Rekomendasi
The Age of Innocence - Edith Wharton
The Age of Innocence - Edith Wharton
Lihat Buku
Rekomendasi
Lassie Come Home - Eric Knight
Lassie Come Home - Eric Knight
Lihat Buku
Rekomendasi
The Return of Sherlock Holmes
The Return of Sherlock Holmes
Lihat Buku
Rekomendasi
The Hound of the Baskervilles - Sir Arthur Conan Doyle
The Hound of the Baskervilles - Sir Arthur Conan Doyle
Lihat Buku
Rekomendasi
Poirot\\\\\\\'s Early Cases - Agatha Christie
Poirot\\\\\\\'s Early Cases - Agatha Christie
Lihat Buku
Rekomendasi
Kumpulan Cerpen Terbaik Guy de Maupassant
Kumpulan Cerpen Terbaik Guy de Maupassant
Lihat Buku

Bab 6 – Darcy Mulai Berubah Pikiran

• Pride and Prejudice •

👁️ 18 tayangan

PARA gadis dari Longbourn segera berkunjung ke Netherfield, dan kunjungan itu pun dibalas dengan cara yang semestinya. Sopan santun Jane yang menawan semakin membuat Mrs. Hurst dan Miss Bingley bersimpati padanya.

Meski mereka menganggap sikap Mrs. Bennet benar-benar tak tertahankan, dan gadis-gadis yang lebih muda tak layak diperhitungkan, mereka tetap menyatakan keinginan untuk lebih mengenal dua putri tertua keluarga Bennet.

Jane menerima perhatian ini dengan gembira; sedangkan Elizabeth, meski mengakui bahwa sikap mereka pada Jane ada nilainya, masih saja melihat kesombongan dalam perlakuan mereka pada semua orang—bahkan hampir tak terkecuali pada Jane sendiri.

Elizabeth pun tidak bisa menyukai mereka. Baginya, kebaikan dua perempuan Bingley itu semata-mata lahir dari pengaruh kekaguman kakak mereka terhadap Jane.

Dan memang terlihat jelas: setiap kali mereka bertemu, Mr. Bingley tampak benar-benar mengagumi Jane. Sama jelasnya bagi Elizabeth bahwa Jane mulai membalas perasaan itu, dan perlahan jatuh cinta.

Namun Elizabeth merasa lega, sebab Jane tidak akan mudah ditebak orang lain. Ia punya perasaan yang dalam, tapi juga ketenangan hati dan keceriaan yang konsisten—semuanya cukup untuk melindunginya dari prasangka orang-orang usil.

Elizabeth bahkan menyebut hal ini pada sahabatnya, Charlotte Lucas.

“Mungkin memang menyenangkan,” ujar Charlotte, “bisa menipu orang banyak dalam hal semacam ini. Tapi terlalu berhati-hati juga bisa merugikan.

“Kalau seorang perempuan menyembunyikan perasaannya sedemikian rapat hingga tak terlihat oleh pria yang dia sukai, bisa-bisa kesempatan justru hilang. Dan akan jadi hiburan yang menyedihkan kalau dunia memang tak tahu apa-apa, tapi pria itu pun tak pernah sadar.

“Hampir setiap ikatan antara pria dan wanita selalu ada unsur syukur atau kesombongan di dalamnya; jadi tidak bijak membiarkan semuanya berjalan tanpa dorongan.

“Kita semua bisa mulai dengan mudah—sedikit rasa suka itu wajar. Tapi hanya sedikit dari kita yang benar-benar bisa jatuh cinta tanpa dorongan balik.

“Dalam sembilan dari sepuluh kasus, perempuan lebih baik menunjukkan lebih banyak kasih sayang daripada yang sebenarnya ia rasakan. Bingley jelas menyukai kakakmu. Tapi kalau Jane tidak sedikit pun menunjukkannya, bisa saja rasa itu tidak berkembang lebih jauh.”

Rekomendasi
The Necklace and Other Stories - Guy de Maupassant
The Necklace and Other Stories - Guy de Maupassant
Lihat Buku
Rekomendasi
Frankenstein - Mary Shelley
Frankenstein - Mary Shelley
Lihat Buku
Rekomendasi
Peter Pan - J. M. Barrie
Peter Pan - J. M. Barrie
Lihat Buku
Rekomendasi
Pride and Prejudice - Jane Austen
Pride and Prejudice - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
Persuasion - Jane Austen
Persuasion - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
Poirot\\\\\\\'s Early Cases - Agatha Christie
Poirot\\\\\\\'s Early Cases - Agatha Christie
Lihat Buku

“Tapi Jane sudah memberinya sinyal-sinyal yang diperlukan, sejauh memungkinkan. Kalau aku saja bisa melihat betapa dia menyukai Bingley, masa Bingley tidak bisa menebaknya?”

