Catatan Penutup: Saat Manipulasi Jadi Seni Bernama Lady Susan
Selesai sudah perjalanan kita menyusuri intrik dan drama sosial ala abad ke-18 yang dibalut dalam wujud surat-menyurat. Enggak kayak novel Jane Austen yang lain, Lady Susan ini unik banget karena hampir seluruh ceritanya disampaikan lewat surat. Tapi jangan salah—meski formatnya kelihatan kaku dan “jaman dulu banget”, isinya… wow! Tajam, sinis, lucu, dan kadang bikin kita mikir, “Lho, kok kayak kenal ya sama orang kayak gini?”
Lady Susan Vernon, si tokoh utama kita, bukan karakter ideal yang biasanya dijunjung dalam novel-novel klasik. Dia bukan gadis lugu yang menunggu cinta datang, bukan pula janda kalem penuh penderitaan. Dia justru adalah sosok ibu yang cantik, cerdas, manipulatif, dan sangat sadar bahwa pesonanya bisa jadi alat untuk memutarbalikkan keadaan. Di zaman sekarang, mungkin Lady Susan ini bisa kita analogikan sebagai “CEO manipulasi halus” yang tahu kapan harus manis, kapan harus sinis, dan selalu punya backup plan.
Yang menarik adalah, Austen enggak ngasih hukuman “moral” yang biasanya nempel di tokoh-tokoh perempuan semacam ini. Lady Susan memang agak dikritik oleh tokoh-tokoh lain, tapi pada akhirnya dia tetap dapat hidup yang nyaman. Bahkan bisa dibilang dia “menang” dalam game-nya sendiri. Ini bikin pembaca bertanya-tanya: apakah kita seharusnya benci Lady Susan? Atau malah kagum dengan kecerdikannya?
Di tengah dunia yang penuh norma dan aturan moral ketat soal perempuan, Lady Susan berdiri sebagai antitesis. Dia tahu aturan main, tapi dia juga tahu cara melanggarnya tanpa ketahuan. Dia menggunakan kecantikan dan kata-kata sebagai senjata utama. Dalam surat-suratnya, kita bisa lihat gimana dia mengatur semuanya: dari pria-pria yang mengejarnya, anaknya sendiri, sampai citra dirinya di mata orang lain.
Ada sisi gelap, iya. Tapi juga ada sisi yang terasa sangat realistis dan manusiawi. Lady Susan bukan monster, dia cuma perempuan yang bertahan hidup dengan cara yang menurutnya paling masuk akal. Dan kita, sebagai pembaca modern, bisa melihat ini dengan perspektif yang lebih terbuka. Mungkin kita enggak mendukung caranya, tapi kita bisa ngerti kenapa dia melakukan itu.
Di balik semua drama, Austen seperti mau bilang: “Lihat, ini juga potret perempuan. Yang enggak sesuai sama gambaran ideal. Yang enggak selalu manis dan penurut. Tapi tetap menarik dan layak diceritakan.” Dan itu yang bikin Lady Susan penting untuk dibaca. Dia mungkin bukan role model, tapi dia adalah simbol dari kompleksitas perempuan—bahwa perempuan bisa jadi macam-macam: manipulatif, cerdas, ambisius, bahkan jahat, dan tetap menjadi karakter yang menarik untuk diikuti.
Akhir cerita Lady Susan terasa “nyata”—enggak penuh keadilan ala dongeng, tapi juga enggak totally jahat. Justru di situlah letak kekuatan ceritanya. Dia tetap hidup dengan pilihannya sendiri, sementara para tokoh lain akhirnya menerima bahwa enggak semua orang akan bermain sesuai aturan yang mereka pegang.
Terima kasih sudah ikut menelusuri jejak Lady Susan. Kalau kamu sempat kesal, terhibur, bahkan terheran-heran, itu artinya kamu udah terhubung sama cerita ini. Karena pada akhirnya, Austen tidak menulis tentang perempuan ideal, tapi tentang perempuan yang hidup. Dan Lady Susan adalah contoh bahwa hidup enggak selalu hitam putih—kadang, kita semua pernah jadi sedikit manipulatif, sedikit egois, dan ya, kadang menang walau bukan yang paling benar.
Dukung Penulis/Penerjemah Novel Favoritmu
Login untuk memberikan vote dukungan
💖 Suka baca cerita ini?
Bantu KlikNovel menerjemahkan lebih banyak novel public domain seperti Lady Susan karya Jane Austen ini. Scan QR Code untuk berdonasi via Saweria 🙏
📝 Belum ada komentar untuk bab ini. Jadilah yang pertama berkomentar!










Silakan login untuk meninggalkan komentar.