Le Horla

Terbit perdana di Gil Blas pada 26 Oktober 1886
±8.500 kata, sekitar 42 menit baca

Guy de Maupassant Guy de Maupassant

👁️ 0 tayangan

8 Mei
Betapa indahnya hari ini!
Sejak pagi aku berbaring santai di atas rerumputan di depan rumah, di bawah naungan pohon plane tua yang besar—raksasa hijau yang menaungi, melindungi, seolah memeluk seluruh rumah ini.

Aku memang menyukai daerah ini. Ada rasa sayang yang dalam, rasa nyaman yang tak bisa dijelaskan, seolah tanah ini menanamkan akar dalam ke jiwaku—akar yang halus tapi kuat.

Akar yang menyatukan seseorang dengan tanah tempat leluhurnya lahir dan wafat. Akar yang melekat pada tradisi, kebiasaan lama, cita rasa masakan, ungkapan-ungkapan lokal, logat kasar para petani, aroma tanah yang lembap, desa-desa kecil, dan bahkan udara yang kita hirup tiap pagi.

Aku mencintai rumah ini—rumah tempat aku tumbuh besar. Dari jendela kamarku, aku bisa melihat aliran Sungai Seine yang mengalir tenang di samping taman, hanya terpisah jalan kecil—seakan nyaris melewati halamanku sendiri. Sungai yang luas dan megah itu membawa perahu-perahu ke Rouen dan Havre, hilir mudik tanpa henti.

Di sebelah kiri, di kejauhan, terhampar Rouen—kota yang ramai dengan atap-atap biru yang bertumpuk, dihiasi menara-menara Gotik runcing yang menjulang tinggi. Begitu banyaknya menara itu, ramping dan anggun atau gemuk dan tegas, semuanya seakan bersatu di bawah bayang-bayang menara katedral yang menjulang seperti tombak.

Di pagi hari yang cerah, lonceng-lonceng dari menara itu berdentang lembut, menggema dalam udara biru, menyebar ke segala arah seperti gema besi yang manis, kadang kuat, kadang menghilang ditiup angin.

Betapa nikmatnya pagi tadi!
Sekitar pukul sebelas, melintaslah rangkaian panjang perahu yang ditarik oleh kapal uap mungil sebesar lalat, mengepulkan asap tebal tanpa banyak suara.

Dua sekunar Inggris lewat duluan, bendera merah mereka berkibar-kibar menantang langit. Lalu muncullah kapal tiga tiang dari Brasil—besar, gagah, putih bersih, mengilap bagai perhiasan laut.

Entah kenapa, aku mengangkat tangan memberi hormat padanya. Mungkin karena pemandangan itu memberiku kesenangan yang begitu tulus dan dalam.

12 Mei
Sudah beberapa hari ini aku merasa demam ringan, tidak benar-benar sakit… tapi lebih ke hati yang murung, semangat yang lesu.

Dari mana datangnya pengaruh aneh yang bisa mengubah kegembiraan jadi kehampaan, dan keyakinan jadi keraguan? Rasanya seolah udara—yang tak terlihat itu—penuh dengan kekuatan-kekuatan asing yang tak kita kenal dan harus kita terima begitu saja.

Pagi-pagi aku bangun dalam suasana hati yang riang, seolah ada lagu mengalun di dalam dada. Tapi entah kenapa, baru berjalan sebentar menyusuri tepian sungai, aku pulang dengan perasaan tak enak. Ada semacam firasat buruk yang menggantung di udara rumahku.

Apa penyebabnya?
Apakah karena angin dingin yang tiba-tiba menyentuh kulit, membuat sarafku bergetar dan jiwa menjadi suram? Atau karena bentuk awan, warna langit, rona pepohonan yang berubah-ubah, yang entah bagaimana mengusik pikiranku saat melintas di depan mata?

Siapa yang bisa menjawab?
Segala yang ada di sekitar kita—yang kita lihat tapi tak benar-benar diperhatikan, yang kita sentuh tanpa merasa, yang kita alami tanpa sepenuhnya sadar—semuanya bisa memberi pengaruh cepat, mengejutkan, dan tak bisa dijelaskan pada diri kita, pada tubuh, pikiran, bahkan pada cara kita merasa.

Betapa misteriusnya yang tak terlihat itu!
Kita tak bisa menyelaminya dengan indera yang terbatas ini. Mata kita tak mampu menangkap apa yang terlalu kecil atau terlalu besar, terlalu dekat atau terlalu jauh. Kita tak bisa melihat siapa yang tinggal di sebuah bintang… atau di setetes air.

Pendengaran kita pun menipu. Ia hanya menangkap getaran udara dan mengubahnya jadi suara. Indera ini seperti peri kecil yang bisa menyulap gerak jadi nada, dan dari metamorfosis itu lahirlah musik—membuat alam yang diam menjadi nyanyian harmoni.

Begitu pula penciuman kita, jauh lebih lemah dibanding anjing. Dan lidah kita? Hampir-hampir tak bisa membedakan usia anggur yang kita cicipi.