“Ingat, Eliza, Bingley tidak mengenal tabiat Jane sedalam yang kau tahu.”

“Tapi kalau seorang perempuan sudah condong pada seorang laki-laki, dan tidak berusaha menyembunyikannya, seharusnya si laki-laki bisa menangkap itu.”

“Mungkin saja, kalau mereka cukup sering bertemu. Meski Jane dan Bingley lumayan sering berjumpa, mereka tidak pernah menghabiskan waktu berjam-jam berdua saja. Mereka selalu bertemu dalam keramaian. Jadi mustahil setiap menit bisa dipakai untuk berbincang.

“Justru karena itu, Jane seharusnya memanfaatkan setiap kesempatan yang dia bisa untuk mendapat perhatian Bingley. Kalau dia sudah berhasil mengikatnya, barulah ada waktu untuk jatuh cinta sepuas hati.”

“Rencanamu bagus,” jawab Elizabeth, “kalau memang tujuan satu-satunya hanya mencari suami kaya. Kalau aku juga berniat begitu, aku mungkin akan melakukan itu.

“Tapi perasaan Jane bukan seperti itu. Dia tidak sedang memainkan siasat. Dia bahkan belum yakin seberapa besar rasa sukanya, atau apakah itu masuk akal.

“Mereka baru saling kenal dua minggu. Jane baru berdansa dengannya empat kali di Meryton, sempat berkunjung sekali ke rumahnya, dan makan malam bersamanya empat kali. Itu belum cukup untuk mengenal tabiat seseorang.”

“Kalau hanya makan malam, memang begitu,” sahut Charlotte. “Paling-paling yang bisa dia tahu hanyalah apakah selera makannya baik. Tapi kau lupa, Eliza, ada empat malam juga yang mereka habiskan bersama—dan dalam empat malam, banyak yang bisa terjadi.”

“Ya, yang mereka temukan dari empat malam itu hanyalah bahwa mereka sama-sama lebih suka main Vingt-un daripada Commerce. Tapi untuk sifat-sifat penting lain, aku rasa belum ada yang terungkap.”

Charlotte tersenyum.

“Baiklah. Aku tetap mengharapkan Jane berhasil dengan sepenuh hati. Dan kalau nanti dia menikah dengan Bingley, aku akan percaya dia punya peluang bahagia yang sama besarnya seolah dia telah mengamati tabiatnya selama setahun penuh.

Rekomendasi
The Necklace and Other Stories - Guy de Maupassant
The Necklace and Other Stories - Guy de Maupassant
Lihat Buku
Rekomendasi
Frankenstein - Mary Shelley
Frankenstein - Mary Shelley
Lihat Buku
Rekomendasi
Peter Pan - J. M. Barrie
Peter Pan - J. M. Barrie
Lihat Buku
Rekomendasi
Pride and Prejudice - Jane Austen
Pride and Prejudice - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
Persuasion - Jane Austen
Persuasion - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
Poirot\\\\\\\'s Early Cases - Agatha Christie
Poirot\\\\\\\'s Early Cases - Agatha Christie
Lihat Buku

“Kebahagiaan dalam pernikahan semata-mata soal nasib. Mau tabiatnya sudah sama-sama dikenal atau belum, tidak akan banyak menjamin kebahagiaan mereka.

“Suami-istri pada akhirnya akan selalu menemukan cukup banyak perbedaan untuk menjadi pangkal perselisihan. Karena itu, sebaiknya kita tahu sesedikit mungkin tentang kekurangan orang yang akan jadi teman hidup kita.”

“Kau membuatku geli, Charlotte! Tapi itu bukan alasan yang sehat, dan kau tahu itu. Lagipula, aku yakin kau sendiri tidak akan bertindak begitu.”

Sementara Elizabeth sibuk mengamati perhatian Mr. Bingley pada kakaknya, ia sama sekali tak menyangka bahwa dirinya mulai menarik perhatian orang lain. Mr. Darcy, yang semula nyaris tidak mau mengakuinya cantik—di pesta dansa ia menatap tanpa kekaguman, lalu menatap lagi hanya untuk mengkritik—mulai berubah pikiran.

Begitu ia menyatakan dengan yakin pada dirinya sendiri (dan sahabat-sahabatnya) bahwa Elizabeth nyaris tak punya satu pun fitur wajah yang indah, ia justru menemukan betapa ekspresi cerdas di mata gelapnya membuat paras itu begitu memesona.

