Rekomendasi
Pollyanna - Eleanor H. Potter
Pollyanna - Eleanor H. Potter
Lihat Buku
Rekomendasi
The Old Man and the Sea - Ernest Hemingway
The Old Man and the Sea - Ernest Hemingway
Lihat Buku
Rekomendasi
Hamlet - William Shakespeare
Hamlet - William Shakespeare
Lihat Buku
Rekomendasi
Sherlock Holmes - A Study in Scarlet
Sherlock Holmes - A Study in Scarlet
Lihat Buku
Rekomendasi
The Case-Book of Sherlock Holmes
The Case-Book of Sherlock Holmes
Lihat Buku
Rekomendasi
Mademoiselle Fifi - Guy de Maupassant
Mademoiselle Fifi - Guy de Maupassant
Lihat Buku

Bab 2 – Senjata Hidup

โ€ข Sengsara Membawa Nikmat โ€ข

๐Ÿ‘๏ธ 27 tayangan

Tidak lama antaranya, perkelahian Kacak dengan Midun sudah tersiar ke seluruh kampung. Di lepau-lepau nasi dan pada tiap-tiap rumah, orang memperkatakan perkelahian itu saja. Di warung kopi yang berasap tebal, di beranda rumah-rumah gadang, bahkan di pinggir sungai tempat perempuan mencuci pakaian, yang dibicarakan hanyalah insiden di pasar itu.

Percakapan itu banyak pula yang dilebih-lebihi orang. Yang sejengkal sudah menjadi sehasta. Dari mulut ke mulut, ceritanya bertambah dramatis. Ada yang mengatakan, Kacak amat payah dalam perkelahian itu, sehingga minta-minta air minum karena kehabisan tenaga. Ada pula yang bersumpah bahwa Midun-lah yang meminta ampun, sebab takut kepada Tuanku Laras, mamak si Kacak. Berbagai-bagailah perkataan orang, ada yang begini, ada pula yang begitu, semau-maunya saja, akan mempertahankan orang yang disukai dan dikasihinya.

Anak-anak lebih-lebih lagi hebohnya. Mereka itu berlari-lari pulang dengan wajah bersemu merah karena terik matahari dan napas yang tersengal-sengal, langsung memberitahukan apa yang telah terjadi di pasar hari itu kepada ibu dan adik-adiknya yang sedang menumbuk padi di lesung. Ada pula yang menjadikan pertengkaran dan perkelahian di antara mereka sendiri, ketika mempercakapkan hal itu dengan teman-temannya di lapangan dekat surau. Sebabnya, ialah karena anak-anak murid Midun mengaji dengan bangga mengatakan, gurunya yang menang. Tetapi yang bukan murid Midun bersikeras bahwa Kacak-lah yang lebih berani.

Belum lagi terbenam matahari, mereka itu sudah datang berkerumun ke surau seperti kawanan burung gereja. Di halaman surau yang dipayungi pohon beringin tua, mereka duduk berkelompok-kelompok mempercakapkan keberanian gurunya masing-masing. Kadang-kadang keceknya itu disertai pula dengan langkah kaki yang dibuat-buat dan gerak tangan yang dilebih-lebihkan, meniru-niru bagaimana perkelahian itu terjadi menurut versi mereka. Seorang anak bertubuh mungil dengan lincah melompat-lompat sambil berteriak: “Begini caranya Midun mengelak!” sementara yang lain berdiri dengan sikap angkuh menirukan gaya Kacak.

Tetapi orang yang berdiri sama tengah dan melihat dengan matanya sendiri perkelahian itu, justru memuji kesabaran hati Midun. Di warung kopi dekat pasar, beberapa orang tua yang menyaksikan langsung kejadian itu sambil mengunyah sirih bercerita: “Midun itu seperti air mengalir, menghindar tapi tak pernah membalas.” Begitu pula ketangkasannya mengelakkan serangan Kacak, sangat mengherankan hati orang. Mereka itu semuanya menyangka, tak dapat tiada Midun ahli silat, kalau tidak masakan sepandai itu benar ia mengalahkan serangan Kacak yang seperti harimau mengamuk itu.

Rekomendasi
Emma - Jane Austen
Emma - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
Winnetou 2 - Karl May
Winnetou 2 - Karl May
Lihat Buku
Rekomendasi
Le Petit Prince - Antoine de Saint-Exupery
Le Petit Prince - Antoine de Saint-Exupery
Lihat Buku
Rekomendasi
Peter Pan - J. M. Barrie
Peter Pan - J. M. Barrie
Lihat Buku
Rekomendasi
Frankenstein - Mary Shelley
Frankenstein - Mary Shelley
Lihat Buku
Rekomendasi
Mansfield Park - Jane Austen (Shandi Publisher)
Mansfield Park - Jane Austen (Shandi Publisher)
Lihat Buku

Tetapi di antara orang banyak yang melihat perselisihan Kacak dengan Midun di pasar itu, ada pula yang amat heran memikirkan kejadian itu sambil menggaruk-garuk kepala. Apalagi melihat kemarahan hati Kacak yang tiba-tiba meledak dan caranya menyerang Midun bagai orang kesurupan, benar-benar menakjubkan hati orang. Pada pikiran mereka itu, masakan sesuatu sebab yang sedikit saja – hanya karena tertawa – bisa menimbulkan amarah Kacak yang hampir tak ada hingganya itu. Tentu saja hal itu ada ekornya, ada sejarahnya yang panjang, kalau tidak takkan mungkin demikian benar kegusaran hati Kacak kepada Midun.

Memang sebenarnyalah pikiran orang yang demikian itu. Sejak waktu masih kanak-kanak, sebelum mamak Kacak menjadi Tuanku Laras, Midun dan Kacak sudah bermusuhan seperti kucing dengan anjing. Ketika mereka masih kecil-kecil, acap kali terjadi pertengkaran, karena berlainan kemauan. Hampir setiap bulan ada-ada saja yang menyebabkan hingga mereka itu keduanya terpaksa berkelahi, mengadu kekuatan masing-masing di lapangan dekat surau sementara anak-anak lain berteriak memberi semangat.

Tetapi setelah muda remaja dan telah berpikiran lebih dewasa, maka keduanya sama-sama menarik diri seperti dua kerbau yang sudah capek beradu tanduk. Apalagi sejak mamak Kacak sudah menjadi Tuanku Laras, Midun telah menjauhkan diri daripada Kacak dengan sengaja, dan ia sudah segan saja kepada kemenakan raja di kampung itu, meski dalam hatinya tetap tidak suka.

Sekonyong-konyong ketika berdua belas di masjid, Kacak sudah mulai menaruh benci yang dalam kepada Midun. Kebencian itu lama-kelamaan berangsur-angsur seperti api dalam sekam, menjadikan dendam yang membara. Tidak saja karena waktu berdua belas itu Kacak menaruh sakit hati kepada Midun, tetapi ada pula beberapa sebab yang lain yang tidak menyenangkan hatinya, seperti duri dalam daging.

