A

Achmed Abdullah

12 Mei 1881 - 12 Mei 1945

Achmed Abdullah (12 Mei 1881 – 12 Mei 1945) adalah seorang penulis, dramawan, dan penulis skenario yang dikenal luas melalui karya-karya fiksi populer bertema petualangan, kriminal, dan misteri pada awal abad ke-20. Ia merupakan figur yang menarik sekaligus enigmatik, tidak hanya karena produktivitasnya, tetapi juga karena identitas dan latar belakangnya yang kerap berubah-ubah.

Abdullah dilaporkan berasal dari Afghanistan, meskipun detail mengenai asal-usulnya sering kali kabur atau bahkan sengaja dikaburkan. Ia menggunakan beberapa nama lengkap yang berbeda sepanjang hidupnya, di antaranya “Achmed Abdullah Nadir Khan el-Durani el-Iddrissyeh” serta “Alexander Nicholayevitch Romanoff”. Pergantian identitas ini menambah aura misterius yang juga tercermin dalam karya-karyanya, yang sering mengeksplorasi tema penyamaran, identitas ganda, dan ambiguitas moral.

Sebelum tahun 1912, Abdullah bermigrasi ke Amerika Serikat, tempat ia kemudian membangun karier sebagai penulis. Ia mulai dikenal melalui publikasi cerita-ceritanya di berbagai majalah populer Amerika seperti *Argosy*, *All-Story Magazine*, *Munsey’s Magazine*, dan *Blue Book*. Majalah-majalah ini merupakan bagian penting dari budaya “pulp fiction”, yang pada masa itu menjadi medium utama bagi cerita-cerita petualangan dan fiksi populer.

Sebagai penulis, Abdullah menunjukkan kemampuan kuat dalam menciptakan atmosfer eksotik dan penuh ketegangan. Banyak karyanya berlatar wilayah yang digambarkan sebagai “Timur”, dengan karakter-karakter yang menghadapi konflik antara kehormatan, kekuasaan, dan hasrat pribadi. Selain cerita petualangan dan kriminal, ia juga menulis cerita fantasi; kumpulan cerpennya *Wings* bahkan dinilai oleh kritikus Mike Ashley sebagai memuat beberapa tulisan terbaiknya.

Karier Abdullah tidak terbatas pada sastra cetak. Ia juga terlibat dalam industri film Hollywood sebagai penulis skenario. Salah satu pencapaiannya yang paling menonjol adalah keterlibatannya dalam film **Chang: A Drama of the Wilderness**, sebuah drama yang mendapat nominasi Academy Award. Selain itu, ia juga memperoleh nominasi Academy Award untuk kolaborasinya dalam penulisan skenario film **The Lives of a Bengal Lancer**, yang menjadi salah satu film petualangan kolonial terkenal pada masanya.

Di luar karya fiksi dan film, Abdullah juga menunjukkan minat terhadap sastra dan budaya Asia Tengah. Ia menerjemahkan sejumlah puisi Afghanistan ke dalam bahasa Inggris, termasuk karya yang dikaitkan dengan istri Mohammad Afzal Khan serta lirik-lirik *chaharbeiti*, bentuk puisi tradisional. Kegiatan ini memperlihatkan upayanya untuk memperkenalkan unsur budaya yang lebih luas kepada pembaca Barat, meskipun sering kali melalui lensa yang telah disesuaikan dengan selera audiens internasional.

Dalam kehidupan pribadi, Abdullah menikah setidaknya tiga kali: dengan Irene Bainbridge, Jean Wick, dan Rosemary A. Dolan. Dari pernikahannya dengan Irene Bainbridge, ia memiliki dua anak perempuan, yakni Phyllis Abdullah, yang meninggal saat masih kecil, dan Pamelia Susan Abdullah Brower.

Pada Januari 1945, Abdullah dirawat di Columbia Presbyterian Medical Center di New York. Ia meninggal dunia pada 12 Mei 1945—bertepatan dengan hari ulang tahunnya yang ke-64—akibat serangan jantung.

Warisan Achmed Abdullah terletak pada kemampuannya menggabungkan narasi petualangan populer dengan nuansa psikologis dan moral yang kompleks. Meskipun beberapa aspek karyanya kini dibaca secara kritis, terutama terkait representasi budaya, ia tetap menjadi salah satu figur penting dalam perkembangan fiksi populer dan skenario film pada paruh pertama abad ke-20.

Tidak ada novel.

The Honourable Gentleman (Sang Lelaki Terhormat)

Sastra Amerika

“Ada juga kemungkinan bahwa engkau dengan terhormat melakukan bunuh diri,” usul Tsing Yat dengan tenang. “Itu pun telah kupikirkan. Karena bunuh diri adalah fah-lien—diperbolehkan oleh hukum. Tetapi jika sekarang, sebelum operasi, aku dengan tanganku sendiri naik ke naga, guncangan itu mungkin akan membunuhnya dan saat-saat terakhirnya akan menjadi saat-saat penuh kesedihan. “Jika aku menunggu sampai setelah operasi, dia akan melihatku di ranjang kematianku, mungkin dalam peti matiku ketika upacara terakhir berlangsung. Dan lagi, mungkin, setelah melihatku sebagaimana adanya—aku, yang dia kira tampan menawan—madu tahun-tahun lalu akan berubah menjadi empedu rasa jijik—kebencian.”
👁 0⭐ 0(0 vote)
×
×