Penemuan ini segera disusul yang lain, yang sama-sama membuat Darcy jengkel. Meskipun matanya yang kritis bisa menemukan lebih dari satu ketidak-sempurnaan pada bentuk tubuh Elizabeth, ia terpaksa mengakui bahwa sosok gadis itu ramping dan menawan.

Dan meski ia bersikeras bahwa sikap Elizabeth tidak sesuai dunia kaum bangsawan, Darcy justru terpikat oleh kelincahan dan keceriaan alami putri kedua Keluarga Bennet itu.

Semua ini sama sekali tak disadari Elizabeth. Baginya, Darcy hanyalah pria yang tidak menyenangkan di mana-mana, dan yang pernah mengatakan ia tidak cukup cantik untuk diajak berdansa.

Namun Darcy mulai ingin mengenal Elizabeth lebih jauh. Sebagai langkah awal, ia mendengarkan percakapan Elizabeth dengan orang lain.

Sikapnya itu akhirnya menarik perhatian Elizabeth juga. Dan hal itu terjadi di rumah Sir William Lucas, saat sebuah pesta besar digelar.

Rekomendasi
The Necklace and Other Stories - Guy de Maupassant
The Necklace and Other Stories - Guy de Maupassant
Lihat Buku
Rekomendasi
Frankenstein - Mary Shelley
Frankenstein - Mary Shelley
Lihat Buku
Rekomendasi
Peter Pan - J. M. Barrie
Peter Pan - J. M. Barrie
Lihat Buku
Rekomendasi
Pride and Prejudice - Jane Austen
Pride and Prejudice - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
Persuasion - Jane Austen
Persuasion - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
Poirot\\\\\\\'s Early Cases - Agatha Christie
Poirot\\\\\\\'s Early Cases - Agatha Christie
Lihat Buku

“Apa maksud Mr. Darcy,” kata Elizabeth pada Charlotte, “dengan mendengarkan percakapanku bersama Kolonel Forster?”

“Itu pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh Mr. Darcy sendiri.”

“Kalau dia melakukannya lagi, aku pasti akan membuatnya sadar bahwa aku tahu apa yang dia lakukan. Tatapannya sinis sekali; dan kalau aku tidak mulai duluan dengan sedikit sikap lancang, lama-lama aku bisa jadi takut padanya.”

Tak lama kemudian, Mr. Darcy memang mendekat, meski jelas tanpa maksud menyapa. Miss Lucas pun menantang Elizabeth agar menyampaikan hal itu langsung di hadapan pemuda tersebut.

Elizabeth, yang gampang terpancing, segera menoleh dan berkata,

“Tidakkah Anda pikir, Mr. Darcy, bahwa barusan aku menyampaikan permintaanku dengan sangat baik, saat aku mendesak Kolonel Forster agar mau mengadakan pesta dansa di Meryton?”

“Dengan semangat yang menggebu,” jawab Darcy datar. “Tapi topik seperti itu memang selalu membuat seorang wanita jadi bersemangat.”

“Wah, Anda menyindir kami.”

“Sebentar lagi giliran dia yang disindir,” sela Miss Lucas. “Aku akan membuka piano, Eliza, dan kau tahu apa yang akan terjadi.”

“Kau memang teman yang aneh!” seru Elizabeth sambil tertawa. “Selalu saja ingin aku main piano dan bernyanyi di depan semua orang. Kalau saja aku orang yang suka menyombongkan kemampuan bermusik, kau pasti jadi sahabat yang tak ternilai. Tapi kenyataannya, aku lebih suka tidak duduk di hadapan orang-orang yang terbiasa mendengar pemain musik terbaik.”

Namun, karena Miss Lucas terus memaksa, akhirnya Elizabeth menyerah. “Baiklah, kalau memang harus, ya harus.”

Lalu ia melirik tajam ke arah Mr. Darcy dan menambahkan, “Ada pepatah lama yang sangat bijak—‘Simpan napasmu untuk mendinginkan buburmu.’ Dan aku akan menyimpan napasku untuk menambah tenagaku saat bernyanyi.”

Permainan pianonya menyenangkan, meski jauh dari luar biasa. Setelah dua lagu, dan sebelum sempat menolak permintaan beberapa orang yang ingin ia lanjut, Mary—satu-satunya yang dianggap paling biasa dalam keluarga—bergegas menggantikannya. Mary, yang rajin belajar demi menutupi kekurangannya, selalu haus unjuk kemampuan.