Ah, seandainya kita punya indera lain—organ-organ baru yang bisa menghadirkan keajaiban lain—berapa banyak rahasia dunia yang bisa kita ungkap?

16 Mei
Aku sakit. Ya, benar-benar sakit.
Padahal bulan lalu tubuhku terasa segar bugar. Sekarang, demamku aneh—bukan demam panas menggigil, melainkan semacam ketegangan membara yang terus-menerus menyiksa, bukan cuma jasmani, tapi juga pikiranku.

Ada perasaan mengerikan yang tak kunjung pergi: seolah-olah ada sesuatu yang mengancam dari kejauhan, mendekat perlahan. Kecemasan akan bencana yang belum terjadi—atau mungkin kematian itu sendiri—membayang terus seperti firasat buruk yang tak bisa dijelaskan.

Mungkin ini awal dari penyakit yang belum dikenali, yang tumbuh diam-diam dalam daging dan darah, seperti benih jahat yang menunggu saatnya mekar.

18 Mei
Baru saja aku pulang dari menemui dokter. Sudah beberapa malam aku tak bisa tidur, dan aku nyaris tak tahan lagi.

Kata dokter, nadiku cepat, mataku membesar, sarafku tegang. Tapi selain itu, tidak ada tanda-tanda mengkhawatirkan.

Saran beliau? Mandi pancuran dingin dan kalium bromida. Seolah itu cukup untuk menenangkan badai yang mengaduk dadaku.

25 Mei
Tak ada perubahan. Sama sekali.

Keadaanku… sungguh aneh.
Setiap senja tiba, perasaan gelisah yang tak bisa dijelaskan merayapi diri—seolah malam membawa serta ancaman mengerikan yang bersembunyi di balik kegelapannya.

Aku makan malam dengan cepat, lalu mencoba membaca. Tapi kata-kata kehilangan makna, huruf-huruf pun tampak kabur.

Lalu aku mondar-mandir di ruang tamu, dihimpit rasa takut yang membingungkan dan tak tertahankan. Bukan sekadar cemas… tapi takut akan tidur. Takut pada tempat tidurku sendiri.

Sekitar pukul sepuluh, aku naik ke kamar. Begitu masuk, langsung kukunci dan kugembok pintunya rapat-rapat.

Aku takut. Tapi… takut apa?
Aku tak tahu. Selama ini aku bukan tipe penakut. Tapi sekarang, aku membuka lemari, mengintip kolong tempat tidur, lalu berdiri diam sambil… mendengarkan. Tapi untuk apa? Mendengarkan siapa?

Aneh, ya, betapa hal sepele—sirkulasi darah yang terganggu, mungkin iritasi saraf kecil, atau kemacetan kecil dalam mekanisme tubuh kita yang rapuh—bisa mengubah orang yang ceria jadi murung, dan membuat seorang pemberani jadi pengecut.

Akhirnya aku berbaring, dan menunggu tidur seperti seseorang yang menanti algojo.

Aku menunggu dengan rasa takut yang tak masuk akal. Jantungku berdebar kencang, kakiku gemetar, dan tubuhku menggigil di balik selimut yang hangat, sampai akhirnya… aku terlelap, mendadak, seperti orang yang melemparkan diri ke dalam kolam yang tenang untuk mengakhiri semuanya.

Tidur itu tak lagi datang seperti dulu—pelan-pelan dan mengayun lembut. Sekarang… rasanya ia mengawasi dari dekat, menunggu saat yang tepat untuk menyergap. Tidur itu seperti makhluk jahat yang ingin mencengkeram kepalaku, menutup mataku, dan… melenyapkanku.

Aku tertidur. Lama. Dua atau tiga jam, mungkin.

Lalu datanglah mimpi.
Bukan mimpi. Mimpi buruk.

Aku sadar bahwa aku sedang tidur dan berada di tempat tidur. Aku tahu itu. Aku merasakannya.

Tapi aku juga merasa ada sesuatu… atau seseorang… mendekat. Ia menatapku. Menyentuhku. Naik ke tempat tidurku.

Ia berlutut di dadaku… dan tangannya meraih leherku. Menekannya. Mencekik sekuat tenaga.

Aku berusaha melawan—tapi tubuhku lumpuh, seperti yang sering terjadi dalam mimpi-mimpi buruk. Aku ingin berteriak… tapi tak bisa. Ingin bergerak… tapi tubuhku tak mau menurut.

Dengan segenap tenaga, hampir kehabisan napas, aku mencoba membalikkan badan, melepaskan diri dari sosok yang menghimpit dan mencekikku… tapi sia-sia.

Dan tiba-tiba aku terbangun. Tersentak. Tubuhku basah oleh keringat.

Aku buru-buru menyalakan lilin—dan aku sendirian.

Begitulah setiap malam.
Setelah badai itu lewat, aku akhirnya bisa tertidur kembali—dan baru terbangun saat pagi menyapa dengan damainya.

2 Juni
Keadaanku makin memburuk.
Ada apa sebenarnya dengan tubuh ini? Bromida tak lagi membawa ketenangan, mandi pancuran pun tak memberi pengaruh apa-apa.

