Charles Dickens
7 Februari 1812 - 9 Juni 1870
A Christmas Carol
Malam Natal di London. Kabut pekat menyusup ke setiap celah kantor Scrooge dan Marley, tetapi hawa paling dingin di ruangan itu tidak berasal dari cuaca. Ebenezer Scrooge, lelaki tua yang...
"Halo! Yang di bawah sana!"
Seruan iseng seorang pejalan kaki dari puncak tebing membuat penjaga sinyal di dasar galian rel itu berbalik dengan sikap ganjil. Ia tidak mendongak ke arah suara, tetapi menoleh ke sepanjang rel, ke mulut terowongan yang gelap. Posnya adalah tempat paling sunyi dan suram yang bisa dibayangkan. Tempat itu diapit dinding batu yang basah dan nyaris tak pernah tersentuh matahari, dengan sebuah lampu merah menyala di dekat terowongan.
Penjaga sinyal itu cerdas, teliti, dan waspada. Namun, ada sesuatu yang meresahkannya. Berkali-kali ia menoleh ke bel yang tidak berbunyi, dan memandangi lampu merah itu seolah menunggu sesuatu muncul. Ketika si pejalan kaki kembali keesokan malamnya, ia akhirnya bercerita tentang sesosok makhluk yang menutupi wajah dengan lengannya sambil melambai-lambai dengan kalap di dekat lampu merah itu.
Makhluk itu meneriakkan kata-kata yang persis sama. Dua kali sosok itu muncul, dan dua kali malapetaka menyusul. Kini ia muncul lagi.
Ditulis setahun setelah Dickens sendiri selamat dari sebuah kecelakaan kereta api yang mengerikan, The Signal-Man adalah salah satu cerita hantu terbaik dalam sastra Inggris. Kisahnya pendek dan sunyi, tetapi terus menghantui lama setelah halaman terakhir ditutup.
The Boy at Mugby
Lain kali kau singgah terburu-buru di Mugby, coba minta minuman kepada Bocah yang kedudukannya begitu. Perhatikan baik-baik bahwa ia akan berusaha tampak tidak mendengarmu. Ia akan tampak melamun sambil mengamati jalur rel menembus sebuah perantara bening yang terdiri atas kepala dan tubuhmu. Dan ia tak akan melayanimu selama kau masih bisa menahan diri. Itulah aku.
Sungguh menyenangkan! Kami ini Tempat Teladan, sungguh, di Mugby. Ruang-Ruang Penyegaran lain mengirimkan nona-nona muda mereka yang belum sempurna untuk disempurnakan oleh Nyonya Kami. Sebab sebagian nona muda itu, waktu baru masuk ke usaha ini, datang dengan sikap lembut! Ah! Nyonya Kami segera menghilangkan sifat itu dari mereka. Lho, dulu aku sendiri masuk usaha ini dengan sikap patuh. Tetapi Nyonya Kami segera menghilangkan sifat itu dari aku.
Sungguh sangat menyenangkan! Menurutku, kami orang-orang Penyegaran menduduki satu-satunya kedudukan yang merdeka dengan penuh kebanggaan di sepanjang jalur ini. Ambil contoh Si Koran, sahabatku yang terhormat, kalau ia mengizinkanku menyebutnya begitu, yang bekerja di kios buku Smith.
Barbox Brothers & Co.
Keasyikan Barbox dalam seluruh kegiatan itu selama semua kesenangan tersebut dijalankan lagi-lagi menjadi pemandangan yang pantas dilihat. Tak kalah pantas dilihat ketika makan malam, saat ia bersulang untuk Miss Melluka, yang diikat tegak di kursi di hadapan Polly (sebab sang gadis Sirkasia punya tulang punggung yang tak bisa ditekuk), bahkan membujuk pelayan untuk ikut menjalankan gagasan agung yang sedang berlaku itu dengan tata krama yang pantas.
Sebagai penutup, datanglah demam yang menyenangkan untuk memasukkan Miss Melluka beserta seluruh pakaian dan harta kekayaannya ke dalam kereta sewaan bersama Polly, untuk dibawa pulang. Namun, saat itu Polly sudah tak sanggup lagi memandang kebahagiaan yang bertumpuk-tumpuk itu dengan mata terjaga, dan telah menarik kesadarannya ke dalam Firdaus yang menakjubkan, yaitu tidur seorang anak.
"Tidurlah, Polly, tidurlah," kata Barbox Brothers ketika kepala Polly terkulai di bahunya. "Setidaknya kau takkan mudah jatuh dari ranjang yang ini!"
Barbox Brothers
Kini semuanya sunyi, semuanya berkarat. Angin dan hujan berkuasa, lampu-lampu padam, dan Mugby Junction mati dan samar, jubahnya ditarik menutupi kepala seperti Caesar. Kini pula, saat si penumpang yang terlambat itu berjalan mondar-mandir dengan berat, sebuah kereta bayang-bayang lewat di dekatnya dalam kegelapan. Itu tak lain adalah kereta sebuah kehidupan. Dari galian dalam atau terowongan gelap mana pun kereta itu muncul, datanglah ia, tanpa dipanggil dan tanpa diumumkan, menyelinap mendekatinya lalu berlalu ke dalam kegelapan.
Dengan muram lewatlah seorang anak yang tak pernah mengenal masa kanak-kanak ataupun orang tua. Ia tersambung erat dengan seorang pemuda yang getir karena tak punya nama, yang tergandeng dengan seorang pria yang tahun-tahun terbaiknya dipaksa mengurus usaha yang menjemukan dan menindas. Pria itu terangkai dengan seorang sahabat yang tak tahu berterima kasih, yang menyeret di belakangnya seorang perempuan yang dulu dicintai.
Mengiringi semua itu, dengan banyak dentang dan sentakan, ada kekhawatiran-kekhawatiran yang berat, renungan-renungan gelap, kekecewaan-kekecewaan besar yang samar, tahun-tahun yang monoton, dan barisan panjang yang berderak dari segala sumbang hidup yang sepi dan tak bahagia.
Mugby Junction
Pukul tiga dini hari, di tengah hujan deras dan angin yang menderu, seorang pria turun dari kereta di Mugby Junction, stasiun persimpangan tempat tujuh jalur rel bertemu. Ia tak punya...
