.

Tuanku Laras akhirnya berkata, “Karena permintaan Haji, aku ampuni Midun. Tapi harap anak itu diajari, jangan sampai kurang ajar lagi. Terlalu berani melukai orang gila. Orang yang tak waras tentu tak mengerti apa-apa. Kalau dilawan, kita juga bisa ikut gila.”

Rekomendasi
Little Women - Louisa May Alcott
Little Women - Louisa May Alcott
Lihat Buku
Rekomendasi
Romeo & Juliet - William Shakespeare
Romeo & Juliet - William Shakespeare
Lihat Buku
Rekomendasi
Sense and Sensibility - Jane Austen (Shandi Publisher)
Sense and Sensibility - Jane Austen (Shandi Publisher)
Lihat Buku
Rekomendasi
Northanger Abbey - Jane Austen (Gramedia)
Northanger Abbey - Jane Austen (Gramedia)
Lihat Buku
Rekomendasi
Pride and Prejudice - Jane Austen
Pride and Prejudice - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
The Return of Sherlock Holmes
The Return of Sherlock Holmes
Lihat Buku

Haji Abbas dan Pak Midun diam saja. Mereka lalu pamit dan berterima kasih atas pengampunan itu. Sepanjang jalan pulang, mereka tak berbicara sepatah kata pun. Mereka tahu perkataan Tuanku Laras itu sebenarnya untuk mereka.

Sesampainya di rumah, mereka duduk termenung. Haji Abbas sedih melihat Midun yang sudah kurus dan pucat. Tanpa disadari, air matanya mengalir.

“Apa yang kau rasakan, Nak? Kenapa sampai sakit begini?” tanyanya.

Dengan lemah, Midun menjawab, “Bapak… karena bekerja terlalu berat. Kalau tahu akan seperti ini, lebih baik aku dibawa ke Bukittinggi daripada dihukum di sini. Rupanya Kacak musuh dalam selimut bagiku. Entah apa yang dibencinya, aku tak tahu. Tapi sepertinya ia melepaskan dendam. Padahal aku tak merasa bersalah padanya. Mungkin bukan karena aku lukai Pak Inuh, tapi seolah ia sudah lama menyimpan kebencian. Biarlah, Bapak, semua ini kehendak Tuhan. Aku serahkan semuanya pada Yang Mahakuasa. Penyakitku ini tidak berbahaya. Setiap sakit akan sembuh, setiap susah akan ada senangnya.”

Haji Abbas termenung lama. Lalu ia berkata pada Pak Midun, “Anak kita disukai banyak orang, tapi Kacak dibenci karena tingkahnya tak sopan. Ia seperti anak tak berpendidikan. Karena sombongnya, ia memandang orang lain seperti binatang. Mungkin ia sakit hati karena Midun punya banyak teman. Bisa jadi hukuman ini karena ulah Kacak. Tapi itu hanya dugaan saja. Pasti ia mudah melepaskan dendam karena punya Tuanku Laras sebagai pelindung.”

“Benar kata Bapak,” sahut Midun. “Aku rasa begitu. Sejak dulu, saat kami berdua belas di masjid, ia sudah memandangku dengan kebencian. Ketika melihat banyak makanan di hadapanku, ia tampak kesal. Begitu juga saat ia salah menangkap bola yang kuoper, hampir saja aku ditinjunya. Dan saat mengirik padi kemarin, kebenciannya semakin jelas. Sejak itu, kalau aku menyapa, ia tak menjawab. Setiap melihatku, ia meludah dan cemberut.”

“Mungkin benar,” kata Pak Midun. “Dubalang Lingkik pernah bilang, Kacak sangat kesal melihat banyak orang di sawah Midun. Apalagi saat melihat mereka bercanda riang, ia marah besar.”

“Nah, ingatlah ini baik-baik, Midun!” kata Haji Abbas. “Dia itu keponakan raja kita. Kalau tidak hati-hati, bisa celaka. Sadarilah perbuatanmu yang sudah-sudah. Semua orang memujimu, tapi hasilnya kau malah dihukum.”

Butuh hampir sebulan bagi Midun untuk pulih sepenuhnya. Badannya kembali segar seperti semula. Sejak itu, ia jarang pergi ke pasar. Kalaupun harus, hanya untuk keperluan mendesak. Bahkan rokok pun dibelikan oleh ibunya di pasar.

Kegiatan sehari-hari Midun sejak itu hanyalah pergi ke kebun di siang hari, lalu mengaji di malam hari. Sepulang dari kebun, ia melakukan pekerjaan-pekerjaan ringan di rumah. Kadangkala ia juga membantu adiknya menggembalakan ternak.

Sengsara Membawa Nikmat Bab 4 / 5
Sengsara Membawa Nikmat
Bab terakhir non-Reader! Cukup buat akun untuk lanjut baca sampai tamat.
Progres Zona Bebas: 100%
PREV NEXT 🔒

💝 Suka terjemahan ini?

Dukung KlikNovel menerjemahkan lebih banyak novel klasik seperti Sengsara Membawa Nikmat.

Rekomendasi
Moby Dick - Herman Melville
Moby Dick - Herman Melville
Lihat Buku
Rekomendasi
Persuasion and Lady Susan (Shandi Publisher)
Persuasion and Lady Susan (Shandi Publisher)
Lihat Buku
Rekomendasi
The Island of Doctor Moreau - H.G. Wells
The Island of Doctor Moreau - H.G. Wells
Lihat Buku
Rekomendasi
Winnetou 2 - Karl May
Winnetou 2 - Karl May
Lihat Buku
Rekomendasi
Peter Pan - J. M. Barrie
Peter Pan - J. M. Barrie
Lihat Buku
Rekomendasi
Coming Up for Air - George Orwell
Coming Up for Air - George Orwell
Lihat Buku

📝 Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!

Rekomendasi
Little Women - Louisa May Alcott
Little Women - Louisa May Alcott
Lihat Buku
Rekomendasi
Coming Up for Air - George Orwell
Coming Up for Air - George Orwell
Lihat Buku
Rekomendasi
Animal Farm - George Orwell
Animal Farm - George Orwell
Lihat Buku
Rekomendasi
Romeo Juliet - William Shakespeare
Romeo Juliet - William Shakespeare
Lihat Buku
Rekomendasi
Pride and Prejudice - Jane Austen (Terjemahan)
Pride and Prejudice - Jane Austen (Terjemahan)
Lihat Buku
Rekomendasi
The Memoirs of Sherlock Holmes
The Memoirs of Sherlock Holmes
Lihat Buku
×
×