Rekomendasi
Emma - Jane Austen
Emma - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
Winnetou 2 - Karl May
Winnetou 2 - Karl May
Lihat Buku
Rekomendasi
Le Petit Prince - Antoine de Saint-Exupery
Le Petit Prince - Antoine de Saint-Exupery
Lihat Buku
Rekomendasi
Peter Pan - J. M. Barrie
Peter Pan - J. M. Barrie
Lihat Buku
Rekomendasi
Frankenstein - Mary Shelley
Frankenstein - Mary Shelley
Lihat Buku
Rekomendasi
Mansfield Park - Jane Austen (Shandi Publisher)
Mansfield Park - Jane Austen (Shandi Publisher)
Lihat Buku

Pertama, Midun dikasihi orang kampung, dia tidak, padahal ia kemenakan kandung Tuanku Laras. Setiap kali Midun lewat, orang-orang selalu menyapanya dengan hangat, sementara kepada Kacak hanya sekadar basa-basi karena takut. Kedua, Kacak mendengar kabar angin dari mulut ke mulut, bahwa Midun sudah mendapat keputusan silat daripada Haji Abbas, seorang guru silat termasyhur, tetapi dia sendiri yang sudah berkali-kali minta belajar, selalu tidak diterima oleh Haji Abbas dengan berbagai alasan. Ketiga, dalam segala hal kalau ada permufakatan pemuda-pemuda, Midun selalu dijadikan ketua dengan suara bulat, tetapi dia disisihkan orang saja bagai kerakap tumbuh di batu. Pendeknya, di dalam pergaulan di kampung itu, Kacak terpencil hidupnya, seakan-akan sengaja ia disisihkan orang dari pergaulan.

Oleh karena itu pada pikiran Kacak yang sudah dipenuhi dengki, tak dapat tiada sekaliannya itu perbuatan Midun semata-mata, yang dianggapnya selalu berusaha menjatuhkan martabatnya. Sesungguhnya, jika tidak dipisahkan orang dalam perkelahian di pasar itu, memang ia hendak menewaskan Midun benar-benar seperti membunuh ular berbisa. Kebencian dalam hatinya sudah mulai berkobar seperti api yang disiram minyak. Dan lagi karena mendengar kabar Midun pandai bersilat, dan dia sendiri sudah paham pula dalam ilmu starlak – ilmu kebal – menimbulkan keinginan pula kepadanya hendak mencobakan ketangkasannya kepada Midun, untuk membuktikan siapa sebenarnya yang lebih unggul.

Sebermula akan si Midun itu, ialah anak seorang peladang biasa saja, bukan keturunan bangsawan atau orang terpandang. Sungguhpun ayah Midun hanya orang peladang yang mencangkul di sawah dan membuka ladang di hutan, tetapi pemandangannya sudah luas dan pengetahuannya pun dalam seperti lautan. Sudah banyak negeri yang ditempuhnya, dan telah jauh rantau dijalaninya semasa muda dulu. Dari Aceh sampai ke Palembang, dari Padang sampai ke tanah Jawa, semua sudah dilaluinya sambil berdagang kecil-kecilan.

Oleh sebab lama hidup banyak dirasai, jauh berjalan banyak dilihat, maka orang tua itu dapatlah memperbandingkan mana yang baik dan mana yang buruk dalam kehidupan ini. Tahu dan mengertilah Pak Midun bagaimana caranya yang baik menjalankan hidup dalam pergaulan bersama, seperti air yang selalu mencari tempat yang rendah. Dengan pengetahuannya yang demikian itu, dididiknyalah anaknya Midun dengan hemat cermat, seperti menanam padi butir demi butir, agar menjadi seorang yang berbahagia kelak di dunia dan akhirat.

Rekomendasi
Emma - Jane Austen
Emma - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
Winnetou 2 - Karl May
Winnetou 2 - Karl May
Lihat Buku
Rekomendasi
Le Petit Prince - Antoine de Saint-Exupery
Le Petit Prince - Antoine de Saint-Exupery
Lihat Buku
Rekomendasi
Peter Pan - J. M. Barrie
Peter Pan - J. M. Barrie
Lihat Buku
Rekomendasi
Frankenstein - Mary Shelley
Frankenstein - Mary Shelley
Lihat Buku
Rekomendasi
Mansfield Park - Jane Austen (Shandi Publisher)
Mansfield Park - Jane Austen (Shandi Publisher)
Lihat Buku

Setelah Midun akil balig, timbullah dalam pikiran Pak Midun yang dalam itu hendak menyerahkan anaknya itu belajar silat. Ia amat ingin supaya Midun menjadi seorang yang tangkas dan cekatan seperti harimau muda. Pak Midun merasa dari pengalamannya, bahwa silat itu berguna benar untuk membela diri dalam bahaya dan perkelahian yang tak terduga. Lain daripada itu, amat besar faedah silat itu untuk kesehatan badan, membuat tubuh kuat dan lentur seperti rotan. Karena Pak Midun sendiri dahulu seorang pandai silat yang disegani, insaf benarlah ia bagaimana kebaikan pergerakan badan itu untuk menjaga kesehatan tubuh dan ketenangan pikiran.

Ketika Pak Midun dahulu hendak menyerahkan anaknya, dicarinyalah seorang guru yang telah termasyhur kepandaiannya dalam ilmu silat bagai mencari mutiara di dasar laut. Maka demikian, menurut pikiran Pak Midun yang bijak, jika tanggung-tanggung kepandaian guru itu, lebih baik tak usah lagi anaknya belajar silat, asal tidak bertemu guru yang benar-benar mahir. Seorang pun tak ada yang tampak oleh Pak Midun, guru yang bersesuaian dengan pikirannya yang tinggi itu di negeri itu. Lain daripada Haji Abbas, guru Midun mengaji dan saudara sebapak dengan dia, tak ada yang berkenan pada pikirannya yang selektif itu.

Tetapi sayang seribu kali sayang, sudah dua tiga kali maksudnya itu dikatakannya dengan rendah hati, selalu ditolak saja oleh Haji Abbas dengan berbagai alasan. Haji Abbas yang sudah sepuh itu memberi nasihat dengan suara parau: “Serahkan saja Midun kepada Pendekar Sutan, adik kandungku sendiri. Aku sudah tua, tulang-tulang ini sudah tak kuat lagi mengajar. Lagipula kepandaianku bersilat pun boleh dikatakan hampir bersamaan dengan Pendekar Sutan yang masih kuat itu.”

Rekomendasi
Emma - Jane Austen
Emma - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
Winnetou 2 - Karl May
Winnetou 2 - Karl May
Lihat Buku
Rekomendasi
Le Petit Prince - Antoine de Saint-Exupery
Le Petit Prince - Antoine de Saint-Exupery
Lihat Buku
Rekomendasi
Peter Pan - J. M. Barrie
Peter Pan - J. M. Barrie
Lihat Buku
Rekomendasi
Frankenstein - Mary Shelley
Frankenstein - Mary Shelley
Lihat Buku
Rekomendasi
Mansfield Park - Jane Austen (Shandi Publisher)
Mansfield Park - Jane Austen (Shandi Publisher)
Lihat Buku

Maka dengan berat hati, diserahkanlah Midun belajar silat oleh ayahnya yang penyayang itu kepada Pendekar Sutan. Karena Pak Midun seorang yang tabu dan alim, tahu aturan dan tradisi, tiadalah ditinggalkannya syarat-syarat aturan berguru yang telah diwariskan nenek moyang, meskipun tempat anaknya berguru itu adik sebapak dia sendiri. Pendekar Sutan dipersinggah (dibawa, dijamu) oleh Pak Midun dengan murid-muridnya ke rumahnya yang sederhana itu. Sesudah makan-minum yang disediakan dengan hati tulus, maka diketengahkannyalah oleh Pak Midun syarat-syarat berguru ilmu silat, sebagaimana yang sudah dilazimkan orang di Minangkabau turun-temurun.

