Bab 3 — Banjir
HUJAN sore itu turun seperti hendak merobohkan bumi. Petir berkelebat di langit, guruh menggelegar, dan angin memukul-mukul dinding rumah. Mariamin duduk gelisah, pandangannya tersapu kilat, lalu jatuh lagi pada lantai. Aminuddin tahu, sahabatnya itu sedang ketakutan—bukan sekadar karena badai di luar, tapi karena rasa cemas yang tak jelas ujungnya.
Ia pun tersenyum, mencoba memecah tegang suasana.
“Riam,” katanya riang, “aku punya cerita baru. Guru di sekolah yang ceritakan. Mau dengar?”
Hanya dua-tiga patah kata, tapi wajah Mariamin langsung berubah. Mata yang tadi redup kini berkilat lagi, bibirnya tersungging.
“Cobalah ceritakan,” katanya sambil mendekat, “apalagi di waktu seperti ini. Mulailah!”
Mau Lanjut Baca?
Kamu sudah mencapai batas Zona Bebas Baca bagi guest visitor. Cukup buat akun Reader KlikNovel untuk membaca lebih banyak bab terjemahan novel Azab dan Sengsara.
📝 Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!
Silakan login untuk meninggalkan komentar.