Little White Souls
Sentuhan itu tetap berlanjut. Lalu aku membuka mata—dan yang kulihat bukanlah Dye, melainkan seorang perempuan asing: tinggi, berwajah rupawan, kulit secerah fajar, rambut keemasan tergerai di bahu, dan sorot mata biru yang liar. Dengan diam dan penuh tenaga, perempuan itu menarik bayi itu dari pelukanku. Satu lengannya sudah menyanggah tubuh si kecil, yang lain melingkupinya seolah hendak merenggut nyawa. Wajahnya sedekat wajahku sendiri, dan matanya tertuju pada bayi itu seperti pada miliknya sendiri. “Tinggalkan bayiku! Berani kau menyentuhnya!” aku menjerit; lalu, dengan segenap suara, kuberitahu, “Dye! Dye! Kemarilah!”