Rekomendasi
The Necklace and Other Stories - Guy de Maupassant
The Necklace and Other Stories - Guy de Maupassant
Lihat Buku
Rekomendasi
Frankenstein - Mary Shelley
Frankenstein - Mary Shelley
Lihat Buku
Rekomendasi
Peter Pan - J. M. Barrie
Peter Pan - J. M. Barrie
Lihat Buku
Rekomendasi
Pride and Prejudice - Jane Austen
Pride and Prejudice - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
Persuasion - Jane Austen
Persuasion - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
Poirot\\\\\\\'s Early Cases - Agatha Christie
Poirot\\\\\\\'s Early Cases - Agatha Christie
Lihat Buku

Sayangnya, Mary tak punya bakat maupun rasa seni. Kesungguhannya justru membuat gayanya terasa kaku dan sok pintar, sehingga hasilnya malah jauh dari mengesankan. Elizabeth, meski bermain lebih sederhana, justru lebih enak dinikmati karena sikapnya yang luwes dan alami.

Mary, setelah menuntaskan sebuah concerto panjang, akhirnya harus merendah dengan memainkan lagu-lagu sederhana Skotlandia dan Irlandia demi memenuhi permintaan adik-adiknya, yang segera bersemangat menari bersama keluarga Lucas dan beberapa perwira di ujung ruangan.

Mr. Darcy berdiri agak dekat, diam-diam merasa tersinggung pada cara orang-orang itu menghabiskan malam hanya dengan musik dan tari, hingga melupakan percakapan. Ia begitu sibuk dengan pikirannya sendiri sampai tak sadar bahwa Sir William Lucas berdiri di sisinya.

“Alangkah menyenangkannya bagi kaum muda, bukan, Mr. Darcy? Tak ada yang seindah dansa. Aku menganggapnya salah satu tanda peradaban masyarakat yang berbudi.”

“Benar, Sir. Dan keuntungannya, dansa juga populer di masyarakat yang tidak berbudi sekalipun—bahkan orang biadab pun bisa berdansa.”

Sir William hanya tersenyum. Ia lalu menunjuk ke arah Bingley yang bergabung dengan kelompok penari. “Sahabat Anda berdansa dengan luar biasa. Saya yakin Anda pun pasti mahir, Mr. Darcy.”

“Seingat saya, Sir, Anda sudah melihat saya menari di Meryton.”

“Ya, tentu saja. Dan aku menikmatinya. Apakah Anda sering menari di St. James’s?”

“Tidak pernah, Sir.”

“Bukankah itu semestinya jadi penghormatan bagi tempat tersebut?”

“Itu bentuk penghormatan yang selalu saya hindari, ke mana pun saya pergi.”

Sir William masih mencoba mengobrol, sampai Elizabeth mendekat. Merasa mendapat kesempatan berbuat sopan, pria paruh baya itu berseru,

“Miss Eliza yang manis, mengapa kau tidak menari? Mr. Darcy, izinkan aku memperkenalkan Anda pada pasangan dansa yang sangat pantas. Anda tentu tak bisa menolak jika keindahan seperti ini ada di depan Anda.”

Sir William bahkan hendak menyodorkan tangan Elizabeth pada Darcy. Pemuda itu, meski terkejut, tidak menolak. Namun Elizabeth segera menarik tangannya dan berkata agak canggung,

Rekomendasi
The Necklace and Other Stories - Guy de Maupassant
The Necklace and Other Stories - Guy de Maupassant
Lihat Buku
Rekomendasi
Frankenstein - Mary Shelley
Frankenstein - Mary Shelley
Lihat Buku
Rekomendasi
Peter Pan - J. M. Barrie
Peter Pan - J. M. Barrie
Lihat Buku
Rekomendasi
Pride and Prejudice - Jane Austen
Pride and Prejudice - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
Persuasion - Jane Austen
Persuasion - Jane Austen
Lihat Buku
Rekomendasi
Poirot\\\\\\\'s Early Cases - Agatha Christie
Poirot\\\\\\\'s Early Cases - Agatha Christie
Lihat Buku

“Tidak, Sir, aku sama sekali tidak berniat menari. Jangan kira aku mendekat ke sini untuk mencari pasangan.”

Mr. Darcy, dengan keramahtamahan yang kaku, tetap meminta kehormatan menari dengannya, tapi Elizabeth menolak. Sir William pun gagal membujuk.

“Sayang sekali, Miss Eliza. Kau menari begitu indah, sungguh kejam jika menolak kami menyaksikan tarianmu lagi. Dan meski gentleman ini tak terlalu menyukai dansa, ia tentu tak keberatan demi menemanimu setengah jam saja.”