Syarat berguru silat itu ialah: beras sesukat, kain putih sekabung, besi sekerat (pisau sebuah), uang serupiah, penjahit (jarum) tujuh, dan sirih pinang selengkapnya dalam cerana yang diukir indah. Segala barang-barang itu sebenarnya kiasan saja semuanya, mengandung makna yang dalam seperti kata-kata bijak orang tua-tua.

Arti dan wujudnya:
Beras sesukat, gunanya akan dimakan guru, selama mengajari anak muda yang hendak belajar itu; seolah-olah mengatakan: perlukanlah mengajarnya, janganlah dilalaikan sebab hendak mencari penghidupan lain.

Kain putih sekabung, “alas tobat” namanya; maksudnya dengan segala putih hati dan tulus anak muda itu menerima pengajaran; samalah dengan kain itu putih dan bersih hati anak muda itu menerima barang apa yang diajarkan guru. Ia akan menurut suruh dan menghentikan tegah. Dan lagi mujur tak boleh diraih, malang tak boleh ditolak, kalau sekiranya ia kena pisau atau apa saja sedang belajar, kain itulah akan kafannya kalau ia mati – sebuah pengingat akan risiko mempelajari ilmu bela diri.

Besi sekerat (pisau sebuah) itu maksudnya, seperti senjata itulah tajamnya pengajaran yang diterimanya dan lagi janganlah ia dikenai senjata, apabila telah tamat pengajarannya nanti.

Uang serupiah, ialah untuk pembeli tembakau yang diisap guru waktu melepaskan lelah dalam mengajar anak muda itu, hampir searti juga dengan beras sesukat tadi sebagai bentuk penghargaan.

Rekomendasi
Emma - Jane Austen
Emma - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
Winnetou 2 - Karl May
Winnetou 2 - Karl May
Lihat Buku
Rekomendasi
Le Petit Prince - Antoine de Saint-Exupery
Le Petit Prince - Antoine de Saint-Exupery
Lihat Buku
Rekomendasi
Peter Pan - J. M. Barrie
Peter Pan - J. M. Barrie
Lihat Buku
Rekomendasi
Frankenstein - Mary Shelley
Frankenstein - Mary Shelley
Lihat Buku
Rekomendasi
Mansfield Park - Jane Austen (Shandi Publisher)
Mansfield Park - Jane Austen (Shandi Publisher)
Lihat Buku

Penjahit tujuh, artinya sepekan tujuh hari; hendaklah guru itu terus mengajarnya tanpa putus, dengan pengajaran yang tajam seperti jarum itu. Dan meski tujuh macamnya mara bahaya yang tajam-tajam menimpa dia, mudah-mudahan terelakkan olehnya, berkat pengajaran guru itu. Pengajaran guru itu menjadi darah daging hendaknya kepadanya, jangan ada yang menghalangi, terus saja seperti jarum yang dijahitkan tak kenal lelah.

Sirih pinang selengkapnya, artinya ialah akan dikunyah guru, waktu ia menghentikan lelah tiap-tiap sesudah mengajar anak muda itu, dan lagi sirih pinang itu telah menjadi adat yang biasa di tanah Minangkabau sebagai lambang keakraban.

Setelah beberapa lamanya Midun belajar silat kepada Pendekar Sutan dengan tekun seperti pungguk merindukan bulan, maka tamatlah pelajarannya. Sungguhpun demikian Pak Midun yang perfeksionis itu belum lagi bersenang hati. Pada pikirannya yang tinggi, kepandaian Midun bersilat itu belum lagi mencukupi seperti padi yang belum berisi. Yang dikehendaki Pak Midun yang tidak pernah setengah-setengah dalam hal ilmu: belajar sampai ke pulau, berjalan sampai ke batas – harus tuntas sampai ke akar-akarnya.

Artinya silat Midun seboleh-bolehnya haruslah berkesudahan atau mendapat keputusan daripada seorang ahli silat yang sudah termasyhur bagai harimau di hutan. Oleh sebab itu, ingin benar ia hendak menyuruh menambah pengajaran Midun kepada Haji Abbas, sang legenda silat Minangkabau.

Di dalam ilmu silat, memang Haji Abbas sudah termasyhur seperti bulan purnama di malam gelap, terkenal di seluruh tanah Minangkabau dari ujung ke ujung. Sebelum ia pergi ke Mekkah menunaikan ibadah haji, amat banyak muridnya yang datang dari jauh untuk belajar bersilat. Di antara muridnya itu kebanyakan orang datang dari negeri lain, bahkan ada yang dari Johor dan Patani. Tidak sedikit guru-guru silat yang terkenal datang mencoba ketangkasan Haji Abbas bersilat untuk menguji kemampuannya, semuanya kalah dan mengaku dengan rendah hati bahwa silat Haji Abbas sukar didapat, mahal dicari di tanah Minangkabau.

Rekomendasi
Emma - Jane Austen
Emma - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
Winnetou 2 - Karl May
Winnetou 2 - Karl May
Lihat Buku
Rekomendasi
Le Petit Prince - Antoine de Saint-Exupery
Le Petit Prince - Antoine de Saint-Exupery
Lihat Buku
Rekomendasi
Peter Pan - J. M. Barrie
Peter Pan - J. M. Barrie
Lihat Buku
Rekomendasi
Frankenstein - Mary Shelley
Frankenstein - Mary Shelley
Lihat Buku
Rekomendasi
Mansfield Park - Jane Austen (Shandi Publisher)
Mansfield Park - Jane Austen (Shandi Publisher)
Lihat Buku

Karena keahliannya di dalam ilmu silat yang sudah mendarah daging itu, kendatipun ia tidur nyenyak seperti orang mati, jika dilempar dengan puntung api yang menyala sekalipun, tak dapat tiada barang itu dapat ditangkapnya dengan reflek yang mengagumkan.

Tidak hal yang demikian itu saja yang memasyhurkan nama Haji Abbas perkara silat, tetapi ada lagi beberapa hal yang lain yang lebih hebat. Semasa muda, ketika Haji Abbas dan Pak Midun berdagang menjajah tanah Minangkabau, tidak sedikit cobaan yang telah dirasainya seperti duri dalam perjalanan. Acap kali ia disamun orang di tengah jalan yang sunyi, diperkelahikan orang beramai-ramai seperti serigala mengeroyok kijang. Tapi karena ketangkasannya yang luar biasa, segala bahaya itu dapat dielakkan Haji Abbas bagai ular mengelak dari patukan.

Lebih-lebih lagi yang makin menambah harum nama Haji Abbas sampai ke seberang lautan, ketika ia disamun orang Baduwi yang ganas antara Jeddah dan Mekkah waktu dalam perjalanan ke Tanah Suci. Lebih dari sepuluh orang Baduwi yang bertubuh kekar dan memakai senjata tajam hendak merampoknya; dengan berteman hanya tiga orang saja yang tidak berpengalaman, dapat ditewaskannya dengan mudah seperti membalikkan telapak tangan.