Kadang-kadang, demi memaksakan rasa lelah—padahal aku sudah cukup lelah seharian—aku pergi berjalan kaki ke hutan Roumare.

Dulu aku percaya, cahaya lembut dan udara segar yang penuh aroma dedaunan dan rerumputan bisa menyegarkan darahku, menyalakan kembali energi dalam dada.

Suatu hari, aku menyusuri jalan setapak lebar yang membelah hutan, lalu berbelok ke arah La Bouille melalui lorong sempit di antara dua deretan pohon yang sangat tinggi. Rindangnya luar biasa—daun-daunnya membentuk atap hijau tua, nyaris hitam, memisahkanku sepenuhnya dari langit.

Tiba-tiba tubuhku menggigil. Bukan menggigil karena dingin, tapi seperti gemetar karena rasa cemas yang tak bisa dijelaskan.

Aku mempercepat langkah. Rasa tidak nyaman merayapi seluruh tubuh—sendirian di tengah hutan seperti itu… membuatku takut tanpa alasan. Tapi ketakutan itu nyata.

Dan lalu, perasaan itu datang.
Seolah-olah ada yang mengikuti dari belakang.
Langkah kaki—sangat dekat. Terlalu dekat. Seakan-akan jika aku berhenti, dia akan menyentuh bahuku.

Aku berbalik cepat.
Tak ada siapa-siapa.

Jalan itu kosong, lurus, sepi, dan dibatasi deretan pohon tinggi yang diam menatap. Tak satu pun tanda kehadiran makhluk hidup. Di depan dan di belakang, hanya kehampaan yang menjulur jauh, tanpa ujung, dan… mengerikan.

Aku menutup mata. Entah kenapa.

Lalu aku mulai berputar, berdiri di satu kaki seperti gasing—berputar cepat sampai hampir terjatuh.

Begitu kubuka mata, pohon-pohon seolah menari mengelilingiku, tanah terasa bergoyang. Aku terpaksa duduk.

Dan yang paling aneh… aku tak ingat bagaimana aku bisa sampai di situ.

Pikiran itu membuatku merinding. Gila. Aneh sekali. Aneh dan… menakutkan.

Aku benar-benar tak tahu arah.
Akhirnya, dengan ragu, aku memilih belok ke kanan dan menemukan kembali jalan utama yang membawaku ke tengah hutan tadi.

3 Juni
Malam tadi… benar-benar buruk.

Aku harus pergi. Meninggalkan tempat ini untuk sementara.

Beberapa minggu perjalanan mungkin bisa menyegarkan tubuh dan pikiran. Ya, mungkin itu satu-satunya jalan.

2 Juli
Aku telah kembali. Sembuh sepenuhnya—dan bukan hanya itu, aku juga membawa pulang kenangan dari sebuah perjalanan yang sungguh menyenangkan.

Kali ini aku pergi ke Mont Saint-Michel, tempat yang selama ini hanya kudengar namanya, tapi belum pernah kulihat dengan mata kepala sendiri.

Dan sungguh, ketika aku tiba di Avranches menjelang senja… pemandangan yang menyambutku tak akan kulupa seumur hidup.

Kota kecil itu berdiri di atas sebuah bukit, dan aku diajak ke taman umum di ujung kota. Saat tiba di sana, aku ternganga—tanpa sadar aku berseru pelan karena takjub.

Di depanku, terhampar teluk raksasa berwarna keemasan, sejauh mata memandang, diapit oleh dua bukit yang perlahan-lahan larut dalam kabut.

Dan tepat di tengah-tengah teluk yang maha luas itu, di bawah langit senja yang terang dan berkilau, tampak sebuah bukit aneh—menjulang gelap dan runcing, seperti tumbuh dari pasir.

Matahari baru saja tenggelam.
Dan di bawah langit yang masih terbakar cahaya jingga, siluet batu karang raksasa itu tampak berdiri angkuh, menampakkan wujud bangunan menakjubkan di puncaknya—monumen aneh nan agung, seperti milik dunia lain.

Keesokan paginya, saat fajar menyingsing, aku menuju ke sana. Air laut sedang surut, seperti malam sebelumnya, jadi aku bisa melihat biara yang menakjubkan itu dari jauh—semakin lama semakin dekat seiring langkah-langkahku.

Setelah berjalan berjam-jam, aku tiba di kaki tebing batu besar yang menopang kota kecil itu—di puncaknya berdiri megah gereja tua, seperti mahkota di atas kepala raksasa.

Aku mendaki jalan menanjak yang sempit dan curam, lalu masuk ke dalam bangunan Gotik paling luar biasa yang pernah kudatangi.

Sebesar kota kecil, penuh lorong dan ruang rendah yang seolah terkubur di bawah atap-atap kubah batu, dengan galeri-galeri tinggi yang ditopang pilar-pilar ramping seperti jari-jari angin.

Cuplikan berhenti di sini. Masih ada sekitar 6.600 kata lagi (±33 menit membaca).

📖

Mau Lanjut Baca?

Sepertiga awal cerpen ini tersedia gratis. Buat akun Reader untuk melanjutkan membaca sampai selesai.

📝 Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!

×
×