Pengantar Penerjemah: Middlemarch, Sebuah Alarm bagi Kehidupan Sosial Kiwari
MIDDLEMARCH sudah masuk daftar terjemahan prioritas sejak awal kelahiran KlikNovel. Namun karena bobotnya yang sangat menantang, baik dari segi jumlah kata maupun isi, membuat kami maju-mundur. Sampai kemudian harian Inggris terkemuka, The Guardian, merilis daftar terbaru The 100 Best Novels of All Time pada 12 Mei 2026 dan menempatkan Middlemarch pada urutan pertama.
The Guardian’s 100 best novels adalah daftar novel berbahasa Inggris terbaik. Saat pertama kali diluncurkan pada 2015, daftar ini disusun oleh Robert McCrum, seorang penulis dan editor ternama Inggris. Pada edisi 2026, The Guardian mencoba terobosan baru: mengadakan polling yang melibatkan penulis dan editor terkemuka sedunia. Dua di antaranya penulis kontroversial Salman Rushdie dan Stephen King, The King of Horror.
Terpilihnya Middlemarch seakan menjadi isyarat bahwa dunia kita saat ini butuh alarm pengingat. Bahwa derasnya pengaruh media sosial perlahan menggerus sendi-sendi kemanusiaan kita dan karenanya kita semua musti merenung lebih dalam.
George Eliot, nama pena Mary Ann Evans, menulis Middlemarch pada usia yang sudah matang secara intelektual dan emosional. Ia bukan lagi pengarang yang menulis dengan dorongan romantisme awal, melainkan seorang pengamat kehidupan yang telah menyerap kompleksitas relasi manusia, kegagalan moral, dan kompromi sosial. Hal ini membuat Middlemarch bukan sekadar novel, tetapi semacam studi panjang tentang kehidupan provinsial Inggris pada awal abad ke-19.
Proses kreatif novel ini sendiri mencerminkan ambisinya yang besar. Eliot awalnya merencanakan dua narasi terpisah: satu berpusat pada Dorothea Brooke, dan satu lagi pada Tertius Lydgate. Namun dalam perjalanannya, ia menyadari bahwa kedua cerita itu sebenarnya merupakan bagian dari satu pola yang sama: bagaimana individu dengan niat terbaik dapat terjebak dalam struktur sosial, ekonomi, dan psikologis yang tidak mereka pahami sepenuhnya. Penyatuan dua proyek ini melahirkan sebuah karya yang jauh lebih luas dari rencana awalnya, tetapi juga jauh lebih kompleks dan padat.
Ketika pertama kali diterbitkan secara berseri dalam delapan volume pada 1871–1872, respons publik bercampur. Kritikus sastra mengakui kedalaman dan ambisi Eliot, tetapi sebagian pembaca merasa novel ini terlalu berat, terlalu banyak tokoh, dan terlalu lambat dalam perkembangan alurnya. Namun justru dari keberatan itulah Middlemarch kemudian menemukan posisinya dalam sejarah sastra. Ia bukan novel hiburan, melainkan novel observasi sosial yang menuntut keterlibatan intelektual dan emosional penuh dari pembacanya.
Pada awal abad ke-20, reputasi Middlemarch meningkat secara signifikan. Virginia Woolf, penulis Mrs. Dalloway dan Orlando, menyebutnya sebagai “satu-satunya novel Inggris yang ditulis untuk orang dewasa,” sebuah pernyataan yang merujuk pada kedewasaan pandangan Eliot terhadap kehidupan. Novel ini tidak menawarkan ilusi bahwa dunia akan menyesuaikan diri dengan harapan individu. Sebaliknya, karya ini menunjukkan bahwa individu harus bernegosiasi dengan dunia yang keras, tidak selalu adil, dan sering kali tidak sesuai ekspektasi moral.
Bagi pembaca Indonesia, relevansi Middlemarch justru semakin terasa dalam konteks sosial yang berbeda tetapi memiliki pola yang mirip. Kota Middlemarch dalam novel Eliot adalah representasi mikro dari masyarakat yang terstruktur oleh reputasi, tekanan sosial, ekonomi keluarga, dan hubungan kuasa yang tidak selalu terlihat. Pola ini dapat ditemukan dalam berbagai bentuk di masyarakat kita: dari lingkungan perkotaan hingga komunitas yang lebih kecil. Relasi sosial yang dibangun atas dasar persepsi, bukan esensi, menjadi salah satu kritik halus yang terus relevan hingga hari ini.
Lebih jauh, Middlemarch menawarkan sesuatu yang semakin langka dalam budaya modern: empati yang tidak reaktif. Eliot tidak mengarahkan pembaca untuk segera menghakimi karakter-karakternya. Bahkan tokoh yang secara moral problematik sekalipun tetap diberi ruang psikologis yang membuatnya dapat dipahami sebagai manusia utuh.
Edward Casaubon, misalnya, bukan sekadar figur suami yang gagal memahami istrinya, tetapi juga individu yang hidup dalam ketakutan akan kegagalan intelektual dan ketidak-relevanan. Nicholas Bulstrode bukan sekadar simbol kemunafikan religius, tetapi juga gambaran kompleks tentang bagaimana masa lalu dapat terus menghantui struktur moral seseorang di masa kini.
Kedewasaan naratif ini menjadi salah satu alasan mengapa Middlemarch tetap relevan hingga sekarang. Di era ketika penilaian moral sering berlangsung cepat dan dangkal, Eliot mengajak pembaca untuk menunda kesimpulan. Ia mengajak pembaca untuk memahami sebelum menghakimi. Sikap ini bukan hanya estetika sastra, tetapi juga etika membaca dan etika sosial.
Dalam proses penerjemahan ini, perhatian utama diberikan pada keseimbangan antara kesetiaan terhadap gaya Eliot dan keterbacaan dalam bahasa Indonesia modern. Gaya Eliot yang panjang, berlapis, dan reflektif dipertahankan sejauh mungkin tanpa mengorbankan alur pemahaman. Struktur kalimat tetap mengikuti ritme asli, tetapi disesuaikan agar tidak kehilangan kejelasan dalam konteks bahasa sasaran. Tujuannya bukan untuk menyederhanakan Eliot, melainkan untuk menghadirkannya secara utuh dalam medium bahasa yang berbeda.
Middlemarch pada akhirnya bukan hanya tentang Inggris abad ke-19. Karya ini adalah tentang manusia dalam segala konteks sosialnya. Tentang ambisi yang tidak selalu menemukan bentuknya. Tentang cinta yang tidak selalu dipahami. Tentang kegagalan yang tidak selalu tragis, tetapi sering kali biasa saja. Dan justru dalam “kebiasaan” itulah Eliot menemukan kedalaman yang luar biasa.
Semoga upaya penerjemahan ini dapat membuka kembali pintu bagi pembaca Indonesia untuk memasuki dunia Middlemarch—sebuah dunia yang tenang di permukaan, tetapi sangat dalam ketika direnungkan.
Akhir kata, selamat membaca.
📝 Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!













Silakan login untuk meninggalkan komentar.