Sungguhpun berteman, boleh dikatakan Haji Abbas seoranglah yang berkelahi dengan gagah berani melawan Baduwi-Baduwi itu. Tak dibiarkannya sedikit jua segala Baduwi itu menyerang kawannya yang ketakutan. Dengan gerakan-gerakan silat yang mematikan, satu persatu penjahat itu tumbang bagai pohon yang diterpa angin kencang.

Dalam ilmu akhirat pun Haji Abbas adalah seorang ulama besar yang disegani, bukan sekadar pandai mengibaskan tangan. Memang sudah menjadi sifat pada Haji Abbas yang tekun itu, jika menuntut sesuatu ilmu berpantang patah di tengah jalan. Sebelum diketahuinya sampai ke urat-uratnya, belumlah ia bersenang hati seperti air yang harus sampai ke hilir. Muridnya mengaji amat banyak memenuhi suraunya. Baik anak-anak yang masih polos, baik pun orang tua yang berjanggut putih, semuanya ke surau Haji Abbas belajar agama dengan khusyuk. Tidak orang kampung itu saja yang datang, bahkan banyak orang yang datang dari negeri lain jauh-jauh belajar mengaji kepada Haji Abbas yang alim itu.

Rekomendasi
Emma - Jane Austen
Emma - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
Winnetou 2 - Karl May
Winnetou 2 - Karl May
Lihat Buku
Rekomendasi
Le Petit Prince - Antoine de Saint-Exupery
Le Petit Prince - Antoine de Saint-Exupery
Lihat Buku
Rekomendasi
Peter Pan - J. M. Barrie
Peter Pan - J. M. Barrie
Lihat Buku
Rekomendasi
Frankenstein - Mary Shelley
Frankenstein - Mary Shelley
Lihat Buku
Rekomendasi
Mansfield Park - Jane Austen (Shandi Publisher)
Mansfield Park - Jane Austen (Shandi Publisher)
Lihat Buku

Oleh karena Haji Abbas adalah seorang tua yang bijak bestari, yang lubuk akal gudang bicara, laut pikiran tambunan budi, maka ia pun dimalui dan ditakuti orang di kampung itu. Setiap nasihatnya didengar seperti kata pusaka, setiap gerak-geriknya diperhatikan bagai teladan.

Keadaan yang demikian itu diketahui Pak Midun belaka sampai ke halus-halusnya. Itulah tali sebabnya maka besar benar keinginannya hendak menambah pengajaran Midun bersilat kepada Haji Abbas, seperti menimba ilmu sampai ke sumbernya. Karena Haji Abbas selalu menolak permintaan Pak Midun dengan halus, maka dengan tipu muslihat yang licik namun bermaksud baik, dapat juga diikhtiarkannya Midun belajar silat dengan dia.

Demikianlah ikhtiar Pak Midun yang tidak kenal menyerah: Mula-mula Pak Midun bermufakat dengan Pendekar Sutan di beranda rumahnya sambil menyeruput kopi pahit. Dikatakanlah kepada Pendekar Sutan dengan suara berbisik, bahwa ia hendak menipu Haji Abbas dengan muslihat yang direncanakan matang.

Sebabnya ialah karena Midun ingin benar hendak mendapatkan sesuatu ilmu dari Haji Abbas yang terkenal itu, tetapi selalu ditolaknya saja dengan berbagai alasan. Maka diceritakannyalah oleh Pak Midun dengan detail bagaimana tipu yang hendak disuruh lakukannya kepada Midun, sebuah rencana yang agak berbahaya namun diperhitungkan masak-masak.

“Biarlah, Pendekar Sutan!” ujar Pak Midun dengan mata berbinar, “bukankah silat Midun sekarang sudah boleh dibawa ke tengah gelanggang. Tidak akan gampang lagi orang dapat mengenalnya dengan mudah. Meskipun dua-tiga orang mempersama-samakan dia sekaligus, belum tentu lagi ia akan roboh seperti pohon yang ditebang. Oleh sebab itu, ketika Haji Abbas sedang tidur nyenyak di surau seperti biasanya, kita suruh lempar oleh Midun dengan ranting kayu kering. Manakala Haji Abbas terkejut dan menangkap ranting kayu itu dengan refleknya, saat itulah Midun harus menyerang Haji Abbas dengan segenap kemampuannya.”

Pendekar Sutan mengangguk-angguk sambil mengusap janggutnya yang pendek: “Saya pun sesuai dengan pikiran Pak Midun itu!” jawabnya dengan suara berat. “Tetapi hal ini tidak boleh kita permudah begitu saja seperti membalikkan telapak tangan. Boleh jadi Midun dapat dikenalnya dengan cepat, karena Haji Abbas guru besar dan sudah termasyhur silatnya bagai harimau di hutan. Sungguh, sebenarnya saya agak khawatir memikirkannya, jangan-jangan malah Midun yang celaka.”

Rekomendasi
Emma - Jane Austen
Emma - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
Winnetou 2 - Karl May
Winnetou 2 - Karl May
Lihat Buku
Rekomendasi
Le Petit Prince - Antoine de Saint-Exupery
Le Petit Prince - Antoine de Saint-Exupery
Lihat Buku
Rekomendasi
Peter Pan - J. M. Barrie
Peter Pan - J. M. Barrie
Lihat Buku
Rekomendasi
Frankenstein - Mary Shelley
Frankenstein - Mary Shelley
Lihat Buku
Rekomendasi
Mansfield Park - Jane Austen (Shandi Publisher)
Mansfield Park - Jane Austen (Shandi Publisher)
Lihat Buku

“Tak usah dikhawatirkan terlalu,” kata Pak Midun meyakinkan. “Hal itu pun sudah saya pikirkan dalam-dalam seperti menghitung biji tasbih. Tentu tidak akan kita biarkan Midun seorang diri saja menghadapi bahaya. Kita harus serta pula menemaninya dengan diam-diam, akan mengamat-amati dari tempat persembunyian kalau-kalau ada bahaya yang mengancam. Tetapi hendaklah kita bersembunyi dengan baik melihat kejadian itu dari jauh, jangan sampai ketahuan.”

“Kalau demikian, baiklah,” kata Pendekar Sutan pula sambil tersenyum tipis. “Saya pun ingin benar hendak melihat ketangkasan Haji Abbas yang legendaris itu secara langsung, sebab dari dahulu saya hendak belajar kepadanya, selalu ditolaknya pula dengan halus, hingga terpaksa saya berjalan kian kemari mencari guru silat ke negeri-negeri seberang.”

Pada suatu hari yang cerah, sesudah sembahyang lohor, kelihatanlah Pak Midun, Pendekar Sutan dan Midun mendekati surau Haji Abbas dengan langkah hati-hati. Pak Midun dan Pendekar Sutan bersembunyi di surau kecil di sebelah yang jarang dipakai, sambil mengintip dari celah-celah dinding bambu. Waktu itu Haji Abbas sedang tidur nyenyak di mihrab, karena sudah larut malam pulang dari mendoa orang sakit di ujung kampung semalam.

Midun pun bersiaplah dengan jantung berdebar-debar, lalu melempar Haji Abbas yang sedang lelap dengan sepotong ranting kayu kering. Plak! Ranting itu mengenai perut Haji Abbas.