“Mr. Darcy memang penuh kesopanan,” kata Elizabeth sambil tersenyum.

“Benar sekali. Dengan alasan seindah itu, wajar saja ia mengalah. Siapa yang bisa menolak pasangan dansa sepertimu?”

Elizabeth hanya tersenyum nakal lalu berbalik.

Penolakan itu tidak membuat Darcy tersinggung; bahkan ia mulai memandang Elizabeth dengan rasa senang. Namun saat itulah Miss Bingley menghampiri.

“Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan.”

“Aku rasa tidak.”

“Kau sedang membayangkan betapa tak menyiksanya menghabiskan malam-malam seperti ini, dengan orang-orang seperti mereka. Dan sungguh, aku sependapat. Membosankan tapi berisik, hampa tapi penuh sok penting! Aku rela menukar apa saja demi mendengar komentar darimu.”

“Dugaanmu sepenuhnya keliru. Yang kupikirkan jauh lebih menyenangkan. Aku sedang merenungkan betapa besar kebahagiaan yang bisa diberikan sepasang mata indah pada wajah seorang gadis cantik.”

Miss Bingley langsung menatapnya tajam. “Siapa perempuan yang bisa membuatmu berkata begitu?”

Dengan tenang, Mr. Darcy menjawab, “Miss Elizabeth Bennet.”

“Miss Elizabeth Bennet!” ulang Miss Bingley terperangah. “Luar biasa! Sejak kapan dia jadi favoritmu? Kapan aku harus mengucapkan selamat?”

“Itu pertanyaan yang memang aku tunggu-tunggu. Imajinasi seorang wanita selalu begitu cepat; melompat dari kekaguman ke cinta, dari cinta ke pernikahan, hanya dalam sekejap. Aku sudah menduga kau akan segera mengucapkan selamat.”

“Kalau kaku benar-benar serius, aku akan menganggapnya sudah pasti terjadi. Kau akan mendapat ibu mertua yang mengagumkan—dan tentu saja beliau akan selalu bersamamu di Pemberley.”

Darcy mendengarkan ocehan itu dengan ketidakpedulian sempurna. Ia membiarkan Miss Bingley bersenang-senang dengan sindirannya, tanpa sedikit pun tergoyahkan.

Pride and Prejudice ⭐ Pilihan Editor Bab 6 / 61
Pride and Prejudice
Sisa 7 bab lagi yang bisa kamu baca tanpa membuat akun KlikNovel.
Progres Zona Bebas: 46%

💝 Suka terjemahan ini?

Dukung KlikNovel menerjemahkan lebih banyak novel klasik seperti Pride and Prejudice.

Rekomendasi
Sense and Sensibility - Jane Austen (Shandi Publisher)
Sense and Sensibility - Jane Austen (Shandi Publisher)
Lihat Buku
Rekomendasi
Persuasion - Jane Austen (Buku NR)
Persuasion - Jane Austen (Buku NR)
Lihat Buku
Rekomendasi
Coming Up for Air - George Orwell
Coming Up for Air - George Orwell
Lihat Buku
Rekomendasi
Sherlock Holmes Short Stories #2 - Sir Arthur Conan Doyle
Sherlock Holmes Short Stories #2 - Sir Arthur Conan Doyle
Lihat Buku
Rekomendasi
Kumpulan Cerpen Terbaik Guy de Maupassant
Kumpulan Cerpen Terbaik Guy de Maupassant
Lihat Buku
Rekomendasi
Pride and Prejudice - Jane Austen
Pride and Prejudice - Jane Austen
Lihat Buku

📝 Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!

Rekomendasi
Kumpulan Cerpen Terbaik Guy de Maupassant
Kumpulan Cerpen Terbaik Guy de Maupassant
Lihat Buku
Rekomendasi
Animal Farm - George Orwell
Animal Farm - George Orwell
Lihat Buku
Rekomendasi
Emma - Jane Austen (Shandi Publisher)
Emma - Jane Austen (Shandi Publisher)
Lihat Buku
Rekomendasi
The Diamond Necklace and Other Stories - Guy de Maupassant
The Diamond Necklace and Other Stories - Guy de Maupassant
Lihat Buku
Rekomendasi
Kumpulan Cerpen Terbaik DH Lawrence
Kumpulan Cerpen Terbaik DH Lawrence
Lihat Buku
Rekomendasi
Northanger Abbey - Jane Austen (Mizan)
Northanger Abbey - Jane Austen (Mizan)
Lihat Buku

Pride and Prejudice

×
×