Bab III (bagian pertama)
ENTAH dorongan jahil dari naluri terkelam—atau semacam tarikan sardonik dari sumber-sumber gelap yang tersembunyi—yang membuatku mengubah rencana seperti itu.
Sejak awal aku telah menetapkan bahwa pengamatanku akan berhenti pada hal-hal arsitektur saja, dan saat itu aku bahkan sedang bergegas menuju Alun-Alun, berharap mendapat tumpangan cepat keluar dari kota busuk yang dipenuhi kematian dan pelapukan ini.
Namun, melihat sosok renta Zadok Allen justru memantik arus baru dalam pikiranku, membuat langkahku melambat dengan ragu.
Aku sudah diberi tahu bahwa lelaki tua itu tak bisa melakukan apa pun selain meracaukan legenda-legenda liar yang terputus-putus dan mustahil dipercaya. Aku juga sudah diperingatkan bahwa warga Innsmouth tak suka bila ia terlihat berbicara pada orang asing.
Akan tetapi bayangan tentang saksi hidup atas kemerosotan kota ini—seorang lelaki dengan kenangan yang menjangkau masa-masa kejayaan kapal dan pabrik—menjadi godaan yang tak mampu kutolak dengan alasan apa pun.
Mau Lanjut Baca?
Kamu sudah mencapai batas bebas baca 3 bab awal novel ini sebagai tamu. Buat akun Reader untuk melanjutkan membaca.
📝 Belum ada komentar dari pembaca. Jadilah yang pertama berkomentar!


Silakan login untuk meninggalkan komentar.