Dengan reflek yang mengagumkan, Haji Abbas yang terkejut itu langsung menangkap ranting kayu itu sebelum jatuh ke lantai. Ketika itulah, sesuai rencana, Midun melompat ke depan dan dengan tangkas diserangnya Haji Abbas seperti harimau menerkam.

Maka terjadilah pada ketika itu sebuah adegan yang tidak terdugaโ€ฆ ya, perkelahian bapak dengan anak, guru dengan murid, seperti dua ekor harimau berebut wilayah. Tangkap-menangkap dengan cengkeraman yang kuat, empas-mengempaskan tubuh ke lantai surau, tak ubahnya sebagai orang yang berkelahi benar-benar dengan segenap kemampuan.

Rekomendasi
Emma - Jane Austen
Emma - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
Winnetou 2 - Karl May
Winnetou 2 - Karl May
Lihat Buku
Rekomendasi
Le Petit Prince - Antoine de Saint-Exupery
Le Petit Prince - Antoine de Saint-Exupery
Lihat Buku
Rekomendasi
Peter Pan - J. M. Barrie
Peter Pan - J. M. Barrie
Lihat Buku
Rekomendasi
Frankenstein - Mary Shelley
Frankenstein - Mary Shelley
Lihat Buku
Rekomendasi
Mansfield Park - Jane Austen (Shandi Publisher)
Mansfield Park - Jane Austen (Shandi Publisher)
Lihat Buku

Setelah beberapa lamanya adu kekuatan dengan hal yang demikian itu, sekonyong-konyong Midun terempas agak jauh oleh sebuah gerakan kilat Haji Abbas. Jika orang lain yang tak pandai bersilat terempas demikian itu, tak dapat tiada pecah kepalanya atau patah tulangnya. Tetapi karena Midun pandai silat pula dan sudah terlatih, tak ada ubahnya sebagai kucing diempaskan saja, langsung bangkit lagi dengan sigap.

Ketika Haji Abbas bersiap akan menanti serangan balasan, tiba-tiba tampak olehnya sosok Midun yang berdiri dengan kuda-kuda sempurna. Haji Abbas menggosok-gosok matanya yang sudah kabur, seolah-olah ia tidak percaya kepada matanya sendiri. Ia sebagai orang bermimpi di siang bolong, dan amat heran karena kejadian yang tak terduga itu. Setelah beberapa lamanya memandang dengan tajam, nyatalah kepadanya bahwa sebenarnyalah Midun, murid mengajinya yang rajin, yang menyerang dia tadi.

“Sudah bertukarkah pikiranmu, Midun?” ujar Haji Abbas tiba-tiba dengan suara menggelegar penuh kemarahan. “Hendak membunuh bapakmukah engkau seperti anak durhaka? Atau sudah gila engkau sehingga berani menyerang gurumu sendiri?”

“Tidak, Bapak!” jatvab Midun dengan ketakutan yang jelas terdengar dalam suaranya. “Pikiran saya masih sehat walafiat; ayah dan Bapak Pendekar Sutan ada di surau kecil di sebelah yang menyuruh saya melakukan ini.”

“O, jadi mereka itukah dalang dari perbuatan nekat ini?” kata Haji Abbas pula dengan sangat marah sambil menunjuk ke arah surau kecil. “Apa maksudnya berbuat demikian ini? Bosankah ia kepadamu atau bencikah kepadaku, supaya kita salah seorang binasa dalam perkelahian bodoh ini? Panggil dia, suruh datang keduanya kemari segera! Terlalu, sungguh terlalu perbuatan mereka ini!”

Tidak lama antaranya, dengan wajah sedikit canggung, Pak Midun dan Pendekar Sutan naiklah ke surau dengan langkah tertatih-tatih. Baru saja ia sampai di depan Haji Abbas yang masih berdiri dengan nafas tersengal-sengal, Haji Abbas langsung berkata dengan marahnya yang masih menyala, “Perbuatan apa ini yang Pak Midun suruhkan kepada anak saya? Apakah dendam kamu kedua yang tidak lepas-lepas seperti tahi kerbau, maka menyuruh lakukan perbuatan nekat ini kepada Midun? Sungguh terlalu keterlaluan!”

Rekomendasi
Emma - Jane Austen
Emma - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
Winnetou 2 - Karl May
Winnetou 2 - Karl May
Lihat Buku
Rekomendasi
Le Petit Prince - Antoine de Saint-Exupery
Le Petit Prince - Antoine de Saint-Exupery
Lihat Buku
Rekomendasi
Peter Pan - J. M. Barrie
Peter Pan - J. M. Barrie
Lihat Buku
Rekomendasi
Frankenstein - Mary Shelley
Frankenstein - Mary Shelley
Lihat Buku
Rekomendasi
Mansfield Park - Jane Austen (Shandi Publisher)
Mansfield Park - Jane Austen (Shandi Publisher)
Lihat Buku

“Janganlah terburu nafsu saja Haji marah,” ujar Pak Midun dengan agak ketakutan namun tetap berusaha tenang. “Kejadian ini sebenarnya ialah karena kesalahan Haji sendiri, bukan kami yang harus disalahkan.”

“Kesalahan saya?” jawab Haji Abbas dengan heran sambil mengerutkan keningnya yang sudah beruban. “Apa pula sebabnya saya yang Pak Midun salahkan dalam hal ini? Bukankah perbuatan Pak Midun ini sia-sia benar seperti menumbuk air di lesung?”

Ketika itu tampaklah kepada Pak Midun yang jeli, marah Haji Abbas sudah agak surut seperti air pasang yang mulai mengering. Dengan kesempatan itu, Pak Midun berkata sambil bersenda-gurau untuk mencairkan suasana, “Selalu saya diusik oleh anak Haji yang nakal ini, supaya ia dapat menambah kepandaiannya dengan Haji. Beberapa kali saya disuruhnya mengatakan kepada Haji, karena ia ingin benar hendak mendapatkan sesuatu tentang ilmu silat daripada Haji yang terkenal itu. Tetapi tiap-tiap permintaannya yang tulus itu saya sampaikan dengan hormat, selalu saja Haji tolak dengan berbagai alasan.”

“Kesudahannya,” lanjut Pak Midun sambil tersenyum, “terjadilah yang demikian ini sebagai jalan terakhir. Sekarang kami yang Haji salahkan. Haji katakan, apa dendam kami yang tak lepas. Kalau Haji ingin hendak mencoba kemarahan Haji, berdirilah! Memang saya sudah lama ingin hendak bersilat dengan Haji, menguji kemampuan saya yang sudah mulai karatan ini!”

Dengan tiba-tiba, Pak Midun berdiri dengan sikap siap tempur, lalu mengendangkan tangan dan melangkahkan kaki dengan gerakan silat yang indah. Sambil menari-nari kecil di tempat dengan gaya jenaka, ia berkata pula dengan tertawa, katanya, “Bangunlah, Haji, mengapa duduk juga? Ah, jadi muda lagi perasaan saya melihat Haji yang masih gagah iniโ€ฆ”

Rekomendasi
Emma - Jane Austen
Emma - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
Winnetou 2 - Karl May
Winnetou 2 - Karl May
Lihat Buku
Rekomendasi
Le Petit Prince - Antoine de Saint-Exupery
Le Petit Prince - Antoine de Saint-Exupery
Lihat Buku
Rekomendasi
Peter Pan - J. M. Barrie
Peter Pan - J. M. Barrie
Lihat Buku
Rekomendasi
Frankenstein - Mary Shelley
Frankenstein - Mary Shelley
Lihat Buku
Rekomendasi
Mansfield Park - Jane Austen (Shandi Publisher)
Mansfield Park - Jane Austen (Shandi Publisher)
Lihat Buku

Melihat kelakuan Pak Midun yang jenaka itu yang tiba-tiba berubah seperti anak muda, marah Haji Abbas pun surutlah bagai ombak yang reda. Hatinya yang bergolak tadi menjadi tenang bagai semula, dan akhirnya tertawa juga karena geli hatinya melihat tingkah laku sahabat lamanya itu.

Pak Midun duduk kembali di atas tikar sembahyang yang kasar itu, lalu bermufakatlah ketiga bapak Midun itu dengan suasana yang sudah cair. Maka dikabulkanlah oleh Haji Abbas permintaan Midun hendak belajar silat dengan dia, setelah melalui peristiwa yang tidak biasa itu.

Haji Abbas mengajar Midun dengan cara yang amat berlainan dengan Pendekar Sutan. Midun diajar Haji Abbas tidak pada suatu tempat atau sasaran yang tetap seperti kebanyakan guru silat. Melainkan, dengan sistem yang unik dan penuh kejutan: tiap-tiap pulang dari mendoa orang sakit atau pulang dari berjalan-jalan ke pasar, pada tempat yang sunyi dan tidak terduga, Midun sekonyong-konyong diserang oleh Haji Abbas tanpa aba-aba.

Maka bersilatlah mereka itu di tepi sungai, di tengah sawah, bahkan di kebun kelapa yang gelap pada malam hari. Demikianlah diperbuat Haji Abbas dengan konsisten ada enam bulan lamanya, seperti melatih seekor elang muda. Setelah itu barulah Midun diberi keputusan silat oleh Haji Abbas, sebuah pengakuan bahwa ia sudah layak disebut pesilat sejati.

Ada lima tingkatan ujian yang harus dilalui Midun sebelum dinyatakan lulus:

Pertama, bersilat pada sebidang tanah yang jendul dan berbonggol tidak rata. Di situ sama-sama berikhtiar mereka akan mengenai lawan sambil menjaga keseimbangan di medan yang sulit. Maksud Haji Abbas membawa Midun bersilat pada tanah yang demikian, ialah supaya kukuh ia berdiri seperti pohon yang berakar kuat, tidak hanya tangkas pada tanah yang datar saja.

Kedua, bersilat di atas papan, misalnya di rumah yang berlantaikan papan yang berderit-derit. Bersilat di tempat itu sekali-kali tidak boleh berbunyi langkah kaki, harus senyap seperti bayangan. Sekalipun terempas dengan keras, hendaklah seperti kucing diempaskan saja, tidak keras bunyinya dan tidak boleh tertelentang yang menunjukkan kelemahan.

Rekomendasi
Emma - Jane Austen
Emma - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
Winnetou 2 - Karl May
Winnetou 2 - Karl May
Lihat Buku
Rekomendasi
Le Petit Prince - Antoine de Saint-Exupery
Le Petit Prince - Antoine de Saint-Exupery
Lihat Buku
Rekomendasi
Peter Pan - J. M. Barrie
Peter Pan - J. M. Barrie
Lihat Buku
Rekomendasi
Frankenstein - Mary Shelley
Frankenstein - Mary Shelley
Lihat Buku
Rekomendasi
Mansfield Park - Jane Austen (Shandi Publisher)
Mansfield Park - Jane Austen (Shandi Publisher)
Lihat Buku

Ketiga, bersilat di dalam bencah atau pada sebidang tanah yang sudah dilicinkan dengan air sehingga sangat licin. Di sini Midun dituntut tidak boleh jatuh tersungkur, tetapi harus tetap bisa menangkis serangan guru dengan sempurna di medan yang sulit.

Keempat, pada sebidang tanah yang diberi bergaris bundaran seperti gelanggang. Midun harus bersilat dengan guru tanpa boleh melewati garis itu sedikitpun, sementara guru berusaha sekuat tenaga mendorongnya keluar garis. Di sini diperlukan keseimbangan dan keteguhan hati yang luar biasa.

Kelima, yang paling sulit, bersilat di dalam gelap gulita tanpa cahaya sedikitpun, dan harus bisa mengalahkan serangan orang yang memakai senjata tajam. Bagian yang kelima inilah yang sukar dan berbahaya. Bagi Midun, tingkat ini belum sempurna benar dikuasainya. Sebabnya, karena pada bagian ini, haruslah tahu lebih dahulu gerak, angin, dan rasa lawan – sebuah kemampuan yang tidak bisa diajarkan, melainkan timbul sendiri dengan sendirinya, setelah beberapa lamanya seseorang pandai bersilat dan memiliki firasat yang tajam.

Mengingat keadaan yang demikian itulah maka Pak Midun amat terkejut dan khawatir mendengar kabar perkelahian anaknya dengan Kacak yang tersiar cepat seperti api di sekam. Dalam hatinya amat marah kepada anaknya, karena yang dilawan Midun berkelahi itu bukan sembarang orang, melainkan kemenakan Tuanku Laras yang berkuasa.

Tetapi setelah mendengar kabar dari Maun, yang kebetulan lalu di muka rumahnya hendak ke surau mengaji, agak senang juga hatinya mengetahui bahwa Midun tidak memulai perkelahian itu. Sungguhpun demikian, sebelum bertemu dengan Midun langsung dan mendengar penjelasan dari mulutnya sendiri, belum senang benar hatinya yang gelisah. Pak Midun ingin hendak mendengar kabar itu daripada anaknya sendiri seperti mendengar berita dari sumber yang paling terpercaya.

Tegak resah, duduk pun gelisah, sebentar-sebentar ia melihat ke jendela rumahnya yang kecil, kalau-kalau Midun sudah datang dari surau. Tangannya tak henti-hentinya memilin-milin janggutnya yang sudah beruban, tanda kegelisahan yang dalam.

Rekomendasi
Emma - Jane Austen
Emma - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
Winnetou 2 - Karl May
Winnetou 2 - Karl May
Lihat Buku
Rekomendasi
Le Petit Prince - Antoine de Saint-Exupery
Le Petit Prince - Antoine de Saint-Exupery
Lihat Buku
Rekomendasi
Peter Pan - J. M. Barrie
Peter Pan - J. M. Barrie
Lihat Buku
Rekomendasi
Frankenstein - Mary Shelley
Frankenstein - Mary Shelley
Lihat Buku
Rekomendasi
Mansfield Park - Jane Austen (Shandi Publisher)
Mansfield Park - Jane Austen (Shandi Publisher)
Lihat Buku

“Maun, suruh pulang anak-anak itu semua!” kata Haji Abbas kepada Maun yang kebetulan ada di surau. “Katakan kepada mereka itu, malam ini tidak ada pengajian seperti biasa. Malam besok saja suruh datang kembali. Saya dengan Midun akan pergi mendoa ke rumah Pakih Sutan malam ini.”

Sesudah sembahyang magrib yang khusyuk, Haji Abbas dan Midun turunlah dari surau dengan langkah tenang. Sebelum pergi mendoa, lebih dahulu mereka itu singgah ke rumah Pak Midun yang sederhana. Setelah duduk bersila di atas tikar anyaman, sudah minum teh hangat dan mengisap rokok sebatang seorang, Haji Abbas pun berkata dengan suara yang berat, katanya, “Betulkah kabar yang beredar itu, bahwa tadi engkau berkelahi dengan Kacak di pasar? Belum cukup sebulan engkau tamat bersilat, sudah berani berkelahi. Itu pun yang engkau lawan bukan sembarang orang pula, melainkan kemenakan Tuanku Laras sendiri.”

“Tidak, Bapak,” jawab Midun dengan ragu-ragu sambil menundukkan kepala, sebab ia sendiri merasa tidak benar-benar berkelahi dalam arti sebenarnya. Akan dikatakannya berkelahi, ia tidak ada meninju Kacak sama sekali, melainkan hanya mengelak saja dari serangan Kacak yang seperti orang kesurupan itu.

“Ganjil benar jawabmu yang berbelit-belit ini!” ujar Haji Abbas sambil mengerutkan kening. “Apa maksudmu mengatakan ‘umpama berkelahi’ itu? Jelaskan dengan terang benderang!”

Midun melihat kedua bapaknya itu – Haji Abbas dan ayahnya sendiri – dengan cermat. Tampak dan nyata kepadanya pada muka mereka yang berkerut itu kekhawatiran yang mendalam atas kejadian hari itu. Maka Midun pun menerangkan dengan panjang lebar namun jelas, dari awal sampai akhir asal mula perselisihannya dengan Kacak waktu bermain sepak raga tadi. Satu pun tidak ada yang dilampauinya atau dilebih-lebihkan, diterangkannya sejujur-jujurnya seperti mengupas kulit bawang.

Mendengar perkataan Midun yang jujur itu, legalah hati kedua bapaknya yang sedang tegang. Apalagi keterangan itu, bersesuaian benar dengan berita orang yang mereka dengar dari saksi mata yang melihat langsung kejadian petang itu di pasar.

Rekomendasi
Emma - Jane Austen
Emma - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
Winnetou 2 - Karl May
Winnetou 2 - Karl May
Lihat Buku
Rekomendasi
Le Petit Prince - Antoine de Saint-Exupery
Le Petit Prince - Antoine de Saint-Exupery
Lihat Buku
Rekomendasi
Peter Pan - J. M. Barrie
Peter Pan - J. M. Barrie
Lihat Buku
Rekomendasi
Frankenstein - Mary Shelley
Frankenstein - Mary Shelley
Lihat Buku
Rekomendasi
Mansfield Park - Jane Austen (Shandi Publisher)
Mansfield Park - Jane Austen (Shandi Publisher)
Lihat Buku

Tidak lama kemudian, setelah suasana agak tenang, Haji Abbas berkata pula dengan suara yang dalam dan penuh wibawa, katanya, “Meskipun engkau tidak bersalah memulai perkelahian itu, tapi percayalah engkau, bahwa kejadian petang ini tidak membaikkan kepada namamu yang selama ini bersih. Biarpun tidak salahmu memulai, tapi kata orang bijak, tak mau bertepuk sebelah tangan – pasti keduanya ada salahnya. Yang akan datang saya harap sungguh-sungguh jangan hendaknya terjadi pula hal macam ini sekali lagi.”

“Saya tidak sudi melihat muridku suka berkelahi seperti jawara kampung. Kebanyakan saya lihat anak-anak muda seperti engkau ini, kalau sudah berilmu sedikit langsung menjadi sombong dan congkak seperti ayam jago. Tidak berpucuk di atas enau lagi – sudah merasa paling hebat. Pikirnya, tak ada yang lebih pandai daripada dia di kampung ini.”

“Lebih-lebih lagi kalau seseorang itu pandai bersilat,” lanjut Haji Abbas dengan nada menasehati. “Seringkali dicari-carinya selisih dengan orang lain supaya ia bisa berkelahi, hendak memperlihatkan kehebatannya kepada khalayak. Salah-salah sedikit langsung hendak berkelahi saja, seperti orang yang gatal tangan. Begitulah tabiat yang kebanyakan saya lihat pada pemuda-pemuda sekarang.”

“Padamu, Midun,” kata Haji Abbas menatap tajam, “kami berdua mengharap jangan ada tabiat yang buruk itu. Hal semacam itu hanya mencelakakan diri sendiri bagai menyimpan api dalam sekam. Tidak ada yang selamat akhirnya, binasa juga akhir kelaknya. Daripada sahabat kenalan kita pun bisa menjauh karena ulah kita sendiri.”

“Contohilah ilmu padi, kian berisi kian runduk – semakin berilmu semakin rendah hati. Begitulah sikap yang kami sukai dalam pergaulan sehari-hari. Satu pun tidak ada faedahnya memegahkan diri, hendak memperlihatkan kepandaian di sana-sini. Asal tidak merusakkan kesopanan diri, dalam percakapan atau tingkah laku, lebih baik merendah seperti air yang mengalir ke tempat yang rendah.”

“Berani karena benar, takut karena salah – itu prinsipnya,” tegas Haji Abbas. “Akuilah kesalahan itu dengan lapang dada, jika sebenarnya engkau bersalah. Tetapi perlihatkan juga keberanianmu yang pantang mundur, akan menunjukkan kebenaran yang hakiki.”

Rekomendasi
Emma - Jane Austen
Emma - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
Winnetou 2 - Karl May
Winnetou 2 - Karl May
Lihat Buku
Rekomendasi
Le Petit Prince - Antoine de Saint-Exupery
Le Petit Prince - Antoine de Saint-Exupery
Lihat Buku
Rekomendasi
Peter Pan - J. M. Barrie
Peter Pan - J. M. Barrie
Lihat Buku
Rekomendasi
Frankenstein - Mary Shelley
Frankenstein - Mary Shelley
Lihat Buku
Rekomendasi
Mansfield Park - Jane Austen (Shandi Publisher)
Mansfield Park - Jane Austen (Shandi Publisher)
Lihat Buku

“Anak muda biasanya lekas naik darah seperti minyak tanah disulut api. Hal itu seboleh-bolehnya harus ditahan dengan kesabaran. Dalam segala hal hendaklah berlaku sabar seperti bumi menanggung beban. Apalagi kalau ditimpa malapetaka atau ujian hidup, haruslah diterima dengan tulus ikhlas bagai menerima takdir. Tetapi bilamana perlu dan sudah tidak ada jalan lain, janganlah undur barang setapak jua pun; itulah tandanya bahwa kita seorang laki-laki sejati yang tahu harga diri.”

“Begitu pula halnya dengan hawa nafsu,” lanjut Haji Abbas dengan suara yang semakin dalam. “Hawa nafsu itu tak ada batasnya seperti laut yang tak bertepi. Dialah yang kerap kali menjerumuskan orang ke dalam lembah kesengsaraan dan penyesalan. Jika tidak pandai mengemudikan hawa nafsu dengan bijak, alamat badan akan binasa seperti kapal tanpa nahkoda.”

“Jika selalu diturutkan hawa nafsu, mau ia sampai ke langit yang kedelapan sekalipun – jika ada langit yang kedelapan,” ujar Haji Abbas dengan senyum kecil. “Oleh karena itu, biasakanlah dirimu memandang ke bawah sesekali, jangan selalu menengadah ke atas. Hendaklah pandai-pandai memegang kendali hawa nafsumu dengan erat, supaya selamat diri hidup di dunia yang fana ini.”

“Pikir itu pelita hati yang menerangi jalan gelap,” kata Haji Abbas mengetuk lantai dengan tongkatnya untuk menekankan perkataan. “Karena itu, setiap pekerjaan yang hendak dilakukan, pikirkan dalam-dalam seperti menyelam ke dasar laut, timbang dahulu buruk baiknya dengan matang.”

“Lihat-lihat kawan seiring, kata orang bijak,” lanjutnya. “Dalam pergaulan hidup hendaknya selalu ingat-ingat dan waspada. Jauhi segala percederaan yang bisa merusak persahabatan. Bercampur dengan orang alim dan bijak, tak dapat tiada kita akan terbawa alim pula. Bergaul dengan pencuri dan pemaling, sekurang-kurangnya jadi ajar ilmunya. Sebab itu pandai-pandailah memilih sahabat dan kenalan. Jangan dengan sembarang orang saja berteman akrab. Kerap kali sahabat karib itulah yang tanpa sadar membinasakan kita seperti kawan seperjalanan yang menyesatkan. Daripada bersahabat dengan seribu orang bodoh yang tidak mengerti adat, lebih baik bermusuh dengan seorang pandai yang tahu aturan.”

Rekomendasi
Emma - Jane Austen
Emma - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
Winnetou 2 - Karl May
Winnetou 2 - Karl May
Lihat Buku
Rekomendasi
Le Petit Prince - Antoine de Saint-Exupery
Le Petit Prince - Antoine de Saint-Exupery
Lihat Buku
Rekomendasi
Peter Pan - J. M. Barrie
Peter Pan - J. M. Barrie
Lihat Buku
Rekomendasi
Frankenstein - Mary Shelley
Frankenstein - Mary Shelley
Lihat Buku
Rekomendasi
Mansfield Park - Jane Austen (Shandi Publisher)
Mansfield Park - Jane Austen (Shandi Publisher)
Lihat Buku

“Nah, saya katakan terus terang kepadamu, Midun!” Haji Abbas menatap tajam ke arah Midun. “Engkau adalah seorang anak muda yang cekatan dan berbakat. Budi pekertimu baik seperti emas yang tidak berkarat. Dalam segala hal engkau rajin dan pandai menempatkan diri. Selama ini belum pernah engkau mengecewakan hati kami dengan perbuatanmu. Segala pekerjaanmu boleh dikatakan selalu menyenangkan hati kami seperti angin sepoi-sepoi.”

“Tidak kami saja yang memuji engkau, bahkan orang sekampung ini pun sangat menghargai perangaimu yang sopan dan rendah hati. Oleh karena itu, peliharakanlah namamu yang baik selama ini seperti menjaga permata yang berharga. Pengetahuanmu untuk dunia dan akhirat sudah memadai, tidak kurang suatu apa. Tentu engkau sudah dapat memahamkan mana yang baik dan mana yang buruk seperti memisahkan beras dari sekam. Sekianlah nasihat saya yang tulus untukmu.”

Midun tepekur mendengar nasihat Haji Abbas yang panjang lebar itu. Diperhatikannya dengan sungguh-sungguh setiap kata yang keluar dari mulut gurunya yang bijak itu. Satu pun tidak ada yang dilupakannya, semuanya masuk benar-benar ke dalam hati sanubarinya yang terdalam seperti air meresap ke akar-akar pohon.

Kemudian dengan suara yang penuh khidmat, Midun berkata, katanya, “Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya akan nasihat Bapak yang sangat berharga itu. Selama hayat masih dikandung badan, selama darah masih mengalir di tubuh ini, takkan saya lupa-lupakan setiap kata Bapak. Segala pengajaran Bapak, setitik akan menjadi laut, sekepal akan menjadi gununglah bagi saya hendaknya. Mudah-mudahan segala nasihat Bapak yang bijak itu benar-benar menjadi darah daging saya, menyatu dengan jiwa raga.”

“Nasihat bapakmu itu sebenarnya,” ujar Pak Midun pula dengan wajah serius, “ingatlah selalu dirimu yang akan datang. Siapa tahu karena Kacak tak dapat mengenai engkau tadi, perkara itu menimbulkan sakit hati yang mendalam kepadanya. Bukankah hal itu boleh mendatangkan yang tidak baik di kemudian hari seperti duri dalam daging? Insaflah engkau, pikirkan dengan jernih siapa kita ini dan siapa orang itu sebenarnya.”

Setelah percakapan yang mendalam itu usai, maka Haji Abbas dan Midun pun pergilah mendoa ke rumah Pakih Sutan seperti rencana semula, meninggalkan Pak Midun yang masih termenung di beranda rumahnya.

Di tengah kegelapan malam yang hanya diterangi cahaya rembulan, langkah mereka berdua perlahan-lahan menjauh, membawa serta kekhawatiran akan masa depan yang tidak pasti.


Sengsara Membawa Nikmat Bab 2 / 5
Sengsara Membawa Nikmat
Sisa 2 bab lagi yang bisa kamu baca tanpa membuat akun KlikNovel.
Progres Zona Bebas: 50%

๐Ÿ’ Suka terjemahan ini?

Dukung KlikNovel menerjemahkan lebih banyak novel klasik seperti Sengsara Membawa Nikmat.

Rekomendasi
Tarian Kematian - Gustave Flaubert
Tarian Kematian - Gustave Flaubert
Lihat Buku
Rekomendasi
Pollyanna - Eleanor H. Potter
Pollyanna - Eleanor H. Potter
Lihat Buku
Rekomendasi
Merahnya Merah - Iwan Simatupang
Merahnya Merah - Iwan Simatupang
Lihat Buku
Rekomendasi
Emma - Jane Austen (Shandi Publisher)
Emma - Jane Austen (Shandi Publisher)
Lihat Buku
Rekomendasi
The Adventures of Sherlock Holmes
The Adventures of Sherlock Holmes
Lihat Buku
Rekomendasi
The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde - Robert Louis Stevenson
The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde - Robert Louis Stevenson
Lihat Buku

๐Ÿ“ Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!

Rekomendasi
Max Havelaar - Multatuli
Max Havelaar - Multatuli
Lihat Buku
Rekomendasi
Jane Eyre - Charlotte Brontรซ
Jane Eyre - Charlotte Brontรซ
Lihat Buku
Rekomendasi
Merahnya Merah - Iwan Simatupang
Merahnya Merah - Iwan Simatupang
Lihat Buku
Rekomendasi
Northanger Abbey - Jane Austen (Mizan)
Northanger Abbey - Jane Austen (Mizan)
Lihat Buku
Rekomendasi
The Diamond Necklace and Other Stories - Guy de Maupassant
The Diamond Necklace and Other Stories - Guy de Maupassant
Lihat Buku
Rekomendasi
Tarian Kematian - Gustave Flaubert
Tarian Kematian - Gustave Flaubert
Lihat Buku
×
×